PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 30. Black Diamond


__ADS_3

Setelah makan siang, Pengacara Will pulang. Ia pastikan bertanggung jawab mengurus semua dokumen Fania, sedangkan Tuan Leon pun harus kembali untuk melaksanakan beberapa pekerjaan.


Irvan dan Fania lah yang masih tinggal di villa menemani Tuan Besar bercerita hingga sore. Mereka terus berbagi kebahagiaan, sampai-sampai semua kisah Tuan Besar besama kakenya Fania di  ceritakan kepada mereka. Kakek merasa kembali bersemangat.


Ketika mentari mulai terbenam Irvan dan Fania pergi ke pusat belanja tersebar di kota untuk membeli berbagai kebutuhan. Mulai dari pakaian, sepatu, sandal, tas, jaket, perhiasan, jam tangan, perlengkapan kosmetik dan apapun keinginan mereka.


Tuan Besarlah yang menyuruh supaya mulai minggu depan mereka sudah harus mengganti semua mode yang selama ini dipakai dengan yang baru. Kakek ingin mereka gunakan yang branded agar terlihat berkelas.


Irvan dan Fania menolak sebenarnya. Mereka hanya ingin tampil apa adanya sebagaimana biasanya. Sederhana, namun berkesan. Mereka belum siap merubah penampilan. Apalagi Fania, merasa masih kuliah dan belum punya penghasilan, bagaimana nantinya kata orang jika melihat perubahan besar dirinya.


Kakek tetap berkeras dengan keinginannya. Soal pekerjaan, tidak perlu dikuatirkan. Kakek telah merencanakannya.Terhitung sore itu, Fania diangkat menjadi bagian dari tim analis keuangan di salah satu perusahaan miliknya.


Tidak ada alasan lagi. Irvan juga telah bekerja, lagian masih ada waktu 1 minggu, bisa digunakan untuk setidaknya menginformasikan kepada semua teman-teman dekat, agar nantinya tidak kaget dan menjadi gosip.


Keduanya pasrah dimata, namun dalam hati ada senangnya juga. Sambil tersenyum, Fania dan Irvan saling memandang, lalu melihat Kakek dan mengiyakan.


Sebenarnya Irvan dan Fania tidak benar-benar membeli, karena tempat milik Tuan Besar Parker. Namun untuk menghindari kecurigaan, masing-masing dibekali dengan kartu bank ekslusif yang telah disiapkan.


Di Pusat belanja, Via kaget ketika melihat kedua orang itu disana. Ia ingin segera menghampiri untuk memberi pelajaran agar sadar kalau tempat seperti itu tidak layak untuk orang miskin seperi mereka. Namun baru beberapa langkah berjalan, kerasnya tamparan Irvan di wajahnya tempo hari mengurung kembali niatnya.


Ia sampai keringatan, walau di ruangan ber-ac karena terus mengikuti Irvan dan Fania sambil jengkel dan berpikir yang negatif terhadap kedua orang itu.


“Paling-paling mereka hanya sekedar mencuci mata atau sengaja datang mencari bahan hayalan untuk menemani tidur malam.”


“Mana mungkin pria gembel, miskin, bersama wanita yang miskin pula, hanya penjual bubur kacang, mampu berbelanja di tempat ini” pikirnya dalam hati. “Jangankan baju, tali sepatupun mereka tak sanggup membayar.” Ucapnya geli sambil tertawa.


“Hei … lihat pria dan wanita yang di sana,” ucap Via kepada seorang pelayan wanita yang kebetulan berdiri di dekatnya sambil menunjuk, “Aku telah memperhatikan keduanya. Sejak tadi mereka terus-terusan berkeliling, mereka tidak berbelanja. Lihat saja penampilan mereka, orang miskin. Aku mencurigai mereka akan melakukan sesuatu yang kurang baik,” hasut Fania.


“Iya, sepertinya ucapan Kakak benar, gerak-gerik mereka seperti mencurigakan.” Kata Pelayan telah terprofokasi. “Monitor-monitor, layar 2 … layar 2 … pria berbaju merah dan wanita berjaket hijau toska,” ucap pelayan itu melaporkan situasi.


Tidak sampai dua menit, beberapa satpam berjalan-jalan mengintari Irvan dan Fania. Sedangkan Via tersenyum jahat menanti reaksi mereka jika ditarik keluar. Ia menyiapkan hanphone untuk merekam, jika kejadian luar biasa itu.


“Selamat malam Tuan dan Nyonya,” ucap seorang pelayan yang diperintah mengecek keseriusan belanja Irvan dan Fania., “apakah ada kesulitan menemukan sesuatu?” Tanyanya halus sesuai dengan standar pelayanan profesionalisme mereka.


