PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 38. Fania Lolos dari Pemerkosaan


__ADS_3

Irvan dibawa ke rumah sakit. Meskipun ia telah mendapatkan pertolongan di markas Timur dan merasa akan baikan dalam dua atau tiga hari ke depan, tapi kekuatiran Kakeknya dan Tuan Leon yang baru saja tiba membuatnya akhirnya mengalah ikut keinginan kakeknya untuk ke rumah sakit.


Di perjalanan, Irvan menelpon Shael dan Nana, ia ingin kedua teman itulah yang menemaninya malam ini. Ia tidak ingin merepotkan Tiara dan Cika lagi. Kasian mereka, sudah mengalami banyak ketakutan karena serangan tadi, sebaiknya mereka pulang saja supaya dapat beristirahan dengan tenang.


Berselang beberapa menit setelah Irvan tiba di rumah sakit, Shael dan Nana pun tiba. Mereka sangat kuatir dan marah setelah melihat keadaan Irvan yang mengalami banyak luka dan bengkak-bengkak di kepala dan belakang. Keduanya menuntut Irvan untuk memberitahukan siapa pelakunya agar mereka mau membalasnya.


Irvan terpaksa senyum, lalu mengatakan bahwa tidak penting lagi siapa orang-orang itu, karena saat ini ia sudah aman. Irvan sengaja untuk menyembunyikannya, tetapi kedua sahabatnya tetap keras memaksa.


Irvan pun mengarang cerita untuk menenangkan mereka, lalu mulai berkata bahwa ia sendiri tidak kenal orang-orang itu. Awalnya dia sedang berjalan-jalan di jalur Timur, lalu melihat ada beberapa pria yang sedang melecehkan dua wanita, ia tidak suka akan hal itu sehingga berniat menolong, namun akhirnya ia yang mendapatkan imbasnya.


“Wah sial.” Ucap Shael. “Trus … bagaimana dengan kedua wanita itu?” Tanya Shael.


Shael dan Nana sama-sama tidak melihat Tiara dan Cika ketika tiba di ruang perawatan Irvan, sebab mereka tergesa-gesa saat membuka pintu dan langsung berfokus pada sahabat mereka yang sedang terbaring sakit.


“Itu.” Ucap Irvan sambil mengarahkan mereka dengan kepalanya.


Shael dan Nana menoleh dan tentu saja mereka terkejut. Ada dua wanita cantik yang sedang memperhatikan mereka sejak tadi. Shael tersenyum, Nana pun ikut senyum, mereka salah tingkat, tidak tahu sikap apa yang harus mereka tunjukan. Tiara dan Cika ikut senyum sambil seikit menundukan kepala mereka tanda menghormati.


Irvan menyuruh mereka saling kenal. Kedua wanita itu bangun dari kursi, datang menghampiri Shael dan Nana, lalu mereka berkenalan. Setelah itu Irvan langsung menyuruh Tiara dan Cika untuk pulang, lalu mereka pun menuruti dan pamit.


“Siapa mereka?” Tanya Shael dan Nana serentak ingin tahu, membuat Irvan tertawa seakan mengetahui isi hati keduanya.


“Tanya sendiri tadi! Orangnya sudah pulang baru sengaja tanya!” Kata Irvan mengerjai kedua sahabatnya.


“Wah kamu, orang baru kenalan, langsung disuruh pulang saja, bagaimana bisa tanya ini dan itu!” Kata Nana sambil goyang-goyang kepala seakan meniru ucapan Irvan, membuat Shael ikut tertawa lalu mengoloknya.


“Cuih, hari ini, ada yang berani sama cewek!” Lalu ia tertawa, Irvan pun ikut mengolok sampai akhirnya Nana ikut tetawa dan menerima kekalahannya. Karena memang ia selalu takut berhadapan dengan wanita baru. Apalagi cantik.


“Aku juga tidak kenal mereka, taai sepertinya keduanya anak orang kaya, karena punya banyak pengawal pribadi. Namun, karena ingin mencari kebebasan, mereka pergi tanpa pengawalan, akhirnya bertemu orang jahat, akhirnya kejadiannya seperti tadi.” Karang cerita dari Irvan lagi membuat kedua temannya manggut maggut.

__ADS_1


“Pantasan saja di luar banyak pengawal.” Kata Nana karena mereka sempat di tahan oleh penjaga ruangan Irvan di luar dan ditanya ini-itu.


Di tempat terpisah, Fania baru saja selesai mengerjakan tugas kuliahnya dan ingin segera tidur, tapi kini ia memiliki kebiasaan baru setelah kejadian beberapa waktu lalu. Ia baru akan naik k etas tempat tidurnya, jika sudah memastikan tidak ada orang yang mengumpat di bawahnya.


Setelah beberapa jam tertidur, ia dikagetkan dengan suara di belakang rumahnya. Hatinya gelisah, sebab dirasa ada orang yang hendak masuk ke rumahnya. Ia bangun untuk memeriksa, bahkan ia mengintip keluar, namun tidak melihat ada tanda apa-apa, lalu kembali ke kamarnya untuk tidur.


Karena sangat mengantuk, Fania langsung saja tidak sadarkan diri walau baru saja beberapa menit meregangkan tubuhnya. Ia kembali tidak sadarkan diri, sampai satu jam kemudian, ia disadarkan lagi dengan bunyi pecahan di ruang makan rumahnya.


