PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 27. Takut menyusahkan Irvan


__ADS_3

Di Star Ligt University ada kebijakan baru mengenai program beasiswa yang di umumkan. Kampus akan membebaskan biaya kuliah untuk tingkat magister sampai doctoral bagi mereka para calon sarjana yang nilainya tidak turun dari standar yang ditetapkan.


Mayoritas mahasiswa ingin mengikuti programnya, namun sayang, kebijakan itu sifatnya hanya untuk membantu mahasiswa-mahasiswi kategori miskin yang berkuliah di sana. Itupun juga jika mereka bersedia.


Irvan, Fania dan belasan mahasiswa yang tercatat sebagai mahasiswa miskin di kampus itu bergembira menyambut kebijakan tersebut. Mereka berantusias ke ruang informasi untuk mendapat petunjuk lanjutan.


Disana mereka diberi informasi yang sama sekali tidak akan merugikan satu pihak pun, jikalau bersedia, langsung disilahkan untuk mengisi berbagai dokumen.


Ada dokumen tentang  identitas, perjanjian, pernyataan-pernyataan, dan banyak lainnya. Keseluruhan dokumen itu harus disahkan. Ada yang pengesahannya hanya memerlukan tanda tangan, namun lainnya harus dengan sidik jari.


***


“Fania, apakah kamu masih ada kuliah siang ini?,” tanya Irvan serius setelah mereka keluar dari ruangan informasi.


“Tidak ada lagi, emangnya kenapa?”


“Baguslah, aku ingin mengajak mu makan siang, sambil cerita tentang yang kemarin”


“Oh Iya Kak, betul … betul aku sampai lupa mau menanyakan hal itu. Boleh, aku setuju”


Lalu Irvan dan Fania segera tinggalkan kampus, menumpang taxi pergi ke restoran kelas menengah yang berada di dekat pusat kota.


Makanan dan minuman di sana enak-enak dan harga cukup terjangkau bagi masyarakat biasa. Irvan pernah sekali makan di sana, karena di traktir Shael.


Setelah tiba, mereka memesan jus dan beberapa menu makanan, lalu sambil menunggu keduanya mulai ngobrol.


Fania yang memulai percakapannya , karena ia sangat penasaran dengan foto yang diminta Irvan kemarin.


Irvan pun dengan semangat bercerita. Walaupun ceritanya ia karang sendiri, karena kebenarannya belum mau dia ungkapkan.


“Foto mu telah ku berikan kepada tim yang ditugaskan bos ku untuk membantu mencari keluarga mu,” ucap Irvan dengan serius. “Pokoknya kamu tenang saja. Mudah-mudahan dalam minggu ini sudah ada kabar.”


“Secepat itu?” Tanya Fania spontan menatapnya dengan penuh ceria membuat Irvan salah tingkah.


Kali ini Irvan yang tidak berani membalas tatapan Fania. Sambil menjawab, ia sengaja menoleh ke bagian pelayanan restoran.


“Iya. Mereka adalah orang-orang yang sangat professional dalam bidang ini.”


“Baguslah Kak Irvan. Aku terharu sekali dengarnya, Aku tidak tau harus membalas dengan cara apa.” Ucap Fania dengan wajah penuh haru.


“Jangan berpikir tentang balasan, aku tidak meminta jasa atas kerja ini, lagian bos ku juga orangnya sangat baik. Dia iklas membantu.”

__ADS_1


“Tapi aku merasa sangat berutang. Begini saja, Aku pasti akan memberikan sesuatu, apapun itu, tapi menurut ku itu hadiah terbaik dari ku buat Kak Irvan. Pokoknya, nanti Kak Irvan harus terima”


Irvan tersenyum. Kali ini dialah yang kembali menatap wajah Fania sambil mengangguk-angguk tanda setuju.


“Janji,” kata Irvan sambil mengarahkan jari kelingkingnya kepada Fania tanda ingin membuat ikatan perjanjian.


Fania pun menyambutnya, lalu memberanikan diri menatap Irvan sambil mengaitkan kedua jari kelingking mereka kuat-kuat. Lalu dengan penuh senyum, Fania berkata sangat lembut, “aku …  janji.”


Bagai anak panah, suara lembut Fania membuat jantung Irvan bergetar kencang. Ia kehilangan konsentrasi.


“Ehem … ehem…” suara pelayan restoran mengagetkan keduanya.


“Eh … eh …,” ucap Irvan sembari memisahkan jari mereka, sedangkan Fania hanya senyum manis membuat Irvan lebih salah tingkah lagi.


“Silahkan di nikmati,” ucap pelayan sambil menaruh seluruh hidangan di meja.


Setelah selesai makan, Irvan pergi membayarnya, lalu mereka meninggalkan restoran itu.


Ada kontak di hati keduanya. Sama-sama belum mau berpisah. Irvan sengaja mencari-cari bahan agar mereka terus bercerita di taman depan restoran.


Fania pun demikian, seakan ingin terus bersama Irvan, ia pun memulai cerita baru ketika satu topik yang diangkat Irvan telah selesai mereka bahas.


Tanpa terasa waktu telah pukul 4 sore dan keduanya masih asik bercengkerama di taman itu sampai tiba-tiba Irvan mengingat untuk mengatakan kepada Fania agar merahasiakan pencarian yang sedang mereka upayakan itu.


“Apaaaa?” Fania tiba-tiba menjadi pucat mendengar perkataan Irvan.


