
Levin dan wanita muda itu berlari. Tangan Levin dituntun oleh wanita itu yang memimpin jalan, dia berkata dia mendapatkan sebuah ide dan akan mengeksekusi kadal itu dengan rencananya.
"Pelan-pelan! Disini sangat gelap!" teriak Levin, wanita itu mengabaikannya dan terus berlari dengan cepat.
"Aku bisa melihat dalam gelap, jangan lepaskan tanganku." balas wanita itu.
Mereka berdua berlari dengan cukup kencang. Levin berusaha untuk melihat lingkungan sekitarnya yang kabur, dia merasakan mahluk kadal itu mengikutinya meskipun dia tidak bisa melihatnya.
Levin lalu terkejut ketika dia melihat sebuah danau dihadapannya, mereka berhenti dan Levin mengamati tempat itu, tempat itu adalah danau yang ditempati oleh Llemas.
"Kenapa kita kesini? Jangan-jangan kau tahu tentang Llema..." wanita itu lalu mendorong Levin dan membuatnya terjatuh ke tanah. Mahluk kadal yang mencoba untuk mendorong Levin ke danau meleset, sehingga tubuhnya hampir tercebur ke danau.
"Sedikit lagi..." gumam wanita itu yang memang sudah merencanakan strategi itu dan mengetahui kadal itu akan menyerang Levin. "Tapi rasakan ini!" teriaknya sambil mengacungkan tongkatnya ke mahluk kadal itu dan menimbulkan cahaya yang cepat dan meledak di tanah, sayangnya mahluk itu melompat ke atas dan menghindarinya.
"Apa yang sebenarnya kau rencanakan? Menceburkannya ke danau?" tanya Levin sambil berdiri dan membuka pedangnya.
"Ya... Tapi sayangnya aku kehabisan mana... Kita membutuhkan rencana lain." ucap wanita itu sambil terengah-engah. Mahluk kadal itu menghilang dari pandangan kedua pemuda itu.
"Tunggu... Apa ini? Apa kau bisa merasakannya?" tanya wanita muda itu, Levin mengangguk.
"Ya, aku merasakan dua mahluk lain disekitar sini, yang satunya lagi pasti Llemas." ucap Levin, wanita muda itu lalu menatapnya dengan cepat.
__ADS_1
"Llemas? Maksudmu monster ikan yang menghantui perairan New Vamor? Bagaimana kau tahu itu?".
"Aku berbicara dengannya tadi siang, dia yang memintaku untuk membunuh mahluk kadal itu." ucap Levin, dia lalu melihat ke danau dan Llemas ada disana, dia sedang melihat ke arah mereka berdua. "Aku rasa mahluk kadal itu menyadari kehadiran Llemas dan sedang bersembunyi di pepohonan sekarang, lihatlah kebelakang."
Wanita itu melihat kebelakang ke arah danau dan melihat wajah ikan yang sangat besar sedang mengambang di atas air danau. Wujud itu sangat mengerikan, tapi wanita itu tahu bahwa mahluk itu takkan menyakitinya.
"Mahluk kadal itu masih ada disekitar sini, dia sedang bersembunyi di atas batang pohon disuatu tempat. Energinya menyebar, aku tidak tahu letaknya dengan pasti. Aku heran kenapa dia tidak bersembunyi dan malah melawan kita." ucap Levin. Wanita itu lalu menatapnya.
"Takut, entah kenapa mahluk itu takut kepadamu. Mahluk itu memang tidak berencana untuk kabur sebelumnya, mungkin perkataan sebelumnya hanyalah sebuah gertakkan. Mahluk itu sama seperti manusia, dia bisa merasakan takut dan emosi lainnya, tapi sepertinya dia adalah seorang alkemis mental, dia bisa merubah emosinya dengan apapun yang dia inginkan hanya dengan menari." kata wanita itu.
"Kalau begitu dia memang mengincarku... Mungkin untuk mencari informasi tentang letak Ramon. Atau mungkin untuk membunuhku karena aku adalah sang Sagmorat, mungkin saja." ucap Levin dalam hati.
"Mahluk ikan itu... Apakah dia ada dipihak kita?" tanya si wanita.
"Iya, memang kenapa?"
"Yang aku tahu kadal itu bisa berenang. Aku pernah melihat kadal berenang menggunakan ekornya dan kakinya untuk bergerak berbelok, jangan bilang kau tidak tahu itu..."
