
"Pertama-tama semuanya sudah mulai terlihat sejak aku melihat celanamu." kata Levin sambil menunjuk celana Hernand.
"Memakai jaket di siang bolong bukanlah ide yang bagus, terutama jika jaket itu kotor seperti jaketmu. Jaket yang kau pakai sekarang adalah jaket yang kemarin kau pakai untuk mencari rempah-rempah, dan tentu saja celana yang kau pakai untuk mencari rempah-rempah itu sekarang kau sembunyikan karena pasti sangat kotor dan basah, tapi kau tidak bisa menjemurnya karena orang lain bisa melihat celanamu dan menyadari bahwa kau ada di dalam rumah ini."
"Celana yang kau pakai sekarang adalah celana milik Safa, kau tidak bisa terus memakai celana basah sehingga kau memakai celana ketat yang menyedihkan ini. Dan juga, kau tidak bisa melepaskan jaketmu dan menggantinya dengan pakaian wanita milik Safa, karena kau tidak ingin membuat dirimu terlihat semakin menyedihkan. Untuk itulah kau hanya meminjam celana Safa." kata Levin menjelaskan.
"A.. Analisis yang cemerlang. Lalu, bagaimana kau bisa mengetahui bahwa aku adalah Hernand? Kita belum pernah bertemu sebelumnya bukan? Dan bagaimana dengan harta karun itu?" tanya Hernand dengan wajah penasaran.
"Tentu saja dengan celana itu aku bisa mengetahui bahwa kau adalah Hernand yang pergi kesungai dan mengkotori celananya. Saat aku pergi ke danau, aku melihat sebuah lubang galian disekitar tepian danau. Lubang itu terletak sebelum tanaman Vervel biru tertanam. Saat aku mengamati tanaman-tanaman itu, aku tidak melihat satu tanamanpun yang tercabut, itu menunjukan bahwa kau tidak pergi mendekati tanaman itu. Lubang itu terletak sebelum tanaman-tanaman itu tertanam, sehingga aku yakin saat kau pergi ke danau untuk mencabuti tanaman itu, kau menemukan harta karun itu dan menggalinya, kau lalu membawanya ke rumah ini. Kau terburu-buru membawanya, karena jika tidak kau pasti tidak menjatuhkan satu koin emaspun di sekitar danau itu. Adakah sesuatu yang keliru, tuan Hernand?" tanya Levin.
"Ti.. Tidak, aku rasa semua yang katakan memang benar. Aku memang pergi ke danau itu untuk mencari Vervel biru yang disuruh oleh majikanku. Tapi saat aku berjalan menuju tanaman itu, sepatuku tersangkut di tali yang terkubur di dalam tanah di danau itu. Saat itu aku membawa peralatanku, yaitu sebuah pacul dan alat lainnya, aku lalu menggali lubang itu karena penasaran. Aku terkejut ketika melihat sebuah peti kecil di dalam lubang itu, aku lalu membukanya dan menemukan emas-emas jaman dulu yang berkilauan, terdapat juga secarik kertas yang bertuliskan dengan aksara yang aku tidak mengerti. Aku lalu berlari ke rumah Safa, karena dialah orang satu-satunya yang dapat aku percaya. Aku lalu meminjam celananya yang ketat ini karena celanaku sangat kotor akibat penggalian itu, tapi, kau juga benar, aku tidak bisa meminjam baju wanitanya karena akan sangat memalukan bagiku untuk memakai pakaian seperti itu." kata Hernand sambil menutup-nutupi celananya karena malu.
"Ada beberapa hal yang aku belum mengerti. Kenapa kau masih dirumah Safa? Apa yang sedang kau tunggu? Dan kenapa kau tidak pergi ke majikanmu dan memberikannya rempah-rempah yang diminta?" tanya Levin.
__ADS_1
"Saat itu aku membawa emas itu kesini, rumah Safa. Kamipun lalu berdiskusi untuk pergi dari tempat ini dan hidup di tempat yang baru dengan emas-emas itu. Tentu saja aku tidak ingin membuang-buang waktuku untuk mengirimkan rempah-rempah itu ke majikanku, terutama dengan celanaku yang sekarang."
