PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 34. Informasi Baik dan Buruk


__ADS_3

Pagi itu Fania telah kembali ke rumahnya. Fino yang kebetulan sedang dipangkalan memberitahu kalau ada empat pria yang selalu bergantian datang mencarinya. Salah satunya ia pastikan dari ciri-cirinya adalah Viki, namun lainnya sulit dipastikan.


“Mengapa mereka mencari ku?” Pikir Fania dalam hati sambil berjalan memasuki rumahnya.


Suatu kebetulan yang luar biasa. Baru saja hendak mendaratkan tubuhnya di kursi, terdengar mobil berhenti di depan rumahnya. Fania segera menengok dari jendela, rupanya Viki.


“Silahkan masuk!” Aapanya ketika Viki tiba persis di depan pintu rumahnya.


Fania yang penasaran, tidak lagi berbasa-basi, ia langsung bertanya pada intinya.


“Ada dua informasi yang ingin aku sampaikan pada mu!” Kata Irvan menyambut pertanyaan Fania, “informasi baik dan buruk!” Ucapnya lagi.


Fania menatap Viki semakin serius sambil menggerakan bibirnya.


Lalu Viki mengawali dengan sedikit basa basi, ia meminta maaf, karena lancang ikut terlibat menyelidiki latar belakang Fania. Menurutnya ia tulus membantu Fania untuk menebus semua kesalahan yang selama ini dilakukan membuat Fania dan mahasiswa miskin lainnya tersiksa.


Melihat Fania terbawatelah , Viki memintanya  agar menyikapinya dengan tenang dan berpikir yang masuk akal.


Fania siap mendengar, lalu Viki memulai dari berita baiknya.


Ternyata informasi baiknya sama dengan yang telah Fania ketahui di villa mars, tentang tentang latar belakang Irvan dan juga Fania.


Fania tidak ingin mengecewakan Viki, ia menunjukan ekpresi terkejut dan bahagia sekali, lalu mengucapkan terima kasih berulang kali. Ia sengaja, agar Viki tetap semangat melanjutkan ceritanya.


“Namun Fania, kita perlu lakukan tes DNA, baik antara kamu dengan Febin Mark atau juga dengan Niken.”


Niken adalah adik kandung dari ibunya Fania. Dia satu-satunya keluarga Fania dari garis ibu yang masih hidup. Febin Mark telah menyuruh Aleks untuk membunuhnya, karena Nikenlah satu-satunya saksi hidup kematian Kevin Mark, ayah Fania.


Ketika ibu Fania dalam keadaan kritis dan hendak meninggal, dia memanggil adiknya Niken bersama suaminya Kevin untuk berjanji dihadapannya demi dia dan anak yang baru saja dilahirkannya, agar Kevin dan Niken mau menikah jika ia meninggal.


Karena janji itulah, Kevin dan Niken mulai saling menjajaki, namun peristiwa naas menimpa, ketika keduanya sedang asik bermesraan, datanglah Febin beserta anak buahnya langsung menghabisi nyawa Kevin di depan mata Niken.


Awalnya Febin Marks membiarkan Niken pergi, namun lambat laun ia memerintahkan Aleks untuk membunuh Niken juga.


“Siapa Ibu Niken, dimana dia? Dan Kak Viki bertemu ….” Belum sempat Fania menyelesaikan ucapannya, Viki memotong pembicaraan itu.


“Aku bertemu Febin Mark dikediamannya, namun dia juga tidak tahu keberadaan adik kandung ibu mu yang bernama Ibu Niken itu.” Ucap Viki mengakhiri informasi baiknya.


Mendengar penjelasan terakhir ini, Fania menjadi lebih bersemangat dari awalnya. Ternyata adik kandung dari ibunya masih hidup. Itu berarti, dia masih punya banyak keluarga kandung.


Melihat Fania yang semakin senang, Viki terus mengambil kesempatan untuk membohonginya sesuai dengan apa yang telah mereka rancangkan.


Ia juga sengaja mengatakan keberhasilannya itu karena bantuan orang tuanya.

__ADS_1


Kini Fania siap mendengar informasi buruknya. Dalam hatinya, pasti berita tentang kematian ayah dan kakenya seperti yang sudah ia dengar di villa mars.