"Ma.. Maaf, aku memang tidak tahu. Tapi keuntungannya sekarang kita dapat teman baru, ya kan?" ucap wanita itu sambil tersenyum manis kepada Levin. Wajah Levin memerah.
Llemas lalu bangkit, tubuhnya yang terlihat seperti tubuh lele panjang membentang ke atas, mahluk itu menundukkan kepalanya kepada Levin, mengisyaratkan Levin untuk segera memegang kristal yang dia punya disakunya. Levin lalu membawa kristal itu dan membuatnya saling bersinar satu sama lain. Suara bisikan mengerikan lalu terdengar kembali, semakin lama suara itu semakin jelas, Levin lalu bisa mendengar perkataan Llemas dikepalanya dengan jelas.
__ADS_1
"Gunakan pedangmu untuk mencari letaknya Sagmorat. Acungkan pedang itu ke atas dan gunakan sihir cahayamu untuk mencarinya." ucap Llemas. Levin lalu menarik nafasnya terkejut, dia ingat sesuatu.
"Be.. Benar juga. Aku pernah melakukan hal itu sebelumnya dan melacaknya dengan sihir cahayaku. Terimakasih sudah mengingatkanku." ucap Levin, dia memasukkan kristal itu kembali ke sakunya.
Levin membuka pedangnya dan mengacungkannya ke atas. Dia lalu mengeluarkan cahaya dari pedang itu, cahaya itu berkumpul dan menyoroti suatu tempat yang rimbun dengan pepohonan. Suatu sosok pun terlihat disana, dia adalah si mahluk kadal.
"I.. Itu dia! Dia bersembunyi di atas batang pohon lagi! Sekarang apa yang harus kita lakukan? Mana ku habis." ucap wanita itu kepada Levin. Levin tersenyum sinis menatap ke kadal itu, dia mengangkat dagunya dan berjalan ke arah mahluk kadal yang hanya diam memandangi Levin.
"Aku baru saja menyadari sesuatu. Banyak penyihir lama menggunakan sihir untuk melawan sihir kembali. Ternyata ada sesuatu yang luput disini, mahluk kadal itu tidak akan tersakiti meskipun dengan sihir sekalipun selama dia menyadari serangannya karena tubuh kadalnya itu. Tapi bagaimana jika," Levin mengangkat pedangnya lebih tinggi. "Aku mengubahnya menjadi manusia kembali!" teriaknya. Cahaya yang keluar dari pedang itu menjadi lebih terang dan hangat, cahaya itu sama dengan cahaya yang dia gunakan untuk mengobati para penduduk di desa yang terkena racun sihir mahluk kadal itu.
Mahluk kadal itu terselimuti cahaya, sedikit demi sedikit tubuhnya berubah menjadi manusia yang telanjang. Kakinya tidak bisa menahan tubuh manusianya itu di batang pohon yang kecil, hingga akhirnya dia terjatuh ke tanah, tepat dihadapan Levin.
"Banyak hal yang aku ingin tanyakan kepadamu. Tapi waktu kita sudah habis, selamat tinggal, Genta." Levin menusukkan pedangnya ke tubuh orang tua berjanggut lebat yang telanjang bulat itu.
Levin melepas pedangnya kembali, lalu terlihatlah cahaya hitam keluar dari mulut Genta. Cahaya itulah yang mungkin dimaksud Ramon dengan Lost Souls atau arwah tersesat, dia adalah mahluk Atlantis yang terkutuk. Cahaya itu lalu menghilang. Si wanita berlari ke arah Levin.
"Roh terkutuk. Mereka menghilang karena dunia ini bukan tempat mereka lagi. Tapi aneh, seharusnya mereka tidak bisa menguasai tubuh seseorang sepenuhnya selama itu, bahkan roh itu memberinya kekuatan sihir, hal itu mustahil untuk terjadi." kata wanita itu. Levin lalu memandangnya, matahari muncul memberi sebuah kesan menenangkan.
"Kau tahu banyak tentang sihir. Sebenarnya siapa kau?" tanya Levin.
"Benar juga, kita belum berkenalan selama ini. Aku Merasus, aku adalah seorang sorcerer yatim piatu dari desa Dertre, senang bertemu denganmu." wanita itu membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Aku Levin Awaru, senang bertemu denganmu dan terimakasih atas bantuannya."
- End of Chapter :)