
Kurang lebih satu jam, Irvan dan kedua receptionist cantik tiba di villa pemberian Tuan Besar Parker.
Mata Irvan terkagum-kagum melihat betapa indahnya villa yang terletak di puncak. Semua daerah, termasuk pusat kota dapat dilihat dari sana. Lampu-lampu diperkotaan satu-persatu mulai dinyalakan menambah indahnya pemandangan mata. Irvan berjalan sambil ditemani dua gadis cantik mengelilingi lingkungan disekitarnya.
Ada kolam renang disampingnya view berhadapan langsung dengan bentangan alam yang luas memaksa setiap orang yang ke sana unutk menikmati indahnya kolam renang itu atau seminimal mungkin hanya duduk memanjakan mata menikmati alam dari situ.
Irvan mengajak mereka duduk di ujung tepi kolam itu. Luasnya bentangan alam, penglihatan yang terbuka, sngin sepoi-sepoi melambai, memaksa otak untuk terus berimajinasi, dan merongrong hasrat tersembunyi siapa saja yang ada di situ untuk bangkit.
Irvan tersenyum jahat mengingat rencananya bersama kedua gadis cantik disampingnya datang ke villa itu. Ia masuk ke kolam, lalu menyuruh kedua wanita itu pun turut serta berenang bersamanya.
Beberapa saat setelah puas menikmati dingin air kolam, mereka masuk ke villa. Cika mendahului untuk membukakan pintu.
Tampak rapi, interior ruangan dihiasi dengan berbagai aneka barang dan lukisan indah ala puncak.
Irvan tersenyum pada Cika, lalu menoleh juga ke Tiara, kemudian bertanya tentang apa yang akan mereka akan lakukan, karena pakaian mereka basah.
Cika dan Tiara kaget mendengar pertanyaan itu. Sangat konyol rasanya. Seorang lelaki muda, tampan, bertubuh atletis ditemani dua gadis cantik yang sama-sama sedang merasa kedinginan karena baru saja berenang bersama, dan apalagi berada di tempat eksklusif seperti itu, kok masih bingung dan bertanya ingin melakukan hal apa.
Mereka hanya tersenyum padanya, lalu mengangkat kedua telapak tangan sambil meninggikan bahu, tanda tidak tahu dan dikembalikan pada si penanya.
Ada kamar disana, rupanya segala sesuatu telah persiapkan dengan baik. Irvan masuk kesana, ada banyak pakaian se ukuran dia di lemari, dipilihnya yang pas, lalu menukarnya dengan yang basah.
Tiara dan Cikapun ke kamar yang lain. Keduanya sudah seminggu lebih dipindahkan untuk mengurus villa, maka banyak pakaian mereka tersimpan disana. Memilih yang tipis dan menggoda lalu kenakan.
Setelah selesai menikmati makan malam, ide baru muncul dibenak Tiara. Di ruangan itu ada sebuah lemari berisi aneka ragam minuman bermerk. Diambilnya sebotol, lalu menawarkan pada Irvan.
Di sela-sela menikmati minuman, Irvan bertanya pada mereka tentang kesiapan menerima hukumannya.
“Siap!” Jawab mereka serentak, “kami tidak akan menolak, apapun hukumannya.” Sambung mereka.
“Apa-pun?” Tekan Irvan meminta kejelasan.
“Iya, apapun yang Tuan inginkan, akan kami pastikan melakukannya dengan senag hati!” Jawab Cika mewakili.
Irvan tersenyum jahat sambil mangut-manggut. Pikirannya bersileweran kemana. Haruskah ia lakukan sesuatu saat ini, mumpung keduanya bersedia mengikuti apapun keinginannya?
Tiba-tiba, ia menoleh keluar melalui jendela villa, matanya cepat bergerak ke kiri dan kanan seakan-akan meneliti sesuatu sambil berpikir, Ialu ia kembali tersenyum.
“Apakah kalian berdua telah mabuk?” Tanyanya serius dan langsung dijawab jujur oleh Tiara bahwa hanya sedikit oleng-oleng.
