PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 25. Informasi Tentang Fania Mulai Diketahui


__ADS_3

Sekembalinya Fania bersama Viki, ia ingin segera ke kelasnya, namun begitu hendak meninggalkan parkiran, Viki kembali memanggilnya sambil menyodorkan handphone sebagai tanda meminta nomor.


Tanpa pikir lagi, Fania menerima handphone itu, lalu menekan beberapa nomor, memberi nama, kemudian ia kembalikan.


“Terima kasih,” ucap Viki.


Fania tersenyum, lalu pergi meninggalkannya di parkiran.


Viki merasa telah menang atas kerjanya hari ini. Ia mendapatkan banyak informasi penting dan ingin segera membuat rencana lanjutan, lalu menelpon Reis dan Anjas untuk menemui diskusi di tempat bisa mereka mangkal.


Di kelasnya, Irvan yang baru saja selesai mengikuti kuliah dan berencana untuk pulang, tiba-tiba mendapat telpon.


Menjauhi kawan-kawannya, lalu menerima panggilan itu. Rupanya Tuan Leon yang menghubunginya.


“Halo Tuan Leon, ada apa menghubungi ku?”


“Tuan Muda ... maukah menemuiku, karena ada informasi penting yang ingin aku katakan terkait dengan penyelidikan yang kamu perintahkan tadi malam.”


“Baiklah Tuan. Kebetulan aku baru saja selesai kuliah. Di mana kita bisa bertemu?”


“Aku kirimkan alamatnya”


“Terima kasih, sampai bertemu.” Irvan mengakhiri telpon itu, lalu bergegas meninggalkan kelas sambil memperhatikan HP karena ada pesan masuk dari Tuan Leon.


Setelah mendapatkan alamatnya, Irvan segera menuju ke sana.


Tampak Tuan Leon sedang bercerita dengan dua orang yang kelihatannya belum begitu tua. Mereka terlihat sangat menghargai Tuan Leon.


“Selamat siang Tuan,” ucap Irvan ketika tiba di tempat Tuan Leon dan kedua orang itu duduk.


“Hei Anak Muda, silahkan duduk” kata Tuan Leon menyambut kehadiran Irvan.


Setelah ia duduk, Tuan Leon memperkenalkan mereka kepada Irvan.


“Ini, Jonas dan Hendrik, mereka adalah orang-orang yang ku minta untuk membantu menyelidiki teman mu,” lalu iapun memperkenalkan Irvan kepada kedua orangnya itu.


“Anak Muda ini namanya Irvan. Dia bekerja di salah satu perusahaan kami. Keluarga temannyalah yang ku suruh kalian selidiki.” Tuan Leon tidak mau membocorkan identitas Irvan.


Setelah saling berkenalan, Tuan Leon mempersilahkan Jonas dan Hendrik menyampaikan informasi yang telah diketahui mereka.


Tuan Leon sengaja meminta Irvan ke sini, selain untuk mendengar langsung, ia juga mau mengajarinya gaya kerja mereka.


Dari kedua orang itu, Tuan Leon dan Irvan mendapatkan Informasi bahwa tepat seperti yang dikatakan, 19 tahun lalu ada keluarga yang membuang seorang anak perempuan.

__ADS_1


Mereka adalah keluarga George Mark. Namun yang dibuang bukanlah anak kandung mereka melainkan anak dari kakak kandungnya, Febin Mark.


Tuan Leon kaget mendengarnya lalu berkata “Aku kenal mereka.”


“Iya, Tuan pasti mengenal keluarga itu, selain karena Tuan Besar Mark adalah kawannya Tuan Parker, paerusahaan mereka juga adalah pesaing utamanya perusahaan Tuan Besar kita,” sambung Hendrik.


“Oke, silahkan kamu lanjutkan dulu ceritanya, Aku tidak ingin memotong lagi pembicaraan kalian,” kata Tuan Leon merasa bersalah.


Lalu Hendrik mulai menceritakan semua informasi yang mereka ketahui secara detail terkait keluarga itu, hingga kematian Febin Mark dan Tuan Besar Mark secara misterius.


