PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 43. Hotel Fomea 2


__ADS_3

Suasana di ruang semakin tegang, pemandu acara sukses membuat semua orang penasaran.


“Cucu Kandung Tuan Besar Parker … Tuan Muda …”


Ia sengaja menahan suaranya, kembali membuat semua orang yang penasanan menjadi semakin tegang. Ada jengkel sampai menggenggam kursi dan meja dengan keras-keras.


“Tuan Muda IRVAN PARKER.  Sang Pewaris Tunggal Kerajaan Bisnis Parker Grup yang di culik.” Katanya melegakan semua orang. Kita sambut dia dengan berdiri.


Semua orang di ruangan itu langsung berdiri sambil bertepuk tangan dan menyorakinya dengan gembira.


Irvan bagaikan pangeran yang dinantikan. Semua orang seakan terhipnotis dengan ketampanannya. Banyak mata ternganga melihatnya, banyak mulut terbuka. Irvan sangat ganteng, penuh wibawa dan terlihat tenang, memiliki aura kepemimpinan yang kuat terpancar di wajahnya.


“Tidak mungkin dia, tidak, tidak, mana mungkin dia adalah Irvannya kita, mana mungkin, aku tidak terima ini, tidak.” Kata Lena penuh heran dan takut. Kedua kaki dan tangannya gemetaran. Ia yakin, setelah ini, habislah dia bersama semua gengnya.


Shael, Nana, Kesya, Teguh serta lainnya para kawan kelas yang selalu baik dengan Irvan sampai melompat lompat ikut bahagia. Mereka tidak menyangka akan hal ini, Irvan merahasikan dari mereka semua kecuali Petra, yang telah diberitahu oleh Irvan dan Tuan besar ketika ia menjenguk Irvan di rumah sakit.


Shael dan Nana sampai mengangis, begitu juga Kesya dan lainnya.


Para dosen ikut bahagia, Rektor Godliene pun senang, tapi sekaligus takut. Rupanya orang yang selama ini dia perlakukan tidak adil, ternyata cucunya Tuan Besar Parker.  “Untung aku mulai berubah.” Pikirnya Rektor Godliene dalam hati.


Warga kampung mulung sangat kaget melihat Irvan. Mereka turut bahagia, namun disaat yang sama juga mulai merasa takut jangan sampai Irvan membalas dendam akibat keroyokan tempo hari.


Sesudah itu, dilanjutkan dengan memanggil Ibu Kor dan Paman Jeb untuk maju ke panggung. Paman Jeb kaget namanya dipanggil. Ibu Kor menerima penghargaan karena telah merawat dan membesarkan Irvan, sedangkan Paman Jeb mewakili warga kampung mulung, tempat Irvan dibesarkan untuk menerima bantuan rumah dan tanah bagi semua kepala keluarga.


Sesudah penyerahan, acara dilanjutkan. “Hadirin sekalian, khususnya para wanita di ruangan ini, diantara kalian ada seorang gadis pilihan pangeran kita. Seorang Puteri yang akan menjadi pendamping hidup Tuan Muda.” Kata Pembawa acara menggetarkan hati para wanita.


Para wanita muda berantusias dengan giranggnya. Pikir mereka, akan ada pilihan.


Petra dan Kesya ikut bahagia. Walau sudah merasa seperti saudari, tapi ternyata suasana acara mampu meruntuhkan batas perasaan saudara dalam hati keduanya. Diam-diam Petra berharap, Kesya pun sama, dari kejauhan ia menatap Irvan sambil membayangkan Irvan memanggil namanya.

__ADS_1


Dibelakang sana, Resti dan Lidia pun berharap hal yang sama. Mereka ingin dipilih.


“Wanita itu berasal dari Star Light University.” Ucap pembawa acara menyempitkan anggapan membuat semua wanita dari kampus itu berteriak histeris, apalagi Rika. Dia berharap, Irvan memilihnya, karena sejak tadi, Fania tidak kelihatan.


Fania, walau sedikit gugu, namun berusaha tetap santai. Tiara dan Cika yang mengapitnya memegang tangannya erat-erat seakan memberi semangat.


Kini semua undangan yang berasal dari kampus itu mulai menebak-nebak. Rika, Petra, atau Kesya, tiga nama yang disebut sebab sesuai ucapan pembawa acara tadi bahwa wanita itu juga berada di ruangan ini, sedangkan Fania, sama sekali tidak ada yang melihatnya datang.


Suasana semakin gembira, semua mata orang menoleh ke kiri dan kanan, mencari siapa yang paling mungkin. Di Meja belakang Resti, Lidia dan geng, diam-diam berharap.


“Dia tingkat dua, dari kelas A.” Kata pembawa acara lagi semakin menggetarkan hati semua orang.


