PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 33. Febin Mark dan Aleks


__ADS_3

Telah menjadi kebiasaan, disetiap hari ulang tahun Febin Mark, acaranya akan berlangsung semalam penuh. Dilalui dengan sedikit doa yang hanya formalitas, lalu masuk pada hiburan tarian erotis dan biasanya berakhir dengan kemabukan.


Malam itu, tepat pukul 21.00,  acara hiburan baru saja mulai, Febin Mark ditemani para tamu terhormatnya sedang asik menikmati tarian para wanita penghibur yang didatangkan khusus dengan bayaran sangat mahal.


Febin Mark terlihat bahagia, selalu tersenyum dan terkadang tertawa riang, kepalanyapun ikut beryoyang mengikuti irama lagu penghilang kesadaran.


Di kelilingi para tamu terhormat, entah apa bahan cerita, tapi  selalu melihat ke arah penari, menunjuk yang ini dan itu, kadang mengangguk-angguk, lalu tertawa.


Tiba-tiba seorang anak buahnya datang melapor, ada empat orang tak diundang ingin menemuinya.


“Seret mereka keluar! Aku lagi bersenang-senang.”


“Ampun Tuan, kami telah berupaya, tapi mereka tetap berkeras ingin mengabarkan informasinya langsung kepada Tuan. Kata mereka penting dan sangat rahasia.”


“Ah … mengganggu saja. Suruh tunggu aku di ruang tamu”


Febin Mark kembali bercerita dengan para undangannya sambil kembali tertawa, namun hatinya gelisah.


“Informasi penting dan rahasia! Apa itu?” Pikirnya, lalu pamit kepada undangannya untuk menghampiri tamu tak diundang tadi.


 “Siapa kalian, mengganggu kesenangan ku saja.”


“Maaf Tuan, ini Anjas, Reis, Via dan saya sendiri Viki.” Katanya memperkenalkan diri dan kawan-kawannya.


Viki yang pandai memanfaatkan kesempatan tidak ingin membuang waktu, ia segera memberitahukan bahwa kedatangan itu karena disarankan oleh beberapa orang, mungkin Tuan Febin membutuhkan informasi yang mereka miliki.


“Jangan buang waktu ku, bicara langsung pada intinya,” desak Febin penasaran.


“Baiklah Tuan. Kami telah menyelidiki dan dugaan kami sangat kuat. Musuh bisnis Anda, Tuan Parker, telah bertemu kembali dengan cucunya.”


Febin sangat kaget mendengar mendengar informasi itu. Ia marah sekali, namun berusaha tetap tenang, ingin menyembunyikan rahasiannya.


Jantungnya berdebar kencang. Tapi ia mencoba menenangkan diri hingga beberapa menit lalu ia bertanya “Apa hubungannya dengan saya?” Ia sengaja mencari motif pembicaraan itu.


“Mungkin saja Tuan butuh informasinya!” Sambung Anjas yang ternyata memicu kemarahan Febin sehingga menyambarnya dengan hardikan keras.


“Diam Kau Bodoh! Saya tidak bicara dengan Anda.”


Anjas yang tadinya ingin berkontribusi menjadi gemetaran melihat kemarahan di wajah Febin. Ia tertunduk dengan takut.


“Silahkan lanjut!” Perintah Febin yang mata tertuju pada Viki dengan sedikit angguk sebagai tanda silahkan.


Viki yang juga ketakutan melanjutkan perkataanya “saat ini kami pun sedang mencari tahu latar belakang seorang wanita yang kini menjadi pacar Irvan. Informasi awal yang saya sendiri dapatkan darinya, 19 tahun lalu dia ditemukan oleh sepasang kakek nenek di suatu perkampungan. Mungkin ia di buang oleh orang tuanya.”


Mendengar perkataan Viki, Febin Mark sangat kaget, namun karena masih menghargai undangannya ia menyudahi pertemuan itu untuk sementara.


“Cukup dulu. Tamu saya masih menunggu. Besok kita lanjutkan lagi.” Febin masih ingin mendapat banyak informasi.

__ADS_1


“Baiklah Tu—an.” Viki ingin pamit, namun sayang, Febin telah pergi tanpa peduli lagi dengan mereka sambil memberi kode kepada anak buahnya untuk menahan ke empat orang pembawa informasi buruk  itu.