__ADS_1
“Bailah kalau begitu, cukupkan minumnya … kita kembali sekarang!” Ucap Irvan sangat mengagetkan, karena diluar harapan mereka berdua.
“Hah!!! Maksud Tuan?” Keduanya memasang muka bingung seakan protes tidak menerima.
“Ya, kita pulang.” Tegas Irvan membuat rona wajah kedua gadis cantik itu semakin berubah.
Cika bingung dengan sikap Irvan, lalu menatapnya dengan sorot mata yang tidak setuju, namun tak kuasa untuk melawan.
Tiara pun demikian, pikirannya lebih jauh, ia kesal dengan keputusan itu. Namun masih berupaya merayu Irvan.
“Tuan hukum kami dulu dong, baru kita pulang.” Katanya dengan nada manja, namun Irvan segera menjawab:
“Sesuai janji, apapun perintah ku kalian patuhi. Jangan protes. Hukumannya adalah kalian harus temani aku pulang saat ini juga.” Ucap Irvan dengan senyum puas seakan berhasil mengerjai kedua wanita itu.
“Yahhhh.” Ucap Tiara dan Cika sambil ikut tersenyum, namun menyembunyikan rasa penyesalan dan ketidakpuasan dalam hati, pikiran mereka. Lalu ketiganya pulang saat itu juga.
***
“Tiara cepat!, Cepat Tiara, cepat!” Ucap Irvan mengomandai Tiara yang sedang menyetir, karena dua kendaraan yang terus mengejar mereka sejak dari tempat pengisian bahan bakar semakin dekat.
Blukkkk
Suara benturan keras menghantam bagian belakang mobil mereka.
Kendaraan mereka oleng ke kiri dan hampir saja menabrak pembatas jalan. Tiara memegang kemudinya dengan kuat, memutarnya kembali dan berhasil menguasai kendaraan. Dialihkan mobil itu kembali ke jalannya, lalu menginjak pedal semakin kuat.
“Gassss.” Teriak Cika kuat.
“Kami sedang dikejar dua mobil di jalan kembali dari villa Timur.” Kata Irvan dengan keras kepada Tuan Leon ketika telponnya terhubung.
“Jangan Takut, tetap melaju kencang. Anak buah ku ada yang bermarkas di jalur itu. Aku segera perintahkan mereka menolong kalian. Tetap hati-hati!” Kata Tuan Leon cemas.
Blukkkk
Kali ini bodi kendaraan mereka dihantam keras dari samping berupaya membuat mereka keluar dari bahu jalan.
Blukkkk
Sekali lagi mobil mereka dihantam dari samping.
__ADS_1
“Tuannnn.” Teriak Cika dan Tiara bersamaan karena mobil mereka berhasil digiring keluar dari bahu jalan, lalu menerobos semak-semak di pinggir jalan hingga akhirnya terhenti sendiri karena terjebak bebatuan besar.
Irvan mengangkat kepalanya, sambil berpikir, lalu menarik napas dalam-dalam, kemudian menghembuskan secara kasar. Ia telah memutuskan, siap menghadapi para pengacau perjalanan mereka.
Dua mobil tadi berhenti, turunlah belasan pria bertubuh kekar dengan wajah yang disembunyikan. Irvan siap menghadapi. Apaun resikonya, ia tidak ingin mati tanpa perlawanan.
Dua orang maju menyerangnya, lalu diikuti tiga yang lain lagi, namun semuanya dengan mudah dirobohkan Irvan dengan beberapa kali melompat ke kiri dan ke kanan, ke kanan dan ke kanan lagi sambil memberi pukulan telak dan beberapa kali tendangan keras.
Cika dan Tiara yang tadinya sangat ketakutan, sedikit tersenyum sambil menepuk tangan di dalam mobil karena melihat aksi Irvan yang sangat cepat bagaikan di film-film laga.
“Keren, Tuan ku” Teriak Cika.