“Oh … tidak … kami tidak kesulitan kok, cuma masih ingin lihat-lihat saja,” jawab Fania ramah.


“Maaf, kami perhatikan, Tuan dan Nyonya sudah berada disini lebih dari 1 jam, namun tidak ada sesuatu barang pun yang ingin dibeli.”katanya lagi memancing reaksi Irvan dan Fania.


“Iya, betul … masih pastikan saja kok, lalu kami akan memutar lagi  untuk mengambil semua barang yang telah kami tandai tadi.”


“Aneh”  Kata pelayan itu smabil tersenyum sinis. Dia merasa gaya belanja seperti ini baru pertama kali ia temukan. Memang biasanya ada jugaseperti itu, tapi dari sisi waktu Irvan dan Fania sudah sangat lama.


“Maaf, jika mencari harga yang murah, bukan disini tempatnya, semua barang-barang ini branded, tentu harganya mahal,” sindirnya.

__ADS_1


Irvan yang tadinya tidak merespon kini menoleh kepadanya. Ia merasa ucapan itu tidak sopan bagi seorang palayan di tempat berbelanja.


“Ada apa Tuan … kok kelihatannya tidak senang dengan ucapan ku ya?” Pancingnya.


Irvan dan Fania tidak mau lagi merespon, hanya mau menghindarinya, namun belum sempat berjalan, datanglah seorang pelayan yang arogan. Ia tidak terlihat professional. Wajahnya masam seperti baru saja ditampar.


Ia berkata pada temannya yang ternyata bernama Suryani agar tidak perlu berlama-lama bicara dengan Irvan dan Fania. Ia meminta segera mengusir keduanya. Namun belum sempat Suryani bereaksi, ia sendirilah yang memanggil security yang ternyata berada di sebelah bilik tempat mereka berbicara.


“Bawa kedua orang ini keluar.”


Irvan dan Fania kaget dengan sikap itu. Mereka sangat tidak menyukainya.


“Kami di sini untuk belanja,” kata Fania sambil melihat datangnya security.


“Ah, kalian bohong saja. Mana mungkin sanggup membayar barang-barang disni … ha ... Jangan sampai tali sepatupun tiak sanggup kalian bayar.” Ucapnya meniru kakta-kata Via tadi.


Rupanya pelayan yang ternyata bernama Elsa ini juga telah diprovokasi oleh Via.


“Kami sanggup kok mebayar barang-barang disini!” Kata Fania dengan wajahnya yang mulai merah.


“Sudahlah … aku tidak ingin bertengkar. Kami akan segera mengambil semua barangnya dan membayar lalu kami pulang.” Kata singkat Irvan serasa menyumbat mulut Suryani dan Elsa.


Mereka tidak bisa membantah lagi, hanya mengiyakan.


Karena emosi , Irvan dan Fania ingin segera mengambil semua barang yang hendak dibeli  agar bisa cepat pulang.


Irvan dan Fania juga tidak familiar dengar merk-merk terkenal, akibatnya mereka hanya mengambil-ambil saja. Dilihat yang cocok, tes, sesuai, langsung dibawa. Maksud mereka biar cepat, namun ternyata mengundang perhatian dan reaksi banyak pengunjung.


Orang-orang mulai berbisik-bisik, ada yang berbicara kepada pelayan agar benar-benar memperhatikan Irvan dan Fania, takutnya mereka hanya sekedar mengumpul barang, namun tidak sanggup membayarnya.


Ada pula yang berpikir jangan-jangan keduanya kurang waras, sebab, jika diperhatikan, Irvan dan Fania sama sekali tidak mempedulikan berapapun harga setiap barang. Mereka mengambil saja, tanpa menanyakan harganya terlebih dahulu. Sehingga jika ditaksir total untuk masing-masing orang bisa mencapai tiga puluhan miliar.


Banyak pengunjung bengong melihat tingkah mereka, begitu juga dengan security dan para pelayan hanya geleng-geleng kepala, sementara Via terus tersenyum puas. Ia merasa akan segera melihat adegan paling nikmat di usia mudanya.


Ditengah tengah kesibukan Irvan dan Fania mengumpulkan setiap barang, para pelayan telah bersepakat agar security segera menghentikan tingkah mereka lalu menyeret keduanya keluar.


Pada saat itu, Fania dan Irvan hendak mengambil sepatu. Irvan sedang memperhatikan ukuran sepatu  Nike Air Force, sedangkan Fania mengambil sepatu bermerk Valentino, security datang menghentikan mereka.


