
Malam ini, di hotel Fomea, tempat bersejarah bagi keluarga Parker, akan dilangsunggkan suatu acara besar yang juga dipastikan akan menjadi titik sejarah baru. Pemberitaan telah tersiar ke seluruh pelosok negeri melalui berbagai media, namun belum dipastikan isi acaranya. Orang-orang membicarakannya dimana-mana.
Di kediamannya, Febin Mark mendengar berita itu dari televisi. Ia penasaran, lalu mengirim anak buahnya untuk mencari tahu berita yang baru ia dengar tadi.
***
Irvan sedang berada di kelasnya saat Pak Komar, dosen wali mereka mengantarkan undangan beserta daftar penerimanya. Shael, Nana, Anton, Teguh, Jeki, Petra, Keisya, Lena, dan semua teman kelasnya mendapatkan undangan, kecuali dia sendiri.
Semua di kelas itu heboh. Tuan Besar Parker, sosok yang memiliki nama besar di seluruh negeri, bahkan sampai ke negara-negara lain, mengirim undangan untuk mereka.
Keisya dan Teguh mulai menebak-nebak isi acaranya, ada yang bilang ulang tahunnya, ada juga yang bilang pernikahan anaknya, tapi bagi yang tahu tentang keluarga Parker langsun membantah dan bilang pendapat mereka. Lena pun tidak ketinggalan turut memberi pendapatnya. Bahkan perkataannya lebih konyol sehingga ditertawai teman-teman lainnya.
Lena melihat Irvan yang sedang duduk menyendiri di belakang. Seperti biasanya, ia segera berpikir yang negatif tentang Irvan. “Sudahlah, hotel Fomea bukan untuk orang miskin.” Ujarnya sambil tertawa melihat Irvan.
Teman-teman di kelompoknya pun ikut melucu, lalu sama-sama teretawa. “Lagian, pakaian apa yang bisa dipakai orang miskin untuk pergi tempat seperti itu!” Ucap seorang temannya yang lainnya, memicu kemarahan Shael dan Petra.
Shael hendak berbicara, namun terhenti saat Petra menghalangnya,lalu dia yang berkata:“Kalian akan menyesal nanti, jika mengetahuinya!” Ucap Petra dengan maksud tersembunyi.
“Tahu apa, menyesal apa? Tahu sekarang, menyesallah kemudian! Hehehehe” Teriak Lena, lalu bersama teman lainnya tertawa terbahak-bahak. “Kamu pikir Irvan akan diistimewakan disana???” Ucapnya lagi penuh tekanan melucu sambil memiringkan bibirnya dan goyang-goyang kepala lalu kembali tertawa.
“Nanti kita lihat saja. Apapun itu, kalian pasti menyesal.”Kata Petra lagi dengan nada semakin meninggi.
“Menyesal? Lucu sekali kamu sayang ku, Petra yang ikut dibodohi Irvan!” Kata Lena lagi.
Petra semakin marah, ia berdiri dan hendak menghampiri Lena untuk mencakar-cakar wajah wanita itu, namun tangannya dipegang Irvan untuk menghalanginya. “Jangan mencari masalah, apalagi karena aku. Aku yakin orang seperti mereka pasti akan mendapat tempat paling belakang.” Ujar Irvan.
“Apa Lu bilang, tempat paling belakang, hah?” Tanya Lena sambil mengulangi pernyataan Irvan, lalu ia mengangkat undangnnya dan menunjukan lalu berkata lagi, “Ada undangannya lho, biarpun di belakang, tapi hadir disana, dari pada Anda, sampai di halaman hotel saja mungkin tidak diizinkan! Ujarnya sangat sombong dengan nada meremehkan, lalu menunjukan simbol ‘B’ di yang tertera di depan lembaran undangan tanda posisi duduk. “ini lihat nih … bukan paling belakang.” Katanya lagi penuh ejekan.
Irvan santai lalu senyum melihatnya, membuat Lena tersinggung. “Kenapa senyum-senuyum?” Ucapnya yang membuat Irvan semakin lucu, lalu bersma Petra dan banyak kawan lainnya ikut tertawa.