Melihat kelima orang pertama dijatuhkan Irvan dengan mudah, seorang yang sepertinya mengetuai mereka memberi perintah agar semua maju serempak.
“Hup, hap, yah, hup, yahhh, ukhh, aduhh” dan berbagai jenis kata lain lagi yang dikeluarkan oleh mereka, ketika saling menyerang, menangkis dan pada saat bersamaan terkena pukulan.
Irvan kewalahan menghadapi sendirian. Rupanya di kelompok kedua yang menyerangnya ini, ada dua sampai tiga orang yang juga mahir ilmu bela diri.
Sendainya mereka maju satu satu persatu atau maksimalnya dua sampai tiga orang, tentu Irvan tidak akan sesulit ini. paling-paling kehabisan napas, tapi sayang, mereka keroyokan.
Irvan berhasil memukul telak satu atau dua orang di depannya, tapi ada lain yang juga memukulnya dari belakang, begitu dia balik melawan mereka yang berada di belakangnya, kini ada lagi menyerang dia dari depan.
Irvan kewalahan. Napasnya hampir habis. Ia mundur, sedikit menjauhi mereka, sekedar mengambil napas sekaligus agar bisa berhadapan langsung muka-dengan muka, namun tetap, ia tidak sanggup menghadapi sendiri.
Ia di hajar habis-habisan oleh mereka, tapi syukur, begitu Irvan benar-benar tidak sanggup lagi melawan, pertolongan pun tiba.
Empat mobil berhenti, lalu turunlah puluhan laki-laki berotot besar sama seperti penyerangnya, lalu bertindak cepat melawan mereka sampai semuanya terkabur-kabur meninggalkan dua orang kawan mereka yang tadinya dilumpuhkan Irvan.
Irvan, Tiara dan Cika dibawa oleh anak buah Tuan Leon ke markas mereka agar aman dan diberi pertolongan pertama kepada Irvan. Sedangkan kedua orang yang berhasil Irvan lumpuhkan juga ikut dibawa untuk ditahan dan diinterogasi.
Dari keduanya diketahui, bahwa Febin Mark lah orak dari semua itu.
Setelah Febin mendapat informasi bahwa cucu kandung Tuan Besar Parker telah ditemukan, ia kembali mengaktifkan semua anak buahnya yang masih setia. Salah satunya yang saat ini bekerja sebagai pengawas di sekitaran villa Timur.
Mereka tahu bahwa villa itu milik tuan besar Parker, namun selama ini dibiarkan kosong hingga satu minggu kemarin ada dua gadis cantik yang datang dan menempatinya. Dari kedua wanita itulah, diperoleh informasi bahwa villa ini telah diberikan oleh tuan mereka kepada seorang anak muda. Oleh karena itu, Febin memerintahkan kepada pengawas itu agar terus memata-matai siapa saja yang datang ke villa.
Ia juga diberi foto Irvan agar ketika melihat wajahnya itu, segera menghubunginya. Itulah kenapa ketika melihat ada sebuah mobil di villa, pengawasnya secara diam-diam mengintip, lalu menghubungi Febin, katanya wajah anak muda yang di villa sekarang sama dengan yang ada di foto.
Mendengar informasinya, Febin memerintahkan belasan anak buahnya untuk menyerang villa, lalu membunuh siapa saja yang ditemukan berada di dalamnya, namun ketika mereka masih di jalan, Irvan, Cika, dan Tiara telah pulang, sehingga pengawas itu segera melaporkan lagi agar sebaiknya menunggu mereka saja di tempat pengisian bahan bakar, sebab disana ada persimpangan.
__ADS_1
Itulah kenapa, tadinya ketika minum-minum, Irvan harus menoleh keluar jendela villa seakan sedang meneliti, karena ia peka dengan keadaan dan merasa ada orang yang mengintip mereka, lalu mengambil keputusan yang tidak saja mengejutkan, namun juga mengecewakan Tiara dan Cika untuk pulang.
Bersambung…