Berdasarkan desas-desus orang dalam, Tuan Besar Mark telah membuat wasiat yang menyatakan kekayaannya diberikan kepada gadis kecil itu, namun George Mark tidak iklas dengan keputusan tersebut, lalu ia membunuh ayahnya dan beberapa minggu kemudian gadis itu mereka buang entah kemana.


Mendengar cerita Hendrik, testa Tuan Leon terus berkerut, ia seakan-akan terus berpikir keras.


“Ya, kematian kedua orang itu memang sangat misterius. Saat itu informasi tentang Febin Mark masih bisa diperoleh, tapi saat Tuan Besar Mark meninggal, semua informasinya tertutup. Sampai saat ini, tidak ada yang tahu penyebab kematiannya,” kata Tuan Leon.


“Aku tahu siapa orang yang harus di hubungi lagi, jika terkait dengan keluarga Mark,” ucap Tuan Leon serius, “Informasi kalian sangat baik. Jika tidak ada lagi, kita boleh berpisah dan akan ku hubungi lagi jika masih ada urusan,” kata Tuan Leon menyudahi pertemuan itu.


Dengan sangat hormat, Jonas dan Hendrik memohon diri untuk kembali melanjutkan aktivitas. Keduanya senang karena informasi yang diperoleh mereka menyenangkan hati Tuan Leon.


Setelah kedua orang itu pergi, Tuan mengatakan kepada Irvan bahwa mereka hanya perlu bertemu dengan satu orang lagi dan dipastikan informasinya akan lengkap.


Irvan senang mendengarnya dan meminta agar mereka segera menemui orang yang dimaksudkan itu.


Beberapa saat kemudian, telpon Tuan Leon tersambung. Rupanya ia menghubungi pengacara terkenal bernama Carles Will.


Selain pengacara, dapat dikatakan bahwa Will juga merupakan menantunya Tuan Leon, sebab ia menikahi puteri ke dua dari sepupunya Tuan Leon, Pak Sebastian.


Setelah telponnya tersambung, Will dengan penuh semangat menyatakan salamnya pada Tuan Leon, lalu keduanya berbasa basi sebentar tentang kabar keluarga masing-masing, lalu Tuan Leon menyatakan ingin menemuinya.


Mendengar permintaan Tuan Leon, Will berpikir sejenak, memastikan jadwalnya lalu ia menyetujuinya.


Will tidak memiliki waktu lain, sehingga ia mengharapkan agar mereka bisa bertemu saat itu juga sebab 2 jam lagi ia harus ke luar kota selama seminggu untuk membela kasus Pembunuhan Ibu dan bayinya yang baru berusia 10 bulan.


Tanpa membuang waktu lagi, Tuan Leon memastikan tempat pertemuan mereka, lalu keduanya langsung bergesas menuju kesana.


Di lobi ruang khusus yang berada di lantai 27 hotel Lentera, Charles Will telah menunggu, rupanya ia tiba lebih cepat 7 menit dari Tuan Leon dan Irvan, karena memang jaraknya kesana jauh lebih dekat.


Sambil menikmati minuman yang disuguhkan petugas hotel, ia menanti kedatangan mereka dengan membaca beberapa dokumen kasus yang akan ditanganinya.


“Hai, menantu ku, maaf kami telat,” ucap Tuan Leon ketika tiba di lobi ruang khususnya.


“Tuan …” kata Will ketika melihat kedataangan Tuan Leon dan Irvan, “tidak masalah, aku juga baru saja sampai.”

__ADS_1


“Aku perkenalkan Anak Muda ini di dalam. Ayo ke ruangan,” ajak Tuan Leon.


Setiba di dalam,Tuan Leon langsung memperkenalkan Irvan secara jujur kepadanya. Karena memang haruslah demikian untuk mendapat kepercayaan Will. Namun tidak lupa juga ia meminta menjaga rahasia Irvan.


Ketika mengetahui bahwa Irvan adalah cucunya Tuan Parker yang dicari-cari selama ini, Will menjadi lega. Ia juga senang dan menitip ucapan selamat kepada Tuan Besar melalui Irvan.


