PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 51. Tiga Nyawa Melayang Dalam Sekejap


__ADS_3

Mendengar kerinduan Tuan Besar dan harapan melalui Irvan untuk membalaskan kematian ayah dan kakek Fania, membuat Niken bersedia meninggalkan desa.


Kini, mereka bertiga telah mantap duduk di atas bus meninggalkan kecamatan.


Petra duduk bersama ibunya, sedangkan Irvan bersama seorang tante gendut disebelah kursi.


Sesekali Irvan menoleh pada ibu dan anaknya, demikian juga kedua orang itu melakukan hal yang sama. Mereka saling menjaga dalam perjalanan.


Dua jam perjalanan, bus yang ditumpangi tiba-tiba saja oleng lalu berhenti mendadak membuat para penumpang kaget dan tergeser dari kursi mereka.


“Ada apa ini?” Tanya pemumpang sambil teriak memarahi sopir.


Sopir tidak berbicara apa-apa. Matanya terus melihat ke depan, membuat semua penumpang pun ikut melihat. Rupanya ada sebatang kayu besar yang menghalangi jalan mereka.


Begitu kondektur hendak turun, tiba-tiba terlihat empat pria berpakaian serba hitam dari kepala sampai ujung kaki, hanya dua mata biji merekalah yang terlihat putih, keluar dari semak-semak sambil memegang pistol ditangan.


Perampok gaya baru pikir sopir dan para penumpang. Mereka belum pernah melihat yang seperti ini sebelumnya.


Keempat orang itu langsung menaiki mobil dan menyuruh sopir memutar mobil memasuki kawasan hutan.


“Jangan berteriak, apalagi lari, jika kalian ingin tetap hidup.” Tegas salah satu perampok saat mobil telah berhenti di tengah hutan.


“Semua tangan di atas, turun dari mobil lalu membungkuk ditanah.” Perintah yang seorang lagi.


Psitttttttttttttt


Bunyi letupan pistol yang dipasang peredam suara.


“Ahhhhhhhhhh.” Teriak seorang sesaat lalu mati terkena tembakan karena mencoba lari.


Petra, Niken dan para penumpang lainnya benar-benar ketakutan. Tangisan pecah tanpa suara. Ada yang telah mati sebagai contoh.


Para lelaki disuruh tidur membungku ke tanah. Tidak boleh ada yang bergerak.


Dua perampok mengawasi semua penumpang, sedangkan satunya tetap di atas bus menggeleda isi tas.


“Tidak ada.” Kata yang seorang setelah turun dari bus.


“Periksa dia!” Perintah sang pemimpin sambil menunjuk.

__ADS_1


Niken disuruh berdiri, lalu ia digeledah secara total, dari ujung kepala sampai ke kaki. Segala bagian yang dirasa tidak mungkin pun di periksa. “Orang ini bersih.” Katanya.


Ia menghampiri Petra, menyuruhnya berdiri, lalu menggeledahnya seperti yang tadi ia lakukan pada Niken, namun kali ini dilakukan lebih lama.


Bejat sekali tindakannya. Ia tidak saja menggeledah, namun juga turut mengambil kesempatan lain. Ia berbuat mesum dengan tangannya.


“Dia juga bersih.” Katanya setelah lama menggeledah.


“Bawa orang itu kemari.” Perintahnya sambil menunjuk kepada pria berjaket warna moka.


Irvan berdiri, lalu ia pun diperiksa sedemikian rupa, namun juga tidak ditemukan apa pun yang dicari mereka. “Tidak ada juga.” Kata si penggeledah.


Tidak habis akal. Seseorang yang seperti pemimpin, menyuruh Irvan dan Niken berdiri berdekatan, lalu ia menarik Petra ke sampingnya lalu berkata:


“Gadis ini akan aku telanjangi, lalu kedua anak buah ku akan memperkosanya secara bergilir, kemudian ku bunuh kalian, jika memori hp itu tidak kalian serahkan pada ku.”


Bagai terkena sengatan listrik. Irvan, Niken dan Petra kaget bukan main. Keempat orang ini bukan perampok. Mereka pasti orang suruhan Febin.


“Siapa kalian!” Tanya Irvan.


Bukannya dijawab, malah orang itu mempertegas lagi apa yang ia katakan tadi. “Jangan merugikan kehormatan gadis cantik ini, apalagi nyawa kalian dengan hal yang harusnya tidak boleh kalian miliki.” Ujarnya.


“Tiga menit dari sekarang!” Ucapnya, lalu ia menarik Petra sedikit menjauh dari Irvan dan Niken, disandarnya pada sebatang pohon, diikatnya dengan tali yang telah disediakan. “Gadis ini telah siap.” Ucapnya lagi.


Semalam mereka bertiga baru saja berjanji akan melindungi memori itu, namun sama sekali tidak di duga, kejadiannya bisa seperti ini.


Irvan yakin, tidak mungkin ia dibunuh. Nyawanya pasti sangat berharga bagi orang-orang ini, namun ia tidak tega kepada sahabatnya.


Irvan merelakan memori itu. “Lepaskan dia. Memorinya ada pada ku.” Ucapnya tegas.


