
"Ini adalah sebuah peta yang menunjukkan keberadaan sebuah pedang legendaris, Calemiara. Pedang itu digunakan oleh dewa perang Calemia untuk membunuh tujuh iblis raksasa yang pernah menguasai seluruh benua Ydaya. Pedang suci itu dibuat oleh dirinya sendiri dan Kaliph, dewa Ilmu pengetahuan dan sihir." si penyihir lalu memberikan peta itu kepada Levin. Levin membawa peta itu dan membukannya secara perlahan, peta itu menunjukkan peta pulau Cadmuk. Terdapat tujuh titik hitam dipeta tersebut.
"Tujuh titik hitam itu menunjukkan letak dimana dewa Calemia menyegel roh-roh tujuh iblis yang dia kalahkan, dia menyegelnya di pulau Cadmuk karena disanalah pulau yang dia anggap paling suci. Disetiap iblis yang dia kalahkan terdapat kepingan kristal yang jika digabungkan akan menunjukkan letak pedang Calemiara. Untuk itu pergilah ke setiap titik itu, lakukan ritualnya dan dapatkan semua kristalnya." ucap penyihir itu
"A.. Apa? Kenapa aku? Aku tidak mengetahui apa-apa tentang hal ini. Aku juga tidak yakin aku akan bisa melakukan apa yang kau katakan tadi. Kenapa kau tidak melakukannya sendiri?" tanya Levin kepada si penyihir sambil mengangkat badannya keatas.
"Karena kau adalah sang Sagmorat, Levin. Kau adalah sang pembawa cahaya yang dimaksud Akemon dalam ramalannya. Aku tidak bisa membantumu dalam perjalananmu, kau harus berjalan sendiri. Terlalu bahaya bagiku untuk menampakkan diriku di pulau ini. Lakukanlah tugas ini, selamatkanlah dunia, bebaskanlah jiwa ibumu dan para Faveroth karena hanya kaulah harapan mereka." Levin lalu terdiam sejenak. Dia tidak menyangka bahwa takdirnya tidak pernah membawanya ke kehidupan yang damai. Kehidupannya sebagai babu kerajaan yang mengangkat kayu-kayu berat sekarang berubah menjadi pembawa beban seluruh pulau dipundaknya. Dia tidak menyangka nasibnya akan berubah hanya dalam satu malam.
"Ka.. Kalau begitu. Dimana aku harus memulai?" tanya Levin dengan wajah yang lebih lesu dibanding sebelumnya.
"Temukanlah aku di gunung Dormin, dekat kerajaan New Vamor. Aku akan memandumu disana." kata penyihir itu sambil mengelus-ngelus kepala Levin dan Wander adiknya yang daritadi hanya terdiam.
"Kau tidak akan menanyakan apapun tentang anakmu yang pertama tuan penyihir? Ally Awaru?" tanya Baron
"Aku tahu dia akan aman bersamamu Baron. Aku akan bertemu dengannya nanti sore disini. Tentu saja sesudah penjaga budak itu memberikannya kepadamu. Lagipula, dia adalah pasanganmu, dan aku akan menenuinya nanti, apa yang harus aku ragukan?" kata si penyihir sambil tersenyum.
"Aku akan pergi ke Dormin sekarang, berdiam diri di tempat ini akan terlalu bahaya bagiku, tentu saja bagi kalian juga. Jangan khawatir Wander, kita akan bertemu setiap harinya, kau akan hidup bersama Baron dan kakakmu Ally." si penyihir lalu menatap Levin dengan penuh harap, terlihat sebercak kesedihan di bola matanya, dia tidak tahu apa yang masa depan akan berikan kepadanya. Sementara wajah Levin terlihat sedih, ketakutan dan keraguanpun bercampur aduk didadanya.
"Levin, aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa yang aku katakan tadi. Percayalah bahwa dunia ini memang butuh bantuanmu. Aku tidak bisa mengandalkan siapapun selain dirimu untuk mengalahkan para Faveroth. Aku tidak yakin Baron bisa melakukannya, dia sudah dipertemukan dengan takdirnya, Ally, dia adalah pasangannya. Sekarang ambillah waktumu, berfikirlah dan putuskan apa yang terbaik, lalu carilah aku di gunung Dormin, jika memang kau adalah sang Sagmorat aku yakin kau bisa menemukanku."
