PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 35. Fania di Teror dan Nyaris Terbunuh


__ADS_3

Malam itu Fania di teror. Seorang pria berbaju hitam dari atas sampai bawah lengkap dengan penutup kepala, beberapa kali datang mengetuk pintu rumahnya. Dia juga sesekali berusaha mendobrak pintu belakang dan jendela kamar.


Fania ketakutan setelah mengintip dari lubang dinding rumahnya yang semakin reyot, lalu bersembunyi dan akhirnya tertidur di bawah tempat tidur.


Paginya Fania bangun, walaupun masih terbayang teror semalam, namun ketakutan telah sirna seiring terbitnya mentari. Fania membersihkan dirinya dari banyak debu yang menempel. Ia mandi, lalu beberapa waktu berselang meninggalkan rumahnya untuk menjalani aktivitas perkuliahannya.


Tampak seorang pria terus mengikuti jejaknya dari kejauhan. Ia bahkan tidak segan-segan menunggu Fania berjam-jam di luar gerbang kampus hingga kuliah berakhir. Ia lalu kembali mengikuti Fania dari belakang ketika pulang. Setelah itu dia pun menghilang.


Sorenya, Fania pergi ke rumah Bu Rati, bantu menyiapkan bubur kacang, lalu keduanya pergi ke tempat jualan saat bulan mengambil posisi sebagai penerang.


Seorang pria yang mengikutinya sejak pagi, kembali muncul dari kejauhan. Kali ini dia menggunakan mobil, beberapa kali memutar disekitar situ sekedar untuk memantau aktivitas Fania sampai akhirnya ia sendiri turun dari mobilnya, lalu meminta dibuatkan bubur kacang.


Ia tidak benar-benar pulang setelah selesai menikamati hidangan suguhan Fania, ia pergi ke sudut jalan, lalu berdiri disitu sambil memantau hingga Fania dan Bu Rati pulang, lalu ia mengikuti mereka dari kejauhan.


Tidak ada yang menyadarinya. Bahkan Fania sendiri tidak curiga sama sekali. Selepas berpisan dengan Bu Rati, ia kembali ke rumahnya.


Merasa sukses kerjanya hari ini, pria itu pun meninggalkan Fania. Ia akan mantapkan lagi besok barulah siap mengeksekusi Fania.


Malam ini, Fania kembali diterror.  Pria berbaju hitam datang lagi. Hal serupa dilakukannya. Namun terror itu tidak berlangsung lama. Beberapa kali mengetuk pintu lalu sengaja mendobrak lagi, kemudian pergi.


Walau hanya seperti itu, namun kembali sukses menggangu kenyamana malam. Fania, menimbang-nimbang dalam hatinya. Ingin menghubungi Irvan, namun ia terlanjur marah kepadanya.


Sejak kemarin saja, semua telpon Irvan di rejects nya, di kampus pun sama, Irvan yang terus berusaha menemuinya, ditolaknya hingga semua sahabat-sahabatnya menjadi heran akan sikapnya yang berubah drastis.


Viki pun demikian, Fania enggan menghubunginya, apalagi memintanya datang menemani pada malam hari, karena ia pun tahu Viki adalah pria yang dikenal oleh banyak orang dikampus suka main perempuan.


Satu-satunya pria yang bisa ia hubungi hanyalah Fino tetanggnya, namun lagi-lagi, ia Fino pun sama. Ia genit.


“Ah pusing aku.” Fania sendiri bingung sampai akhirnya tertidur sendiri.


Malam berikutnya lagi, Fania tidak terlalu lama membantu Bu Rati, pukul 21.00 ia pamit, karena  harus menyelesaikan tugas kuliahnya lalu di antar oleh seorang teman penjul disana menggunakan sepeda motornya.


Di rumahnya Irvan yang masih tidak puas dengan sikap Fania, kembali berusaha menemuinya. Upaya yang ia lakukan di kampus dua hari berturut-turut gagal. Fania tetap saja menolak bertemu dengannya.


