
Urusan mengenai Bastian untuk sementara dirasa aman. Istri dan kedua anaknya juga telah mendapatkan tempat penginapan yang layak oleh Alan. Irvan bisa mengalihkan konsentrasinya pada kepentingan Fania.
Tidak hanya sekedar penasaran dengan wajah yang mirip dan semua cerita Petra, Irvan juga menduga ada sesuatu kisah besar dibalik ketakutan ibunya Petra menyebut nama asli Fania. Jika hal itu diketahuinya, tentu akan sangat membantu.
Irvan ingin tahu semuanya. Dia segera menghubungi Petra, mengajaknya pergi ke rumah ibunya.
Petra beralasan nanti ketinggalan pelajaran kuliah, sebab ia takut kepada ibunya jika ke sana sebelum liburan, namun Irvan terus meyakinkan dia, akhirnya diapun bersedia pergi bersama.
Pukul enam sore, Irvan dan Petra bisa merasakan udara bebas setelah dua kali ganti pesawat.
“Wao Pet, dari udara tadi sangat kelihatan ya, kabupaten ini tidak terlalu besar.” Kata Irvan saat keduanya telah turun dari tangga pesawat.
“Iya, ini kabupaten yang terkecil. Baru saja di mekar.” Petra menjelaskan.
“Uih, Irvan, tadi … kamu kelihatan kok ngak takut ya.” Tanya Petra bersemangat tentang goncangan pesawat.
“Takut! Takut apaan?” Tanya Irvan bingung. Ia merasa tidak ada sesuatu apapun yang harus ditakutkan sejak perjalanan mereka.
“Fania, maksud mu?” Irvan meminta penjelasan.
“Aduh … Irvan kamu kok …. “ Petra merasa dikerjain. “Itu tadi, goncangan di pesawat.”
“Oh itu,” ingat Irvan. “Aku rasa biasa saja. Justru aku juga ingin bertanya pada mu, kok kamu tadinya sangat ketakutan ya?” heran Irvan.
“Aku baru pertama kali naik pesawat.” Jujur Irvan sambil tersenyum. “Jadi pikir ku itu hal biasa, jadi akupun biasa saja.” Ujarnya lagi membuat Petra tertawa terbahak-bahak.
“Oh begitu ya …hehehehe, ya ampun, bukannya mau menggolok, tapi, yah… jujur, aku kira kamu tahu tentang itu, hehehehe.” Tawa Petra pecah membuat Irvan ikut tertawa.
“Memang aku baru pertama naik pesawat!” Ujar Irvan lagi sambil keduanya terus berjalan menuju ruang kedatangan.
Mengambil barang bawaan, memesan taksi, lalu pergi mencari penginapan.
Tidak ada lagi kendaraan yang berani melitas jalan panjang menuju Kecamatan, bahkan ke Desa, rumah tinggal Petra. Jalannya terkenal rawan perampokan dan pembacokan jika dilakukan dimalam hari. Oleh karena itu, semua kendaraan tidak lagi melintas melalui jalan itu ketika hari mulai malam.
“Maaf Tuan. Hanya tersisa satu” Jawab Receptionist, saat Irvan dan Petra menanyakan tentang kamar penginapan. “Bisa ke jalan Pisang. Ada juga hotel yang agak besar disana” Sarannya.
“Waduh, bagaimana ya, bahkan disana tidak tersisa satupun yang kosong. Katanya, telah dipakai semunya oleh pegawai dari pemerintahan provinsi.” Jawab Irvan, karena awalnya mereka sudah mengeceknya langsung.
“Kenapa tidak memboking saja sejak kemari-kemarin?” Tanya receptionist lagi.
“Yah, mau bagaimana lagi, kami sangat terburu-buru sehingga lupa.” Kata Irvan lagi, lalu mencoba meminta receptionistnya membantu, mungkin ada alternatif lainnya, tapi ternyata harapan mereka sia-sia. Di kota itu hanya tersedia dua hotel. Itupun tidak besar.
Irvan menoleh ke Petra, meminta masukannya, Petra pasrah mangangguk, lalu keduanya pun menyewa satu kamar dengan meminta tambahan bed untuk malam itu.
