PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 47. Membeli Mobil Murah


__ADS_3

Baru pukul 10 dan kuliah Irvan telah selesai, karena hanya ada satu mata kuliah. Ia ke kantin, sebab Fania yang tidak berkuliah hari ini sedang menunggunya di sana untuk bersama ke showroom mobil.


Irvan bersama Shael, Nana, Petra dan Kesya, ke kantin. Rencana, setelah ngopi bareng barulah Irvan dan Fania pergi.


“Hei, Fania,” sapa Shael dari belakang, sedikit mengagetkan Fania yang tidak mengetahui kedatangan mereka.


“Eh, Kak … “ Balas Fania tersenyum. “Halo semunya.” Ucapnya lagi untuk memberi salam pada lainnya.


“Kami bergabung disini ya.”  Izin Petra sambil menarik kursi kepada kawan-kawannya, lalu ia pun duduk disamping Fania.


Sambil menikmati minuman dan beberapa makanan ringan, kelima orang itu bercerita banyak hal. Sekali-kali mereka memuji kecantikan Fania pada malam di hotel Fomea itu. Fania tersenyum. Orangnya sedikit malu malu, jika dipuji. Apalagi di depan pacarnya. “Ah biasa saja kok.” Ucapnya mencoba membantah sambil menunduk dan tersipu.


“Iya Fan, betul. Kamu cantik kok malam itu.” Puji Petra tulus.


“Terima kasih. Kak juga cantik kok malam itu, bahkan sampai sekarang.” Balas Fania kembali memuji Petra dengan tulus.


Semua mereka tersenyum-senyum. Begitu juga Irvan yang sejak tadi terus memandang wajah kedua gadis yang posisi duduk mereka persis dihadapannya. Ia mengakui kecantikan mereka dalam hati.


Lambat laun, Irvan merasa ada sesuatu yang lain, ia terus memperhatikan Petra dan Fania, terlebih saat keduanya senyum. Mirip sekali. Wajah mereka seperti kakak beradik.


“Tunggu sebentar.” Kata Irvan mengagetkan semua kawan-kawannya yang lagi asik tertawa saat setiap orang dipuji.


Lalu, ia menyuruh Shael, Nana dan Kesya memperhatikan wajah Petra dan Fania. “Wajah mereka mirip kan, begitu juga senyum mereka yang telah ku perhatikan sejak tadi.”


Fania dan Perta sedikit malu-malu. Baru kali ini, kawan-kawannya memperhatikan wajahnya. Begitu juga Fania. Keduanya malu. Wajah memerah, namun justru dengan begitu kemiripan wajah keduanya semakin nampak.


“Coba senyum, ayo senyum.” Pinta Kesya sambil terus menatap wajah mereka.


Benar wajah mereka mirip sekali. “Kalian seperti kakak beradik,” ucap Shael sambil mengangguk. Begitu juga Nana dan Kesya ikut menganguk cepat menguatkan perkataan temannya itu.


Fania berbalik melihat wajah Petra, begitu juga Petra melihatnya, lalu keduanya tertawa. “Ah mana mungkin,” ujar Petra sengaja mengalihkan perhatian kawan-kawannya. Namun, dalam hati ia mengingat apa yang pernah dikatakan ibunya saat ia masih SMP, bahwa dia mempunyai seorang adik sepupu yang wajah keduanya sangat mirip.


“Ah tidak mungkin, tapi ….” Banyak pertanyaan tiba-tiba muncul di dalam hati Petra. Ia sengaja Izin ke toilet untuk menelpon ibunya dan bertanya tentang apa yang pernah diceritakan ibunya dulu dan untuk bertanya nama sepupunya.


“Nak, maafkan ibu. Nama saudara mu belum berani ibu katakan. Nyawa taruhannya, jika nama itu di dengar orang.” Kata Ibunya Petra menolak keinginannya. “Pulanglah saat libur. Ibu akan ceritakan semunya padamu.”


Petra kembali dengan wajah yang sedikit bingung. Ada banyak pertanyaan di benaknya. Ia duduk, lalu berupaya menghilangkan penasarannya, namun Irvan menangkap ada sinyal ketidakberesan dalam pemikiran Petra.


Setelah selasai dari kantin, mereka berpisah. Irvan dan Fania pergi membeli mobil.


Setiba di showroom, mereka segera masuk. Inginnya membeli mobil yang biasa-biasa saja sesuai dengan prinsip yang tidak suka menonjolkan kekayaan. Namun, karena showroom itu besar dan banyak sekali koleksi mobil-mobil mewah, maka Irvan dan Fania memutuskan untuk berkeliling sekedar melihat-lihat, barulah nantinya membeli mobil sesuai keinginan.


Seorang senior pelayan yang saat itu sedang mendampingi pelanggan kaya, melihat Irvan dan Fania masuk. Dari penampilan mereka, ia tahu pasti orang yang biasa-biasa saja, sehingga dia menyuruh Beatriks, pelayan yunior yang kebetulan sedang bersamanya juga untuk mendampingi.