Penyihir itu lalu mundur kebelakang, membungkukan badannya lalu berjalan pergi kearah pintu, dia lalu menghilang dengan cepat di kedalaman hutan. Pondok itu lalu hening, wajah Levin tidak berbeda dengan sebelumnya, dia sangat kebingungan dan ketakutan. Dia tidak tahu apa yang harus dia putuskan, untuk melakukan apa yang penyihir itu katakan atau pergi jauh dari pulau dan memulai hidup baru.
"Aku akan membawa Ally dan Wander hidup bersamaku di Wimara, kerajaan yang sangat jauh dari sini. Aku tidak akan memaksamu untuk melakukan apa yang orang tua tadi katakan kepadamu, itu adalah keputusanmu. Jika ramalan gurunya Akemon benar tentang Sagmorat, maka aku tidak harus khawatir tentang nasib Ydaya, tapi jika kau tidak akan pergi, kau bisa pergi bersama kami, dan hanya dewi Hartlova-lah yang tahu apa yang terjadi." ucap Baron kepada Levin
__ADS_1
"A.. Aku akan memikirkannya. Kapan kau akan pergi?" tanya Levin
"Kapanpun aku siap, aku akan pergi. Setelah menemui dan membawa Ally sore ini, kurasa besokpun aku bisa pulang. Tapi jika masih ada alasan untukku untuk tetap tinggal, aku akan tetap tinggal." kata Baron
"Lalu bagaimana dengan ayah dan ibu?" tanya Wander, bocah yang masih berumur sebelas tahun itu sambil memasang wajah cemas.
"Ayahmu tahu kemana aku akan membawamu, tuan kecil. Kau tidak harus mencemaskannya. Tapi dengan ibumu, aku takut aku tidak tahu apa-apa tentang itu." kata Baron sambil menggaruk lehernya.
Wajah Levin berubah saat dia mendengar kata 'ibu' keluar dari mulut adiknya. "Jika ibu dan para Faveroth lainnya dikendalikan oleh Lost Souls saat mereka melihat mata Adacia. Mungkinkah aku bisa mengembalikan roh mereka kembali dengan mata itu? Apakah aku bisa menyelamatkan dunia dengan cara itu tanpa harus mengalahkan sepuluh Faveroth?" tanya Levin kepada dirinya sendiri. Diapun mengangkat badannya, wajahnya yang lemas lesu sekarang menjadi bersemangat dan penuh harapan.
"Apakah itu adalah sebuah ya, tuan Sagmorat?" tanya Baron sambil tersenyum
Levin lalu merapatkan kedua tangannya, menundukkan kepalanya dan berlutut kepada Baron.
"Tolong latihlah aku! Ajarilah aku ilmu bela dirimu dan jadikanlah aku kuat! Tinggalah disini bersamaku dan jadikanlah aku muridmu, yang mulia Baron Florent!" kata Levin memohon kepada Baron. Baron terdiam sejenak, diapun meletakkan tangan kanannya di kepala Levin, lalu memegang kedua pundaknya dan mengangkatnya ke atas.
"Untuk sekarang, pergilah keruanganmu dan belajarlah bermeditasi. Aku akan memberi tahu caranya kepadamu, lakukanlah itu sementara aku memancing disungai dengan adikmu." ucap Baron
"Hari mulai sore. Kampung Foragar yang indah dan damai terlihat sangat menakjubkan dengan balutan cahaya senja. Air sungai yang mengalir dan suara daun yang saling bergesekan membuat tempat itu menjadi tempat yang ideal untuk bermeditasi. Saat itu Levin masih bermeditasi, dia duduk dengan posisi lotus dan bernafas dengan perlahan. Sedangkan adiknya Wander, dia sedang memakan ikan hasil tangkapannya dengan lahap, dia lalu melihat ke arah Baron yang sedang terduduk melihat kearah jendela. Anak itu menawarkan makanannya, Baron hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya, menandakan dia menolak tawaran tersebut.
"Aku akan pergi keluar, kau jagalah kakakmu Levin yang sedang bermeditasi dikamarnya. Bangunkanlah dia jika perlu, aku rasa aku akan pergi agak lama." kata Baron sambil mengusap kepala Wander. Dia lalu melangkah pergi keluar menuju kampung sebelah, kampung Mofur.
Baron berjalan melalui jalan setapak ke arah barat, letak dimana kampung itu berada. Dia memakai kerudung dan jubah yang serba hitam dan menyembunyikan sebuah pedang kecil dibaliknya.
