Petualangan Si Pembawa Cahaya

Petualangan Si Pembawa Cahaya
CH. 21 - For the Other Part of His Heart


__ADS_3

Arnold memegangi kepala Alisa yang tidak berhenti mencoba untuk menggigit orang dihadapanya. Kain yang digunakan untuk menyumbat mulut Alisa sekarang tergeletak dilantai, kain itu basah karena lendir. Levin berada di atas ranjang bersama Alisa, dia sedang memegangi teko yang berisi cairan ramuan yang dibuat oleh Arnold dengan waktu yang cukup lama dan mencoba memasukannya kedalam mulut Alisa.


"Ayolah Arnold! Pegangi saja kepalanya sekuat tenagamu, jangan ragu-ragu dan takut! Dia tidak akan mengigitmu tahu!" teriak Levin melawan suara Alisa yang dari tadi menggeram. Sementara Arnold sedang bersusah payah memegangi kepala Alisa yang mungil dan lucu itu. Meskipun dia sedang mengamuk, wajahnya lebih mirip seperti anak kucing yang sedang bertengkar daripada seekor singa yang sedang menyeringai kepada mangsanya.


"A.. Aku takut aku melukai dia Levin! Aku takut aku mematahkan lehernya!" balas Arnold sambil berusaha memegangi kepala Alisa dengan tangan lemahnya. Levin lalu melotot kepada Arnold, Arnold lalu memaksakan dirinya sendiri, meskipun mempunyai peluang untuk digigit, Arnold memberanikan dirinya untuk memegangi dagu dan membuka mulutnya sehingga Levin bisa memasukan cairan coklat itu kedalamnya. Merekapun berhasil melakukannya. Levin menuangkan cairan itu ke dalam mulut Alisa. Cairan itu tersemburkan kembali keluar, cipratannya mengenai wajah Levin. Meskipun begitu mereka berhasil membuatnya tertidur, otot-ototnya melemas dengan seketika dan diapun menutup matanya.


"Akhirnya! Semoga obat ini bisa menenangkannya dalam waktu yang lama. Karena aku rasa akan membutuhkan waktu untuk pergi ke rawa itu dan kembali kesini membawa penawarnya." kata Levin sambil mengelapkan kain bajunya ke wajahnya yang terkena cipratan tadi.


"Yah... Aku rasa cairan ini memang akan membuatnya beristirahat untuk beberapa jam. Alisa pernah memberitahuku cara membuat cairan yang lebih kuat, meskipun ada efek sampingnya juga, yaitu tubuh yang sangat lemas ketika terbangun." kata Arnold sambil melihat ke wajah Alisa, dan mengusap pipinya dengan lembut. Dia lalu tersenyum dan mencium keningnya.


"Kita harus mengikatnya kembali dengan lebih erat. Ada kemungkinan baginya untuk terbangun dan mengamuk kembali saat kita pergi." kata Levin sambil membalutkan kain kepada mulut Alisa, sementara Arnold terus menerus memegangi tangan Levin mencoba mencegahnya membalutkannya dengan terlalu kasar.


"Kita harus pergi sekarang. Semoga Hartlova menjaganya." kata Levin sambil melangkah mundur dari ranjang. Arnold lalu menghampiri Alisa kembali dan memeluknya.


"Semoga Hartlova menjagamu, tikus manisku. Aku akan kembali membawakanmu penawarnya, tolong bertahanlah Alisa." bisik Arnold kepada telinga Alisa. Mereka lalu melangkah keluar dari rumah itu.


Angin berhembus dingin membisikan suara yang lembut kepada leher kedua pemuda yang keluar dari rumah itu. Tubuh mereka bergidik saat air hujan yang rintik-rintik mendarat di kulit mereka. Waktu itu sore yang cukup cerah, meskipun air berjatuhan dari langit.


Levin melangkah maju kedepan dengan langkah yang tegas dan cepat. Dia lalu berhenti dan linglung, dia menengok ke arah kanan kiri mencari jalan yang benar.