Irvan menunduk, memegang ujung lipatan kaki celananya, karena disitulah  tempat ia menyisip memori hp. Diambilnya, lalu diserahkan.


Petra di lepas dari pohon, namun tangannya kembali di ikat satukan dengan tangan Irvan dan Niken, lalu mereka dibawa menjauhi tempat itu. Sementara penumpang lainnya telah diikat satukan. Kemudian dibiarkan disitu, mencari pertolongan sendiri.


Beberapa ratus meter dari situ, ditempat keempat orang itu menyembunyikan dua sepeda motor yang dipakai, mareka berhenti.


Si pemimpin berdiri, ia memperhatikan Niken dan Irvan beberapa saat, lalu ia meminta pistol milik salah satu anak buahnya, digenggamnya di kedua tangannya, kemudian ia mengambil jarak.


Disiapkan pistolnya, lalu berteriak dengan keras: “Maafkan aku.” Sambil air matanya tertumpah mengiringi ungkapan kata hatinya, lalu dengan sangat cepat mengarahkan pistol ke tiga orang sasarannya dan langsung menekan pelatuk kedua pistolnya itu secara bergantian.

__ADS_1


“Ahhhhhhhhhhh.” Suara jeritan keluar dari orang yang terkena tembakan, lalu rebah tak bernyawa.


Melihat ketiga orang itu jatuh, ia juga menjatuhkan diri, berlutut sambil memukul-mukul tanah. Air matanya tumpah, suara tangisannya pecah penuh penyesalan.


Tidak ingin membunuh lagi, namun tidak punya pilihan. Ia pernah bersumpah, tetapi sia-sia.


Tiga nyawa telah melayang dalam sekejap. “Ini yang terakhir. Nyawaku harus ku relakan, jika nanti terulang lagi.” Sumpahnya.


Sementara ditempat yang ditinggalkan mereka tadi. Sekelompok orang yang terikat menjadi satu berhasil melepaskan diri.


Tidak ada satu pun di antara mereka yang di apa-apakan. Tapi mereka penasaran dengan keempat orang tadi, “mengapa hanya Niken dan Petra bersama pacarnya?” Kata seorang ibu yang mengenali mereka.


“Ayo kita pergi.” Teriak sang sopir, setelah mengangkat seorang penumpang yang tadinya tewas tertembak lalu bergegas menaiki bus dan mereka pun kembali ke kecamatan.


***


Di tempat berbeda, Viki sedang berpikir keras, ditangannya ada potongan rekaman cctv yang tentu akan menggemparkan jika ia sebarkan.


Ia sedang memikirkan cara menyebarkannya agar tidak ketahuan. Ia tidak ingin sepupunya Jero ikut terkena imbasnya.


Rupanya, receptionis hotel yang bekerja pagi itu adalah Jero. Ia dipindahkan ke sana atas perintah Tuan Leon setelah melakukan kesalahan terhadap Irvan di hotel Malae.


Jero lah orang yang mengirim rekaman cctv kepada Viki, lalu atas permintaan Viki, ia menyewa temannya yang ternyata juga tetangga dekatnya Petra di desa.


Orang itu menerima tawaran Jero, sebab ia kecewa kepada Petra yang tiga kali menolak cintanya dengan alasan masih mau sekolah. Sejak SMP dan dua kali waktu SMA sama semua alasan itu, tapi kini, ia malah datang kembali bersama seorang pria, bahkan berduaan di kamar yang sama semalaman.


Orang itupun menaiki bus yang sama menuju desa.  Terus mengikuti mereka, sampai menguping pembicaraan Irvan, Petra dan Niken ketika di rumah malam itu.


Dialah yang dengan tidak sengaja menabrak sapu sehingga jatuh, lalu segera lari menghilangkan jejak, kemudian melaporkan semua yang di dengarnya pada Jero.


Informasi itu Jero lanjutkan pada Viki dan Viki pun meneruskan pada Febin. Maka bergetarlah seluruh jiwa raga Febin. Ia berteriak dengan kerasnya bagaikan singa meraung kelaparan.


Diperintahkannya anak-anak buah terbaiknya menangkap Aleks, istri dan ketiga anaknya untuk dibawa ke suatu tempat.


Lorena, Rika dan kedua anak Alek lainnya ditahan dengan syarat ditukarkan dengan memori hp yang berisi rekaman pembunuhan Kevin dan foto mayat Irvan, Niken, dan anaknya.


Alek gelisah. Tubuhnya gemetaran tanpa pilihan. Ia tidak bisa main-main lagi sebab Istri dan anak-anaknya menjadi taruhan. “Siap tuan, saya akan membunuh mereka dan mengambil memori itu.”


“Besok aku dapatkan hasilnya.” Tegas Febin dengan wajah murka. “Helicopter telah siap. Tiga anak buah akan turut membantu mu. Kalian kesana sekarang!” Perintahnya.

__ADS_1


Tempat itu sangat dikenal Aleks. Sebab dialah yang dulunya mengantar Niken ke sana. Sehingga memudahkannya mengatur rencana.


Bersambung…


__ADS_2