
Fania tiba di rumah sakit. Ia melihat Tuan Besar bersama Tuan Leon sedang berjalan dengan cepat ke arahnya. Mungkin mereka baru saja menjenguk Irvan dan hendak kembali. Tidak ingin bertemu dengan mereka, Fania bersembunyi, lalu keluar ketika kedua orang tua itu telah lewat.
Setelah mengetahui kamar rawat Irvan dari petugas informasi, Fania segera ke ruangan VVIP A.1. Tampak beberapa penjaga sedang berjaga-jaga di luar. Ada juga dua wanita yang berdiri sambil menengok ke pintu tuang rawat itu.
Para penjaga yang menyadari kehadirannya, tersenyum padanya, lalu menunduk tanda beri hormat. Fania sedikit kebingungan, jika ingin membunuhnya sepeti kata Viki, mengapa masih menghargainya. Perlakuan yang seperti ini, sudah ia dapati sejak masih di luar.
Fania tidak ingin mendekati mereka. Ia mengambil jarak beberpa meter, sambil menanti siapa yang masih di dalam. Pikirnya kedua wanita itu sedang mengantri masuk.
Berselang beberapa waktu, pintu terbuka, tampak seorang doter dan perawat keluar. Rupanya Irvan sedang diperiksa, sehingga tidak boleh ada orang lain selain petugas kesehatan.
“Bagaimana Dok, keadaannya?” Tanya seorang wanita yang berada di depan pintu ketika dokter tiba di dekatnya.
“Oh, pasiennya sudah baikan. Bengkak sudah tiada, luka-luka di kepalapun telah kering. Tunggu saja perkembangan sampai siang ini, jika sesuai harapan, sorenya, pasien sudah boleh pulang.” Kata dokter menjelaskan.
“Oh Syukurlah.” Ucap kedua wanita itu, sambil berterima kasih pada dokter, lalu mereka pun masuk ke dalam.
Begitu dokter hendak pergi, Fania menghalang di depannya, memohon maaf, lalu bertanya penyebab Irvan mengalami luka di kepalanya?”
Tentu saja dokter tersenyum, seharusnya pertanyaan itu tidak di tanyakan padanya. Namun sebagai orang yang ramah dan ingin menolong, dokter mengatakan bahwa sesuai informasi, pasiennya dikeroyok semalam di jalur Timur.
Fania hanya mengangguk-angguk, sambil menganggakat alisnya yang sebelas, dokter pun berlalu tanpa ia sadari.
Fania bingung, awalnya ia datang dengan marah, ingin bertemu dan melabrak Irvan, walau pun dia sedang sakit, namun keterangan dokter barusan, mebuatnya bingung. Padahal yang ia curigai, semalam di rumahnya itu adalah Irvan.
Fania masih menimbang dalam hatinya, apakahmasuk ke dalam atau pulang saja, tiba-tiba seorang mengagetkannya dengan memanggilnya dari belakang.
“ Fania….” Panggilnya.
“Eh, Kak.” Ucapnya dingin setelah mengetahui siapa yang memanggilnya.
“Ayo masuk.” Ajaknya.
“Tidak, Aku mau pulang.” Ucapnya sinis dan benar-benar pergi.
__ADS_1
“Fania … foto itu editan.” Teriak Petra secara langsung dan sukses menghentikan langkah kakinya. Ia enggan untuk berbalik, namun Perta tahu, Fania mau mendengar penjelasannya.
“Sama seperti yang kau dan Irvan alami waktu lalu, kali ini juga sama.” Kata Petra menjelaskan.
Fania berbalik, masih dengan sinisnya, lalu berkata : “Aku terlanjur tertipu.” Kata Fania dan hendak berbalik untuk pergi, namun Petra segera memegang tangannya dan memintanya jangan pergi dulu karena masih ada yang ingin ia jelaskan, tapi Fania kuat menarik tangannya membuat pegangan Petra terlepas.
“Orangnya telah tertangkap Fan.” Kata Petra tegas membuat Fania tidak lagi berjalan.
“Siapa dia.”
“Dia hanya orang suruhan, tapi dalangnya, kita sama-sama mengenalnya.”Kata Petra dengan nada sedikit tegas membuat wajah Fania kebingungan.
“Dalangnya adalah sama dengan orang yang hendak memperkosa mu semalam.”
“Apaaaa.” Fania kaget sehingga tidak bisa mengontrol suaranya. Ia berucap dengan keras membuat orang orang yang ada disana menoleh kepada mereka.
Fania penasaran, matanya tajam melihat Petra, wajahnya serius menuntut kejelasan.
“Kamu pasti kaget, karena aku mengetahui semuanyakan?” Fania tidak membalas. Ia hanya terus menatap Petra, tapi wajahnya sudah semakin berubah. Ia kelihatannya bingung.
“Aku telah mengetahui semua tentang latar belakang keluarga mu. Kamu tidak akan dibunuh oleh Irvan dan keluarganya. Viki menipumu Fania, dia memfitnah Irvan dan keluarganya. Itulah yang membuat mu marahkan?”
