
Irvan berjalan keluar dari gerbang kampus dengan marah dan sedih menghiasi hatinya.
Kali ini ia pergi dan tidak mungkin lagi kembali ke kampus itu. Ia menunduk sejenak, lalu membalikan tubuhnya melihat Star Light University untuk terakhir kalinya kemudian berjalan pergi.
Disepanjang jalan, ia menendang dedauan yang ia temui. Suasanan hatinya hancur karena semua impiannya hilang.
Pasrah menerima siksaan dan hina demi kuliahnya selama ini sia-sia.
“Tau kalau begini akhirnya, sebaiknya aku tidak perlu menghambakan diriku selama ini.” Pikirnya kesal.
Tapi nasi sudah menjadi bubur.
Kekecewaan membuat Irvan berjalan tanpa mempedulikan apapun disekitar.
Di kejauhan, sebuah mobil Bugatti Centodieci melaju dengan kecepatan tinggi. Di dalamnya ada pria paruh baya yang baru saja mendapat telepon dari seseorang, juga bersama dengannya ada dua orang anak buahnya yang asik ngobrol.
Sementara Irvan tidak menyadari ada mobil yang mendekat, ia hendak menyebrang.
“Pip ... pip, pip, pip, pip ... pipppppppppppp ....” Bunyi klakson mobil sangat keras mengagetkannya.
“Bruk !!!” Suatu tabrakan terjadi.
Irvan yang merasa akan tertabrak, langsung melompat ke pinggir jalan, namun sial tetap menimpanya. Karena gerakannya refleks, kepala sampingnya membentur tiang rambu lalu lintas.
“Aduh ... !”
Irvan merintih kesakitan. Ia memegang telinganya.
Dorman, si pengendara kendaraan tersebut, menghentikan mobilnya, lalu turun dan berlari menghampiri Irvan.
Tidak terjadi sesuatu yang serius, hanya sedikit luka ringan di bagian telinga.
Irvan merasa tidak apa-apa. Lalu keduanya, yang sama-sama merasa bersalah, saling memberi maaf.
Sementara keduanya berbicara, pria paruh baya yang ternyata adalah bosnya Dorman merasa tidak nyaman, iapun keluar dari mobil dengan diikuti kedua anak buahnya lalu pergi untuk menyaksikan secara langsung keadaan Irvan.
Setelah mendapat penjelasan lengkap dari Irvan dan Dorman, pria paruh baya itu memohon izin untuk melihat langsung bagian telinga Irvan yang terluka.
Irvan mengarahkan telinganya ke arah pria paruh baya itu, lalu ia menarik layar telinganya ke depan agar luka kecilnya bisa terlihat jelas.
Kemudian dengan manik matanya yang meneliti, bosnya Dorman melihat bagian telinga Irvan dengan seksama.
“Ha …!” Betapa kagetnya dia.
__ADS_1
Bos itu mundur beberapa langkah kebelakang, lalu menatap wajah Irvan seperti sedang meneliti sesuatu.
Irvan, Dorman dan kedua anak buahnya merasa ada yang aneh dengan sikap pria paruh baya itu.
Ia lalu bertanya tentang nama, tempat tinggal dan sekolahnya untuk mengetahui beberapa identitas Irvan.
Setelahnya, pria paruh baya itu memasukan tangannya ke kantong celana, menggenggam sejumlah uang yang tidak lagi dihitung totalnya, dengan gemetaran, ia menyerahkan semuanya kepada Irvan untuk biaya berobat.
Melihat uang itu terlalu banyak, Irvan tidak ingin menerimanya. Namun, dengan wajah ketakutan, bos itu memohon agar Ivan mau mengambilnya
Karena melihat kesungguhan bos itu, Irvan menerima saja uangnya. Lalu beberapa saat kemudian, Irvan pamit.
Melihat Irvan telah pergi, bosnya Dorman memerintah kedua anak buahnya agar dengan sembunyi-sembunyi membuntuti kemana perginya Irvan, lalu melaporkan kepadanya.
***
Irvan pergi ke pinggiran kota. Disana ada areah persawahan yang luas. Padinya mulai menguning menambah indah pemandangan. Tempatnya nyaman untuk orang-orang yang ingin menenangkan diri.
Biasanya Irvan datang ke sana. Kadang sendirian, kadang juga bersama-sama dengan teman-teman disekitar kompleks mulungnya.
Irvan berjalan mengikuti arah pematang sampai ketengah-tengah sawah. Disana ada sebuah pondok kecil. Irvan masuk ke dalamnya lalu duduk merenungkan nasipnya.
Ia berpikir dan terus berpikir, kenapa nasibnya selalu saja sial? Apa salahnya menjadi orang miskin?
Mengapa ia seorang diri ada di tempat pembuangan sampah 23 tahun lalu dengan pakaian yang penuh dengan darah?