Viki mulai mendramitisir keadan sampai Fania benar-benar terhayut di dalamnya barulah ia mengatakan yang sebenarnya.


Fania kaget bukan main. Kepalanya seakan membesar lalu mengecil lagi secara tiba-tiba. Informasi dari Viki bertentangan seratus persen dengan semua yang telah ia ketahui


Fania sangat terpukul mendengar, tapi berusaha tetap tenang, agar menghindari kecurigaan kalau-kalau ia sendiri telah mendapat informasi dasar yang bertentangan dengan itu.


“Dari mana Kak Viki dapat informasinya?”


“Tidak terlalu sulit Fania. Semalam aku bersama teman-teman ku tidur di kediaman Febin Mark. Dia menceritakan banyak hal sambil terus menagis mengenag masa lalu.” Ucap Viki menipu.


Lalu Viki melanjutkan lagi katanya : “Semua orang juga tahu tentang Tuan Parker dan kejahatan mereka. Tidak saja Tuan Besar Mark dan anaknya yang dibunuh mereka, tapi juga masih banyak lagi. Siapa saja yang berusaha bersaing dengan perusaan mereka, pasti dihabisi.”


“Ayahku, ayahnya Anjas, dan juga Reis hidup seangkatan dengan orang tua Irvan. Mereka sangat mengenalnya karena satu universitas. Bagaimana watak dan ambisinya sangat diketahui semua orang pada zamannya.”


Belakangan, ketiga orang tua kami menjadi murid Tuan besar Parker dalam urusan bisnis, tapi baru-baru ini, ayahku harus kehilangan enam triliun akibat keegoisan Tuan Besar itu. Dia menghentikan secara sepihak semua kontrak kerja samanya dengan perusaan ayah ku.”


“Begitulah kerja mereka, seandainya ayahku tetap berusaha melawan, pasti akan menjadi incaran untuk dibunuh.”


“Ayah ku dan beberap temannya sampai harus menjual  banyak saham. Salah satunya adalah saham di kampus kita, kini dikuasai oleh Parker Grup.”


Cerita Viki semakin menakutkan Fania. Terlihat jelas diwajahnya menjadi pucat pasi. Ia ingin segera menangis, namun masih berusaha untuk menahannya.


“Mungkin kamu dan Irvan saling mencintai, tapi pertimbangkanlah hal ini.  Darah pembunuh mengalir di tubuhnya.”


Ucapan terakhir ini membuat Fania merinding. Bulu kuduknya berdiri. Fania seperti gemetaran. Ia tidak bisa berpikir banyak lagi. Ucapan Viki sangat masuk akal.


Kemarin saja, ia sendiri menyaksikan banyak orang di ruang kerja Tuan Parker, ada yang seram wajahnya. Menurut Enti Dewi mereka sedang membicarakan tentang pembunuhan keluarga Mark.


Hati Fania sangat teriris. Ternyata ayah dan Kakeknya dibunuh oleh orang yang terlanjur ia taruh rasa simpatik.


Fania tidak bisa lagi menahan perasaannnya, lalu merelakan air matanya tertumpah dihadapan Viki.


Ia menangis sejadi-jadinya, hingga beberapa saat, lalu kembali bertanya apakah masih ada informasi lainnya.


Lalu Viki mulai memfitnah lagi sesuai dengan skenario yang sudah dirancang mereka bersama Febin Marks.


Ia mengataan bahwa Tuan Besar Parker ingin menguasai semua harta keluarga Mark. Tapi sayang rencana itu sulit terwujud, karena sebelum pembunuhan terjadi, Tuan Besar Mark telah membuat wasiat agar kekayaannya jatuh ke tangan cucunya yang masih kecil bernama Puteri Mark.


Atas perintah Febin, Viki melanjutkan fitnahannya bahwa Tuan Besar Mark tidak mewariskan kekayaannya kepada Febin, karena saat itu ia tahu bahwa anak keduanya itu telah di culik oleh orang-orang Parker dan pastinya akan dibunuh, maka ia cepat-cepat membuat wasiat untuk cucunya.


Belakangan Febin lolos dari kurungan mereka atas dukungan penghianat di keluarga Parker.

