
Acara penandatanganan selesai dan Irvan telah sah menjadi penguasa Parker Grup. Orang terkaya di negeri itu.
Seusai sambutan pertamanya yang di dalamnya juga berisi seruan membalas dendam kematian keluarganya, acara berakhir.
Semua undangan boleh pulang, kecuali yang berasal dari Star Light University diminta tetap di ruangan karena masih ada hal yang Irvan ingin selesaikan.
Lidia dan Resti, kawan sekelas Fania dan juga Lena yang sangat angkuh dan selalu bertindak kasar, kini berdiri gemetaran di tempat mereka.
Resti dan Lidia yakin Fania akan menuntut mereka untuk menepati janji taruhan. Begitu juga Lena, ia sedang ketakutan menghadapi balasan Irvan.
Irvan meminta perhatian mereka semua, lalu mengatakan bahwa dia sudah muak dengan semua tindakan yang selama ini dialami. Ia menyesal karena banyak orang selalu memandang rendah manusia lainnya hanya karena status ekonomi.
“Hari ini, aku ingin menghancurkan semua itu” kata Irvan dengan keras. “Kalian-kalian yang selalu menyiksa ku dan Fania beserta semua mahasiswa miskin, terima balasan ku saat ini.” Ucapnya lagi.
Ia memberi tanda kepada pengawalnya untuk membawa para tahanan yang telah mereka tangkap. Lalu dibawanyalah dihadapan mereka, Viki, Anjas, Reis dan Via.
Begitu keempat orang itu masuk, mereka langsung jatuh tersungkur, lalu bertulut dibawah kaki Irvan sambil menagis memohon ampun.
Suasanan ruangan yang awalnya heboh, seketika menjadi hening tak kala melihat keempat orang itu. Bagaimana tidak, mereka yang sangat terkenal di kampus sebagai orang yang paling kasar terhadap Irvan, kini berlutut dihadapan musuh mereka.
Antara rasa iba dan kesal bercampur menjadi satu. Jika mengingat semua perbuatan-perbuatan mereka, tentunya semua orang pasti kesal, karena mereka terlalu jahat kepada Irvan dan para mahasiswa miskin lainnya, namun, kalau memikirkan nasib yang bakalan dialami ke empat orang itu, semua oran yang jadi kasihan.
Irvan menyuruh mereka berdiri dan mengakui semua kesalahan-kesalahan yang telah mereka lakukan. Lalu dihadapan semua orang di ruangan itu, Viki mewakili teman-temannya mengakui semua perbuatan hingga pada pencurian foto dan percobaan memperkosa Fania.
Suasana di ruangan kembali heboh. Rupa-rupanya orang-orang itu telah bertindak diluar batas. Rasa kasian yang awalnya ada dihati orang-orang segera hilang lantaran mendengar pengakuan itu. Ada yang berujar biar dihukum saja mereka.
Fania yang awalnya belum tahu, siapa orang yang ia tendang di kamarnya waktu itu pun ikut terkejut mendengar pengakuan Viki.
__ADS_1
Dengan geramnya ia mendekati Viki, lalu mengagis penuh penyesalan. Orang yang terlanjur ia percaya, ternyata menyimpan rencana jahat. Ia sangat marah, lalu tanpa mengendalikan diri lagi langsung mengangkat tangannya untuk menampar Viki.
Setelah Fania, berganti Irvan berdiri dihadapan mereka, lalu dengan sekuat tenaga ia menghajar Viki, Anjas dan Reis. Dipukulinya ketiga orang itu berulang kali, hingga wajah mereka dipenuhi dengan darah, sedangkan Via, Irvan hanya menamparnya dua kali sebagai peringatan, lalu memintanya agar tidak lagi ikut-ikutan, lalu menyuruh mereka berlutut kemudian merayap keluar ruangan.
Setelah Viki dan ketiga temannya dihajar, Irvan kembali melihat kepada semua orang di ruangan itu. Suasananya menjadi hening sekali.
Karena Irvan terus memperhatikan mereka tanpa berkata apa-apa, semua orang mulai melirik ke kiri dan ke kanan seolah meminta siapapun yang merasa bersalah kepada Irvan agar maju memohon maaf padanya, lalu beberpa mahasiswa kaya yang sering ikut-ikutan maju dan berlutut dihadapannya, namun Irvan tidak apa apakan mereka. Irvan hanya meminta untuk tidak lagi mengulangi perbuatan itu kepada siapapun.
Sebenarnya, ia hanya menanti Lena, Lidia dan Resti, sedangkan para geng mereka tidak, karena orang-orang itu hanya ikut-ikutan. Mereka bertiga juga ingin ia hajar, karena penghinaan yang sering mereka buat telah di luar batas normal.
Lena tidak ingin maju. Ia tetap di tempatnya, berdiri dengan ketakuran sampai sekujur tubuhnya basah karena keringat. Begitu juga dengan Resti dan Lidia, kedua lulut mereka selalu bersentuhan kagera gemetaran.
Irvan terus menunggu di depan, namun karena tidak ada yang maju, Irvan sendirilah yang datang menghampiri Lena.
Begitu Irvan sampai dihadapannya, Lena langsung kencing di celananya. Ketakutan yang menekannya sejak tadi ternyata akan segera terwujud. Tubuhnya menggigil ketakutan.