“Selamat datang Tuan dan Nona,” Sapa Beatriks sopan kepada Irvan dan Fania. “Adakah yang bisa saya bantu,” ucapnya lagi.


“Kami mau membeli mobil yang murah dan biasa saja, tapi kami masih ingin melihat-lihat koleksi mobil di showroom ini, apakah boleh?” Jawab Irvan padanya.


“Oh Iya, tentu saja boleh. Saya akan mendampingi Tuan dan Nona.” Katanya dengan semangat. “Boleh juga bertanya apa saja.” Katanya lagi dengan ramah. Lalu mengajak Irvan dan Fania menuju ke tempat koleksi mobil mewah.


Senior pelayan kaget saat melihat Irvan dan Fania ditemani Beartiks menuju ke tempat mobil mewah. Pengunjung yang bersamanya juga merasa hal yang aneh, lalu berkata padanya, “Sepertinya temanmu sedang ditipu oleh dua orang tidak berduit itu.” Katanya memprovokasi.

__ADS_1


“Aku juga melihatnya seperti itu.”Jawab senior pelayan mencari muka dengan pelanggan.


Irvan dan Fania terus asik melihat beberapa koleksi mobil mewah. Mereka juga menikmati penjelasan lengkap dari Beatriks dengan penuh semangat hingga berada di dekat pelayan senior yang mendampingi pelanggannya. Tiba-tiba datang seorang pelanggan mendekat, lalu mengganggu kenyamanan mereka.


“Nona pelayan, sini … jelaskan pada ku mobil ini!” Panggilnya dengan sombong kepada Beatriks.


“Maaf Tuan,” Kata Beatriks sambil matanya melihat-lihat pada senior pelayannya, karena sejak tadi pelanggan ini didampingi seniornya itu.


“Jangan panggil dia. Aku yang menyuruhnya kembali. Aku ingin kamu saja yang mendampingi ku.” Katanya dengan seenaknya saja.


“Maaf Tuan. Itu melanggar standar pelayanan kami.” Ucap Beatriks sopan lalu menjelaskan padanya tentang aturan bahwa setiap pelayan wajib mendampingin pelanggan dan tidak boleh meninggalkan pelanggan itu sampai mereka keluar dari showroom, terkecuali, pelanggan sendiri yang tidak mau didampingi.


“Aku adalah pelanggan tetap disini, jadi tinggalkan saja aturan itu. Dampingi saja aku. Ada tip untuk mu.” Katanya dengan wajah sinis pedala Irvand an Fania.


“Kedua orang ini hanya akan membuat mu capek. Mereka tidak mempunyai uang.” Katanya lagi mulai menyinggung Irvan dan Fania.


Beatriks yang professional menjaga harga diri Irvan dan Fania, mencoba menghindari pembicaraan itu. Dia memohon maaf sekali lagi pada pelanggan itu, lalu mengajak Irvan dan Fania meninggalkan tempat itu, namun begitu hendak pergi, pelanggan itu membentaknya dengan keras sehingga mengundang perhatian orang-orang disekitarnya.


“Beraninya kamu melawan aku?” Katanya dengan keras kepada Beatriks. “Kamu tahu aku ini siapa, ha…” Ucapnya lagi sambil mengangkat tangannya hendak menampar Beartiks, namun dihentikan oleh Irvan yang segera menangkap tangannya.


“Kurang aj*r. Kamu juga ingin melawan aku.” Katanya dengan wajah yang memerah.


Semua orang disekitar situ memperhatikan mereka. Pelayan senior yang ternyata tadinya telah bekerja sama untuk mengusir Irvan dan Fania ikut datang ke tempat kejaian ini.


“Ada apa?” Katanya berpura-pura.


“Lihat pelayan dan dua sampah miskin yang tidak punya uang ini, beraninya mengganggu kenyaman ku,” Ucapnya.


“Bodoh, apa yang kamu lakukan.” Tanya Senior pelayan dengan nada kasar kepada Beartiks.


“Prakkkk” Tangannya berhasil mendarat di pipi Beatriks karena dia berhadapan langsung dengan pelayan muda itu.


“Jangan menamparnya, dia tidak salah.Kami saksinya!” Kata Irvan membela Beatriks.


“Jika kalian tidak mempunyai uang, keluar sana. Buat masalah saja disini.” Sambar Pelayan senior.


Irvan dan Fania merasa bersalah. Keinginan mereka untuk melihat-lihat menjadi batu sandungan bagi pelayan muda Beatriks. Pelayan yang professional menjalankan tugasnya, namun disalahkan, karena kesombongan pelanggan lain.


“Maafkan kami.  Memang …” Belum sempat Irvan selesai berbicara, dengan arogannya pelayan senior itu memotong kata-katanya.


“Betulkan kalian tidak punya uang.” Ucapnya dengan kasar. “Keluar sana, cepat.” Usirnya.


