PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 36. Mencari Dalang


__ADS_3

Aleks yang pulang pagi itu diselimuti duka dan kebimbangan. Antara anak-anaknya atau pesan orang tuanya. Kini Fania resmi menjadi adik angkatnya, karena mau tiak mau, orang tua kandungnyalah yang membesarkannya, lagi pula surat terakhir itu berisi wasiat untuk melindungi Fania.


Ia tidak benar-benar kembali kerumahnya, tetapi langsung ke luar kota, ia ke Neke, kampung halamannya untuk mencari siapa saja yang mungkin masih mengenali orang tuanya atau bahkan dirinya sendiri.


Aleks bertemu dengan beberapa mantan tetangganya. Dari mereka ia diriwayatkan tentang kesengsaraan orang tuanya setelah ia pergi meninggalkan mereka sampai akhirnya mereka menemukan Fania barulah ada sedikit kebahagiaan di rumah itu. Namun kisah selanjutnya tidak lagi diketahui, karena kedua orang tua itu mengajak Fania pindah ke kota sembari mencarinya.


Ia kembali, masih diselimuti gelisah dan kebingungan, apakah harus mengikuti keinginan Febin Mark untuk membunuh Fania dan Irvan, atau hanya membunuh Irvan, tapi semuanya sama, akan berakhir malapetaka bagi keluarganya jika menghianati Febin lagi. Satu-satunya jalan hanyalah eksekusi, tapi saat ini dia sendiri tidak lagi percaya diri apakah masih sanggup melakukannya.


Di tempat terpisah, Fania yang paginya dijemput Viki untuk bersama-sama ke kampus, kini lag


i asik ngobrol dengannya di sebuah restoran mewah. Viki mengajak ke sana untuk pendekatan dengannya. Viki ingin pacaran dengan Fania, bukan karena cinta, tapi hasrat ingin menikmati kecantikan dan kesempurnaan tubuhnya yang tidak dimiliki banyak wanita. Seperti nama aslinya, Fania adalah seorang Puteri. Irvan juga mengincar warisan yang diberikan pada Fania. Jika nanti  menikahinya, maka seluruh harta itu tentu juga menjadi miliknya, sesudah itu barulah ia singkirkan Fania.


Fania merasa Viki tidak memperlakukannya seperti biasanya, sehingga selama di restoran ia tidak memberi peluang padanya untuk berbicara lebih mendalam tentang hal pribadi. Ia tahu sisi gelap seorang Viki. Jika berteman saja, Fania mau, tapi lebih dari itu, tidak. Ini prinsip baginya.


Sementara Fania dan Viki di restoran, Irvan pun datang mencari Fania di kelasnya.


Ia mengikuti saran Shael dan Nana agar jangan pernah menyerah, walau sesulit apapun perjuangan itu, jikalau memang cinta. “Selama dia belum menikah, kamu masih punya hak mengejarnya.” Shael menghasut Irvan.


Irvan langsung pergi ke kelas Fania untuk mencoba lagi menemuinya.


“Fania tidak disini, ia bersama Viki.” Ucap Lidia, sengaja memberitahukan hal itu pada Irvan karena memang dia tidak suka Viki dekat-dekat dengan Fania.


“Bersama Viki! Mau apa orang itu?” Tanya Irvan kaget, “kok Fania bisa dekat deangannya?” Pikirnya dalam hati.


Lalu Irvan hendak meninggalkan kelas Fania, tetapi masih ditanah Lidia karena ingin menunjukan sesuatu yang tersimpan di tasnya.


“Ini …. “ Sambil Lidia menyerahkan sebuah amplop berisi beberapa lembar foto, “ Fania ingin aku berikan pada mu, menurutnya dia temukan di halaman depan rumahnya.” Kata Lidia memperjelas.


“Itu adalah salah satu alasannya menjauhi mu. Jelaskan padanya!” Ucap Lidia, lalu ia kembali  masuk ke kelasnya meninggalkan Irvan di luar.


Wajah Irvan memerah, ia kaget sekali, karena ternyata ada foto dia bersama Petra saat rekreasi. “Kurang ajar,” ucap Irvan kesal. “Siapa yang selalu ingin menghancurkan ku.” Pikirnya sambil kembali ke kelasnya.

__ADS_1


Semua kejadian dalam foto-foto itu memang benar terjadinya begitu. Irvan menggendong Petra dalam air, Petra memeluknya dari belakang, ia pun memeluk Petra sambil membawanya berenang, Petra duduk di pundaknya saat bermain games, dan berbagai adegan lainnya yang jika diperhatikan sepertinya sangat mesra, tapi yang sialnya, di dalam foto-foto itu hanya ada gambar mereka berdua. Sedangkan semua kawan-kawan lainnya tidak ada.


Irvan kesal sekali, ada orang yang secara diam-diam mengambil foto mereka, lalu mengedit sebagian fotonya untuk menghilangkan semua teman-temannya, agar terkesan Irvan bermesraan sendirian dengan Petra di pantai.


“Petra …” Paggil Irvan ketika tiba di kelasnya, “Ikut Aku, ada yang ingin ku tunjukan pada mu.” Ajak Irvan sambil memegang tangan Petra lalu keduanya pergi ke taman.