Lena keluar dari kelas, bersama kelompoknya. “Sampai jumpa nanti malam ya!” Kata Irvan mengantar perginya Lena. Lalu kawan-kawan lainnya datang mendekat dan bicara dengan Irvan.
__ADS_1
Mereka turut resah sampai-sampai ada yang mengatakan jangan sampai Pak Komar melewati saat membaca nama tadi, namu disangkal Shael, katanya tidak mungkin, jika nama tidak dibacakan, pasti undangannya akan kelebihan, tapi buktinya tadi tidak.
Irvan berterima kasih pada mereka yang mau peduli, lalu berkata ”Kita belum tahu apa yang bakalan terjadi malam nanti. Jika aku bisa hadir, pasti aku ke sana, tapi seandainya tidak pun, bukan masalah bagi ku.” Ucap Irvan tenang, namun tidak memuaskan hati kawan-kawannya. Ada yang bingung dengan pernyataan itu.
Di kelas berbeda, Fania sedang di buli habis-habisan oleh Lidia, Risti dan beberapa teman lainya gara-gara ia pun tidak mendapat undangan dari Tuan Besar Parker.
Sama juga yang dialami Irvan, mereka mengatakan kepada Fania bahwa jika diundangpun, pakaian apa yang bakalan bisa dikenakan gadis miskin, pindahan dari kampung seperti Fania. Jadi mereka meminta Fania supaya bersyukur saja, kerena tidak di undang. “Memalukan saja nanti!” Kata Risti hendak mengakhiri perkataannya.
Walau Tia dan Tasya telah mencoba membela Fania dan meminta mereka agar berhenti dari semangat bullying, tetap saja tidak meruntuhkan niat negatif Lidia. Ia belum puas mengolok, lalu berkata: “Disana tidak ada drama kemiskinan, jadi jangan pakai pakaian lusuh mu.” Katanya sambil tertawa.
“Oh, Iya, aku lupa,” ucap Lidia penuh kemunafikan dan sombong sambil menyentuh pelipisnya menggunakan jari telunjuknya, lalu berkata lagi “Andaikan saja, kamu bisa mengemis untuk mendapatkan undangannya, maka aku bersedia kok, meminjamkan salah satu pakaian mahal ku yang telah tersimpan sejak lama di gudang karena tidak terpakai lagi.” Sinisnya, “Tenang saja, masih layak kok!” Katanya lagi.
Fania sudah terbiasa mendapatkan olokan seperti itu. Awal mula, saat belum tahu tentang identitasnya saja, dia bisa menerima olokan seperti itu, apalagi sekarang, Fania santai saja. Namun justru sikap cuek Fania itulah yang membuat musuhnya semakin geram terus menghinanya.
“Santai aja Lidia,” Ucap Fania sambil senyum, “Aku pasti akan hadir di acara itu malam ini, dan tidak akan meminjam gaung siapapun!” Ucap Fania sontak membuat semua teman di kelasnya kaget.
Bukan saja, karena Fania akhirnya bisa menanggapi pernyatan Lidia, tapi dia juga pastikan bisa hadir di acara itu.
“Hahahaha, menghayal lho. Sadar diri dong. Jika miskin, akui saja, jangan sok hebat. Buktinya saja kamu tidak diundang. Hahaha. Oh, Iya, mungkin mereka tahu kalau pakaian mu lusuh semua!” Kata Resti geram.
“Fania!” Panggil Lidia membuat semua mata tertuju padanya, lalu ia berkata: Maaf teman, disana tidak ada tarian bu**l, jika ada kamu bisa ikut.” Ucapnya disambut gelak tawa teman-temannya.
Fania tersenyum dan ingin memprofokasi mereka, lalu ia berkata lagi: “Aku bersedia bertaruh apapun dengan kalian!”
Rupanya Resti merasa sangat diremehkan dengan kata itu sehingga begitu Fania selesai berbicara, ia segera menghampiri Fania, lalu dengan geram menampar telak mulutnya.
Plakkk
Semua orang dikelas itu kaget. Termasuk juga Lidia.