Kali ini ia berinisiatif datang menemui Fania di tempatnya berjualan, namun sayang, ia harus melanjutkan perjalannya ke rumah, karena Fania telah pulang.


Setibanya di sana, Irvan memanggil-manggi namanya, namun Fania enggan membukakan pintu. Fania hanya diam tidak menjawab.


“Fan, aku tahu kamu belum tidur. Tolong bukakan pintu, please, Aku ingin bicara.” Irvan terus memanggil sambil berjalan mengelilingi rumah kecil itu hingga beberapa kali, tapi tetap sama, Fania tidak membalasnya.


Tiba-tiba ada bayangan hitam melewati arah pepohonan membuat  Irvan kaget.

__ADS_1


“Hey siapa kamu.” Teriak Irvan kuat sambil bergegas mengikuti arah perginya, namun sayang bayangan itu berhasil menembus kegelapan.


Irvan tidak bisa memastikan siapa itu, laki-laki atau perempuan. Ia bingung dan gelisah.


Ia kembali memanggil Fania, tidak lagi ingin bertemu tapi sekedar memberitahukan tentang bayangan hitam itu, walau tidak dibalas, namun ia yakin Fania mendengarnya.


Ia kuatir jangan-jangan orang suruhan Febin Mark, setelah itu ia menunggu beberapa waktu lagi, akhirnya pulang dengan kehampaan.


Setelah dipastikan Irvan tidak lagi di diluar, Fania merasa legah. Ia matikan lampu kamarnya, lalu ingin tidur. Ia sedikit curiga, pria berbaju hitam itu pasti irvan dan yang barusan dibicarakan Irvan dari luar hanyalah akal-akalannya saja.


“Ah, basi.” Pikir Fania puas seakan telah mengetahui siapa si peneror. Lalu dengan senang hati menarik selimutnya, kemudain terlarut dalam tidur.


Jam tiga dini hari, ia dikejutlkan dengan raungan alarm yang dibuatnya. Semalam ingin mengerjakan tugas, tapi karena kedatangan Irvan membatalkan niatnya. Ia tidur dan dini hari ini barulah ingin menyelesaikan.


Ia menghidupkan lampu kamarnya, lalu ke kamar mandi untuk mencuci mukanya.


Begitu terdengar bunyi air, seorang pria bertubuh kekar, keluar dari bawah tempat tidurnya. Rupanya sejak semalam ia mengendap di sana. Dia masuk saat Fania masih menemani bu Rati.


Ia ingin mengikuti Fania ke kamar mandi dan menunggunya di luar pintu, agar ketika Fania keluar, ia langgung memukulnya dari belakang, atau bisa menutup mulutnya lalu membunuh dengan pelan.


Begitu keluar dari bawah tempat tidur, dan hendak berjalan keluar, namun dikagetkan sedemikian rupa ketika matanya secara tidak sengaja melihat sebuah foto berbingkai di atas meja yang terletak persis di samping pintu kamar.


Matanya melolot, ia kehilangan konsentrasi membunuh, segera mendekati foto itu, diambilnya, lalu memperhatikan dengan sesama, benar penglihatannya, di bagian kanan dan kiri adalah ayah dan ibunya sedangkan wanita yang diapit oleh mereka dan sedang memeluk keduanya adalah orang yang hendak ia bunuh saat ini.


“Ada apa ini?” Pikirnya bingung.


Bunyi air berhenti, pintu kamar mandi terdengar dibuka, Ia segera menyimpan foto itu, lalu bersembunyi dibalik pintu kamar. Begitu Fania masuk


Hap…


Mulut Fania dibekap dengan telapak tangannya yang besar, sambil mendorong Fania hingga tersandar di dinding. Lalu tangannya yang satu memegang pisau yang ditodongnya persis di batang leher Fania.


Huhhhhhh, huhhhhhh, huhhhhh


Fania tidak bisa memberontak, hanya bunyi napasnya naik turun dengan kasar.


“Diam, tenang, dan jangan berteriak, maka aku tidak akan membunuhmu? Paham.”


Fania mengangguk-angguk cepat. “Janji.” Fania kembali mengangguk.


