PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 52. Heboh Berita Kematian Irvan


__ADS_3

Star Light University heboh. Dari dosen sampai mahasiswa, para security sampai pelayan kantin ikut membicarakan rekaman yang tersebar digrup-grup media social.


“Ini gila. Benar-benar tu anak dua.” Ucap orang-orang mengomentari rekaman cctv.


“Bangkai ngak bisa di sembunyikan, suatu saat ketahuan.” Sambung lainnya sambil tertawa.


Fania terburu-buru kelur dari kelasnya sambil di kejar oleh Tia dan Tasya. Bukannya marah melihat rekaman itu, tapi sengaja menghindar dari tatapan teman-temannya yang lain.


Ia percaya, semua yang direkaman itu, hanya bagian luar yang bisa dijelaskan.


“Tia…Tasya,” panggilnya ketika keduanya mendekatinya.  “Kalian sahabat ku. Tolong percaya juga pada ku. Rekaman itu bisa dijelaskan. Kita tunggu saja Irvan dan Petra kembali.” Ujarnya lagi dengan tegar.


Tia dan Tasya yang awalnya mengira Fania keluar karena kecewa, malah heran dengan ketegaran itu. “Iya Fania, kami percaya pada mu.” Kata mereka, lau ketiganya meninggalkan kampus menghindari keheboan.


Mereka tiba di villa, lalu ingin menghabiskan pagi itu dengan berenang di kolam renang samping.


Ketiganya telah lengkap dengan busana renang, Tasya dan juga Fania lebih dahulu melompat ke kolam, namun tiba-tiba kembali Tia dikejutkan dengan panggilan telpon.


Setelah telpon dimatikan, Tia segera berselancar ke internet, mencari akun berita dan betapa terkejutnya. Wajah Irvan dan Petra berdekatan sambil memegang tangan, di samping keduanya ada seorang ibu yang juga terbaring. Tubuh ketiganya penuh dengan darah.


Waaaaaaaaaaaa.


Teriak Tia kaget.


Tasya dan Fania yang sedang berenang pun terkejut mendengar teriakan Tia, lalu cepat-cepat kepinggir dan keluar.


“Ada apa, ada apa?” Teriak Tasya.


Di serahkannya hp, lalu Tasya sendiri melihat. Ia langsung merinding. Tubuhnya melemas dan langsung terduduk di pinggir kolam.


Fania pun ikut mendekat, dilihatnya gambar di foto itu, lalu mengangkat kepala melihat ke langit, menenangkan dirinya, lalu kembali menguatkan kedua temannya.


“Kalian masih percaya pada ku kan?” Tanyanya lagi, lalu ia meminta mereka agar tidak perlu kuatir sebab Irvan pasti selamat.


Tia dan Tasya sekali lagi kebingungan dengan ketegaran hati Fania. Namun melihat Fania tang tegar merekapun kembali kuat, lalu pasrah dan membiarkan waktu yang membuktikan.


Tidak lagi berenang, ketiganya masuk ke dalam, mengganti pakaian, memasak sambil bercerita.


Kring….Kring….


Bunyi telpon masuk.


“Halo Kek!” Jawab Fania. “Di villa.” Katanya lagi menjawab pertanyaan. “Baiklah aku segera ke sana.”


Fania memohon izin pada kedua temannya, lalu meninggalkan mereka untuk pergi ke gedung terbesar di kompleks villa mars karena Ibu Kor, Tuan Leon dan Tuan Besar Parker telah menunggunya.

__ADS_1


Di luar gerbang ada sejumlah wartawan ingin mengklarifikasi berita yang beredar, namun diminta untuk menunggu saja sampai waktu konfrensi pers.


***


Febin Mark bersama beberapa anak buahnya, juga ada Viki, Anjas dan Reis sedang asik menonton berita sambil meneguk minuman keras. Mereka merayakan berita yang lagi heboh itu.


Mereka juga ingin melihat wajah susah Tuan Besar Parker dan Tuan Leon saat diwawancarai tentang kematian Irvan.


“Wah lama sekali rupanya si tua bangka itu menjumpai wartawan!” Kesan Febin.


“Kita tunggu saja.” Ucap Viki disambut tawa oleh Febin, lalu mereka bersenang-senang.


“Yeah, mari kita minum sambil menunggu waktu konfrensi pers keluarga Parker.” Kata Febin.


***


Star Light University yang tadinya heboh bergosip dengan video cctv, kini berganti duka mendalam.


Kesya langsung pinsan begitu membaca berita di media online dan kini sedang ditemani beberapa orang di ruang p3k.


Shael dan Nana beserta seluruh kawan kelasnya, tidak saling bicara sepatah katapun. Mereka semua lemas. Masih belum percaya.


Para mahasiswa miskin lainnya telah berkumpul di taman dekat perpustakaan. Mereka semua berduka.


Via, Lena ikut sedih. Walau mereka berniat jahat menghancurkan kehidupan Irvan, tapi kini dengan beredarnya berita itu, mereka menyesal, seakan menyadari semua yang mereka lakukan selama ini salah.


