PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 31. Dua Hati Menyatu dalam Satu Ikatan Cinta


__ADS_3

Via berlari keluar dari pusat belanja tanpa membeli sesuatu, menuju mobilnya, tancap gas langsung pergi. Walau sudah jam 9 malam, tetap menelpon Viki.


“Dimana kamu? Aku ada informasi tentang Irvan dan Fania,”


“Wah … kebetulan sekali, datang saja ke rumah ku, ada Anjas dan Reis disini”


Viki telah pulang, karena ayah ingin menceritakan berbagai informasi yang sangat ia butuhkan tentang Irvan.


“Hei Via kemari, silahkan duduk,” sambut Viki ketika Yanti, asisten rumah tangga mengantar seseorang masuk.


Di situ ada Viki dan kedua temannya, ada juga Jimi dan Ibunya. “Salam Om … Tante,” ucap Via sambil menuju ke kursi kosong disampaing Reis.


“Ada apa dengan para gembel itu?” Tanya Viki penasaran, diikuti dengan tatapan dari semua orang diruangan itu ingin tahu.


“Kalian pasti tidak percaya!” Lalu Via menceritakan semua yang ia saksikan tadi di pusat belanja tanpa mengurangi sedikitpun. Bahkan terlihat jelas raut keheranan terpancar keluar dari wajah gadis itu.


Serasa mendapatkan tambahan bukti, mereka yang di ruangan, kecuali Via mengangguk-angguk. Via bingung dengan sikap yang seolah-olah telah mengetahui ceritanya sampai Viki menerangkan kepadanya tentang dugaan mereka saat ini.


Sejak Viki tinggalkan rumah, Jimi merasa sangat bersalah. Sama seperti Viki, ia pun akhirnya melampiaskan emosinya kepada orang yang bernama Irvan. Baginya orang itulah biang dari perkelahiannya dengan anak sematawayangnya.


Jimi mengutak-atik hanphonenya karena tidak ada kerjaan yang harus dia lakukan,  namun pada situ, ia teringat pada foto yang pernah ia kirim kepada Rektor Godliene. Foto yang ia dapat dari Viki, masih tersimpan di galeri.


Segera dicarinya lalu memperhatikan wajah anak itu. Semakin lama memperhatikan, semakin merasa sosok ini pernah dikenalinya, tapi siapa dan dimana?


Rasa penasaran menguasai dirinya, ia menunjukan foto itu pada istrinya jangan-jangan bisa membantu, namun sama dengan dia, istrinyapun ikut penasaran. Sepertinya orang itu tidak asing bagi mereka.


Dua hari lamanya mereka diselimuti rasa penasanan, sampai akhirnya Jimi sendiri menemukan jawabannya. Wajah difoto itu sama persis dengan Tuan Muda Erik Parker.  "Mungkin dia adalah cucu Tuan Besar Parker yang diculik saat pembunuhan keluarganya waktu itu.” Pikirnya.


Secara diam-diam, Jimi menyelidiki , walaupun kebenarannya belum sesungguhnya terungkap, namun beberapa bukti bisa dijadikan dasar.


Tuan Leon sangat bersimpatik terhadap warga Kampung Mulung, ia membiayai pengobatan Irvan, ia juga memutuskan kontrak sepihak dengan perusahaan Jimi karena penggusuran itu, Pak Fais mengancam Jimi dan beberapa kawannya yang mengintervensi aturan kampus, Rektor Godlien di ancam pecat, kebijakan kampus berubah, Irvan mendapat kerja di diperusahaannya adalah sederet alasan yang tidak mungkin terjadi secara kebetulan.

__ADS_1


“Irvan pasti ada hubungan pribadi dengan Tuan Besar Parker.” Pikir Jimi merasa teka tekinya terjawab.


Kini, informasi Via menambah kuat dugaan mereka. “Bagaimana mungkin, bekerja hanya sebagai analis brand yang belum sampai sebulan, dapat berbelaja seharga lebih dari 30an milliard, apalagi dalam waktu semalam?”


***


Di Villa mars Irvan dan Fania tengah bersama di sebuah kamar, persis bersampingan dengan kamar yang waktu itu ditempati Ibu Kor.  Kamar ini untuk sementara diberikan kepada Fania.


Disana keduanya mengeluarkan semua barang-barang branded yang baru saja mereka beli. Bagaikan sebuah hayalan. Keduanya terpana melihat  kemewahan semua belanjaannya.


Sama sekali tidak pernah terbayangkan. Selama ini, mereka hanya berharap menemukan kembali keluarga, karena ada keyakinan mereka masih hidup, tapi tidak mungkin orang paling kaya. Nyatanya saat ini, ibarat mimpi, jauh berbeda. Mereka keturunan orang terkaya.


Mata Fania kembali berkaca-kaca. Tidak saja mengetahui identitasnya, namun dihadapannya ada setumpuk barang mewah, yang ia beli sendiri. Inipun tidak pernah ada dalam dugaannya. Jangankan membeli, menyentuh saja belum pernah. Ia bahagia sekali.