Dia sangat mengenal Tuan Muda Parker, walaupun usia Tuan Muda sedikit di atasnya, namun mereka sering bermain basket bersama-sama.


Dia juga memiliki utang jasa kepada Tuan Besar Parker yang selalu membantunya ketika ia kekurangan uang untuk menyelesaikan magisternya di luar negeri.


Beberapa saat setelah ia mengenang kisahnya bersama keluarga Parker, Tuan Leon menyampaikan maksud mereka untuk menemuinya.


Kali ini, Tuan Will menjadi termenung. Dia yang tadinya ceria karena bertemu dengan Irvan kini kelihatannya murung. Serasa ada beban berat yang ia tanggung.


Ia kebingungan mau memulai perkataannya dari mana. Disatu sisi, ia harus memegang sumpahnya, namun disisi lainnya ia sangat berutang jasa kepada Kakeknya orang yang di depannya, dan lebih dari itu juga ada Tuan Leon yang dihitung sebagai Bapak Mantunya.


Beberapa menit kemudian Will berkata “baiklah, aku akan melanggar sumpah ku kepada Tuan Besar Mark yang dulu ku ucapkan kepadanya dihadapan saksi yaitu Tuan Besar Parker. Semua ini hanya ku beritahukan kepada Tuan Leon dan Irvan”


Mendengar perkataan Will, Tuan Leon dan Irvan heran dan melihatnya dengan wajah yang lebih serius seakan meinta penjelasan lebih.


“Waktu itu, aku di hubungi oleh Tuan Besar Parker untuk datang ke Villa Mars. Setelah tiba, aku diperkenalkan kepada Tuan Besar Mark yang ternyata juga sedang menunggu kedatangan ku.” Ucap Will mengenang kisah pertemuannya dengan Tuan Besar Mark untuk menghilangkan keheranan Tuan Leon dan Irvan.


Ia mengakat wajahnya menatap Irvan lalu mulai menceritakan semuanya yang ia ketahui.


Ia bercerita bahwa waktu itu Tuan Besar Parker yang juga masih diselimuti duka, memintanya untuk membantu Tuan Bersar Mark yang juga sedang dalam kebingungan mengamankan kekayaannya.


Tuan Besar Mark tidak mau kekayaannya jatuh ke tangan anaknya George yang sangat arogan, malas, jahat, dan suka berfoya-foya itu. Ia hanya ingin memberikan kekayaannya sebagai warisan kepada cucunya yang saat itu baru berusia 2 tahun.


Cucunya bernama Puteri Mark. Anak dari almarhum anak pertamanya yang karena jasa-jasanya perusahaan mereka bisa sebesar itu.


Tuan Mark tidak bisa menjamin keamanan surat wasiatnya, oleh karena itu ia memohon bantuan Tuan Parker mencari pengacara yang bisa dipercayakan untuk menyimpannya.


“Akulah orang yang dipercayai itu,” ucap Will semakin menegangkan suasana.


Singkatnya surat wasiat itu berisi, jikalau Tuan Besar Mark meninggal, maka seluruh kekayaannya harus jatuh ketangan Puteri Mark.


Walaupun saat itu, Puteri masih kecil, namun ia juga dijadikan saksi penanda tanganan wasiat itu. Bahkan, untuk membuktikan kehadiran Puteri, sidik jadinya pun diambil. Tidak tanggung-tanggung, 10 jari kecil itu ditempelkan pada tinta lalu dicap pada lembaran wasiat yang tertulis jelas namanya.


“Aku dan Tuan Parker saksinya, tetapi hanya akulah yang menyiman seluruh dokumen-dokumen itu. Tidak hanya wasiatnya, tetapi semua dokumen perusahaan dan surat-surat berharga berisi kekayaan Tuan Mark ada pada ku.” Lalu Will menatap Irvan dengan serius dan kembali berbicara


“Ini adalah rahasia terbesar hidup ku, jika bocor, aku pasti mati, karena George Marks selalu mancari dimana seluruh dokumen itu berada.”


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2