Setelah deal, barang-barang mereka titipkan, lalu bergegas pergi, keduanya makan malam dan baru kembali dua jam kemudian.
__ADS_1
Baik Petra, maupun Irvan sangat kelelahan seharian dalam perjalanan. Mereka meminta kunci, lalu menuju kamar nomor 213.
Irvan dan Petra kaget bukan main. Kamarnya kecil sekali. Tempat tidurnya pun hanya pas untuk satu orang. Jika dipaksakan, terpaksa tidurnya berdempetan.
Keduanya salaing memandang, seakan satu pikiran, lalu bersama ke receptionist meminta tambahan bed yang sudah dipesan tadi. Namun sayangnya, receptionis tadinya lupa mengatakan kalau bed telah habis terpakai.
“Kamu di atas dan aku tidur di lantai saja.” Ucap Irvan sambil pasrah melihat lantai. Ia merasa punya banyak pengalaman tidur hanya beralaskan lantai.
Merekapun tidur. Awalnya baik-baik saja, namun beberapa saat kemudian tunrunlah hujan lebat sekali, sehingga Irvan gemetaran kedinginan.
Petra tidak tega, ia pasrah meyakinkan diri, bahwa Ia dan Irvan tidak akan mungkin melakukan sesuatu di luar batas. Ia percaya pada sahabatnya itu, lalu menyuruhnya tidur disampingnya.
***
Pagi-pagi benar Irvan dan Petra telah selesai bersiap dan kini sedang berhadapan dengan seorang receptionis wanita untuk melakukan check out.
Disebelah receptionis wanita, temannya yang pria berdiri terpaku bingung melihat sosok Irvan dihadapannya. Ia sangat mengenali wajah Irvan, namun Irvan tidak mengingatnya sama sekali. Mungkin juga karena pakaian dan penutup kepala khas hotel.
Sejuta pertanyaan muncul di benaknya. Mengapa Irvan disana? Buat apa? Dan lain-lainnya menghantui pikirannya. Ia meninggalkan mereka, lalu segera ke ruang keamanan untuk mengecek cctv, apakah aktif merekam atau tidak, karena sering macet.
Setelah melihat Irvan dan Petra meninggalkan hotel, ia meminta rekaman cctv sejak kemarin hingga pagi ini, lalu menelpon seseorang.
“Hei, sedang apa kau?” Tanyanya ketika panggilan telah terhubung.
“Saudara, kau kah ini? Wah lama sekali nomor mu tidak bisa dihubungi.” Balas orang yang dari ujung telpon.
Setelah mengatakan semua, ia segera mengirimkan beberapa potongan rekaman cctv yang memperlihatkan Irvan dan Fania check in di hotel itu, ada juga rekaman saat keduanya masuk ke satu kamar yang sama pada malam hari lalu keluar dipaginya.
‘Informasi bagus.’ Kalimat pendek yang dikirim melalui pesan teks sebagai balasan setelah selesai melihat semua rekaman tadi.
***
Empat jam perjalanan berlalu, kini Irvan dan Petra berada di depan rumah Niken sambil mengetuk-ngetuk, namun tiada yang membuka. Petra baru ingat, kalau siang, ibu pasti di tokonya, lalu mengajak Irvan ke pusat desa tempat toko berada.
Disana merekapun tidak menjumpai ibunya. Toko itu tertutup rapat. Kata seorang yang lewat sudah dua hari toko tidak di buka.
Mereka kembali ke rumah dan dari tetangga barulah diketahui, ternyata ibunya Petra sedang berada di kota. Lagi ikut kegiatan yang diselenggarakan oleh pemerintah provinsi.
Irvan dan Petra menepuk jidat. Seandainya mereka menelpon, pasti tidak seperti sekarang. Berniat memberi kejutan, malah sebaliknya merekalah yang terkejut.
Tetangga yang baik hati, mengijinkan Petra dan Irvan menginap semalam di rumahnya sampai keesokan harinya ibunya Petra kembali.
Kepada ibunya, Petra menjelaskan semua maksud kedatangan mereka. Irvan juga memberi tambahan penjelasan, sampai-sampai ia jujur mengenai identitas Fania dan identitasnya sendri demi mendapatkan informasi yang dirasanya penting.