“Ini.” Irvan menyerahkan semua foto-foto itu agar dilihatnya.


Melebihi Irvan, wajah Petra memerah bagai kesumba, bukan main marahnya. Juga terpancar jelas dimatanya, ia malu karena foto-foto itu. Seandainya mereka pacaran, tentu ini kenangan yang sangat indah. “Kak siapa yang mengambil foto-fotonya dan kenapa hanya kita berdua?”


Irvan menjelaskan, lalu keduanya bertekat mencari dalang dibalik semua itu dan terpenting saat ini mereka akan menemui Fania agar Petra memberi penjelasan kepadanya.


Irvan sangat marah, ia ingin segera menyelesaikan masalah ini. Ia tidak mau ada yang salah paham tentang dia dan Petra.


Ia juga tidak mau lagi, jika ternyata cintanya kepada Fania yang telah tumbuh sedemiian cepat itu harus berakhir seperti hubungannya dengan Rika akibat masuknya Viki.


Bukannya tidak sanggup bersaing sportif dengan Viki, ia percaya diri, tapi jika menggunakan hasutan dan fitnah dibelakang, itu bukan wataknya.


Irvan menjauhi Petra beberapa meter, lalu menelpon Tuan Leon untuk membantunya menyelidiki foto yang ada ditangannya.


“Tuan, tolong aku.” Kata Irvan setelah mereka saling terhubung. “Suruhlah orang-orang mu selidiki semua wilayah dekat pantai dimana kami rekreasi beberapa hari lalu dan periksalah semua CCTV di sana, jika ada yang mencurigakan terkait pencurian foto, maka cari dan tangkap orang itu.” Perintah Irvan tegas.


“Siap Tuan Muda ku. Sikap seperti inilah yang aku suka dari mu.” Kata Tuan Leon memuji sebelum akhirnya mengakhiri panggilan itu.


“Petra, kamu jangan kuatir, semuanya akan selesai dalam waktu cepat.” Kata Irvan menguatkan Petra yang terduduk lesu di pinggir taman.


Keduanya kembali ke kelas untuk menunggu kuliah terakhir sebelum nantinya mencari Fania.


***


Selesai kuliah, Irvan membatalkan rencananya bersama Petra untuk menemui Fania, karena melalui pesan teks, Tuan Leon ingin bertemu dengannya.

__ADS_1


Perintah yang tadi diberikannya sudah diselesaikan dengan cepat, namun ada juga beberapa informasi tambahan yang ingin dibicarakan.


Irvan bergegas meninggalkan kampus untuk ke hotel Malae, tempat dimana Tuan Leon saat ini menunggunya.


Setiba disana, Irvan disambut manis oleh Cika dan Tiara. Rupanya kedua wanita itu diperintahkan khusus oleh Tuan Leon untuk melayani semua kebutuhan Irvan mulai dari tiba di hotel itu sampai nanti dia kembali.


“Selamat datang Tuan.” Ucap mereka serempak.


Irvan yang telah mengagumi kecantikan keduanya ketika awal bertemu, kini semakin kagum, karena mereka terlihat lebih cantik dari waktu itu.


Irvan tersenyum manis sambil membalas ucapan mereka. Lalu mereka menemaninya menuju ke ruang dimana Tuan Leon sedang menunggu.


Setiba disana, mereka diminta menunggu di luar.


Irvan dan Tuan Leon mulai berdiskusi awalnya tentang paparasi yang telah ditangkap oleh anak buah Tuan Leon dan kini sedang ditahan. Juga sudah diintrogasi sehingga telah mendapatkan informasi darinya.


Tuan Leon juga telah melaporkan bahwa anak buahnya telah siap untuk memantau kediaman Fania mulai malam ini agar bisa menangkap siapa bayangan hitam mencurigakan malam itu. Lalu tentang progress pembangunan rumah bagi warga kampung mulung yang saat ini tanggal 25 persen saja rampung.


Sementara terkait dengan Febin Mark, belum ada informasi dari kediaman itu, sebab orang mereka yang disusupi kesana, rupanya telah diketahui sehinggamenurut dugaan ia telah dibunuh, namun kemarin, mereka mendapatkan mata-mata baru yang siap memberi informasi mulai hari ini.


“Bagus Tuan Leon, kerja mu sangat cepat.” Puji tulus Irvan.


Lalu mereka menyudahi pertemuan itu, kemudian tuan Leon menyarankan agar Irvan mau ikut dengan kedua wanita yang sedang menuggunya di luar, karena mereka akan mengantar Irvan untuk melihat-lihat villa yang Tuan Parker janjikan kepada Irvan.


“Untuk sementara kerja mereka dialihkan untuk mengurus villa.” Ucap Tuan Leon. “Mereka juga sedang menunggu hukuman mu, sehingga jika ingin menghukum mereka, lakukanlah, apapun mereka siap, tapi, baiknya di villa saja.” Saran Tuan Leon semangat sambil tersenyum jahat.


“Baiklah Tuan.” Balas Irvan sambil tersenyum pula, lalu mereka keluar.


Tuan Leon menggunakan mobilnya pergi ke villa Mars karena dipanggil Tuan Parker, sedangkan Irvan ditemani dua gasis cantik melaju kencang menuju villa miliknya.


 Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2