
Waktu yang dinanti-nantikan telah tiba. Pagi ini, Charles Will akan datang ke villa Mars untuk menjelaskan hasil pencocokan sidik jari Fania dengan sidik jadinya Puteri Mark.
Ternyata kebijakan baru mengenai pemberian beasiswa lanjutan bagi mahasiswa miskin di Star Ligth University adalah strategi yang digunakan Tuan Besar Parker atas saran Irvan untuk mendapatkan sidik jari Fania tanpa dicurigai sedikitpun.
Fania juga telah diminta oleh Irvan agar bersiap-siap di rumahnya, karena siang nanti akan dijemput oleh seseorang yang disuruh Irvan untuk membawanya ke suatu tempat yang masih dirahasiakan.
Irvan sengaja merahasiakan tempat dimana ia akan menunggu Fania, karena jika ternyata hasil pemeriksaan sidik jari itu benar, maka Fania akan di bawa ke villa mars agar bisa bertemu dengan Tuan Besar Parker dan Charles Will supaya mendengar secara langsung latar belakang persoalan yang menimpa dia dan keluargannya. Tetapi seandainya hasilnya berbeda, maka Irvan akan mengajaknya jalan-jalan dan makan di restoran termahal di kota mereka.
Satu jam setelah selesai sarapan pagi, terlihat sebuah mobil memasuki villa mars menuju ke tempat parkir. Tampak seseorang yang sedang di dinantikan telah datang.
“Selamat datang Tuan Will,” ucap Tuan Besar Parker menyambut kedatangannya.
“Terima Kasih. Aku sangat terhormat bisa datang kesini”
“Silahkan masuk.” Ucap Tuan Besar mengajak Will masuk ke dalam.
Setelah duduk, mereka berbasa basi sesaat, lalu mulai masuk ke dalam percakapan inti.
Hari ini sesuai dengan janji, Will meluangkan waktunya sebanyak mungkin untuk kepentingan Irvan.
Ia membuka tasnya lalu mengeluarkan sebuah bundle berisi banyak dokumen-dokumen, lalu mengambil pula sebuah amplop coklat yang ternyata berisi keterangan hasil pemeriksaan sidik jari.
Sebenarnya hasilnya telah Will ketahui, namun demi menjaga kehhormatan Tuan Besar, Will tidak mau mengatakannya, ia ingin Tuan Besar mengetahuinya secara langsung dari surat yang ia bawa. Amplopnya ia serahkan kepada Tuan Besar untuk membukanya sendiri.
Setelah amplop dibuka lalu isinya dibaca dengan serius dan teliti, Tuan Besar menarik napasnya dalam-dalam. Dia mengarahkan matanya ke atas, melihat sebentar lalu berbalik menatap Will.
Sikap Kakek menegangkan suasan. Irvan semakin penasaaran, ingin rasanya merampas selembar kertas ditangan Kakenya itu. Tuan Leonpun demikian. Napasnya naik turun tidak beraturan. Hanya Pengacara Will yang terlihat tenang.
“Pengacara Will,” seru Tuan Besar. “Apakah inti suratnya yang tertulis dengan huruf sangat besar ini?” Tanya Tuan Besar, meminta keyakinan.
Bukannya dia tidak mengerti isi suratnya, namun reaksi kebahagiaan seorang tua-lah yang mengharuskannya menanyakan lagi seperti itu.
“Benar sekali Tuan”
__ADS_1
Air mata Tuan Besar langsung mengalir begitu saja membasahi pipinya setelah mendengar respon pengacara Will.
“Terima Kasih Tuhan” kata Tuan Besar sambil menyerah kertas itu kepada Irvan dan Tuan Leon untuk membacanya.
“Yes … Yes … benar dugaan ku, dialah itu.” Kata Irvan.
Tuan Leon pun tersenyum puas sambil mengangguk-anggkuk penuh ekspresi kebahagiaan.
Tuan Besar terus menangis. Memang hanya itulah ekspresi paling terbaik yang dapat diberikan orang di usia lanjut seperi dia.
Sambil menangis Kakek mengatakan bahwa ada dua kerinduan terbesar yang ingin ia lihat sebelum meninggal, yaitu bertemu kembali dengan cucunya dan memastikan sumpahnya yang terkhir dapat terlaksana. Karena semua sumpah yang pernah dibuat Tuan besar telah ia lakukan tinggalah sumpah kepada Tuan Besar Mark yang belum sempat terlaksana.
Kini Tuan Besar Parker semakin legah, karena utangnya kepada almarhum sahabatnya bisa segera dia jalankan.
“Irvan … jemput Fania kemari!” Perintah Tuan Besar singkat langsung direspon Irvan dengan menghubungi anak buah Pak Fais yang telah stand by beberapa ratus meter dari rumahnya Fania.
Berselang beberapa waktu sebuah mobil kembali memasuki halaman villa mars. Tampak seorang wanita cantik turun dari mobil. Ia kelihatannya sangat binggung dan tegang. Mungkin karena kemegahan villa dan melihat banyak pengawal berjaga dimana-mana.
Baru saja orang yang menjemput Fania hendak menjawabnya, Irvan telah keluar dari pintu samping villa dan langsung memanggil namanya.