Suasana cerah dihati Febin Mark berganti mendung. Wajahnya tidak bisa menyembunyikan rasa hatinya. Ia marah sekali. Tatapnnya menjadi tajam kepada siapa saja. Para tamunya merasakan hal itu. Mereka jadi tidak nyaman, lalu satu persatu mohon diri, meninggalkan pesta pora malam itu.


Baru satu jam acara hiburan itu dimulai, tapi semua tamunya telah pulang. Kini tinggalah Febin Mark dan semua anak buahnya, meskipun demikian para penari tetap gesit melekukan pinggang mereka sambil sesekali menunjukan goyangan erotis peningkat hasrat.


Febin Mark tidak lagi bahagia, biasanya goyangan seperti itu yang paling ia nikmati, namun karena informasi tadi dan pulangnya semua tamu-tamunya membuatnya semakin kecewa.


Segelas wiski yang ada  ditangnnya dipakai melempar para gadis itu untuk menghentikan mereka. Suasana menjadi hening. Dentuman musik dihentikan.


“Bawa keluar penari-penari itu.” Perintah Febin, “Kamu Vikri!”


“Siap Tuan!”


“Bersama semua anak buah mu, bawa Aleks kesini, malam ini juga.” Perintah Febin singkat dan tegas menggetarkan hati Vikri.


“Siap Tuan.”


Aleks adalah orang yang memimpin langsung pembunuhan kepada seluruh keluarga Parker di malam perayaan dua bulanan Irvan. Ia juga adalah orang yang bersama-sama dengan Febin Mark membuang Fania di ke kota kecil bernama Neke.


Setelah menjalankan dua tugas besar itu, Aleks meminta pensiun. Hidupnya yang sudah penuhi dengan darah harus ditinggalkan. Ia ingin bertobat, lalu membangun keluarganya dan memulai bisnisnya sendiri.


Istrinya bernama Lorena dan ia memiliki tiga orang anak. Si bunggu, berumur empat belas tahun bernama Rinto dan kakak perempuannya ada dua orang, Anjelita yang usianya menginjak tujuh belas dan yang tertua adalah Rika, mahasiswa Starligth University yang masih terus mencintai mantan pacarnya, Irvan.


Aleks juga merupakan anak dari pasangan kakek-nenek yang menemukan dan membesarkan Fania seperti anak kandung mereka sendiri. Rupanya ia berasal dari kota kecil itu. Sejak masih muda, ia tinggalkan tanah kelahirannya untuk merantau ke kota besar sampai akhirnya menjadi anak buah Febin Mark.


***


Gerak cepat Vikri dan anak buahnya berhasil membawa Aleks. Tepat pada pergantian hari, mereka telah kembali dihadapan Febin Mark yang saat itu berada di ruang Merah. Begitulah mereka menamakan ruang untuk menyiksa para penghianat atau musuh.


Aleks tidak kaget sedikitpun ketika ia dibawa ke ruangan itu. Sudah lama ia mempersiapkan diri, jika suatu saat nanti penghianatannya terbongkar, bayarnya pasti nyawa.


Ia rela mati, pikirnya itulah hukuman setimpal atas semua kejahatan yang pernah dilakukannya dengan menumpahkan banyak darah orang tidak berdosa selama masih menjadi anak buah Febin Mark. Yang paling ia sesali adalah pembunuhan keluarga Parker.


Aleks tahu kesalahan dan akibatnya. Ia tidak mau melawan demi nasip anak dan istrinya. Ia pasrah di hadapan Febin.


Aleks berlutut dan bersedia menerima setiap ganjaran atas penghianatannya.


“Mengapa Aleks … kenapa?” Teriak Febin Keras


“Aku tidak tahu Tuan, tetapi pada saat aku hendak membunuhnya, anak kecil itu seakan-akan menatap ku, lalu ia tersenyum.” Kenang Aleks.


“Hanya karena itu?”


“Entah kenapa, tapi kejadian itu membuat ku sadar atas semua kejahatan yang kulakukan. Aku tidak ingin lagi membunuh, lalu ku bawa anak itu saja, pikir ku. Namun sialnya ada beberapa anak buah ku yang tidak sependapat. Mereka ingin membunuh bayi mungil itu, lalu kami bertengkar dan akhirnya ku habisi nyawa mereka dan ku buang di sungai biar rahasia ku aman” Cerita Aleks.