"Kemana kita akan pergi Arnold?" tanya Levin sambil meletakkan tangannya ke keningnya. Dia lalu menengok kebelakang, tidak ada Arnold disampingnya.

__ADS_1


Arnold sedang sibuk memakaikan sepatunya di halaman rumah kayu itu. Levin menggeram, dia sedang membawa seseorang yang lemah bersamanya dalam tugas yang tidak meyakinkan ini. Dia lalu menepuk jidatnya, melihat Arnold yang lelet.


"Maafkan aku tuan Levin. Aku harus memakai sepatuku dengan benar. Alisa memberitahuku hal itu agar aku tidak terkilir saat dalam perjalanan." katanya sambil tersenyum. Sedangkan Levin hanya menganggukan kepalanya.


Arnold mengacungkan tangannya ke arah hutan. Jemarinya menunjuk ke sebuah jalan setapak yang samar menuju hutan yang gelap dan lebat. Mereka lalu berjalan ke arah itu. Levin berjalan dengan langkah yang kuat dan panjang. Sementara Arnold kelelahan mencoba untuk menyusul Levin, dia terengah-engah.


"Tu.. Tunggu aku! Bisakah kau memperlambat langkahmu sedikit?" tanya Arnold dengan terengah-engah.


"Kita harus cepat Arnold. Kau ingin segera bertemu dengan Alisa kan?" kata Levin sambil melanjutkan langkahnya. Arnold lalu teringat sesuatu, dia ingat waktu dulu saat Alisa menolongnya saat dia terkilir.


Waktu itu Arnold dan Alisa masih berumur enam tahun. Mereka sedang bermain di sungai, Alisa sedang duduk disebuah batang kayu yang besar melihat ke arah Arnold. Anak itu sedang lari-larian di tepi sungai, dia merentangkan tangannya sambil tertawa.


"Ayolah Arnold! Kau bisa terjatuh tahu! Disini tempatnya becek, kau bisa terpeleset!" teriak Alisa kepada Arnold. Anak laki-laki itu tidak mendengarkannya.


Alisa yang waktu itu sedang duduk diam lalu melangkah ke arah Arnold. Dia menengok kanan kiri mencari sesuatu, dia lalu mencabuti sebuah tanaman dan membubukannya. Dia lalu mengoleskan bubuk tanaman itu kepada kaki kecil Arnold yang terkilir, diapun berhenti menangis. Alisa lalu membuka sepatunya dan menukarkannya dengan milik Arnold.


"Lain kali pakailah sepatumu dengan benar. Lebih baik menghabiskan banyak waktu menalikan sepatumu dirumah, daripada menalikannya di jalan kan?" kata Alisa kecil itu sambil mengelus-ngelus kepala Arnold dan tersenyum.


Teriakan Levin membangunkan Arnold dari lamunannya. Arnold melihat kesekelilingnya yang gelap dan dingin itu. Permukaan tanahnya basah, terdapat banyak akar dari arah rawa-rawa disekitarnya.


"Apakah ini rawanya? Kau tahu kemana arah ke Fertrance?" teriak Levin kepada Arnold yang berada agak jauh dibelakangnya. Arnold lalu menjawab.

__ADS_1


"Y.. Ya. Lurus saja kedepan seperti biasa." kata Arnold sambil menggaruk-garuk tangannya karena digigiti nyamuk.


Levin menghentikan langkahnya dengan serentak. Dia melihat sesuatu dari kejauhan, seseorang berpakaian serba hitam sedang berdiri dengan tubuh yang bungkuk dihadapannya. Intensitas cahaya yang kecil membuat Levin kesulitan menggambarkan wajahnya. Dia lalu melangkahkan kakinya dengan cepat ke arah orang itu. Dia adalah seorang wanita tua.