Fania terkejut mendengar suara yang memanggilnya. Ia menoleh dan seketika itu juga ketegangannya menurun karena melihat sosok Irvan.
Ia segera menghampir Irvan dan hendak meminta penjelasan atas semua yang ia lihat saat ini, namun Irvan memegang tangannya, menariknya masuk tanpa bicara apa-apa.
Tanpa kuatir sama sekali Fania mematuh saja seperti seorang bocah mengikuti ayahnya sampai tiba di ruang kerja Tuan Besar Parker.
Ketika tiba di dalam, Wajah Fania berubah merah. Ada rasa gugup bercampur panik dan kehilangan kepercayaan diri karena semua yang ada di ruangan kerja itu menatapnya dengan sorot mata yang tajam seakan sedang meneliti sesuatu.
Fania tampak gelisah sesaat, karena ia pernah alami situasi seperti itu sebelum akhirnya dikeluarkan dari kampus. Namun kegelisahannya segera menghilang, lantaran melihat senyuman dari wajah Tuan Besar sambil mengulurkan kedua tangan kepadanya dan berkata: “kemarilah!”
Fania bingung, namun ia tetap menghampirinya sampai benar-benar ada dihadapannya, lalu Tuan Besar berdiri dan memeluknya sambil menangis.
Fania semakin bingung. Kini ia ada dalam pelukan seorang Kakek tua. Suatu keadaan yang benar-benar belum pernah ia alami sebelumnya. Ingin menolak dan bertanya, tapi keadaan sangat tidak memungkinkan sehingga membuatnya pasrah dalam pelukan itu.
__ADS_1
Setelah beberapa saat barulah Tuan Besar melepaskan pelukannya, walau air matanya masih terus berlinang.
Kakek memperhatikan wajah Fania lagi lalu berkata: “kamu Fania, kan?” Kemudian meneruskan perkataannya setelah melihat anggukannya, “tidak salah lagi, namamu yang sebenarnya adalah Puteri Mark.”
Fania belum mengerti maksud Tuan Besar, ia menoleh kepada Irvan meminta penjelasan, namun tidak juga diberkan.
“Fania nama mu yang sebenarnya adalah Puteri Mark” Kata Tuan Besar lagi membuat Fania sedikit curiga, jangan sampai upaya Irvan telah berhasil.
Ia berbalik lagi kepada Irvan, namun Tuan Besar mempersilahkan dia untuk duduk lalu memulai meruntuhkan setiap kebingungan Fania dengan mulai menceritakan secara singkat kisah persahabatan dia dan Tuan Besar Mark sampai pada pertemuan mereka terakhir ketika ia memberikan sumpahnya sebelum nanti Mark meninggal.
Lalu melanjutkan dengan upaya yang dilakukan Irvan dan Tuan Leon untuk mencari latar belakang Fania sampai bertemu Pengacara Will dan berakhir membuat scenario pengambilan sidik jari melalui kampus sampai akhirnya memperoleh hasil 99,99 persen sidik jari Fania identik dengan sidik jarinya Puteri Mark.
Mendengar semua penjelasan Tuan Besar, wajah Fania kelihatannya senang sekali, namun masih ada sedikit keraguan, lalu ia menoleh kepada Irvan lagi seakan meminta tambahan penjelasan darinya.
Tuan besar yang mengetahui gerak tubuh itu, meminta Irvan memberi penjelasan kepadanya, lalu Irvan pun menjelaskan lagi.
Setelah semua penjelasan lengkap diberikan, air mata Fania tidak bisa dibendung. Ia mengangis dengan keras sambil berlutut dihadapan mereka semua.
Keadaan itu tidak dikehendaki Tuan Besar, namun Fania tetap berkeras untuk berlutut sebagai tanda hormatnya dan ungkapan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada mereka yang telah menolongnya.
Beberapa saat barulah Fania bangun, menghampiri Tuan Besar Parker, memeluk serta menciumnya berulang kali, hal yang sama pun ia lakukan pada Tuan Leon dan Pengacara Will. Begitu juga dengan Irvan, Fania memeluknya dengan lebih kuat dan lama dari yang lainnya lalu menciumnya sambil dengan suara halusnya ia berkata: “terima kasih Kak”
Belasan menit Fania mengekspresikan kebahagiaan dengan menagis lalu kembali duduk. Setelah menguasai dirinya, Pengacara Will mulai menjelaskan semua tugas yang dipercayakan kepadanya oleh Tuan Besar Mark, kakek kandungnya Puteri Mark alias Fania kepadanya.
Kini Fania telah mengetahui bahwa ternyata ia adalah seorang puteri konglomerat di Negara mereka. Ia juga adalah pewaris harta berlimpah, dan satu hal lagi ia masih memiliki keluarga, namun sayang, kaluarga itulah yang membuangnya.
Sama seperti harapan semua yang ada diruangan itu, Fania juga belum mau menunjukan dirinya yang sesungguhnya kepada publik. Ia juga mengikuti saran pengacara Will agar perlahan membangun kekuatan barulah menujukan identitasnya.
Selebihnya, apakah nanti mau mengambil semua warisannya yang kini dikuasai Febin Mark atau tidak, keputusan nanti barulah dibuat.
Untuk sementara waktu, ia perlu mencari tahu semua keluarganya secara diam-diam.
Bersambung…
__ADS_1