
Begitu Irvan hendak pergi, Rika memegang tangannya, menariknya kembali, lalu ingin memeluk, namun Irvan mencegahnya dan dengan alasan yang halus Irvan menolak. “Rika, banyak orang melihat kita.”
Rika tidak ingin melepaska tangannya, ia ingin mengajak Irvan pergi ke suatu tempat yang sepi agar disana Irvan tidak bisa beralasan lagi, tetapi tiba-tiba seorang pengawal tergesa-gesa menghampiri mereka.
Dengan berbisik ia mengatakan sesuatu membuat wajah Irvan berubah. Rika menyadari itu, ingin bertanya, namun keadaan tidak memungkinkan.
Dia melepaskan genggamannya, lalu Irvan menyentuh bahunya, sebagai tanda penguatan. “aku harus pergi” Kata Irvan meninggalkan dia dengan penuh tanya karena tanda penguatan itu.
“Maaf Tuan Muda, kita tidak bisa ke sana, polisi sudah menanganinya.” Pengawal menolak keinginan Irvan yang memaksa mereka memutar jalur ke kontrakannya.
“Kita harus segera kembali ke villa. Ini semua demi keamanan Tuan. Gudang kita di blok Timur juga terbakar dan lima penjaganya pun tewas mengenaskan.” Kata pengawal menjelaskan detail informasi yang ia peroleh.
Mobil itu melaju cepat memasuki kawasan villa. Tuan besar Parker dan Tuan Leon beserta banyak anak buahnya yang lain baru merasa legah ketika Irvan tiba dihadapan mereka.
“Syukurlah kalian tidak apa-apa.” Kata Tuan besar.
Hari itu villa mars mengalami kedukaan atas meninggalnya lima pengawal. Mereka adalah orang-orang setia.
Setelah di kebumikan, Tuan Besar mempersilahkan Irvan meminpin rapat untuk membahas masalah yang baru saja dialami. Ini tugas pertamanya sebagai seorang pemimpin. Ia pun memulainya.
Tuan Leon memberi laporan hasil penyelidikan mereka, kalau pelaku pembakaran dan pembunuhan tersebut di duga dilakukan oleh orang yang sama. Namun sampai saat ini belum bisa dipastika siapa orangnya.
“Ada satu CCTV disekitar lokasi merekam, namun orang tersebut berpakaian hitam dan kepalanyapun dilindungi topeng hitam. Dia bagaikan ninja.” Kata Tuan Leon, lalu melanjutkan bahwa jika dilihat dari sisi waktu ada kemungkinan orang itulah yang membakar rumah kontrakan Irvan, lalu datang ke gudang untuk melakukan aksi berikutnya.
Selesai Tuan Leon memberi laporannya, deringan telponnya berbunyi, ia memohon izin lalu segera menerima panggilan itu, karena dianggap dari orang-orang pentingnya.
Wajahnya berubah merah. Ingin rasanya memukul keras meja didepannya. Semua mata melihat padanya dengan sedikit keheranan karena gestur tubuhnya yang berubah.
“Kurang ajar. Siapa dia? Beraninya! Sykurlah … baiklah.” Ucapnya, lalu mematikan sambungan telponya.
“Ada apa Tuan Leon?” Tanya Irvan.
__ADS_1
“Maaf Tuan Besar, Maaf Tuan Muda. Proyek pembangunan pabrik kita di jalur selatan baru saja diserang oleh kelompok yang tidak di kenal. Tapi satu orang dari mereka berhasil diamankan.”
“Siapa lagi ini?” Kata Irvan lalu menoleh kepada Tuan Besar, seakan meminta masukan darinya.
“Tenang, selidiki, dan hadapilah!” Tiga kata tegas Tuan Besar menggetarkan hati Irvan.
“Suruh bawa orang itu ke markas!” Perintah Irvan kepada Tuan Leon. Lalu ia pun memberi perintah kepada Laufer untuk menyuruh orang-orangnya menyebar dan menjaga semua perusahaan, gudang dan berbagai tempat yang dirasa perlu dijaga.
Setelah itu mereka membahas beberapa hal lainnya yang harus dilakukan segera untuk menyikapi persoalan yang terus mereka hadapi dalam beberapa hari terakhir.
Malam pun tiba, Irvan meluangkan waktunya menemui Fania di villanya yang kebetulan berada satu kawasan dengan villa Mars. Fania di berikan villa itu sebagai tempat tiggalnya agar selalu mendapatkan perlindungan.
“Bagaimana Fan, kamu betah disini?” Tanya Irvan yang kebetulan baru bisa berkunjung ke sana malam itu.
