
"Tentang orang misterius itu," ucap Levin dalam hatinya kepada Llemas, mahluk besar berwujud ikan yang sedang berada di hadapannya. "Apakah kau tahu dimana dia? Atau bagaimana gambaran orang itu?"
"Aku tidak tahu bagaimana wujud orang itu, itulah kenapa aku mengira bahwa kau adalah dia. Orang itu sepertinya bukanlah orang yang biasa, dia tetap kekeh dan tidak takut untuk datang kesini kembali, aku sarankan kau harus berhati-hati. Dia selalu datang kesini malam hari, aku rasa dia akan datang lagi malam ini. Untuk itu datanglah kemari setelah kau mengobati para penduduk didesa."
"Kalau begitu baiklah. Aku rasa mereka memang membutuhkanku. Tapi ada beberapa hal yang tidak bisa aku mengerti. Apakah kau yang menetapkan ritual ini?"
"Tidak juga, dewa Calemia memberitahuku jika sang Sagmorat datang dan ingin mengklaim kristal yang tertancap ditubuhku, dia harus melewati sebuah ritual terlebih dahulu. Dewa Calemia tidak memberitahuku ritual apa yang harus dijalankan, hanya dewa Calemia sendiri dan jiwa para iblis yang terkurung saja yang tahu. Dia berkata aku akan mengetahuinya saat kau datang untuk mengklaim kristal ini. Dan benarlah hal itu, saat kritstal-kristal ini bersinar dan saling terhubung, suatu gelombang misterius membisikan sesuatu ke perutku, sehingga aku bisa merasakan bahwa inilah memang ritualnya. Lakukanlah ritualnya Sagmorat, kau akan mendapatkan kristalnya dan aku akan sangat berterimakasih jika kau berhasil melakukannya." ucap mahluk itu, dia lalu masuk kedalam danau dan suara dikepala Levin mulai lenyap.
Levin sebenarnya tidak terlalu mengerti terhadap apa yang dikatakan oleh Llemas tadi. Yang hanya dia tahu hanyalah fakta bahwa sekarang dia terserang sebuah penyakit misterius dan dia harus mengobati dirinya dan beberapa orang lain didesa yang baru saja dia temui dan kembali kesini sebelum gelap.
Levin memasukan kristal itu kesakunya, dia melihat ke danau itu yang menghening, tidak ada tanda-tanda kehadiran mahluk itu disana. Setelah memasukan pedangnya ke ikat pinggang, Levin lalu berjalan ke arah desa tadi dengan agak pincang, kakinya sedikit terkilir saat dia terhantam mahluk besar itu.
Saat dalam perjalanan, Levin bisa merasakan sesuatu yang aneh didalam kepalanya. Sesuatu itu terletak di dalam kepala bagian kiri Levin, seperti sesuatu yang bergerak-gerak dan menyakitkan. Levin sedikit panik, dia tahu bahwa sihir itu mulai berefek kepadanya. Dia lalu mencoba untuk meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia tidak terkena penyakit apapun.
"A.. Aku baik-baik saja, tenangkan dirimu Levin, abaikan saja rasa sakit ini." ucap Levin dalam hati.
Dia mencoba untuk tidak memegangi kepalanya yang sakit dan mengabaikan rasa sakitnya itu. Tapi ternyata rasa sakit itu semakin menjadi-jadi dan menyebar ke area lain dikepalanya. Levin mencoba untuk mengabaikan rasa sakit itu, tapi malah membuatnya fokus ke rasa sakit itu dan membuatnya lebih besar.
"Si.. Sial, sakit sekali kepalaku. Mencoba untuk tidak memikirkan rasa sakit ini malah membuatku berfikir tentang rasa sakit itu. Aku seharusnya berfikir tentang hal yang lain."
Suara jeritan seorang anak kecil lalu terdengar di hutan itu. Levin yang hampir kehilangan kesadarannya lalu terkejut dan mengangkat kepalanya ke sumber arah suara. "Clea?" tanya Levin dalam hati.
Rasa sakit dikepalanya sedikit demi sedikit mulai memudar karena distraksi itu. Levin lalu merasa cemas terhadap hal lain selain dirinya, dia ingat kepada Clea. "Suara itu... Seorang anak kecil... Bukannya Clea ada disana? Sial, aku harus cepat kesana..." kata Levin sambil melangkahkan kaki lemasnya dan berusaha untuk berlari ke arah sumber suara itu, yaitu di desa yang tadi mereka datangi.