“Aku bingung, mau kemanakan anak itu. Ke rumah ku tidak mungkin, begitu juga ku berikan kepada orang lain, sangatlah mustalil. Satu-satunya jalan, ku bawa dia ke tempat pembuangan sampah. Dia sana aku menunggu sampai ada orang yang datang, lalu ku simpan dia di situ sambil mengintip.”

__ADS_1


“Aku ingat wajah wanita itu, belakangan ku selidiki tempat tinggalnya, ternyata dia telah pindah ke kampung mulung.” Cerita Aleks.


“Apakah Puteri Mark juga masih hidup?” Tanya Febin mengagetkan Aleks.


“Tuan … ?“ Aleks mengerutkan dahinya. Ia tidak tahu apa-apa. Tapi seandainya benar anak itu masih hidup, pastinya ia sangat bahagia.


“Aku tidak mengetahuinya dengan pasti Tuan! Jujur … waktu itu, aku sengaja mengajak Tuan ke Neke untuk membuangnya di sana, karena pikir ku, aku juga akan mudah melacaknya jika ia disana, karena Neke adalah tempat kelahiran ku.” Jujur Aleks membuat Febin semakin geram kepadanya.


Febin ingin segera mencambuknya, lalu membunuh dia, tapi ia masih ingin mengetahui berbagai hal yang sama sekali tidak pernah diketahuinya.


“Apakah masih ada yang belum ku ketahui?” Tanya Febin dengan nada keras.


“Iya Tuan masih ada!”


Febin mencoba tenang, agar ia bisa mendengarkan semua pengakuan Aleks.


“Niken juga masih hidup Tuan!”


“Apa? An**ng kamu!!!”


Plakkkk,,,


Wajah Ales dipukul keras oleh Febin hingga sedikit mengeluarkan darah. Febin tidak puas, lalu menendang persisi di dadanya. Aleks terjatuh, namun dipaksa bangun lagi oleh anak buah Febin.


“Aleks, dulu kamu adalah anak buah ku yang paling aku percaya. Aku bangga dengan semua kerja mu. Sampai kamu ingin pensiun, aku restui, lalu ku beri uang 500 miliard sebagai modal usahamu, tapi ternyata kamu berhianat kepada tuan mu,” Kesal Febin.


Masih dipenuhi kekesalan, Febin berkata lagi: “Lorena istrimu, sudah terlalu tua untuk dinikmati. Pinggangnya telah kaku. Aku dengar ada Anjelita dan Rika. Mungkin keduanya bisa menjadi penari erotis untuk menghibur ku dan semua anak buah ku.”


“Jangan Tuan, mereka tidak bersalah, akulah yang bersalah, bunuh saja aku Tuan. Ku mohon bunuh saja aku. Aku siap mati Tuan!”


“Hahahaha, justru itulah, aku  tidak mau membunuhmu. Yang ku inginkan sekarang adalah melakukan sesuatu yang tidak kamu inginkan. Kamu tahu kan?”


Aleks menatap Febin dengan tidak mengerti.


“Jika waktu itu aku tahu penghianatanmu, pasti seluruh tubuhmu telah ku robek-robek … tapi semuanya terlambat. Aku juga tidak punya selera lagi untuk membunuhmu. Pahit daging mu. Aku ingin makan yang masih segar dan kenyal. Kamu tau maksud ku kan?”


“Maksud Tuan?”


“Kedua anak gadis mu, apalagi yang masih SMA, ku dengar dia lebih cantik dari kakaknya, sayang kalau mereka berdua dibunuh, tapi jika kamu gagal menyelesaikan misi mu yang ku anggap tertunda itu, ditambah membunuh Puteri yang dulu kita buang, maka kupastikan aku akan nikmati setiap inci tubuh kedua anak gadis mu sepuas ku.”


Setiap hari keduanya akan bergantian ada dikamar ku sampai aku muak dengan mereka, lalu ku berikan pada anak buah ku untuk menggilir mereka bergantian setiap malam. Mereka tidak akan keluar dari tempat ini lagi, sampai mati!” Sumpah Febin keras.


“Ingat juga, walaupun kamu bunuh diri, sumpah ku tetap kulakukan, bagaimana?


Aleks tertunduk dan menangis sekeras-kerasnya sambil meninju lantai dengan keras sampai mebuat tangannya berdara, tapi Febin keluar dari ruangan itu dan meminta akan buahnya mengurung dia disitu sampai ia memberi keputusan.


Bersambung …

__ADS_1


__ADS_2