
Di sebuah villa, tampak seorang tua berumuran 60 an sedang memukul meja dengan kerasnya. Ia sangat marah kepada seseorang yang ada di depannya.
Orang itu gagal membuntuti Irvan. Harapannya untuk bisa menemukan Irvan melalui Star Light University juga gagal, karena Irvan telah dikeluarkan dari sana.
Satu-satunya harapan tersisa untuk bisa bertemu Irvan hanylah di Kampung Mulung, malah jadi sia-sia juga.
Ia terlambat informasi. Kampung Mulung telah rata dengan tanah
“Sekarang apa yang harus kita lakukan?” Kata orang tua yang ternyata adalah Tuan Leon kepada Pak Fais.
Dengan mulut gemetaran, Pak Fais menjawab bahwa orang-orangnya sedang menuju ke lokasi penggusuran itu.
Tidak menjawabnya, Tuan Leon justru memberi informasi yang langsung membuat Pak Fais gemetaran. “Besok Tua besar akan pulang dari Jerman”
“Ap-apa tuan!” Tanya Pak Fais untuk meyakinkan apa yang ia dengar.
“Setelah Tuan Besar mendengar informasi ini, semua sakitnya secara ajaib langsung hilang. Ia menjadi tegar, penuh semangat. Bagaimana nantinya, jika kita gagal menemukan anak muda itu? Apakah kamu mau di bunuh?” Kata Tuan Leon lagi yang tidak peduli dengan pertanyaan Pak Fais
“Tidak Tuan!” Jawab Pak Fais yang kini tubuhnya telah penuh dengan keringat karena takut.
“Kalau begitu, perintahkan semua anak buah mu ke kampung mulung itu, tanyalah kepada siapa saja yang ditemui disana. Cari tahu dimana Irvan berada.” Perintah Tuan Leon yang langsung disikapi secara cepat oleh Pak Fais.
***
Kini semua anak buah Pak Fais telah diarahkan ke kampung Mulung untuk mencari tahu tentang keberadaan Irvan. Sangat sulit awalnya untuk mengetahui keberadaannya saat ini.
Tidak banyak warga yang masih berada disana. Kebanyakan telah pergi mencari tempat perteduhan karena sejak tadi turun hujan sedangkan lainnya juga pergi karena takut jangan -jangan Irvan meninggal, lalu Ibu Kor menuntut mereka.
Berulang kali anak buah Pak Fais bertanya, namun karena warga mengira mereka anak buahnya pria yang bernama Viki, maka tidak ada yang mau menjawabnya.
Aro si pemimpin kelompok yang datang diperintahkan Pak Fais sampai kehabisan akal untuk membujuk, namun juga orang-orang ini tidak berani memberi informasi apapun. Lalu mereka hendak pergi untuk mencari ke tempat lainnya, tetapi pada saat hendak pergi ada seorang tua yang datang.
Melihat orang tua itu, Aro berinisiatif untuk mencari informasi darinya.
“Pak Tua, mohon maaf, kami sahabatnya Irvan, datang untuk mencari keberadaannya. Apakah Pak Tua tahu dimana dia saat ini?”
__ADS_1
Mendengar pertanyaan itu, Pak Tua memperhatikan mereka semua dengan seksama seraya meneliti kejujuran, lalu dengan sorot matanya yang tajam, ia menatap Aro, lalu berkata, “Anak muda yang malang itu, kini lagi dibawa ke rumah sakit pusat dekat lapangan terbuka.” Katanya singkat.
Setelah mendapatkan informasi itu, Aro mengucapkan terima kasih lalu mereka pamit meninggalkan kampong mulung.
“Kring, kring, kring….” Suara telepon masuk yang secara cepat dinagkat oleh Pak Fais
“Ada apa Aro?” Kata Pak Fais yang penasaran dengan telpon itu.
Tanpa memperpanjang kata, Aro menceritakan semua usaha dan informasi yang mereka peroleh.
“Baiklah, kalian tetap di sana sampai aku beri informasi berikutnya. Aku akan mengecek langsung keberadaannya di rumah sakit itu sekrang.” Tegas Pak Fais sebelum akhirnya menutup telepon Aro.
Setelah telpon diakhiri, Aro bersama semua timnya menunggu di sama, sementara Pak Fais melaporkan lagi informasi itu kepada Tuan Leon
“Apa?” Teriak Tuan Leon kaget mendengar laporan Pak Fais.
“Ayo kita ke sana!” Ajak Tuan Leon, karena memang rumah sakit itu hanya beberapa menit dari tempat mereka saat ini.
Lalu dengan cepat Tuan Leon dan Pak Fais menuju garasi, menaiki mobil dan segera berangkat.
Dalam perjalanan Pak Fais sangat kuatir dengan keadaan Irvan, ia takut jangan-jangan masuknya ia kerumah sakit adalah dampak dari tabrakan siang tadi.
“Betul Tuan, baru saja ada seorang pasien bernama Irvan yang dibawa kesini, namun sepertinya ia akan dipindahkan ke rumah sakit lainnya karena masalah biaya!” Jawab petugas informasi.
“Kenapa seperti itu, siapa yang membuat aturan bodoh itu?” Marah Tuan Leon.