__ADS_1
Kaki Levin yang lemas dan matanya yang berat lalu terpulihkan kembali. Levin merasakan sesuatu didadanya yang hangat dan merambat dengan cepat mengusir rasa sakit itu diseluruh tubuhnya. Perasaan itu seperti perasaan peduli dan cemas yang tercampur, dia tidak tahu apa yang dirasakannya itu, dia hanya berlari dengan kencang ke arah desa itu dengan cepat.
Levin berlari melalui jalan setapak itu dan sampai ke tugu kecil desa, dia lalu menengok dan melihat kerumunan penduduk desa itu kembali. Kerumunan itu berbeda dengan yang sebelumnya, kerumunan itu terlihat lebih panik dan membawa peralatan tani mereka dan mengacung-ngacungkannya kedepan. Tubuh mereka sedikit gemetar dan mundur sedikit demi sedikit kebelakang, Levin tidak bisa melihat apa yang ada di hadapan para warga itu.
Seseorang dari depan kerumunan itu lalu meloncat terpental ke atas dan jatuh dihadapan Levin. Wujudnya sangat mengerikan, kepalanya berwarna merah kehitaman dan bola matanya berwarna putih pucat terbalik, mulutnya terbuka lebar menggambarkan ekspresi yang sangat ngeri, cairan putih menjijikan keluar mengalir dari mulutnya itu. Lehernya terangkat ke atas patah melihat ke atas Levin, seketika nafasnya terhenti, bulu-bulu ditangannya terangkat dan dia terpaku ditempat itu sejenak.
Semua orang dikerumunan itu melemas, mereka berjatuhan satu demi satu tanpa sebab. Seseorang yang memakai jubah hitam lalu terlihat berjalan ke arah Levin. Wajahnya tertutup jubah itu, tubuhnya tinggi sedikit bungkuk dan membawa tongkat, dia berjalan dengan pelan sementara para penduduk itu tidak sadarkan diri.
"Si.. Siapa kau? Apa yang kau lakukan kepada mereka!" teriak Levin sambil mengacungkan pedangnya ke arah orang misterius itu.
Orang itu hanya berjalan ke arah Levin dengan pelan, wajahnya yang tertutupi jubah sedikit demi sedikit terlihat, dia tidak takut kepada Levin yang mengancamnya dengan pedang dan malah memegang mata pedang itu.
Tubuh Levin lemas dan tidak bisa digerakan, dia mencoba untuk mendorong pedangnya kedepan tapi sebuah kekuatan tidak terlihat menahannya. Orang misterius itu sedikit menggeram, wajahnya lalu terlihat jelas. Dia tersenyum sinis kepada Levin, wajahnya bersisik dan berwarna hijau, matanya terlihat seperti mata ular dan mulutnya panjang menyeringai. Dia menyengirkan giginya yang tajam dan banyak, sedikit mirip seperti gigi Vaxhella tapi lebih banyak.
"Sagmorat," kata mahluk itu dengan suara serak dan berat, sementara Levin terpatung tidak bisa bergerak. "Aku tidak menyangka ternyata ramalan itu memang benar." wujud manusia setengah kadal itu lalu menarik pedang Levin menggunakan tangannya dan membantingkannya ke rumah kecil kayu disana. Tubuh Levin terhantam menghancurkan rumah kayu kecil itu, dia memegang kakinya dengan gemetar mencoba untuk berdiri dan bertumpu pada pedangnya.
Levin menghentakan kakinya di depan manusia kadal itu dan mengayunkan pedangnya dengan cepat. Tangan kanan manusia kadal itu dengan cepat menahan pedang Levin dan menggenggam mata pedangnya. Pedang itu tidak menembus tangannya dan terhenti seperti dihentakkan kepada batu. Tangan kirinya terayun dengan cepat dan melandas di perut Levin, membuatnya tersungkur kebelakang dan terjatuh kesakitan. Tangan mahluk itu lalu meremas mata pedang yang sedang dipegangnya, tapi pedang itu terlalu keras.
"Pedang ini... Terbuat dari adamantite dan sihir Kaliph. Aku tidak menyangka kau bisa mendapatkan pedang ini." ucap manusia kadal itu. Levin yang sedang terbaring sambil memegangi perutnya mencoba untuk berdiri, dia baru saja merasakan pukulan paling keras yang pernah dia rasakan seumur hidupnya.
"Si.. Siapa kau? Apa yang kau inginkan?" tanya Levin sambil terengah-engah.