Sama seperti seorang anak kecil mendapat banyak hadiah pada saat ulang tahun, Irvan dan Fania berganti ganti mencoba semua barang masing-masing. Sepatu, sandal, tas, jam tangan, jaket dipakai dilepas, dipakai dilepas dan seterusnya, sampai akhirnya mereka harus mencoba pakaian baru.


Irvan mengangkat beberapa baju dan celananya, lalu melihat Fania, kemudian ke kamar mandi dan mengganti disana.


Sungguh sangat cocok. Ia menyaksikan dirinya di depan kaca lemari kamar itu. Fania sebagai penilai pun terpana melihat Irvan lengkap dengan semua pakaian yang baru dibeli itu.


Irvan memintanya agar segera mencoba yang terakhir. Ia kembali ke kamar mandi, menganti pakaiannya dengan Gaun berwarna kesukaan Irvan.


Sungguh, mata Irvan tidak bisa menipu dirinya. Ia ternganga melihat kecantikan Fania


“Fan … sangat cantik!” Ucap Irvan jujur tanpa ia sadari.


Fania tersipu malu dipuji orang yang juga ia kagumi, ia senyum sambil sedikit menunduk. “Terima kasih.” Katanya membalas.


Entah apa dipikiran mereka. Suasana tiba-tiba hening.


Irvan terus memperhatikan Fania dengan kagumnya, Fania yang sadar diperhatikan Irvan, terus menundukan wajahnya sambil tersenyum hingga beberapa saat kemudia Irvan memanggilnya: “Tuan Puteri…”

__ADS_1


Fania kaget karena panggilan itu, ia mengangkat kepalanya menatap Irvan dalam-dalam, air matanya hampir kembali tertumpah, untung saja ia segera menatap ke plafon kamar.


Irvan telah berdiri dihadapannya. Masih mengenakan seluruh pakainnya yang tadi, ia mengangkat kedua tangngannya setinggi dada, seakan meminta Fania mengulurkan tangnnya, benar, Fania melakukan hal yang sama.


Mereka saling berpegang tangan, untuk beberapa waktu, menguatkan dada lalu saling menatap, hingga akhirnya Fania tidak tahan dalam keharuannya, ia meletakan kepalanya persis di dada Irvan, memeluknya lalu menangis.


Irvan membalas pelukan itu dengan lembut. Tangannya yang satu ia letakan persis di kepala Fania dan satunya memeluk erat pinggang Fania yang ramping.


Lama sekali keduanya terlarut dalam pelukan masing-masing hingga enggan saling melepaskan.


Keduanya pernah ada dalam situasi berpelukan seperi itu, namun perasaannya jelas berbeda dengan sekarang. Awalnya di kolam saat Fania tenggelam, lalu di kampus begitu kembali diterima kuliah, kini mereka di kamar tidur.  Suatu tempat yang sangat aman dan nayaman bagi mereka untuk melakukan apa saja.


Fania masih terus memeluk Irvan tanpa sedikitpun merenggangkan tangannya, Irvanpun demikian. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulut keduanya. Entah apa dalam pikirkan, suasananya hening, hanya detupan jantung yang terasa di dada.


Keduanya menikmati sekali keadaan itu. Terus berlama-lama, hingga akhirnya mereka terlarut dalam suasana. Irvan perlahah menggerakan tangannya dari kepala dan pinggang menuju ke bahu Fania.  Dipegangnya kedua gugusan bahu, lalu menarik sedikit tubuhnya untuk mendapatkan jarang pandang menatap wajah Fania.


Fania pun demikian, perlahan melepaskan pelukannya, menggigit bibir bagian bawah, lalu mengangkat wajah membalas menatap.


Perlahan-lahan, wajah Irvan mendekat, terus mendekat, wajah Fania memerah, menutup keduan bola matanya, sambil pula mengarahkan jidatnya menjemput datangnya harapan.


Ia menelan jelijih membuat pergerakan kecil di kerongkongan putih mulus leher jenjang-nya.


Huppp


Mulut Fania sembat terbuka kecil lalu tertutut kembali, matanya ikut tertutup semakin keras, kepalanya perlahan terangkat mengikuti gerakan lawan, pikirannya terarah pada suatu sentuhan halus bibir Irvan di jidadnya


Lama, Irvan menuangkan rasa sayangnya melalui ciuman di dahi itu, lalu perlahan ia menarik kembali kepalanya. Wajah Fania merah seperti buah delima, namun masih terus menutup mata dengan wajah yang juga masih sedikit terangkat.


Fania membuaka matanya perlahan, segera ia dapati wajah Irvan yang ternyata berjarak hanya sejengkal dari matanya. Kedua saling senyum, lalu berpelukan lagi.


Memang, tidak ada kata-kata yang terucap dalam kejadian itu, namun kedua hati telah menyatu, terikat dalam satu cinta.

__ADS_1


Keduanya saling melepaskan pelukan, seakan ada kontak dalam batin, menatap lagi, lalu hilang diawan-awan dalam suatu ciuman yang lebih bermakna.


Bersambung ...


__ADS_2