Fania yang juga kaget langgung memegang mulutnya dengan kedua tangnnya sambil melihat Resti dan ingin mengambil sikap, namun Lidia telah maju ke depan lalu memegang kerah baju Fania, kemudia dia berkata: “Cukup Fania, jangan sok hebat.”Nasehat Lidia.
__ADS_1
“Ba**sat kamu\, tidak tahu diri. Dasar ja**ng. Sudah miskin sok taruhan lagi. Jika kamu … okelah\, tapi aku tidak ingin menggunakan uang\, karena kamu pasti tidak punya\,” kata Resti sambil menatap Fania dengan sorot mata penuh benci.
“Apapun tahuhanmu aku siap.” Ucap Fania enteng, ternyata juga membuat Lidia ikut tersinggung.
“Apa kamu bilang … apapun? Baikla, aku ikut bertarung, asalkan syaratnya dari ku!”
“Silahkan saja. Jika memang kalian sanggup menepatinya, seandainya tidak, harga diri kalian sangat rendah dimata ku.” Ucap Fania lagi yang semakin sukses memprofokasi mereka.
“Fania, jangan Fan, sadar dengan posisimu!” Kata beberapa teman lainnya ingin menyelamatkan wajah Fania. Mereka pikir Fania lah yang telah termakan umpan.
Fania tidak memperdulikan nasehat itu, tetapi justru semakin gencar memanas-manasi Resti, Lidia dan beberapa anggota geng mereka yang sedang berunding.
“Baiklah! Jangan salahkan kami\, jika nantinya terjadi sesuatu diluar batas” Ucap Resti. “Karena ini maumu\,maka kami siap ... Jika kamu bisa hadir di acara itu\, maka Aku dan Lidia\, setelah acara itu selesai bersedia melepaskan semua kain yang melekat ditubuh kami\, lalu berlutut dan memohon maaf pada mu! Tapi\, ingat\, andaikan kamu yang gagal\, maukah engkau pulang dengan tel***ang sambil berjalan kaki?” Tantang Resti dengan wajah garang dan yakin pasti Fania langsung mengurungkan niat hatinya.
“Aku siap.” Ucap Fania tegas dengan senyum sinis, lalu mengulurkan tangannya kepada Resti dan Lidia, tanda menyetujui tantangan mereka.
“Semua dikelas ini adalah saksinya.” Kata Resti sambil tertawa menang, lalu ia dan Lidia secara bergantian berjabatan tangan dengan Fania.
FLASHBACK
Resti dan Lidia sedang berada diruang dosen ketika si pengantar undangan datang. Mereka pun diminta oleh dosesn agar membantu menerima undangan yang cukup banyak itu. Saat melihat nama kelas mereka, keduanya segera memeriksa daftarnya, lalu didapati nama Fania tidak ada.
Mungkin namanya lupa ditulis dalam daftar ini, tapi undangannya pasti ada, pikir Lidia, lalu mereka menyeleksi paket undangan untuk kelas mereka, ternyata tetap nama Fania tidak ada, lalu mereka mencoba untuk bertanya pada si pengantar itu.
Mereka bertanya bukan karena peduli, tapi ingin mendapatkan kepastian agar nantinya ada bahan untuk mengolok Fania.
“Maaf Nona, Aku hubungi penanggung jawabnya dulu ya” Kata si pengantar sambil mengeluarkan handphonenya untuk menelpon seseorang.
Setelah menelpon, ia kembali lalu berkata, “Maaf Nona-nona, teman kalian itu namanya memang sengaja dihapuskan. Agar dia tidak mendapatkan undangan. Awalnya nama Fania dan seorang teman prianya entah dari kelas mana, ada dalam daftar yang diberikan oleh kampus ini, tapi segera dihapus oleh pihak pemilik acara ini agar mereka tidak mendapat undangan.”
“Apakah Pak yakin dengan itu.” Kata Resti meminta kepastian. Lalu segera membantu menyusun kembali undangan itu setelah mendapat kepastian dari si pengantar undangan.
__ADS_1
Bersambung …