
Sambil memegang kedua tangan Charles Will, Irvan dan Tuan Leon bersumpah tidak akan membocorkan cerita ini, kecuali hanya kepada Fania dan Tuan Besar Parker.
Irvan juga berkata bahwa jika George tahu bahwa Puteri Mark masih hidup, ada kemungkinan dia bisa membunuhnya untuk mengejar hasrat biadapnya. Karenanya Irvan berjanji sekali lagi demi keselamatan temannya.
“Satu teka teki yang harus kita pecahkan yaitu apakah benar teman ku Fania adalah orang yang sama dengan Puteri Mark?” Kata Irvan sambil melihat Tuan Leon dan pengacara Will.
“Mudah saja …” ucap Will membuat Irvan langsung menatapnya denga serius. “Samakan saja sidik jarinya, yang di wasiat dengan sidik jari teman mu saat ini.”
Jalan keluar yang sangat tepat dari Will membuat Irvan dan Tuan Leon sangat senang. Kemudian mereka menetapkan waktu untuk pertemuan lanjutan, lalu Will pamit.
Will ke rumahnya untuk mempersiapkan diri ke luar kota, Tuan Leon dan Irvan menuju Villa Mars.
Di perjalanan, Tuan Leon menceritakan tentang Tuan Besar Mark. Orang yang sangat baik, menjadi teman sekaligus pesaing bisnisnya Tuan Besar Parker yang paling sportif. Namun umurnya pendek.
Banyak orang menduga, kematian mereka, baik Febin Mark, anak pertamanya maupun dia sendiri karena dibunuh oleh George anak keduanya itu.
Tapi semua hanyalah dugaan yang belum bisa dibuktikan, sebab kematian itu terjadi di dalam istana mereka, di villa Jamrud. Febin Marks meninggal ketika berenang di kolam renang belakang rumah, sementara ayahnya, Tuan Besar Mark terjatuh dari lantai 2.
Masih banyak pertanyaan yang ingin Irvan tanyakan, namun tanpa terasa mereka telah tiba di depan gerbang villa.
Setelah pintu dibukaan, mereka masuk ke dalam dan Tuan Leon memarkirkan mobilnya sebelah selatan parkiran villa.
Mengetahui kedatangan Irvan, Tuan Besar yang tadinya berencana untuk menghubungi cucunyta itu, merasa bahagia sekali.
“Umur panjang kamu, Cucu ku,” katanya menyambut Irvan. “Baru saja Kakek rencana menghubungi mu, eh ... ternyata kamu telah datang,” ucapnya sambil memeluk cucu satu-satunya itu.
“Tadi Kakek berencana mau mengajak mu bersama Ibu Kor untuk pergi mengunjungi makan keluarga. Supaya kamu mengetahui dimana kubur mereka.”
“Iya betul Kek, Aku setuju.” Ucap Irvan.
“Oh Iya, dari mana kalian?” Tanya Kakek ingin tahu, sambil mengajak Irvan dan Tuan Leon masuk.
“Bertemu Pengacara Charles Will” jawab Irvan Spontan.
“Apaaa”
Kakek berhenti, lalu melihat Tuan Leon dengan sorot mata yang tajam, seakan menuntut jawaban darinya.
“Kalian bertemu Pengacara Carles Will! Untuk apa?” Tanyanya serius ingin tahu.
“Maaf Tuan Besar, Aku lancang mengajak Irvan bertemu dengannya tanpa sepengetahuan Tuan.” Kata Tuan Leon merasa bersalah.
“Ayo katakan mengapa kamu mengajak Irvan menemuinya?” Tanya Tuan Besar lagi dengan penasaran.
__ADS_1
Sesaat sebelum Tuan Leon berbicara, Irvan terlebih dahulu memotongnya.
“Begini Ke … biar Irvan yang jelaskan” Lalu Irvan menjelaskan semua secara perlahan-lahan tanpa ada satu halpun yang ia tutupi. Bahkan setiap detil perkataan pengacara Will diceritakan kembali dengan sempurna.
Sambil mendengar penjelasan Irvan, Tuan Besar angguk-angguk, ia mengerti dan bisa memaklumi semua maksud mereka.
“Baiklah,” ucap Kakek sambil senyum.
Ia juga ternyata senang, mendengar berita tentang Puteri Mark yang kemungkinan masih hidup dengan nama Fania, tapi walaupun demikian, menurutnya itu masih dugaan yang perlu dibuktikan.
Setelah berkata demikian, diam-diam Kakek memutarkan kursi rodanya pergi. Irvan dan Tuan Leon saling mantap dan mengangguk kepala tanda bingung melihat tingkaknya.
“Mau kemana Kek? Tanya Irvan.
“Tunggu saja di situ!” Perintah tegas kakek membuat Irvan dan Tuan Leon semakin bingung.
Dalam kebingungan mereka, Irvan dan Tuan Leon menunggu Kakek di ruang tengah.
Ternyata ia pergi ke ruang kerjanya hingga beberapa saat kemudian ia kembali dengan membawa semacam sebuah agenda.
Setelah tiba kembali dihadapan Irvan dan Tuan Leon, Tuan Besar membuka buku agenda hitam ditangannya itu. Ada empat lembaran foto zaman dulu yang ia sisipkan di dalamnya.
Tuan besar mengambilnya, lalu menyodorkan semuanya kepada Irvan untuk memperhatikannya.