Irvan merasa sangat dihina karena sikap pelayan senior itu. Dia juga marah karena demi kesombongan pelanggan yang terlihat kaya, lalu ia dan Fania beserta Beatriks menjadi korban. Ia tidak mau.


“Kami tidak bersalah. Pelayan ini juga benar,” katanya sambil menunjuk ke Beatriks. “Kami punya uang.”


“Hahahaha.”


Tertawa Pelanggan tadi mendengar ucapan Irvan. “Kalian punya uang. Ya, paling untuk membeli mobil yang murahan kan.” Ia tertawa lagi membuat beberapa orang dan para pelayan yang juga telah datang ikut tertawa.


“Sudahlah, keluar saja. Jujur saja lebih baik. Malu nantinya.” Teriak beberapa orang menyambung omongngan pelangga sombong tadi.

__ADS_1


“Kami tidak akan keluar. Kecuali orang sombong ini yang harus di seret keluar dari sini.” Ucap Irvan sambil menunjuk kepada pelanggan tadi.


Merasa dirinya yang dimaksud. Pelanggan itu berteriak keras dan maju ke depan dengan berutalnya menyerang Irvan. Kakinya diangkat untuk menendang, namun belum sampai, Irvan menyambut kaki itu dengan sebuah tendangan balasan.


Plakkkkk


Ia tidak mempunyai kuda-kuda, sehingga saat kakinya tertendang, keseimbangannya hilang dan iapun terjatuh.


Orang-orang yang melihat itu langsung tertawa. Para Pelayan tidak berani menahan mereka, karena semuanya wanita, lalu ada yang berlari memanggil security.


Pelanggan itu bangun. Wajahnya terlihat sangat marah bercampur malu. Dia menuju Irvan dan mencoba menyerang lagi, namun sial lagi. Irvan yang merasa tidak bersalah dan jengkel terhadap sikap orang yang sombong seperti itu, segera menyambut serangan itu, lalu dengan beberapa pukulan, ia kembali menjatuhkan pria itu.


Securiti pun datang. Menahan mereka dan hendak dibawa ke ruang tahanan, namun belum sempat menarik mereka, datanglah manager showroom dengan tergesa-gesa.


Ia langsung berlutut di bawah kaki pelanggan itu. Sambil kedua telapak tangannya di satukan tanda memohon maaf, lalu menunduk beberapa kali.


Prakkkk


Wajahnya ditampar oleh pelanggan tadi. “Bodoh kalian semua.”


“Ada apa ini?” TIba-tiba terdengar suara bas menanyakan situasi itu.


Manager segera berbalik, ia mengenal suara itu dari penangung jawab showroom yang tadi sedang bersamanya di ruang rapat, namun karena ada pelayan yang memanggil, makanya ia rapat diberhentikan dan ia terlebih dahulu datang untuk mengecek.


“Tuan, maaf, tuan.” Kata manager kepada pria paruh baya yang baru sampai itu.


“Tuan Muda?” Kata Pria paruh baya yang ternyata adalah Pak Fais saat melihat Irvan sedang di pegang oleh security.


“Lepaskan dia,” Teriak Pak Fais, lalu berlari mendekati Irvan dan hendak berlutut dihadapnnya, namun Irvan yang menyadarihal itu, segera mehanannya.


“Jangan lakukan itu.” Kata Irvan


Semua orang disitu kaget mendengar ucapan dan juga melihat apa yang baru saja hendak dilakukan Pak Fais.


“Bagaimana Tuan Muda dan Nona bisa disini.” Tanya Pak Fais bingung.


“Kami ingin membeli mobil, namun sepertinya kedua orang ini bersepakat mengusir kami.” Kata Irvan sambil menunjuk kepada pelanggan tadi dan pelayan senior.


Pak Fais menoleh, pelayan senior segera mengangguk, lalu ia berbalik kepada pelanggan tadi yang ternyata adalah adik ke empatnya. Ia berharap ada pengakuan, namun yang didapat justru sebaliknya.


“Siapa orang ini,” Tanya adiknya itu.


Bukannya langsung menjawab, Pak Fais justru menamparnya beberapa kali sambil terus berkata tentang sikap sombong yang terus dibawa-bawa, lalu menyuruhnya bersama dengan pelayan senior itu segera berlutut sambil memohon maaf.


“Tuan Muda, maaf sekali. Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi.  Silahkan Tuan muda dan Nona memilih saja, mana mobil yang di sukai,  akulah yang segera mengurusnya.” Kata Pak Fais.


“Showroom ini juga adalah milik Parker Grup.” Katanya lagi, langsung membuat rvan dan Fania terkaget.


Walaupun Irvan telah menjadi pemilik sah Parker Grup, namun banyak sekali usaha di bawah naungan grup itu yang belum ia ketahui.


Irvan mengaanguk-angguk, kemudian menyuruh memecat pelayan senior tadi lalu mengangkat Beatriks menjadi kepala para pelayan showroom. Setelah itu, ia meminta Pak Fair dan manager beserta Beartiks menemani dia dan Fania ke bagian mobil yang murah untuk dipilihnya.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2