Mereka yang dari kelas itu berteriak dengan hebohnya, terlebih Resti dan Lidia menarik perhatian semua orang di ruang itu. Sedangkan Rika, Kesya dan Petra sedikit murung, terlebih Rika orang yang paling berharap sebab dia masih sangat mencintai Irvan.


Orang-orang mulai melihar kepada Resti dan Lidia beserta gengnya, karena wanita-wanita itulah yang paling heboh.


“Mari kita sambut dia, PUTERI YANG TERBUANG … gadis cantik pilihan Tuan Muda, silahkan maju ke depan!” Ucap pembawa acara membuat semua mata menoleh ke kiri, kanan, muka dan belakang mencari siapa dia, sebab di kelompoknya Lidia dan Resti tidak terlihat ada tanda-tandanya.


Resti, Lidia dan geng serta semua wanita di kelas mereka malu-malu menurunkan semangat, karena penyebutan itu pasti bukan untuk mereka, tapi rasa penasaran terus menguasai mereka dan semua orang diruangan itu, hingga akhirnya ada sesosok wanita yang memang sejak awal mencuri perhatian banyak orang bangun berdiri lalu dengan anggunnya ia bejalan ke depan.


Wajahnya disamarkan dengan kain penutup. Mengenakan gaun panjang bagaikan permaisuri. Fania perlahan melangkah ke depan penuh anggun, ia berjalan dengan ciri khasnya.


“Siapa dia, jangan bilang kalau itu benar-benar Fania, oh tidak, matilah kita Res. Mati kita Res. Lihat bentuk tubuhnya, cara ia berjalan” Kata Lidia mulai ketakutan.


Resti terus memperhatikan lalu mengangguk, “Benar, itu dia, itu memang Fania. Bagaimana nasib kita  taruhan itu?” Resti mulai menagis. Ia ketakutan sekali. Dalam sekejap tubuhnya basah karena keringat.  Suhu AC ruangan tidak sanggup menyejukan.


Lidia mengajaknya keluar, “Ayo kabur.” Keduanya perlahan berjalan, namun begitu hendak meninggalkan pintu keluar, seorang pengawal, menahan mereka lalu mengacam, “kalau kalian tidak ingin ditahan, maka ikutlah acara ini sampai selesai, jika tidak, kalian akan kami tahan dan ikat di depan hotel, sampai acara ini selasai dan setelah hutang kalian sesuai taruhan di kampus siang tadi dibayar barulah kami bebaskan.”


“Apa! Dari mana kalian tahu itu?” Tanya Resti.

__ADS_1


“Nona Fania yang memerintah kami. Ayo kembali masuk dan jangan mengundang reaksi yang tidak baik sampai acara ini selesai.” Kata seorang pengawal. “Ingat kalian di pantau khusus dan tidak boleh tinggalkan ruangan ini, kecuali diizinkan Nona Muda kami.”


“Bagaimana Res, kita akan …” Hati mereka terguncang, lalu kembali ke tempat duduk mereka dengan sedih dan ketakutan memikirkan bagaimana malunya jika benar-benar Fania memaksa.


“Fania, Fania. Irvan, Irvan.” Teriakan teman teman mereka saat Fania tiba dipanggung dan melepaskan kain penutup wajahnya, Irvan menyambutnya dengan memberi bunga, lalu menyamatkan cincin permata hijau dijari manisnya.


Semua orang tepuk tangan, lalu pembawa acara memandu ke acara pengalihan seluruh kekayaan Tuan Besar Parker.


Gubernur, Wali Kota, Kepala Kepolisian, Tuan Leon, Pak Fais dan Pengacara Chaeles Will diminta maju ke depan menjadi saksi penandatanganan pengalihan kekayaan itu.


***


Di Kediamannya, Febin Mark yang juga mengikut acara itu sejak awal, memukul meja dengan keras menarik perhatian anak buahnya. “Ada apa Tuan.” Kata seseorang.


“Ban**at. Anak itu telah ada dalam kendali mereka. Mereka sengaja menghina aku.”


“Bagaimana mungkin Tuan.” Ucap orang itu sebab dirasanya, tidak ada sesuatu kata pun yang menyinggungnya.


Krengggg


Sebuah vas bunga dilemparkan kepada orang yang berbicara tadi mengenai tembok sehingga pecah. “Bodoh kamu. Kesini Cepat”


Prakkkk


Febin Mark melampiaskan emosinya dengan menampar orang itu dua kali.


“Pembawa acara menyebut ‘puteri yang terbuang’ Itu setingan untuk menyinggung ku” Kata Febin marah marah.


Panggil Aleks menghadap!”

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2