Sebelum Kakek menjawab, Irvan bertanya lagi, “Gadis kecil ini … siapa dia?”
Dialah cucu sabahat ku Mark, orang yang kalian ceritakan itu.
“Jadi ini Fania?” Ucap Irvan smbil mengangguk, lalu terus memperhatikan foto gadis itu.
Ada suatu hal yang hendak Irvan tanyakan, karena membingungkannya, namun sebelum ia bertanya, kakeknya telah mendahuluinya berbicara.
“Foto ini diambil tepat 2 tahun setelah kematian seluruh keluarga kita. Waktu itu, sahabat ku datang berkunjung untuk menghibur ku, dia juga membawa serta cucunya. Di saat itu pula aku meminta mengabadikan momen itu.” Kenang Tuan Besar.
“Tepat pada waktu itu juga, Mark meminta bantuan untuk mencari pengacara yang dapat membantunya mengamankan kekayaannya. Itulah saatnya dimana Pengacara Will datang ke sini, dan selanjutnya seperti yang telah kalian ketahui dari ceritanya tadi.” Kata Tuan Besar menjawab semua tanda tanya Irvan dan Tuan Leon.
Sambil mengangguk-angguk mengerti, mata Irvan berputar melihat-lihat ke atas, seperti orang sedang memikirkan sesuatu, lalu ia mengambil handphonenya untuk menghubungi seseorang.
Tuan Besar dan Tuan Leon hanya melihat tingkah Irvan yang seperti orang tidak sabaran.
Setelah telponnya terhubung, mereka saling mengucapkan salam dengan semangat.
Rupa-rupanya ia menelpon Fania. Fania masih ingin berkabar dengannya, namun Irvan segera menanyakan tentang foto kecilnya.
__ADS_1
“Ada beberapa, lembar”
“Baguslah, tolong di scan lalu segera kirimkan pada ku saat ini juga.”
Tanpa tanya lagi, Fania mengiyakan, lalu mengakhiri telpon mereka. Ia menduga kemungkinan besar foto itu dibutuhkan Irvan untuk mencari keluarganya.
Fania cepat-cepat ke kamarnya, menuju meja, menarik laci lalu mengambil album foto keluarga.
Di raihnya beberapa lembar foto kecilnya, di scan dengan hendphonenya kemudian segera mengirim.
“tit … tit”
Ada pesan yang masuk.
Irvan segera membuka handphonenya dan benar Fanialah yang mengirin pesan dan beberapa foto sesuai permintaaannya.
Pada beberapa foto yang ia kirim pertama, tertulis keterangan bahwa foto itu diambil ketika ia telah tinggal 1 tahun bersama keluarga asuhnya.
Lalu Fania mengirim lagi foto yang terakhir dengan keterangnnya bahwa foto itu di ambil 1 minggu setelah dia ditemukan oleh Kakek dan Nenek. Pakaian yang di gunakan dalam foto itu adalah pakaiannya saat ia ditemukan.
Tidak saja, foto-foto kecilnya, Fania pun mengambil baju yang masih ia simpan dengan rapi di lemarinya. Baju yang ia pakai di ketika ditemukan, lalu di potretnya, kemudian memberi keterangan lalu dikirimnya juga.
“Ke, coba perhatikan foto-foto ini!” Ucap Irvan sambil menunjukan foto yang dikirim Fania.
“Lihat wajahnya dan baju yang dipakainya, sama dengan foto yang Kakek simpan ini?” Kata Irvan lagi sambil mencocokan foto-foto itu.
Kakek membersihkan kacamatanya, memakai kembali, lalu memperhatikan semua foto-foto itu dengan teliti, kemudian ia serahkan ke Tuan Leon dan memintanya untuk memperhatikan juga.
“Benar. Dia orangnya” Kata Kakek dengan mata yang telah berbinar-binar. “Dimasa tua ku … Aku menemukan kembali cucu ku dan juga cucu dari sahabat baik ku.” Katanya tidak kuasa menahan air mata, lalu ia menangis.
Setelah Tuan Besar Parker selesai menangais, mereka mulai memikirkan cara mendapatkan sidik jari Fania secara diam-diam untuk di cocokan dengan sidik jadi Puteri Mark pada wasiat yang kini di tangan pengacara Will.
Tuan Besar juga berkata dengan tatapan yang sangat serius kepada Irvan, sehingga membuatnya gugup.
“Jika teman mu, si Fania itu benar-benar Puteri Mark, maka hidupnya akan ada dalam bahaya setiap hari, karena itu, rahasiakan dulu identitasnya kepada siapapun, termasuk dia sendiri.”
“Iya Kek … tadi Pengacara Will juga peringatkan aku seperti itu,” ucap Irvan menanggapi perkataan itu, lalu mereka semua terdiam, entah memikirkan apa.
Setelah beberapa saat, Tuan Besar Parker kembali berkata kepada Tuan Leon agar mencari cara bagaimanapun juga untuk melindungi Fania dan mulai menjamin kebutuhan hidupnya setiap hari, jikalau ternyata benar dia adalah cucu sahabatnya.
“Mark meminta ku bersumpah, jika ia meninggal, aku harus menjaga dan melindungi cucunya Puteri Mark, seperti cucu ku sendiri … dan aku telah melakukannya.
” Kenang Tuan Besar Parker melengkapi keingin tahuan Irvan dan Tuan Leon tentang semua perintahnya.
__ADS_1
Bersambung ...