Kerena tidak mengenal Tuan Leon, petugas informasi menjawabnya dengan seenaknya, katanya “ini bukan rumah sakit milik bapaknya”
Tuan Leon marah, ia menatap wajah petugas informasi dengan tajam seakan ingin membunuhnya. Namun karena ingin cepat-cepat mengetahui kondisi Irvan ia bertanya sekali lagi tentang keberadaan Irvan.
Setelah mengetahui, bahwa saat ini Irvan berada di ruang perawatan darurat, Tuan Leon dan Pak Fais segera kesana dan betapa kagetnya mereka, karena melihat sosok seorang Ibu yang sedang meratap sambil berlutut di kaki petugas rumah sakit.
“Ada apa ini?” Tanya Tuan Leon ketika melihat kejadian itu.
Mendengar pertanyaan Tuan Leon, petugas itu, bukannya menjawab, tetapi malah dengan risih ia balik bertanya “Maaf Tuan, Anda siapa? ini urusan kami” katanya dengan wajah malas
__ADS_1
“Aku tahu ini urusan Anda, tetapi membiarkan seseorang tua yang mungkin seumuran dengan ibumu berlutut dikakimu adalah tindakan yang jahat” kata Tuan Leon membuat wajah wanita yang adalah petugas itu memerah.
“Memangnya kenapa?” Jawabnya karena kesal.
“Baiklah, kamu bukan bandingan ku. Aku kesini hanya ingin mencari pasien bernama Irvan. Menurut petugas informasi dia diruang ini.” Kata Tuan Leon tidak ingin meladeni perkataan petugas itu.
“Dia di ruang ini, tetapi harus keluar saat ini juga karena mereka tidak punya uang untuk biaya pengobatan” Kata petugas wanita itu lagi dengan kasarnya.
Tuan Leon, tidak banyak bicara lagi, ia bersama Pak Fais langsung menerobos pintu dan masuk ke dalam.
Sungguh terkejutnya mereka ketika melihat Irvan, tidak ada pengobatan apa-apa kepadanya. Para medis yang berada di dalam hanya membersihkan darah diwajahnya sambil menunggu keputusan rumah sakit mengenai tindakan lanjutan.
Tuan Leon memohon Izin mendekat ke kepala Irvan, lalu menarik bagian telinga Irvan untuk memastikan tanda lahir itu.
Benar, ini cucu dari tuan ku, pikir Tuan Leon dalam hatinya. Wajahnya sangat mirip dengan Tuan Muda ketika ia masih hidup.
“Pak Fais, kita tidak salah lagi. Benar ini dia orangnya. Ayo keluar selesaikan administrasinya.” Ajak Tuan Leon lalu mereka keluar.
Setelah tiba di luar, Tuan Leon langsung berkata kepada petugas tadi yang kebetulan masih disitu untuk segera mengurus segala keperluan tindakan medis kepada Irvan, karena dialah yang akan menaggung semua biayanya.
“Baiklah Tuan, kalau begitu ikut saya ke ruang administrasi.” Lalu petugas itu pergi dengan diikuti oleh Tuan Leon dan Pak Fais
Di ruang administrasi keuangan, Tuan Leon langsung menyerahkan sebuah katru bank bintang lima berwarna gold kepada petugas itu sambil berkata “aku bayar pakai ini”
Wanita itu kaget bukan main saat melihat kartu yang dikeluarkan tuan Leon tersebut.
Kartu jenis itu hanya dimiliki oleh orang-orang terkaya. Menurut rumor yang beredar, hampir sekitar seratur orang yang memiliki kartu gold, namun yang berbintang lima tidak lebih dari lima orang yang memilikinya.
Kali ini dia bisa pastikan tuan yang ada di depan matanya bukan orang sembarangan dan pasien yang bernama Irvan juga pasti orang penting bagi tuan ini sehingga ia sendiri datang untuk membiayai pengobatannya.
Petugas itu ketakutan saat melihat kartu milik Tuan Leon. Ia gemetaran sambil mengambil katru tersebut untuk digeseknya lalu mengetik angka sesuai jumlahnya kemudian mengarahkan mesin uang kepada Tuan Leon untuk memasukan kode banknya, lalu ia menekan tombol ok dan terdengar suara “tit…tit..transaksi sukses.”
Sungguh petugas keuangan ini hampir pinsan. Dia ketakutan, karena orang seperti tuan ini pasti memiliki kekuasaan yang tidak kecil. Dia jadi takut dengan pekerjaannya, lalu perlahan ia berlutut di kaki tuan Leon dan memohon ampun atas sikapnya tadi.
Tuan Leon tidak mempedulikan permohonan maafnya, ia tidak memiliki waktu untuk meladeni kemunafikan semacam itu, lalu dia meminta petugas itu untuk segera pastikan tim medis terbaik untuk merawat Irvan, lalu Tuan Leon dan Pak Fais pergi meninggalkan tempat itu.
__ADS_1
Dua menit berselang, seluruh tim dokter terbaik rumah sakit itu datang lalu bergegas masuk keruangan perawatan tadi tanpa beri komentar apa-apa kepada semua yang ada disitu dan dengan cekatan mereka mulai melakukan tindakan medis kepada Irvan.
Bersambung…