
Setelah dari Showroom, Irvan dan Fania ke restoran, lalu dari sana Fania diantar ke villanya, selanjutnya Irvan ke perusahan pusat karena ada rapat penting mengenai kebijakan perusahaan yang segera dilaksanakan.
Baru saja selesai rapat, telepon Irvan berdering. Dilihatnya ada panggilan dari pengawal yang menjalankan tugas baru darinya. “Ada apa?” Tanyanya setelah telepon diterimanya.
“Laporan Tuan Muda.” Kata orang diujung telpon.
“Bagaimana?” Tanya Irvan.
Orang itu pun mengatakan kalau, tugas yang diperintahkan kepadanya untuk membuntuti pria penyerang lokasi proyek itu telah dilakukan. Hanya saja, sedikit informasi yang bisa diperoleh.
Setelah semalaman mereka membuntutinya, pria itu masuk ke sebuah kompleks perumahan di dekat dermaga lama. Pria itu tidak lagi keluar, hingga siang tadi ada sebuah mobil keluar dari gudang itu, lalu dia dan temannya membuntuti mobil itu, ternyata mereka menuju hutan, dari mobil itu, orang-orang melempar sesosok mayat. Rupanya pria itu telah dibunuh.
Mendengar laporan itu, Irvan sangat menyesal. Seandainya dia tidak melepas pria itu, tentu nyawanya tertolong, tapi apa boleh buat.
“Sudahkah kalian menyelidiki identitas rumah dan mobil itu?”
“Mobilnya tidak bisa teridentifikasi, karena nomor polisi yang digunakan tidak terdaftar, namun rumah itu dapat dipastikan terdaftar sebagai asset milik perusahaan kuning.” Jelasnya.
“Baiklah. Terima kasih. Kalian boleh kembali ke markas.” Lalu Irvan mengakhiri panggilannya.
“Perusahaan kuning! Siapa mereka?” Ucap Irvan pada dirinya sendiri, lalu memanggil Tuan Leon yang kebetulan telah kembali ke ruang kerjanya.
“Ada apa Tuan muda?” Kata Tuan Leon setelah tiba di ruang Irvan, lalu ia menceritakan semua laporan yang baru saja ia terima.
Tuan Leon bingung, perusahaan kuning adalah milik Bastian sahabatnya Tuan Besar Parker. Mereka sama sekali tidak pernah ada masalah. Bastian selalu bekerja sama secara baik dengan Parker Grup. Bahkan proyek-proyek besar selalu diberikan kepadanya. “Ada yang tidak beres ini?” Ucap Tuan Leon.
Rupanya, jauh dari dugaan, Bastian adalah musuh tersembunyi yang selama ini dekat dengan Parker Grup. Dia orang yang licik. Gudang dan rumah Irvan pun ternyata dibakar oleh orang-orang suruhannya.
Kerjanya menghancurkan gudang-gudang dengan tujuan agar stok perusahaan berkurang dan dialah yang kuasai pasar. Dia juga mempunyai ambisi menjadi orang terkaya. Dia akan selalu memulai aksinya ketika mengetahui Parker dan Febin Mark mulai berselisih. Disaat itu Bastian akan memperkeruh suasana. Tujuannya terus menciptakan perang bagi kedua perusahaan raksasa tersebut.
Secara diam-diam, Bastian menyerang Febin Mark. Dia yakin tuduhan itu pasti akan tertuju pada Parker dan sebaliknya ia menyerang Parker dan pasti tuduhannya akan mengarah pada Febin. Itulah cara dia bermain ditengah permusuhan kedua keluarga tersebut.
“Ada dua kemungkinan.” Kata Irvan setelah mendengar penjelasan Tuan Leon. “Febin ingin mengadu domba kita dengan Bastian atau mungkin juga Bastian secara diam-diam memerangi kita.” Ucap Irvan sontak membuat Tuan Leon semakin mengerutkan keningnya.
__ADS_1
“Dalami keterlibatan Bastian dalam penyerangan itu?” Kata Irvan pada Tuan Leon.
“Baiklah! Aku mempunyai seorang yang bisa diandalkan untuk melakukan tugas itu.” Jawab Tuan Leon sembari mengangkat teleponnya menghubungi seseorang itu, lalu diceritakan maksudnya, kemudian menyuruhnya mencari tahu sisi lain dari Bastian.
***
Di kediamannya, Bastian sedang marah-marah kepada enam anak buahnya yang sedang berlutut di depannya. “Bodoh sekali kalian.” Ucapnya.
Ia sangat marah karena menurutnya keenam orang itu gagal mengawal markas mereka dengan membiarkan anak buahnya yang telah ditangkap, namun dibebaskan kembali oleh Irvan untuk kembali ke tempat itu. “Harusnya kalian bunuh dia diluar sana.” Teriaknya keras.
“Tidak mungkin mereka membebaskan dia tanpa maksud penyelidikan!” Teriaknya lagi.
Bastian juga gelisah sekali, karena baru saja dia mendapatkan laporan terkait adanya penyelidikan rumah miliknya yang dijadikan markas.
Ia memukul-mukul meja dengan keras, karena kecerobohan anak-anak buahnya bekerja. “Hancurlah aku. Habislah kita” Teriaknya.