Krekkkkkkkkkkk


Fania kaget dari tidurnya. Segera bangun, tapi masih terduduk di ranjangnya. “Putih, Coklat?” Ia sendiri tidak yakin.


Fania menyukai kucing dan memelihara dua ekor, Putih dan Coklat nama yang diberikan sesuai warna bulu. Namun kucing-kucingnya tidak pernah sekalipun naik ke atas meja. Lagian semalam, sebelum tidur Fania telah membereskan meja makan. Tidak ada piring dan gelas atau barang pecah belah lain di atasnya. “Dari mana bunyi itu?” Pikirnya penasaran.


Fania mencoba keluar untuk memeriksa. Betapa terkejutnya, gelas kaca kesayangannya jatuh dan pecah di depan lemari.


Walau bingung, Fania mencoba berpikir yang positif saja dan walau masih mengantuk, ia terpaksa harus membersihkan pecahan-pecahan itu, takutnya esok pagi ia lupa, lalu tidak sengaja menginjak salah satunya.


Sapu lantai ada di pojok ruangan, Fania menoleh ke sana dan berjalan hendak mengambilnya, tiba-tiba muncul seseorang dari belakang dan langsung membekapnya.


Fania kaget, lalu merontak-rontak dengan keras. Ingin berteriak, tapi mulutnya tertutup. Orang itu sangat kuat membekap.


Ia membawa Fania ke kamar. Mungkin ingin memperkosa. Fania terus merontak dan dengan sekuat tenaga menekan ke belakang agar dengan tubuhnya mendorong orang itu ke dinding, namun hasilnya tidak ada.


Fania kehabisan akal. Ia sengaja merontak lagi lalu dengan keras ia menyikukan tangannya sekuat-kuatnya kebelakang mengenai dada orang itu, sehingga membuat belakapan orang itu sedikit longgar, lalu Fania mengangkat kakinya ke belakang untuk menendang orang itu persis di ***********.


Uukkhhh


Jeritan kasar keluar dari mulutnya. Ia kesakitan, lalu melepaskan bekapannya membuat Fania bebas menghindar, kemudian segera menendanggnya sekali lagi. Ia terlempar ke dinding kamar, lalu mengambil inisiatif lari dari sana.

__ADS_1


Fania sangat ketakutan lalu memeriksa rumahnya dan didapainya pintu bagian belakang telah dirusak orang itu, sehingga ia terpaksa mendorong meja untuk menahan dari dalam.


Pecahan kaca dibiarkan begitu saja. Ia tidak bisa tidur lagi. Terus terjaga, jangan sampai kejadiannya terulang lagi sambil mengingat kembali peristiwa naas yang baru saja menimpanya.


Fania menggenggam erat kedua tangannya. Sorot matanya tajam melihat ke atas, air matanya tumpah membasahi pipinya. Mengapa orangitu nekat melakukan hal seperti ini. Fania sepertinya telah menemukan sesuatu yang mengganjal. Ia mengenal Jam tangan orang yang membekapnya.


Paginya Fanai segera ke kampus. Shael dan Nana sedang berdiri di gerbang sambil menengok-nengok seakan menunggu seseorang ,mereka menyapanya dengan ramah ketika ia tiba didekat mereka.


Awalnya Fania tidak ingin membalas sapaan mereka. Tapi setelah dipir-pikir, kedua orang ini tidak punya kesalahan dengan dia, sehingga ia pun terpaksa membalas sapaan mereka. Lalu terjadilah pembicaraan singkat diantara ketiganya di gerbang.


“Irvan sedang di rumah sakit Fan.” Kata Shael membuat Fania terkejut langsung batuk-batuk seakan sesuatu menyumbat di lehernya.


Setelah batuknya redah, Fania berusaha tenang, lalu sengaja mencari tahu penyebabnya.


“Semalam ia di serang.”Ucap Nana antusias menjawab membuat Faniakembali tersentak dan hendak batuk lagi.


“Semalam!” Fania mengherutkan keningnya, lalu dengan sotor mata yang ingin tahu ia terus bertanya “Siapa yang menyerangnya dan dimana?” Namun belum sempat dijawab, ia sudah bertanya lagi, sakitnya dibagian mana?”


Shael dan Nana tidak lagi bisa menjawab, mereka merasakan ada sesuatu yang lain dibalik pertanyaan Fania,  lalu menyuruh agar sebaiknya ia menjenguk saja ke rumah sakit, biar mengetahui dengan jelas, lagian Irvan juga sedang menanti kehadirannya di sana.


“Irvan ingin mengakui sesuatu secara jujur dan inginya langsung pada mu.” Ucap Shael sukses mengerutkan kening Fania lagi.


“Mengakui sesuatu secara jujur?” Fania mengulang kata itu, Mengakui Apa? Tentang sakitnya?” Tanya Fania lagi sambil tersenyum sinis dan kelihatan marah. “Aku akan ke sana sekarang, berikan alamat rumah sakitnya?” Setelah mendapat apa yang dimintanya, ia segera menghubungi ketua kelasnya, menyatakan Izin, lalu memesan taksi dan pergi mencari Irvan.


“Fania kelihatannya aneh.” Kata Shale.


“Iya, wajahnya penuh tanda tanya.” Sambut Nana lalu keduanya pergi menjauhi gerbang.


 Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2