Perlahan ia melepaskan tangnnya dari mulut Fania lalu diikuti dengan menjauhkan pisau.

__ADS_1


Merasa sedikit bebas dari ancaman, Fania langsung mengangis sambil memegang kepala dengan kedua tangannya kemudia sandar di dinding sambil perlahan menurunkan tubuhnya hingga duduk di lantai.


Rupanya Aleks, pria yang berhasil menerobos masuk ke rumah Fania.


Ia pun tidak kuasa menahan air mata ketika melihat wajah kedua orang tuanya terpajang dikamar Fania. Ia mengangkat kepalanya agar air matanya tidak tertumpah.  Ia juga membiarkan Fania menghilangkan ketakutannya dengan mengangis, hingga beberapa saat barulah menyuruh Fania berhenti kemudian  mulai berbicara.


“Siapa kedua orang di foto ini?” Tanya Aleks to the point sambil diambilnya foto itu lalu serahkan pada Fania.


Melihat foto itu, Fania bertambah menangis sambil berkata: “ini ayah dan juga ibu ku.”


“Jujurlah, siapa mereka dan apa hubungan mu sesungghnya dengan keduanya.”


Fania tidak mempunyai pilihan, ia merasa hidupnya akan berakhir tragis hari ini. Dalam hati ia panjatkan doa memohon pertolongan, lalu mengatakan yang sesungguhnya.


“Mereka sudah aku anggap seperti orang tua kandung ku sendiri, karena merekalah yang membesarkan aku, tapi kini mereka telah meninggal.”


Setelah itu Fania menjelaskan lagi sesuai perintah Alek. Tidak ada satupun yang ia lewati. Secara detail, kronologinya Fania ceritakan.


Mendapakan penjelasan itu, Aleks memegang kedua lengan Fania, dituntunya berdiri. Lalu menatap Fania sebentar, kemudian air mata membasahi pipinya.


Ia melepaskan topeng penutup kepala membiarkan wajahnya dilihat Fania, namun sama sekali Fania tak mengenalnya.


“Kamu pasti tidak mengenal ku Fania!” Ucapnya dengan suara gemetaran, lalu segera menarik gadis itu,  dipeluknya erat-erat sambil mengangis ia berkata “aku hampir saja membunuhmu. Maafkan aku.”


Sesudah itu ia melepaskan Fania, lalu memperkenalkan diri “Aku Cokro!” Ucapnya dengan kepala tertunduk.


“Apa?!!” Fania kembali kaget mendengar nama itu, “ Om … Cokro … anaknya … ?”


“Iya aku anak mereka,” potongnya.


Fania segera beralih darinya, menuju lemari pakaian, di sana, di bawah lipatan baju-bajunya ada tersimpan beberapa foto Cokro yang masih muda dan juga sebuah amplop berisi pesan dari ibunya.


Fania segera menyerahkannya pada Aleks, dilihatnya, lalu dibukanya amplop dan melihat isinya. Ada selembar surat dan uang sebanyak satu juta. Di surat itu, ibunya melukiskan betapa ia dan ayahnya merindukannya, sampai bertemu Fania lalu ketiganya pindah ke kota untuk mencarinya.


Masih banyak pesan dan impian orang tuanya yang tertuang dalam surat itu, namun dua hal yang paling berkesan yaitu Ibunya meminta dia menjaga Fania jika kelak mereka bertemu dan uang itu dikumpulkan ayah dan ibunya dengan bekerja selama 3 tahun, karena dulu ia bertengkar keras dengan ayahnya gara-gara meminta uang 1 juta untuk usaha, karena tidak diberi itulah makanya ia pergi meniggalkan kampong.


Alek kembali menangis, di depannya ada mandate dari orang tuanya, adik angkat yang hampir dibunuhnya. Ia kembali melihat Fania, lalu mengulurkan tangannya kemudian keduanya saling berpelukan erat beberapa saat hingga terdengar suara kokoan ayam tetangga mengagetkan mereka.


“Aku harus pergi sebelum terang, nanti orang melihat ku.” Ucapnya sembari melepaskan pelukannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2