PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 49. Tindakan Menghancurkan Bastian


__ADS_3

Tuan Besar Parker duduk bersandar di kursinya. Wajahnya masam setelah mendengarkan laporan Irvan terkait dugaan Bastian mendalangi penyerangan di proyek mereka.


Tuan Besar Parker sangat kecewa, sebab ia telah menaruh kepercyaan yang sungguh besar kepada orang itu. Hampir 10 tahun kerja sama terjalin. Bahkan karena kepercayaan itu, Perusaan Kuning selalu dimenangkan oleh Tuan Besar dalam berbagai persaingan proyek.


“Baiklah, jika memang itu maunya. Jangan pernah beri ampun.” Tegas Tuan Besar Parker.


“Tapi ini masih dugaan. Bagaimana kita bisa memastikannya?”


Irvan bertanya sambil memperhatikan wajah Tuan Besar parker.


“Jangan kuatir. Masih banyak hal yang harus kamu pelajari. Anggaplah ini pelajaran untuk mu dalam dunia bisnis.”  Ujar Kakek, lalu mengeluarkan handphonenya untuk menghubungi Alan.


Dulunya, ketika bisnis Tuan Besar Parker mulai berkembang, ia menemukan banyak sekali anak-anak miskin yang tidak bisa menjalani hidup dengan baik sehingga hidup sebagai gelandangan. Kakek mengambil mereka dari jalan, membesarkan lalu menyekolahkan dan mengajari mereka banyak hal.


Tuan Besar menyadari dalam dunia bisnis pasti ada potensi kecurangan dan penghianatan, sehingga ia mengirim orang-orangnya untuk bekerja di sejumlah perusahaan pesaingnya.


Tujuannya bukan sebagai penyusup atau menjadi mata-mata lalu mencari kelemahan setiap perusahaan pesaiang untuk kemudian menghancurkan saingannya, tapi untuk hal-hal darurat semacam ini.


Alan adalah salah satu dari sekian banyak orang Tuan Besar Parker. Ia berhasil masuk dan bekerja di perusahaan kuning.


Alan dan semua orang-orang Tuan Besar Parker yang menjalankan tugas ini, dilarang keras menghubungi Tuan Besar atau siapa pun yang bekerja pada Parker Grup, kecuali Tuan Besar sendirilah yang menghubungi mereka.


Setiap orang mempunyai kata sandi masing-masing yang hanya diketahui orang tersebut dan Tuan Besar.


“Halo … ini siapa ya?” Tanya Alan ketika sebuah nomor rahasia menghubunginya.


Tuan Besar Parker menyebut kata sandi Alan sehingga membuatkanya benar-benar terkejut.


“Tuan Besar. Salam dan Hormat ku berikan. Aku Alan tetap setia pada setiap perintah.”


“Bagulaslah, Nak.” Kata Tuan Besar. Ia melanjutkan, “Kamu pasti sudah tahukan, kalau cucuku telah ku temukan?” Tanyanya, lalu melanjutkan omongannya setelah menjadapt jawaban Alan.


“Aku tidak akan lagi menghubungi mu. Cucu ku Irvan,  dialah yang akan mengganti ku. Setialah padanya.”


“Siap Tuan Besar. Aku berjanji setia.” Suara Tegas Alan. “Bagaimana Tuan, ada apa yang bisa aku lakukan?” Tanyanya.


Tuan Besar menceritakan semua kejadian yang dialami mereka dan dugaan keterlibatan perusahaan kuning dalam neyerang mereka.


Alan yang mendengar semua cerita itu sangat bahagia karena akhirnya Tuan Besar mau menghubunginya untuk menanyakan hal tersebut.


“Tuan, maafkan aku. Aku terikat sumpah untuk tidak boleh menghubungi Tuan atau siapapun yang bekerja pada Tuan.” Ucap Alan dengan sedihnya.

__ADS_1


“Aku tahu semua itu Tuan. Bastian menghianati kita sejak 5 tahun lalu. Dia berambisi menjadi penguasa bisnis di Negara kita.”


Bastian juga menceritakan semua yang ia ketahui tentang tindakan Bastian membakar banyak gudang milik Parker yang berakibat kerugian triliunan.


“Aku sama sekali tidak mempunyai cara untuk melapor semua ini.” Sesal Alan karena terikat sumpahnya.


“Tidak apa-apa, Nak. Kamu orang yang setia. Baik sekali kerja mu. Pulanglah kepada ku, jika Bastian telah kita hancurkan.”


Setelah Tuan Besar mengakhiri telepon itu, dia meminta Irvan agar segera mengambil sikap.


“Buatlah keputusan segera!” Kata Tuan Leon kepada Irvan.


Walaupun telah malam. Irvan tetap menghubungi Tuan Leon dan memintanya datang ke villa Mars untuk berdiskusi tentang rencana yang harus mereka lakukan.


Beberapa waktu berselang, Tuan Leon tiba. Ia segera menemui Irvan dan Tuan Besar. Lalu mereka membahas mengenai perusahaan kuning dan keterlibatan Bastian.


Irvan akhirnya memberi keputusan.


“Cukup Febin Mark saja musuh kita yang mesti diperhitungkan matang-matang sebelum menyerang, lainnya hancurkan saja. Seandainya saja bisa dilakukan dalam semalam, lakukanlah!” Kata Irvan kesal dan tegas.


“Bisa Tuan Muda. Sangat gampang.” Ujar Tuan Leon sambil mengangguk-angguk meyakinkan Irvan.