“Maaf … kalian harus segera ikut dengan kami”


“Tunggu sebentar … kami akan segera selesai,” kata Irvan meminta pengertian.


“Tidak … hentikan omong kosong kalian.” Ucap seorang security lagi sambil memegang tangan Irvan. Namun Irvan segera menarik tangannya hingga terlepas.

__ADS_1


Merasa Irvan melawan, security yang lainnya segera berteriak “Hentikan kata ku!”. Teriakan itu menarik perhatian.


Diasat itulah Via mengambil kesempatan untuk mendekati mereka.


“Heiiii!” Via sengaja kaget, “pak Security, mereka adalah mahasiswa  paling miskin Star Ligth.” Katanya membongar identitas Irvan dan Fania, “Jika mereka tidak punya uang itu wajar, tetapi kalau hendak mencuri … ku mohon, jangan pukul, kasian wajah bodoh mereka. Laporkan saja ke polisi.” Sambil ia tertawa sinis.


Semua orang yang memihat kejadian itu ikut tertawa sambil mengutuki tindakan Irvan dan Fania dan bagi orang tua yang saat itu sedang bersama anak, langsung menjadikan masalah tadi sebagai contoh jelek yang tidak patut diikuti.


Irvan dan Fania tidak berdaya, pasrah dihina Via. Mereka jtidak mau berdebat, merelakan diri dibawa security, namun karena pintu keluar searah dengan meja kasir, Irvan menghentikan langkah kakinya persis di dekat kasir.


Security merasa Irvan melawan dan hendak memukulnya, namun ia meminta waktu satu menit untuk mengeluarkan kartu banknya.


Sambil tertawa, security mengijinkan, karena sangat yakin disaat Irvan tidak bisa menunjukan kartu banknya, maka dia pasti medapatkan hajaran yang setimpal.


Benar saja. Tangan Irvan dilepas, segera ia merogoh ke kantung celananya, mengeluarkan dompet murahannya, semua orang yang di dekat situpun, selain Fania menertawainya, lalu ada yang berkata: “Mana mungkin, pelanggan disini punya dompet kempes dan murahan seperti itu, hehehe”


Irvan tetap tenang, membuka dompetnya, lalu mengeluarkan sebuah kartu bank eksklusif berwarna hitam. Orang-orang sering menyebutnya Kartu Black Diamond.


Sungguh, yang tadi-tadinya menertawai Irvan dan Fania, kini melotot mata mereka. Ada yang berkata bahwa ternyata benar Kartu Black Diamond itu nyata. Selama ini mereka hanya mendengar desas-desus, mengenai kartu itu, namun sekarang melihat langsung.


“Kami akan membayar pakai ini” Kata Irvan membuat para security tidak berani lagi menyentuh mereka.


“Silahkan!” Kata yang seorang.


Kejadian ini sungguh sangat menarik perhatian. Para security segera meninggalkan mereka dan berencana menunggu di luar. Disatu sisi ingin selamatkan wajah mereka dari rasa malu, disisi lainnya ingin menunggu mereka dari luar saja, namun pengunjung lainnya tetap disana ingin menyaksikan keaslian kartu itu.


Tidak main-main. Setelah Irvan mengeluarkan kartunya, Fania pun turut mengeluarkan miliknya.


"Wao ... ada dua," kata seorang pengunjung dengan kagum.


Dan ternayat benar. Semua orang tercengan-cengan. Pihak Kasir telah menguji keaslian dan kepemilikan Kartu Black Diamond, terdaftar atas nama mereka masing-masing dengan kode tanggal lahir  yang cocok dengan kartu identitas.


Kasir menekan total angka belanjaan, lalu meminta Irvan memasukan pin, terdengan bunyi tit ... tit, tanda transaksi sukses. Hal yang sama dilakukan pula pada kartu milik Fania, sukses dengan total  pembayaran keseluruhannya sebanyak tujuh puhan miliar lebih.


Via yang berharap kartu itu palsu segera menutup wajahnya karena malu, semua orang yang tadi mendengar ucapannya segera memelototinya membuat ia langsung berlari keluar tanpa membeli apa-apa. Ia kaget bukan main, serasa hampir gila.


Sambil berlari ia menyebut satu nama, "VIki ...Viki ... Viki"


Para pengunjung pusat belanjapun satu-satu segera meninggalkan meja kasir dengan malu.


Suryani dan Elsa awalnya tidak berani lagi mendekat, namun karena dipanggil oleh senior pelayan akhirnya datang lalu dengan penuh hormat, membungkukan dan memohon maaf berulang kali.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2