"Selamat datang, Arnold. Ada apa gerangan bagi para pemuda berhati baja datang kepada nenek tua yang rapuh ini?." kata wanita tua itu sambil tertawa kecil setelah melihat ke arah Levin. Levin menyipitkan matanya, dia mencurigai sesuatu dari wanita ini.


"A.. Apa yang kau bicarakan penyihir! Darimana kau bisa tahu namaku dan apa yang telah kau lakukan kepada Alisa!" teriak Arnold dengan wajah kesal dan melangkah maju ke arah wanita tua itu. Levin lalu menahannya.


"Ah ya, Alisa, wanita yang malang. Aku sudah memperingatinya untuk mengembalikan tanaman-tanaman langka kembali ke gunung itu, dia tidak mendengarkanku. Kau tahu, itulah yang dia dapatkan karena kepalanya yang keras itu." kata nenek itu sambil tersenyum sinis kepada Arnold. Arnold mengepalkan tangannya.


"Ka.. Kau tidak tahu rasa sakit yang dia sedang alami sekarang! Dia tidak pantas mendapatkan rasa sakit itu! Kembalikanlah dia atau akan kubunuh kau!" teriak Arnold, wajahnya memerah karena rasa marah yang membara.


"Tidak ada yang bisa mengembalikannya kembali, anak muda. Dia telah tertancap oleh duri dari tanaman langka yang dia bawa dari digunung itu. Orang yang tertancap akan kehilangan akalnya dan meninggal dalam waktu satu hari. Tanaman itu tumbuh setiap enam ratus tahun sekali , bunga dari tanaman itu dapat menyembuhkan dan mengembalikan otak seseorang yang membusuk. Tapi dibalik itu, durinya yang tajam dan merah menyimpan sebuah racun yang dapat menghancurkan otak itu sendiri, itulah yang luput dari Alisa, dia tidak menyadari fakta itu." kata nenek itu sambil berjongkok memainkan air rawa. Arnold tegang, dia menjadi semakin kesal dan takut. Dia lalu memohon kepada nenek itu.


"Tolonglah! Aku memohon kepadamu! Tolong sembuhkanlah dia, akan aku lakukan apapun untuk menyembuhkannya kembali!" teriak Arnold sambil berlutut kepada nenek itu. Nenek itu membalikan badannya dan menyentuh pundak Arnold.


"Hartlova menuliskan garis takdir, dengan pena apinya yang membara di atas langit yang tinggi dan teguh. Siapa kita mengganggunya? Siapa kita meragukannya? Ada sesuatu, yang dapat kau lakukan untuk mengembalikan kondisi otaknya. Sesuatu yang dapat melumpuhkan zat beracun yang mengalir di darahnya. Pergilah ke gunung troll, mintalah mereka untuk memberikan taringnya, lalu rendamlah taring itu dalam air panas yang terus kau berikan kepada wanita itu, sebelum waktu datang menjemputnya." kata nenek itu. Dia berjalan ke arah Arnold, dan mengelus-ngelus keningnya sebelum menghilang ke rawa-rawa yang gelap itu.


Arnold terpatung, dia melihat kebawah. Rasa takut mengalir bersama darahnya, menari-nari di perut dan dadanya. Dia harus membunuh dan membawa taring troll denhan tubuh lemahnya. Dia lalu mengepalkan tangannya dan menoleh ke arah Levin, yang dari tadi terdiam mengamati.


"Aku akan membawa taring troll itu. Apapun yang terjadi. Dengan atau tidak denganmu, aku akan pergi ke Fertrance dan membunuh troll disana dan mengembalikannya ke Alisa." kata Arnold dengan tegasnya, membuat Levin menjadi terkagum kepadanya.

__ADS_1


"Kita akan pergi bersama-sama kawan. Aku tidak akan berhenti di tengah jalan. Apapun yang akan terjadi, kita akan membawa taring itu kepada Alisa sebelum matahari terbenam." ucap Levin sambil tersenyum.


- End of Chapter :)


__ADS_2