Irvan tidak menyangka, kemarahannya bisa terwujud dalam semalam. “Segampang itu?” Tanyanya tidak percaya.


“Baiklah kalau begitu. Aku percaya.” Tegas Irvan.


Tuan Leon lalu membuka Laptop miliknya yang kebetulan dibawanya. Ia mengutak-atik dengan cepatnya, entah apa yang dilakukan hingga tiga puluhan menit berlalu akhirnya semua rampung dikerjakannya.


“Bagaimana Tuan?” Tanya Irvan ketika melihat Tuan Leon meluruskan belakangnya karena tunduk serius di bekerja.


“Berhasil Tuan. Sebelum Bastian sadar dari tidurnya malam ini, Perusahan Kuning telah menjadi milik kita.”


“Apa?” Irvan kaget dan gembira mendengarnya.


“Betul Tuan Muda. Memang tadi ada sedikit hambatan karena beberapa lapisan pengaman, namun ternyata gampang saja di jebol. Mereka tidak akan mengatahuinya sama sekali.”


“Tuan bisa beristirahat, lalu besok menyaksikan kehebohan para pemegang saham perusahaan kuning dari layar televisi. Mereka akan datang dan memprotes Bastian karena menjual perusahaannya kepada Parker tanpa ada rapat pemegang saham.”


“Bastian pun akan kewalahan, karena saat ini juga ia telah terlilit banyak utang. Uang hasil penjualan perusaaannya secara real tidak ada.” Kata Tuan Leon menjelaskan lagi.


“Wah sungguh luar biasa kerja mu Tuan” Puji Irvan. Lalu mereka menyudahi pertemuan malam itu.

__ADS_1


Keesokan paginya, Irvan segera bangun lalu cepat-cepat membuka televisi di kamarnya. Ia ingin membuktikan omongan Tuan Leon. Saluran berita bisnis dipilihnya.


Matanya tidak berkedip, wajahnya ia condongkan sedikit ke depan menyaksikan siaran langsung dilayar kaca.


Sungguh, ucapan Tuan Leon benar. Bahkan lebih heboh dari yang bisa ia bayangkan.


Walau masih pagi sekali, sudah banyak orang berdatangan ke rumah milik Bastian. Mereka adalah para pemilik saham yang datang untuk memprotes sikap dan meminta klarifikasi darinya.


Terlihat juga ada banyak petugas keamanan.


Irvan terus menyaksikan siaran itu sampai terlihat dua orang berjas lengkap turun dari mobil, lalu memasuki kawasan perumahan Bastian dengan di kejar-kejar wartawan.


Dari pemberitaan itu diketahui, ternyata salah satunya adalah Bastian. Semalam ia tidak ada di rumahnya. Ia menginap di salah satu hotel megah, karena menikmati malam yang panjangnya bersama seorang penghibur yang didatangkan dari luar negeri.


Bastian baru menyadarinya pagi ini, ketika handphone diaktifkan. Ada banyak sekali panggilan dan pesan masuk. Ia telah hancur. Kekayaanya telah beralih tanpa hambatan dalam semalam. Ia juga langsung ditimpa hutang triliunan.


Setiba di dalam rumahnya, Bastian menangis sejadi-jadinya. Seperti anak kecil, ia duduk di lantai sambil memegang kepalanya penuh penyesalan.


“Aku salah. Kini hancur semuanya.” Teriak Bastian keras.


Sementara menangis, beberapa anak buah datang menghampirinya, memohon maaf kemudian pergi meninggalkannya dia disitu.  Mereka sadar, Bastian tidak lagi mampu membayar mereka. Tindakan itu membuat banyak anak buah lainnya juga pergi tanpa pamit.


Kediaman Bastian tidak lagi memiliki penjagaan. Orang-orang diluar sana bebas masuk ke dalam.  Mereka menuntut pertanggung jawaban Bastian, namun yang di dapati hanyalah tangisan dan permohonan maaf.


Melalui televisi, Irvan juga menyaksikan petugas keamanan menyeret Bastian menuju mobil.


Istri dan kedua anak wanitanya pun hanya ikut menangis dan berpasrah diri saat melihat orang terkasih mereka diseret.


Mau bilang apa lagi. Sebagai istri dan anak-anak, mereka sudah selalu menasehati Bastian agar berhenti menghianati Parker dan Febin. Namun, karena keserakahannya, ia mengorbankan diri, anak dan istrinya.


Bastian di bawa ke tahanan. Semua kekayaan mereka hilang dalam semalam. Mobil, rumah dan semua isinya disita. Istri dan kedua anaknya diminta keluar. Mereka pun pergi hanya membawa pakaian saja.


Irvan mengambil remot, menekan tombol berwarna merah, layar tv pun menghitam, lalu mengambil handphone menguhungi Tuan Leon agar dia menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengikuti kemana pun istri dan anak-anak Bastian pergi.


Irvan juga menghubungi Alan, lalu memintanya membantu istri dan anak-anak Bastian. Irvan tidak tega melihat ketiga wanita itu harus hidup dijalan akibat keserakahan orang lain. Ia pernah mengalami hal seperti itu.


Irvan juga berjanji akan menganti semua biaya yang dikeluarkan Alan untuk menolong istri dan kedua anak Bastian.


“Pastikan keamanan mereka terjamin dan carilah rumah yang layak untuk ditempati.” Perintah Irvan.


“Jaminkan kebutuhan makan minum ketiganya juga hingga mereka bisa mendapat kerja untuk membiayai sendiri” Kata Irvan lagi kepada Alan.

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2