“Tapi, Kak … aku telah ceritakan kepada Ibu Rati,” ucap Fania dengan nada pelan, merasa bersalah atas semangatnya yang berlebihan tanpa terlebih dahulu bertanya pada Irvan.


Ia juga sengaja tidak menyebut nama Viki, karena takut Irvan marah.


“Baiklah, kalau memang kamu telah terlanjur, tidak apa-apa … nanti minta tolong saja agar untuk sementara waktu Ibu Rati bisa merahasiakannya.”


“Iya Kak, Aku janji, entar akan ku katakan”


“Baiklah kalau begitu, mari kita pulang, karena hari sudah sore.” Lalu Irvan berencana memesan taxi, namun Fania mengajaknya untuk berjalan kaki saja, sambil menikmati suasana di sore hari.


Irvan pun setuju dan berkata, “okelah, kalau itu mau mu, dengan senang hati aku mengikuti, tapi ingat jangan ada yang kakinya sakit lagi” kata Irvan sengaja menggoda.


Fania tersenyum jahat lalu membalasnya, “Siap Pak Bos, tapi harus ingat juga, jangan ada yang jalannya sangat cepat, seperti ….” Fania tidak melanjutkan kata-katanya, namun ia hanya tertawa sambil menoleh untuk melihat wajah Irvan.


Irvas tersenyum, dan dengan terpaksan dia berkata “kejadian itu tidak mungkin terulang lagi”

__ADS_1


“Ayo, kita menyebrang,” ajak Irvan sambil memegang tangan Fania.


Lalu keduanya menyebrang dengan saling berpegang tangan dan mengambil arah menuju pertokoan.


***


Di tempat terpisah, Viki yang baru saja bangun dari tidur siangnya, langsung menemui ayahnya. Ia ingin menanyakan beberapa hal untuk melengkapi informasi yang sedang ia dan kedua kawannya selidiki.


Lalu ia langsung bertanya mengenai siapa pemilik perusahaan tempat Irvan bekerja saat ini. Ia ingin tahu apakah perusahaan itu bisa dikendalikan ayahnya atau tidak. Jika bisa, maka ia ingin masuk ke sana untuk mencari masalah dengan Irvan.


Itulah salah satu rencana yang dia dan kedua kawaanya sepakati untuk dilakukan. Bagi mereka Irvan harus terus disusahkan biar dia tidak bisa merasakan artinya hidup bahagia.


“Sejak 5 tahun lalu, perusahaan itu selalu mengalami kerugian sehingga baru-baru ini di jual. Kini perusahaan itu ada di bawah kendali Parker Grup,” kata Jimi.“


Itu berarti ayahnya Viki sama sekali tidak bisa berbuat apa-apa untuk mengikuti keinginannya. Vikipun tahu bahwa ayahnya tidak mungkin berani untuk berlawan dengan Parker Grup yang raksasa itu.


“Wah, sial lagi. Irvan akan semakin menggila kalau ia sampai mendapat kepercayaan oleh pemilik Parker Grup. AKu harus menjebaknya.” Pikir Irvan picik.


“Memangnya ada apa, Nak,” tanya Jimi.


“Itu Ayah, si Irvan dari kampung Mulung. Dia saat ini sedang bekerja di perusahaan itu.” Kata Viki dengan wajah sedikit kesal.


Mendengar perkataan Viki, Jimi sepertinya enggan untuk menanyakan lebih jauh perihal kekesalan anaknya. Dia kuatir, jangan-jangan Viki memintanya untuk membuat masalah dengan anak itu lagi. Karena jika demikian bisa berakibat fatal, karena siapapun yang bekerja di perusahaan milik Tuan Parker akan sangat di lindungi.


Baru-baru saja, setelah menggusur Kampung Mulung, Jimi mengalami kerugian hingga enam  triliun, karena ternyata perbuatannya itu menghilangkan rasa simpatik dari Parker Grup.


Rupanya Parker Grup menaruh rasa kepedulian sosial yang sangat tinggi kepada masyarakat kampung mungung, akibatnya mereka membatalkan semua kontrak dengan perusaan Jimi secara sepihak.


Bahkan setelah itu, gara-gara selalu mengikuti keinginan Viki untuk menekan orang-orang miskin di Star Ligt University, ia telah mendapat ancaman keras dari Pak Fais.


Belajar dari kedua pengalaman itu, kini Jimi sangat hati-hati sekali untuk mengikuti keinginan anaknya lagi.


“Oh baguslah kalau begitu,” kata Jimi sengaja mengalihkan perhatian Viki, namun upayanya itu gagal.


“Apanya yang bagus, Yah … dengan bekerjanya diperusahaan itu, Aku yang justru mendapat hina darinya.”


Jimi, seolah mendapat tekanan hebat. Disatu sisi, Ia sangat marah, jika anaknya merasa terhina, karena sejak dulu ia selalu mengutamakan gengsi dan ego. Mana mungkin ia mau anaknya kalah dengan orang lain.


Siapa pun yang menghina anaknya, pasti akan ia hancurkan, namun saat ini situasinya telah berbeda, jika ia membantu anaknya menyusahkan Irvan lagi, pasti ia mendapat getahnya. Perusahaanlah taruhannya. Jimi takut menyusahkan Irvan.


Rupa-rupanya, ketakuntan Jimi dikarenakan Tuan Fais telah mengancam untuk membangkrutkan perusahaannya, jika sekali lagi ia terlibat menyusahkan Irvan. Namun mengenai hal ini tidak dia ceritakan kepada Viki.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2