Ibunya Petra menangis tersedu-sedu mendengar penjelasan itu. Awalnya ia tidak ingin membongkar rahasianya. Apalagi kepada orang lain. Namun karena diyakinkan dengan penjelasan Petra dan Irvan, apalagi mengetahui bahwa Fania alias Puteri Mark masih hidup, ia pun bersedia.
__ADS_1
Setelah mengeringkan air matanya dengan tisu yang diberikan Petra, ia masuk ke kamar, mengambil sebuah album foto dan beberapa berkas yang benar-benar ia sembunyikan dari Petra, lalu menyuruh mereka membaca dan melihat foto-foto itu barulah ia menjelaskan.
“Jadi nama ibu bukan Ike?” Tanya Petra meminta penjelasan.
Irvan pun menatapnya dengan rasa ingin tahu.
“Betul, Nak. Niken lah nama asli ibu.”
“Adik sepupu mu bernama Puteri Mark. Dialah yang di foto bersama mu itu.” Katanya lagi sambil menunjuk ke selembar foto dihalaman tengah album.
Niken lalu menceritakan segala hal mengenai kematian adiknya, perjodohan dia dengan Kevin Mark sampai pada pembunuhan yang dilakukan Febin kepada kakaknya sendiri.
Ia juga melihat foto-foto Fania yang ditunjukan dari hp Petra dan Irvan. Ia menangis lagi sambil berkata:“ Wajahnya imut-imut seperti ibunya.”
Niken juga mengatakan kalau ia memiliki bukti kuat pembunuhan Kevin Mark. Lalu ia menunjukan memori hp yang disimpannya sejak lama berisikan file rekaman pembunuhan itu.
Saat pembunuhan, Niken bersembunyi, lalu diam-diam merekam semua kejadiannya. Namun karena takut, ia tidak menyebarkan rekaman itu.
Ia menyerahkan kepada Irvan, lalu Irvan segera masukan ke dalam hp-nya yang kebetulan sama tempat memorinya untuk melihat isi rekaman itu.
“Benar-benar jahat. Kasian sekali. Aduh…aih…sedih sekali…aduh. Jahat sekali.” Kata-kata yang keluar dari mulut Irvan dan Petra saat menyaksikan rekamannya.
“Aku juga mengenal keluarga mu. Ibu dan ayah mu adalah sahabat ku. Aku sering main ke rumah mu. Bahkan Tuan Besar, kakek mu sudah menganggap ku cucunya.” Kata Niken lagi kepada Irvan.
“Wah, kakek tidak ceritakan ini pada ku dan Fania.” Sesal Irvan.
“Mungkin dia mempunyai alasan.” Jawab Niken.
“Aku menghubunginya.” Irvan mengambil hp, memencet tombol menelpon kakeknya.
“Kakek, maaf aku mengganggu mu.” Ucap Irvan.
“Aku masih ditempat teman ku.” Katanya lagi tanpa memberitahu nama tempat keberadaan mereka. Memang sejak izin pada Kakek, ia sengaja tidak mau memberi tahu nama tempatnya.
“Ada apa?” Tanya Kakek singkat.
“Begini Kek, aku bertemu dengan seorang ibu yang bernama Niken! Kakek masih mengingatnya?”
Mendengar nama Niken, Kakek terkaget-kaget. Napasnya sempat naik-turun tidak beraturan. Ia mengira wanita itu telah lama meninggal karena dibunuh.
“Kakek-kakek-kakek.” Panggil Irvan cemas karena tidak mendengar suara.
“Cucuku … aku tidak ingin mendengar suara Niken dari telepon. Pulanglah segera bersama dia ke sini. Aku sangat rindu padanya.” Ujar kakek dengan suara paruh menahan tangis.
Krekkkk
__ADS_1
Terdengar suara benturan di luar rumah. Niken bergegas keluar mencari tahu apa yang terjadi. Tidak ada siapa-siapa, namun hanya terlihat sapu tergeletak di lantai. Mungkin ada kucing yang lari sehingga menabrak.
Bersambung…