Fania terkeok, semuanya diketahui Petra bahkan pembicaraan Viki dengannya saja diketahui Petra. “Dari mana Kak Petra tahu tentang Viki?
“Temui Irvannya dulu, dia menunggu mu. Jangan pikirkan aku, kami sudah seperti kakak beradik. Irvan mencintai mu Fania.” Tegas Perta lagi membuat wajah Fania berubah merah, karena di tuduh cemburu.
Fania tidak bisa mengelak, sengaja mengalihkan, tapi ketahuan, “Awas ada dua wanita cantik di dalam. Mereka bisa merebut Irvan dari mu.” Kata Petra lagi membuat Fania tersenyum lalu bergegas ke ruangan sambil membawa sejuta pertanyaan.
Fania mengetuk pintu, membukanya lalu masuk. Benar kata Petra, kedua wanita yang di dalam ini terlihat kurang nyaman dengan kedatangnnya.
Fania menyapa mereka semua dengan malu-malu.
Irvan kaget dan sangat senang saat melihat Fania muncul dihadapannya. “Kemarilah Fan!” Panggilnya.
__ADS_1
Lalu meminta ketiga wanita itu saling kenal, kemudian ia menceritakan kejadian yang mereka alami kemarin. Setelah itu Irvan meminta Tiara dan Cika untuk keluar karena ingin berbicara serius dengan Fania.
“Apa yang Viki katakan, tidaklah benar Fan.” Ucap Irvan mengawali pembicaaraan mereka, tapi Fania menolak untuk membicarakan hal itu, lalu ia berkata:
“Banyak hal telah ku dengan dari adik mu, si Petra itu!” Kata Fania agak tegas menyebut nama Petra, membuat Irvan tersenyum, lalu ia melanjutkan, “Yang aku butuhkan sekarang hanyalah jawaban. Siapa orang yang masuk ke rumah ku dini hari tadi dan dari mana kalian tahu bahwa Viki telah menipu ku?”
“Viki! Dan dari Viki sendiri!”
“Maksud mu.” Fania meminta penjelasan.
“Viki yang masuk ke rumah mu dengan menggunakan pakaian hitam dan jam tangan seperti milik ku. Dia juga sudah mengaku telah menipu mu dengan memfitnah aku dan mengatakan keluarga ku lah yang membunuh kakek dan ayahmu. Viki ingin membuat mu menjauhi ku.” Jawab Irvan menjelaskan semuanya.
Fania terkeok. Bagai manusia yang tidak mempunyai keyakinan, ia menangis sejadi-jadinya dihadapan Irvan. Ia menyesal dan malu sekali, karena terlalu cepat mempercayaia orang lain, lalu membenci Irvan. Padahal kasus foto editan di kolam seharusnya sudah cukup menjadi pelajaran.
Fania kecewa, ia terlalu mudah dipengaruhi, ia juga menyesal karena membuka ruang bagi orang lain menghancurkan hidupnya. Lalu terus menangis, hingga bebrapa waktu mulai mereda.
“Viki dan kelompoknyalah dalang dari foto editan kali lalu, mereka jugalah yang menyewa orang untuk mengambil gambar dan mengedit foto kami saat rekreasi kemarin.” Kata Irvan lagi membuat semua tanya dihati Fania terjawab.
Fania sepertinya merasa puas, karena semua kejanggalan dihatinya terjawab. Dari wajahnya Nampak aura kebahagiaan. Irvan senang melihatnya, lalu bertanya lagi:
“Masih ada yang ingin kamu ketahui dari ku?” Lalu segera dijawab manja oleh Fania katanya masih ada satu.
“Apa itu?”
Fania tidak kuasa menahan diri untuk bersembunyi tentang perasaannya. Ia tidak sanggup lagi, ingin segera mendengar langsung kata-kata cinta dari mulut Irvan. Walau beberapa waktu lalu di kamar villa, mereka saling ci**an, tapi kan waktu itu, Irvan tidak menyatakan dengan kata-kata.
“Aku ingin mendengarnya langsung dari mu!” Ucap Fania manja, malu sabil kepala tertunduk, membuat Irvan mengetahui maksud hatinya.
Lalu Irvan memegang tangannya, menariknya lebih dekat, merangkul pingganya, lalu berkata: “Seperti yang sudah ku pesankan pada Petra untuk mengatakan pada mu, baiklah aku ucapkan sekali lagi ‘Aku mencintai mu! Sangat mencintai mu”
Kata-kata terakhir sangat merasuk jiwa. Fania memeluk Irvan dan membalas semua ucapan itu. Dia juga menyatakan cintanya pada Irvan, dia tidak ingin mereka berpisah, dia juga nyatakan komitmen dan Janji tidak akan terpengaruh lagi dengan omongan siapa pun. Fania mencium kening Irvan.
“Aduh, aduh kepala ku!” Teriak Irvan, karena Fania tidak sengaja menyentuh lukanya.
__ADS_1
“Maaf, maaf, tidak sengaja.” Lalu keduanya tertawa.
Bersambung…