__ADS_1


Viki juga menambahkan bahwa semua dokumen perusahaan berhasil mereka curi dan kini sedang disembunyikan disuatu tempat, sampai saatnya mereka bertemu dengan gadis itu.


Febin Mark, satu-satunya anak yang tetap hidup, tapi tidak bisa berbuat apa-apa untuk perusahaan itu, karena terhambat dengan banyak administrasi perusahaan.


Mata Fania melotot menatap Viki sambil mendengar ceritanya. Kecantikannya diwajahnya hilang. Tubuhnya lemas bagai tak bertulang. Ingin rasanya ia pinsan.


Viki berkata lagi bahwa, jikalau ternyata semua dugaan mereka ini benar bahwa Fania adalah cucu kandung Tuan Besar Mark, maka bahaya akan selalu mengahampiri Fania.


Ia semakin menakut-nakui Fania.


“Ada dua kemungkinan … kamu akan dipaksa menandatangani semua dokumen untuk menyerahkan atau menjual perusaan dan seluruh asetnya lalu kamu diberikan sedikit uang demi melanjutkan hidup mu atau setelah itu kamu dibunuh”


Ucapan terakhir ini sangat menakuti Fania. Jantungnya bergetar cepat. Ia ketakutan sekali.


“Kak Viki … tolong ambilkan aku air … tubuhku lemas sekali.” Viki senang dengan keadaan itu. Ia merasa berhasil. “Iya, Iya.”


Segelas air mineral diambilnya, diberikan pada Fania, diminumnya, lalu Viki menawarkan bahunya kepada untuk menyandarkan kepalanya sekedar menghilangkan ketakutan dihatinya.


Viki betul-betul memanfaatkan kesempatan. Ia segera memeluk, lalu mengelus-elus kepala Fania sambil menghiburnya dengan kata-kata penguatan dan janji-janji palsu untuk berjuang melindungi Fania.


Fania hampir tenggelam dalam elusan itu, untung saja sebuah motor melaju kencang di depan rumahnya mengagetkan dia.


“Aduh Kak Viki, maaf, aku … “


“Iya tidak apa-apa. Aku ngerti.” Balas Viki seakan memahami kondisi Fania. Lalu beberapa saat kemudian ia pamit meninggalkan Fania setelah berjanji akan datang menemui Fania kapan saja waktunya jika memang menginkan bantuan atau kehadirannya.


Setelah Viki pergi, Fania menutup pintu rapat-rapat, lalu mengambil tas berisi semua barang yang dibelanjakan dengan uang dari Tuan Parker, dilemparkannya ke dinding rumah.


Ia benar-benar ingin gila, karena merasa dibodohi oleh keluarga Parker. Ia juga tambah kecewa lantaran curiga terhadap Irvan yang turut bermain di dalamnya.


***


Di tempat terpisah, Irvan dan sebagian besar teman-teman kelasnya lagi asik rekreasi. Menikmati panasnya udara laut sambil mandi dan berkejaran di pinggir pantai menambah suasana bahagia dihati.


Mereka juga masing-masing memilih pasangan sementara untuk bermain games. Irvan, seperti biasanya, dalam keadaan apapun, pasangan kawan kelas wanitanya pasti Petra atau Keisya.


Bersama saat ini ia bersama Petra, karena Keisya telah bersama Shael membentuk tim, lalu mereka bermain berbagai games ciptaan Nana untuk menambah serunya rekreasi.


Ibarat perang di dalam air. Laki-lakinya menjadi kuda dan wanitanya menjadi tentara yang menunggang kuda sambil saling saling menyerang. Wanitanya dinaikan ke atas bahu para lelaki, lalu menyerang musuh dengan saling menarik. Siapa yang jatuh, maka kalah dan mendapat hukuman.


Sesekali mereka semua masuk lebih ke dalam laut, berenang kesana kemari. Petra hanya mengantungkan dirinya dibelakang Irvan karena ia tidak bia berenang. Terkadang, Irvan menggendong di air, kadang juga memeluknya sambil sambil berenang.


Ketika sore, mereka menikmati indahnya sunset dengan berfoto ria. Ada yang sendiri, bersama pasangan laut mereka, lalu berkelompok. Setelah itu mereka pulang.

__ADS_1


Bersambung …


__ADS_2