Sementara Bastian sedang marah-marah, datanglah pengawalnya menyampaikan kalau ada seseorang utusan Tuan Leon ingin bertemu dengannya.
Mendengar itu, dia segera menyuruh anak-anak buahnya yang sedang berlutut agar segera bangun dan meninggalkan ruangannya, lalu mengizinkan agar orang suruhan Tuan Leon boleh datang menemuinya.
Setelah dipersilahkan duduk lalu berbasa-basi sedikit, pria utusan yang adalah seorang pakar psikologi dan bahasa tubuh dari Star Light University menyampaikan maksud kedatangannya.
Ia langsung berkata pada poinnya, bahwa kedatangannya terkait dengan seorang penyerang perusahaan yang awalnya ditangkap, namun dibebaskan Irvan, tapi orang tersebut kembali dan memasuki rumah yang terdaftar sebagai aset perusahaan kuning.
Ia berbicara dengan tegas sambil sorot matanya yang meneliti terus menatap wajah Bastian.
Bastian ingin menyembunyikan ketakutan dalam dirinya dengan bersikap santai dan bersahaja saat berhadapan dengan pria utusan itu, namun dia tidak menyangka, kalau pria itu akan berbicara langsung pada poinnya.
“Aku di utus untuk meminta klarifikasi secara langsung dari Tuan. Mengapa Pria itu harus masuk ke rumah milik perusahaan kuning?” ucapnya lagi dengan tegas.
Bastian ingin bersandiwara. “Wah … ini berita baru bagi ku. Aku sama sekali tidak mengerti. Aku akan menyelidikinya. Aku akan segera utus anak buah ku ke sana untuk mengecek secara langsung.”
Bastian mengucapkan kata-katanya, walau lancar, namun ada perubahan ekspresi diwajahnya. Ucapannya juga sedikit tersendat-sendat, sehingga banyak mengulangi kata ‘aku’ yang menandakan gugup dan sedang menyembunyikan sesuatu.
__ADS_1
“Baiklah, kalau begitu. Tolong dibantu penyelidikannya.” Kata Utusan itu, lalu ia pun kembali dengan kesimpulan yang kuat bahwa Bastian mengetahui tentang apa yang dibicarakan.
***
Irvan dan Tuan Leon telah mendapatkan laporan dari utusan itu. Mereka juga telah menyiapkan tim yang akan menyelidikinya lagi. Biar bagaimana pun, bukti kuat harus diperoleh barulah bisa melakukan tindakan balasan kepada Bastian.
Karena sudah sore, Tuan Leon harus pulang. Irvan juga kembali ke villa. Di perjalanannya dia mengingat kejadian di kampus tadi, dimana wajah Petra sedikit berubah dan kelihatan bingung ketika kembali dari toilet.
Irvan mengeluarkan handphonenya lalu menghubungi Petra. “Halo Pet … kamu lagi dimana?” Ucap Irvan ketika teleponnya terhubung.
“Baiklah, aku mampir ke sana ya, kalau kamu tidak sedang sibuk!” Lalu dia segera memutar arah mobil barunya setelah mendapat kepastian dari Petra.
“Ayo ke restoran.” Ajak Irvan ketika telah bertemu Petra, lalu keduanya pergi.
Sambil menunggu menu yang telah dipesan, Irvan mulai mengutarakan maksudnya.
Petra yang mendengarnya berusaha menutupi kebingungannya siang tadi. Dia tidak mau jujur, karena ucapan ibunya masih terus terniang ditelinganya. Ia takut terbunuh.
Sikap Petra semakin berubah. Ia kelihatan semakin bingung dan takut. “Memangnya ada apa Petra?” Tanya Irvan lagi.
Petra masih belum mau jujur, lalu Irvan mencoba cara lain. Dia kemudian menceritakan semua tentang identitas Fania. Irvan juga mengatakan bahwa adik perempuan dari ibunya Fania juga masih hidup namun tidak diketahui keberadaannya.
“Petra.” Panggil Irvan dengan pelan. “Wajah kalian mirip sekali. Jangan sampai kamu adalah anaknya.”
Petra tidak kuasa menahan dirinya lagi untuk berkata jujur dengan Irvan, lalu diapun mengatakan semua yang ibunya bicarakan siang tadi.
Irvan senang sekali mendengar cerita Petra. Dia juga membenarkan ucapan ibunya Petra, bahwa benar, jika nama asli Fania dibicarakan oleh seseorang, tentu orang itu pasti ada hubungannya dengan Niken. Maka mereka akan terancam dibunuh.
Mendengar nama Niken, Petra bingung. “Siapa dia?”
Jika cerita kita ini benar dan nyambung, tentu, itu adalah nama asli ibumu.
Petra mengangguk-angguk sambil mengerutkan keningnya. Ia mengingat sesuatu. Saat masih SMP. Ada nama Niken yang sempat ia baca di sebuah diare milik ibunya, namu ketahuan, lalu ia dipukul ibunya dan memintanya melupakan apa yang baru saja dibacanya, kemudian buku itupun dibakar saat itu juga.
__ADS_1
Bersambung…