"Saat aku berkata kepada Safa untuk meninggalkan rumah ini, Safa berkata rumah yang ditinggalinya ini memiliki banyak kenangan, sehingga dia ingin tinggal disini untuk beberapa hari terakhir. Akupun menurutinya dan tinggal disini bersamanya untuk terakhir kalinya, itulah yang sebenarnya terjadi, sebenarnya kami ingin pergi dari sini tidak lama lagi, setelah itulah kau datang." kata Hernand menjelaskan. Tetapi wajah Levin terlihat kebingungan, masih ada sesuatu yang mengganjal di dalam kepalanya, dia lalu mencoba untuk mengingat-ngingat kembali hal itu. Diapun melihat keluar jendela rumah, seketika wajahnya berubah drastis, setelah melihat sebuah pot tanaman yang tadi ditanami oleh Safa.
"Tadi Safa pingsan karena berpura-pura kan? Lagipula, sekarang kemana dia?" tanya Levin, matanya terpaku pada pot diluar.
"Setelah kau pergi ke arah danau, aku membawa Safa kedalam, tentu saja dia berpura-pura pingsan. Dia berkata bahwa dia tahu bahwa seseorang pasti akan datang mencariku dirumahnya, sehingga jika ada orang yang mencariku dia akan berpura-pura tidak tahu. Aku mengamati kalian dari jendela dengan sembunyi-sembunyi. Tetapi kau melihatku, aku tidak punya pilihan lain selain berpura-pura menjadi kakaknya, tentu saja aku seharusnya mengaku sebagai adiknya karena umurku lebih muda darinya, tapi waktu itu aku refleks mengatakannya karena panik dan mengusirmu dari sini." kata Hernand dengan datar.
"Saat kau pergi ke danau, Safa berkata kepadaku bahwa dia akan mengikutimu dari belakang. Aku tidak tahu kenapa, mungkin untuk memastikan kau pergi dan tidak memata-matai. Saat ini dia belum juga kembali, entah kemana perginya dia." kata Hernand dengan nada bingung.
"Tunggu dulu, dia mengikutiku? Tapi seharusnya dia sudah bersama kita sekarang." kata Levin bingung.
"Aku juga tidak mengerti, kemarin juga aku melihat dia mengendap-ngendap keluar rumah saat malam. Dan pulang kerumah dengan cepat, wajahnya terlihat kecewa." kata Hernand.
__ADS_1
"Aneh sekali, lalu kemanakah kau berencana untuk pergi?" tanya Levin, sambil membungkukkan badannya kedepan.
"Saat kami berdiskusi, aku menyuruhnya untuk pindah ke Foragar dekat kerajaan Crescabes saja, karena disana tempatnya terpencil dan tidak banyak orang berlalu lalang kesana sehingga kita dapat menyembunyikan rahasia dengan mudah. Tapi Safa menolak, dan bersikeras untuk pindah ke kota Laberos, kota intelektual, entah apa tujuannya untuk pergi kesana, dia tidak mau memberitahuku." kata Hernand. Terlihat senyum kecil diwajah Levin.
"Satu hal, apakah kau melihat Safa mendekati pot diluar kemarin malam saat Safa kembali?" tanya Levin.
"Oh iya! Aku melihatnya mengotak-atik pot itu! Tapi waktu itu terlalu gelap bagiku untuk melihatnya dengan jelas, dan Safa memunggungiku sehingga aku tidak tahu apa yang sedang dia lakukan, mungkin sedang menanam tanaman?" tanya Hernand. Sementara Levin hanya tersenyum puas dan menggelengkan kepalanya. Dia lalu melihat ke arah jendela dan melihat Safa sedang berjalan ke rumah itu.
"Aku rasa semuanya akan jelas sekarang, mari kita tanyakan saja langsung kepadanya." kata Hernand.
Safa lalu melangkah ke halaman rumah itu, dan membuka pintunya dengan perlahan. Wajahnya terkejut ketika melihat kehadiran Levin di dalam rumahnya. Dia lalu menatap kepada Hernand.
- End of Chapter :)
__ADS_1