Semua karyawan yang bekerja pada Parker Grup pun ikut tersentak kaget. Jero pun kaget. Walau ia yang memberi informasi, namun ia tidak menduga akan terjadi seperti ini.


***


Sebuah mobil hitam milik Aleks keluar dari kompleks pergudangan milik Febin, tempat dimana istri dan ketiga anaknya di tahan.


Mereka senang, karena akhirnya bisa dibebaskan. Lorena tahu, pasti tangan Aleks telah kembali dikotori dengan darah, namun Rika dan ketiga adiknya sama sekali tidak tahu apa-apa tentang ayah mereka.


Sejumlah pertanyaan Rika lontarkan, namun hanya segudang kata maaf yang ia terima. Aleks belum mau jujur tentang kerjanya dimasa lalu yang ternyata masih berdampak hingga saat ini.


“Nak, maaf ayah. Besok Kalian akan tahu semuanya.” Ujarnya menenangkan ketiga anaknya yang terus bertanya.


Mobil memasuki halaman rumah, kelimanya bergegas masuk, lalu Aleks dan Lorena memerintahkan anak anak untuk mengambil semua surat-surat bergharga dan perhiasan yang mungkin bisa dibawa segera, karena mereka harus meninggalkan rumah untuk sementara waktu.


“Mengapa Bu?” Tanya Rika.


“Kita akan dibunuh jika tetap disini!” Ujar Lorena mengagetkan Rika.


“Hah…” Suara ketakutan bercampur cemas keluar dari mulut Rika. Ibu dan ayahnya tidak pernah setakut hari ini. Pasti benar ada sesuatu yang mungkin akan terjadi. “Iya, Iya Ibu.”

__ADS_1


Rika pun ikut mendesak kedua adiknya membereskan semua yang diperintahkan ibunya, kemudian mereka berlima keluar dari gerbang belakang menuju sebuah mobil yang telah terparkir di sana.


“Kemana kita harus pergi ayah?”


“Tenang saja. Kita terlebih dahulu berlindung di sebuah hotel sambil menunggu informasi selanjutnya.” Kata Aleks saat mengendarai mobil lainnya menuju hotel Malae.


Disana mobil Aleks langsung diarahkan ke gudang belakang, lalu mereka diantar ke sebuah ruangan keluarga terbesar tanpa melalui recepsionis.


Kehadiran Aleks dan keluarganya sangat dirahasiakan. Setelah tiba di kamar, Aleks mengeluarkan ponselnya, lalu menghubungi seseorang dan berkata: “kami sudah di hotel.”


***


Tuan Besar Parker menyuruh Tuan Leon segera mengatur konfrensi pers. Ia ingin memberi keterangan terkait foto yang sedang beredar.


Para wartawan senang. “Akhirnya.” Kata mereka.


Tidak saja akan mendapatkan berita penting, namun sekalian bisa memasuki kompleks elit villa Mars membuat semua wartawan bahagia.


Dikediamannya, Febin Mark dan seluruh anak buah serta para penjilatnya telah manatap layar kaca. Begitu juga Para dosen di kampus dan seluruh mahasiswa telah menunggu-nunggu konfrensi itu.


Di perusahaan, jalan-jalan dan perumahan warga, banyak orang pun sedang menantikan acara yang hendak dilakukan itu.


Tuan Leon memastikan semuanya fasilitas diatur dengan baik, para wartawanpun telah mengambil tempat, lalu menjemput Tuan Besar Parker, Ibu Kor dan Fania untuk memasuki ruang konfrensi.


Klip, klip, klip, klip,


Bunyi jepretan kamera terus saja mengambil gambar mereka.


Ketiga orang itu duduk dengan mantap. Tuan Besar mengambil posisi di tengah, sedangkan Fania dan Ibu Kor mendampinginya sebelah menyeblah.


Konfrensi pun di mulai. Tuan Leon mempersilahkan Tuan Besar berbicara.


“Saya, tuan besar Parker, kakeknya Irvan. Disebelah saya Ibu Kor, orang yang berjasa membesarkan Irvan dan Fania calon cucu mantu saya.” Katanya memperkenalkan mereka semua, lalu langsung berbicara pada intinya.


“Saat ini saya menyampaikan bahwa foto yang kini beredar luas adalah benar-benar Irvan cucu saya bersama sahabatnya Petra dan Ibunya Niken.”


Tuan besar terdiam beberapa saat, lalu kembali berbicara:


“Foto itu adalah benar dan asli. Tapi saya ingin tegaskan disini, bahwa jangan pernah sekali-kali memberi kesimpulan hanya berdasarkan foto itu.” Ucapnya dengan tegas.


Lalu  mengakhiri konfrensi pers itu dengan berkata: “Kita belum tahu apa yang akan dibawa oleh fajar pada esok hari. Datanglah besok jam sepuluh pagi dan kenyataannya akan terkuak. Terima Kasih.” Tutupnya lalu segera meninggalkan ruangan konfrensi.


Banyak pertanyaan yang ingin diajukan para wartawan, namun Tuan Besar belum bersedia menjawabnya. “Besok saja.” Ucapnya sambil terus berjalan.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2