"Kau pasti pernah mendengarku Sagmorat. The Faveroth, Atlantis, dan semua itu. Aku adalah salah satu penyihir yang melakukan ritual Atlantum. Namaku adalah Genta, seorang simbolis dari Gmodar yang membantu ayahmu untuk menghancurkan dunia. Kau pasti tahu tujuanku disini, untuk menghancurkan desa ini dan memulai sebuah wabah baru. Wabah itu akan menyebar ke seluruh kerajaan dan dengan suatu cara akan menampakan keberadaan ayahmu, yang kabarnya bersembunyi di New Vamor. Dan lihat, siapa yang kita temui sekarang, seorang bocah kecil yang membawa sebuah pedang legendaris dan beberapa keping kristal Calemiara. Aku rasa membunuhmu akan menjadi tugas tambahan bagiku, ramalan penyihir besar Akemon akan hancur disini, dan tugasku untuk melakukan ritual itu kembali dan mendatangkan Adacia akan lebih mudah."
__ADS_1
Mahluk itu lalu mengangkat tangan kanannya, sebuah percikan api biru lalu muncul disana dan membentuk sebuah bola api yang panas, Levin bisa merasakan panas bola itu dikejauhan, mahluk itu mengayunkan tangannya kebelakang, tapi sesuatu lalu mendarat dan menancap tangan mahluk itu dan api itu lalu memudar. Mahluk itu mundur kebelakang dan memegangi tangannya yang tertancap oleh sebuah anak panah, dia memalingkan pandangannya ke sumber anak panah itu, terlihat Clea yang sedang berdiri di atas balkon di sebuah rumah disana, dia mengacungkan anak panahnya ke arah mahluk itu dan melepaskan anak panah keduanya, anak panah itu mendarat di dada si mahluk dan anak panah itu patah.
"Bocah-bocah sialan. Kalian menghabiskan waktuku, sekarang matilah!" mahluk itu mengacungkan tongkatnya keatas, cahaya berkedip di ujung tongkat itu dan membuat Clea membalikan badannya.
"Jangan lihat tongkat itu Levin!" teriak Clea, tapi Levin sudah terlanjur melihat percikan cahaya itu, tidak ada apapun yang terjadi kepadanya.
"A.. Apa? Kenapa... Oh, tentu saja... Kau adalah seorang penyihir, tidak heran jika kau..." sebuah anak panah lalu menancap ke leher mahluk itu, Clea memanahnya dari atas saat dia terfokus kepada Levin. Dia memegangi lehernya kesakitan sambil tersungkur kebawah, Levin dengan cepat berlari ke arahnya dan menusukkan pedang itu ke dada si mahluk dan mencabutnya kembali. Levin menusukan pedang itu kembali tapi pedang itu tertahan, dadanya seolah-olah berubah menjadi batu.
Mahluk setengah kadal itu mengayunkan tangannya ke tubuh Levin dan membuatnya terpental ke atas. Mahluk itu lalu lari ke arah hutan dengan sangat cepat. Dia menghilang bahkan sebelum Levin membalikan badannya. Clea meloncat ke bawah dan berlari ke arah Levin.
"Kau baik-baik saja?" tanya Clea sambil membalikkan badan Levin, Levin mencoba untuk terduduk.
"Mahluk itu... Apa sebenarnya dia?" tanya Levin sambil memegangi kepalanya.
"A.. Aku tidak tahu. Yang jelas dia bukanlah manusia, dia membuat para penduduk ini pingsan dengan cahaya yang dikeluarkan dari tongkatnya. Dan juga mahluk itu sangat kuat dan keras, mungkin semacam penyihir." ucap Clea dengan terengah-engah, keringat keluar dari dahinya.
"Y.. Ya, sepertinya begitu. Pedangku berhasil menusuknya saat dia melihatmu, tapi untuk kedua kalinya pedangku terpental, sepertinya kita hanya bisa menyerangnya saat dia lengah. Tapi yang penting, apakah mereka akan sadar kembali? Mereka baik-baik saja kan?" Levin menengok kanan kiri melihat ke sekitarnya, para penduduk itu terbaring tidak sadarkan diri, hanya Levin dan Clea saja yang terlihat hidup.
"Aku tidak tahu," ucap Clea, dia lalu terduduk, dia memegangi kepalanya. "Aku... Merasa sedikit pusing, mungkin aku terguncang... Kau baik-baik saja kan?" nafas Clea menjadi semakin berat, dia mengerutkan wajahnya menahan sakit. Levin bergerak ke arahnya dan memegang pundaknya.
"Ka.. Kau baik-baik saja? Jangan-jangan penyakit itu... Tenangkan dirimu Clea! Jangan sampai kau..." Clea lalu jatuh pingsan ke betis Levin, tubuhnya panas, Levin bisa merasakan sesuatu merayap dan menyebar di tubuh Clea.
"Si.. Sial, kenapa dia bisa terkena penyakit itu juga. Tak akan ku ampuni mahluk itu. Bertahanlah sebentar Clea, aku akan mencari jalan untuk menyembuhkan kalian semua."
__ADS_1
- End of Chapter :)