“Aku senang. Bahagia sekali, tapi jujur aku merasa tidak bebas dengan pengawalan yang super ketat ini. Aku pun merindukan Bu Rati dan para tetangga ku!” Kata Fania
“Iya, untuk sementara biarkan ada yang mengawal kita, karena masih ada ancaman diluar sana. Sesekali kamu bisa undang tetangga mu main ke sini, nginap pun boleh. Asalkan jangan si Fino itu sendirian.” Ujarnya lalu tertawa.
“Hahaha ah… Kak Irvan bisa saja … si mesum itu! Tidaklah, tapi apa Kak cembu ….” Sengaja Fania tidak ingin menyelesaikan kata-katanya lalu ia tertawa “hihihi.” Lalu ia cepat mendekati Irvan lalu memegang tangannya kemudian merangkul pinggangnya dan bermanja-manja padanya.
“Fan, maaf ya, aku harus pergi. Ada seorang pelaku penyerangan yang ditangkap. Aku harus menginterogasinya.”
“Wah bagus kalu begitu. Iya-iya, hati-hati.” Pesan Fania tulus.
Dengan pengawalan yang ketat, Irvan tiba di tempat orang itu di tahan. Ia masuk ke ruangan dan melihatnya.
Seluruh tubuh orang itu telah babak belur dihajar pekerja proyek dan para pengawal.
“Siapa nama mu Pak?” Tanya Irvan sopan kepadanya.
Orang itu mengangkat kepalanya, dengan matanya yang terbuka, ia berusaha melihat wajah Irvan beberapa saat, lalu kembali menundukan kepalanya tanpa menjawab.
__ADS_1
“Siapa yang menyuruh mu?” Ia pun terus menunduk tanpa memberi respon.
Irvan sampai kewalahan, mau bertanya dengan gaya apa lagi. Orang itu terus saja diam walau berulang kali ia telah dipukul lagi, namun tetap saja, tidak mau buka mulut.
“Baiklah, aku beri mu dua pilihan?” Kata Irvan, spontan membuatnya kembali mengangkat kepalanya.
“Nama orang yang menyuruh mu, lalu aku melepaskan mu atau alasan mu tidak mau membuka mulut, lalu aku melepaskan mu!” Kata Irvan membuatnya kembali menatapnya seakan tak percaya dengan pilihan itu.
Semua pengawal di ruangan itu pun kaget dengan pilihan yang dirasa konyol. Karena setiap orang yang waras, tentu akan memilih yang kedua.
Ia terus melihat Irvan seakan ingin berbicara. “Kenapa?” Tanya Irvan, “Kamu tidak yakin aku akan melepaskan mu?”
Kali ini dia mulai berkomunikasi. Walau belum mengeluarkan kata-kata, namun merespon dengan mengangguk kepala tanda tidak percaya. Sebab dalam pikirnya, kata itu hanya sengaja diucapkan. Tentunya setelah dilepas, pasti dia dikejar lalu dibunuh. Begitulah yang ia pikirkan.
“Bunuh saja aku di sini atau penjarakan aku seumur hidup ku.” Tiba-tiba ia berbicara.
“Kamu tidak ingin bebas?”
“Tidak! Dia pasti sudah tahu aku ditangkap. Karena itu, aku harus mati sesuai janji kami.”
Para penyerang awalnya telah bersumpah nyawa kepada tuan mereka bahwa bersedia mati, jika ditangkap. Hal itu dibuat demi menjaga kerahasiaan pemberi perintah.
Irvan mengetahui maksudnya. Orang seperti ini, tidak akan mungkin mebocorkan rahasia. “Baiklah, aku tidak ingin tahu lagi siapa yang menyuruh mu, tetapi mengapa kamu rela mati demi janji mu?” Tanya Irvan penasaran.
“Tiga anak dan istri ku sedang ditahan. Dua diantara mereka telah remaja. Dia pasti akan jadikan mereka pela**r dan yang satunya masih sangat kecil akan dibunuh bersama istriku, jika aku membocorkan rahasia.”
“Kamu musuh ku, tapi aku melepaskan mu. Pulanglah sesuai janji ku. Laporkan juga pada tuan mu bahwa kamu dibebaskan tanpa sedikitpun informasi yang kamu bocorkan.” Kata Irvan lagi yang merasa kasian mendengar ucapannya.
Orang itu kaget. Lalu menunduk seakan menyesal. “Satu hal yang aku inginkan. Berhentilah bekerja pada orang itu!” Kata Irvan lagi lalu menyuruh melepaskannya, kemudia membawanya pergi ke tempat dimana ia ingin ditinggalkan.
“Tuan bagaimana, kita bisa menyelesaikan ini, jika dia telah dilepas.” Tanya seorang pengawal di tempat itu.
__ADS_1
“Buntuti dia, kemanapun perginya!” Perintah Irvan kepadanya. Diapun langsung mengerti maksud itu, lalu memuji-muji kemampuan berpikir Irvan, dan sesudah itu segera pergi bersama dua temannya menjalankan tugas baru.
Bersambung…