Irvan menyuruhnya maju ke depan agar bisa disaksikan secara jelas oleh semua orang. Irvan ingin menjadikannya sebagai contoh wanita yang sangat angkuh dan sombong.
Setiba di depan, Irvan melihat kepada pengawalnya, mereka pun tahu maksudnya, lalu dibawa kepadanya sebuah tas berisi uang yang sangat banyak. Diambilnya dua ikatan, digenggamnya di tangan kiri dan kanan, lalu dengan uang itu, Irvan menampar keras kedua pipi wanita yang dihdapannyanya sambil berkata “Kau yang sangat menghina ku karena uang, ini, rasakan ditampar dengan uang.”
Lena tidak berdaya, ia hanya berdiri pasrah, air matanya terus mengalir, sedikit darah menetes dari bibirnya, namun Irvan tidak peduli. Beberapa lembar uang di tarik dari ikatannya, lalu Irvan menyumbat mulut wanita itu dengan lembaran-lembaran uang tadi, kemudian menyuruhnya menyunyah uang itu, lalu menelannya.
Lena tidak berdaya, dengan penuh ar mata ia menikuti perintah Irvan. Lembaran-lembaran uang ia kunyah semuanya. Lalu Irvan menyuruhnya berlutut sambil berjalan keluar ruangan.
Setelah Lena, orang berikutnya yang Irvan sasar adalah Resti dan Lidia. Sama seperti Lena,kedua orang itu juga sedang gemetaran. Jika dipukul hingga babak belurpun mereka bersedia, asalkan jangan menyuruh mereka melunasi taruhan.
“Bagaimana Res, jika kita ditelanjangi.” Kata Lidia yang ternyata sudah menangis.
__ADS_1
Resti tidak menjawab, ia sedang ketakutan. Pikirannya kacau. Ia bersedia mencium kaki Fania asalkan jangan memuntut sesuai taruhan. Ia menatap Lidia lalu ikutan menagis. “Lid … kita salah menilai Fania.” Katanya penuh penyesalanan.
“Resti … Lidia … silahkan ke depan.” Panggil Irvan sontak saja menggetarkan seluruh tubuh kedua orang itu. Walau tadi mereka telah mempersiapkan diri, namun saatnya tiba lebih menakutkan.
Keduanya tidak bisa beranjak dari tempat karena terus gemetaran. Kaki mereka tidak lagi sanggup untuk melangkah. Tubuh bagai tiada tulang. Kini pasrah dihukum. Para pengawal datang lalu menyeret ke depan.
Sama seperti Lena, mereka hanya bisa mengangis sambil berlutut dan memohon ampun.
Irvan meminta Lidia dan Resti menjelaskan kesalahan mereka kepada semua orang, lalu sambil menangis perintah itu diiukuti sampai akhirnya memohon agar mereka tidak dihukum sesuai dengan taruhan itu.
Irvan tidak memiliki masalah apapun dengan Resti dan Lidia, namun ia bertindak mewakili Fania. “Kalianlah yang membuat taruhan itu, maka harus tepati, jika tidak aku yang melakukannya.” Irvan tidak mungkin melakukan hal itu, ia hanya menggertak saja.
Resti kaget, begitu juga Lidia, kedunya menatap Irvan seakan tak percaya. Semua orang di ruangan itu seakan ingin pinsan mendengar ucapan Irvan.
Resti dan Lidia terus memohon untuk dimaafkan, mereka menangis keras meneriaki nama Fania dan memohon membantu mereka.
Fania datang ke depan, lalu berkata bahwa semuanya telah ia bicarakan dengan Irvan, sehingga apapun tindakan yang akan Irvan lakukan atas mereka adalah yang ia setujui.
Mendengar ucapan Fania, Lidia dan Resti terus mengangis. Kali ini kedua orang itu yang dibiarkan lebih lama berlutut sambil menangis.
Irvan kembali menatap Resti dan Lidia, meminta keduanya berdiri, lalu ia menampar mereka dengan keras, sehingga keduanya hampir jatuh. Dari bibir mereka keluar darah segar, namun rvan tidak peduli.
Setelah Itu, Irvan berkata bahwa ia tidak akan menuntut keduanya sesuai dengantaruhan itu, tetapi ia hanya ingin agar mereka berhenti dari kesombongan yang selama ini dilakukan lalu menyuruh mereka meminta maaf secara pribadi kepada Fania, setelah itu sambil berlutut meninggalkan ruangan.
Kedua wanita itu kaget. Rupanya Irvan bijaksana. Walau telah ditampar dengan keras, namun tiba-tiba saja ada senyum iklas keluar dari wajah mereka, lalu mengikuti arahan Irvan dengan iklas.
Setelah Resti dan Lidia, Irvan menatap Rektor Godliene yang saat itu sedang gemetaran ketakutan. Ia yakin pasti akan mendapat hajaran. Para dosen pun sesekali ikut melirik Rektor Godlien yang terus ketakutan. Mareka percaya Irvan pasti menghajarnya. Namun setelah ditunggu-tunggu, sampai semua disuruh pulang, sama sekali Irvan tidak menyinggung namanya. Mungkin Irvan masih menghargainya sebagai pemimpin kampus.
__ADS_1
Bersambung …