Apakah ia masih punya keluarga atau tidak? Orang tua kandung? Kakak atau adik? Dan banyak lagi yang dipikirnya.
Ia terus berpikir, merenung dan berpikir lagi, hingga akhirnya pikirannya buntu, ia kecapean lalu tertidur di pondok itu hingga beberapa jam.
Irvan tersadar dari tidurnya, mengucak matanya dan melihat ke luar, rupanya hari sudah sore. Ia turun dari pondok dan ingin pulang ke rumah orang tua angkatnya.
Namun, tampak di kejauhan ia melihat ada 5 mobil melaju kencang saling beriringan memasuki area persawahan dan berhenti persis di ujung sawah.
Belasan pria turun dari mobil-mobil itu sambil melihat-lihat ke tengah-tengah sawah.
Tidak lama kemudian, dari arah timur datanglah 1 orang dan terlihat juga satu orang lainnya mendekati mereka dari arah berlawanan.
Irvan yang melihat orang-orang itu, mulai menebak-nebak dalam hatinya mungkin mereka adalah pemilik persawahan ini. Datang untuk melihat padi yang mulai menguning pikirnya positif, sedankan dua orang yang lain itu, pasti penjaga sawah ini tebaknya lagi.
Namun sambil ia memperhatikan mereka, dua orang itu menunjuk kearahnya.
Irvan lalu berpikir, jangan-jangan orang-orang itu suruhan Viki, karenanya,dengan cepat Irvan bergegas meninggalkan persawan itu melalui jalan lain.
__ADS_1
Sementara Irvan berjalan, belasan pria yang di mobil tadi, mulai kebingungan. Seakan target mereka mulai menjauh.
Rupanya tujuan mereka datang ke persawahan itu karena Irvan ada disana. Lalu seorang yang sepertinya mengetuai mereka semua mulai berbicara.
“Apakah ada orang-orang kita di seberang persawahan ini?” tanyanya kepada Pak Fais yang ternyata adalah pria paruh baya di mobil yang menabrak Irvan tadi.
Dengan sedikit gugup, Pak Fais menjawab “Iya, orang-orang kita ada di sana Tuan” Kata Pak Fais kepada orang ternyata bernama Tuan Leon itu.
“Kalau begitu, suruh mereka untuk memantau kemana anak muda itu pergi dan ingat, jangan sampai membuatnya curiga!” Kata Tuan Leon memberi perintah.
“Baik, Tuan” jawab Pak Fais, sambil mengambil handphone kemudian memencet tombol dan mengarahkan ke telinganya.
Beberapa saat kemudian, terdengar suara orang bicara diseberang sana.
“Siap Pak…Kami masih di lokasi pantau. Apakah ada perintah baru untuk kami?” Tanya seorang.
“Bagus kalau begitu. Pemuda itu berjalan kearah kalian. Pastikan kemana perginya. Tapi ingat, jangan sampai ia mencurigai kalian!” Perintah Pak Fais jelas.
***
Sebagai orang yang memiliki ilmu bela diri tingkat tinggi, Irvan mempunyai daya peka yang luar biasa terhadap apa yang ada disekitarnya, sehingga membuatnya dengan cepat menyadari bahwa ada orang yang membuntutinya.
“Ah, aku ini belum selesai satu masalah, ada lagi masalah baru yang membuntutiku.” Pikir Irvan sambil terus berjalan memikirkan cara menghindari orang-orang itu.
Kini ia memutar arah berjalan menuju pasar. Ia mau bersembunyi di anatara banyak orang disana supaya bisa terhindar dari orang-orang yang mengikutinya.
Setibanya di pasar, Irvan berjalan menyelinap di antara para pedagang dan pembeli.
Irvan juga mulai masuk dan keluar toko, sengaja untuk menghilangkan jejaknya. Namun beberapa pria yang membuntutinya terus mengikutinya dari belakang.
Kali ini, Irvan masuk ke toko barang bekas, membeli jaket lusuh yang ada topinya. Ia segera mengenakan jaket itu, menutup bagian kepalanya, lalu keluar.
Setibanya di luar, Irvan menuju ke tempat sambah. Mengumpulkan beberapa sampah, mengikatnya lalu memikulnya.
Ia menyamar sebagai pemungut sampat untuk berbalik membuntuti orang-orang tadi.
Ternyata benar, dugaan Irvan. Salah seorang dari mereka adalah anak buah dari pria paruh baya tadi.
“Apa sebenarnya keinginan mereka? Tadi ia berbaik hati dengan memberiku banyak uang, lalu sekarang kok menyuruh anak buahnya membuntuti tu?” Pikir Irvan dalam hatinya.
Ia ingin menagkap seseorang untuk menginterogasinya, namun mengingat masalahnya saat ini yang bertubi tubi membuat ia mengurungkan niatnya, lalu berjalan dengan cepat untuk kembali ke rumah.
Bersambung…
__ADS_1