__ADS_1
Hari menjadi semakin gelap setelah dia sampai di Mofur. Meskipun hari menjelang malam, terlihat banyak sekali orang yang berlalu lalang disana, tercium bau ikan yang menyengat dari arah dermaga, para nelayan disana terlihat sedang sibuk dan senang dengan ikan tangkapan mereka.
Dia sudah pernah pergi ke kampung itu waktu dia masih kecil. Waktu itu dia diajarkan untuk membunuh seorang pencuri yang kabur melalui perairan ke kampung itu. Dia membunuh pencuri itu sebagai latihan oleh seorang gurunya yang merupakan seorang satria kerajaan.
Baron lalu sampai di kedai minuman Homer. Kedai minuman itu terletak disebuah gang yang gelap dan sepi, meskipun begitu kedai minuman itu cukup terkenal dikalangan banyak orang. Dia berjalan menyusuri gang disana, dia berjalan melalui jalanan berbatu yang becek oleh genangan air. Terlihat dua orang yang memakai jubah di ujung gang diluar kedai minuman itu, Baron menyipitkan matanya, wujud mereka tertutupi oleh bayang-bayang karena terlalu gelap. Baron lalu menghampiri mereka dengan perlahan, dia meletakkan tangannya saku jubah dan mempertajam kesadarannya.
"Ini dia budak yang terakhir tuan Baron, aku membawanya kepadamu sesuai janji." kata si prajurit, sementara budak itu hanya terdiam menundukan kepalanya. Baron membuka kerudung budak itu dan memperhatikan lehernya, terdapat sebuah tanda yang sama dengan Levin dan Wander. Dia lalu mengangkat dagunya keatas untuk melihat wajahnya dengan lebih jelas, mata si budak yang indah berwarna biru lalu menatapnya dengan lembut, bibirnya yang kecil sedikit terbuka mengekspresikan dia sedang kebingungan, dia mempunyai rambut yang berwarna coklat panjang, cocok sekali dengan tubuhnya yang kecil dan pemalu. Wajah Baron lalu memerah, dia lalu mengalihkan pandangan dan menggaruk lehernya dengan agak malu.
"Si.. Siapa namamu, wahai budak?" tanya Baron kepada budak itu setelah bertingkah agak aneh, dia melihat kembali wajah si budak, wajah Baron pun menjadi merah padam.
"Aku Ally" kata budak itu dengan suara yang sangat lembut. Baron lalu terkejut dengan suaranya, dia dengan refleks berteriak kecil dan dengan malu menutup mulutnya kembali dengan tangannya.
"A... Apa yang terjadi denganku?" katanya dalam hati, hatinya berdegup kencang.
"Ak... Aku tidak menyangka dia se-menggemaskan ini, tahanlah perasaanmu Baron!" Katanya lagi, sementara si prajurit terlihat kebingungan melihat tingkah laku aneh sang bangsawan dihadapannya.
"Ka.. Kalau begitu ayo kita pulang. Eh maksudku ikut aku mbak" katanya, dia lalu menepuk jidatnya karena malu. Sementara itu si budak menatapnya dengan bingung. Dia menundukan kepalanya dan mengangkat alisnya, bibirnya yang kecil sedikit terbuka, membuat jantung Baron berdegup lebih kencang. Baronpun lalu mengambil nafas panjang, dan membusungkan dadanya kedepan.
"A.. Aku minta maaf. Badanku sedikit tidak enak jadi aku sedikit aneh sekarang." kata Baron sambil menghela nafas
"Kalau begitu terima kasih tuan penjaga. Urusan kita selesai sampai disini. Untuk penjaga yang tidak sadarkan diri dihutan, aku rasa itu salahmu yang bertugas untuk mengalihkan penjaga lain. Tapi aku rasa akan ada baiknya juga jika aku memberimu sebuah kompensasi, tolong terimalah beberapa emas ini dariku. Dan jangan lupa untuk menjaga rahasia kita dengan baik" Baron lalu memberikan kantung kecil berisi emas di saku jubahnya kepada si penjaga. Dia lalu membungkukan badannya dan mengulurkan tangannya kepada Ally.
__ADS_1
"Ikutlah bersamaku, Ally." kata Baron sambil tersenyum manis kepada Ally. Ally lalu meraih tangan Baron, dan merekapun berjalan keluar dari gang tersebut.
- End of Chapter :)