PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 21. Irvan salah Tingkah


__ADS_3

Melihat balasan Tuan Leon dirasa cukup, dengan bijaksana Irvan berkata padanya untuk menyudahi siksaan fisik itu lalu lanjutkanlah dengan hukuman lain.


Ia juga meminta Tuan Leon untuk perintahkan agar kejadian itu tidak boleh diketahui oleh siapapun selain dari pada mereka, bahkan Irvan yang mengenal tuan Leon pun tidak boleh diceritakan.


“Jero, bangunlah, ku ampuni kau untuk saat ini. Ingat!, rendah hatilah dan jangan pandang rendah orang lain.” Kata Irvan dengan keras kepada Jero.


Sambil Jero bangun, Tuan Leon memberi peringatan agar tidak ada satupun yang menceritakan kejadian itu, jika ketahuan, dipastikan lidahnya di potong lalu dibuat miskin.


Sedangkan untuk Jero, Tuan Leon memberi hukuman tambahan yaitu, terhitung saat itu juga, ia diturunkan dari jabatannya, lalu dipindahkan ke hotel kecil yang berada di kabupaten untuk menjadi resepsionis disana selama 2 tahun.


Tuan Leon juga tegaskan bahwa jika Jero tidak mau menerima hukuman itu, silahkan saja mengundurkan diri, tapi ingat, jika keluar, maka dipastikan tidak akan ada satu tempat kerjapun yang akan menerimanya di muka bumi ini dan ia akan dipersulit dalam segala hal.


Semuanya nyatakan siap dan membungkuk beberapa kali tanda hormat dan setia pada perintah. Jero pun dengan lantang nyatakan bersedia menerima hukuman itu. Ia senang, karena lebih baik begitu, jika tidak ia akan kesulitan.


Tuan Leon, lalu menyuruh beberapa security untuk membantu Jero mengobati luka-lukanya di ruang p3k. Kemudian ia dan Irvan meninggalkan ruang keamanan lalu pergi ke dalam hotel.


Di ruang P3K, Jero yang sangat penasaran tentang Irvan menelpon Viki untuk bertanya tentang siapa sebenarnya Irvan. Jangan-jangan ada sesuatu yang mereka tiak ketahui tentang Irvan, namun jawabannya sama seperti yang mereka ketahui selama ini.


Jero tidak bercerita tentang apa yang baru saja ia alami sendiri karena takut dengan ancaman tuan Leon. Namun ia meminta Viki untuk menyelidiki pergaulan Irvan, kemudian ia menyudahi panggilan itu lalu fokus pada pengobatannya.


Tuan Leon dan Irvan telah tiba di lobi, mereka disambut lembut oleh dua resepsionis yang lain. Rupanya telah terjadi pergantian shif. Sambil membungkuk mereka memberi hormat lalu mempersilahkan Tuan Leon dan Irvan masuk.


Ketika tiba di dalam hotel, manager dan beberapa petinggi hotel yang telah mengetahui kedatangan Tuan Leon segera menyambut kedatangn mereka.


“Selamat datang Tuan-tuan. Maafkan kami yang tidak mengetahui kunjungan ini. Ada apa gerangan sampai Tuan repot-repot datang sini?” Kata manajer hotel penuh hormat.


“Tidak ada apa-apa. Aku hanya ingin menemani Anak Muda ini untuk melihat-lihat hotel,” kata Tuan Leon menyembunyikan identitas Irvan.


“Kalian bisa kembali melanjutkan pekerjaan masing-masing.” Kata Tuan Leon tidak ingin diganggu.


Ketika ingin berjalan terus, Tuan Leon teringat kepada Jero.


“Oh iya, Pak Rei!” Panggilnya kepada manajer hotel


“Iya Tuan ada apa?” Kata manager dengan siap.


“Berhentikan Jero dari jabatannya, lalu perintahkan dia segera ke bagian distribusi tenaga kerja di kantor pusat untuk melaporkan apa yang telah aku perintahkan padanya." Kata Tuan Leon tegas.


"Siap dilaksanakan Tuan." Jawab Pak Rei tegas tanpa bertanya sebab akibatnya lagi.


Setelah itu, Tuan Leon dan Irvan berjalan melihat-lihat seluruh isi dalam hotel. Dari lantai pertama sampai lantai terakhir.


Di lantai dua puluh, Irvan senang sekali karena untuk pertama kalinya ia melihat langsung ada kolam renang di atas gedung tinggi.

__ADS_1


“Tuan Muda ini bukan yang terbaik. Ada lagi di lantai empat puluh tujuh” kata Tuan Leon lalu mengajaknya ke sana.


“Wao … masih ada lagi?” Tanya Irvan penasaran.


“Ayo segera kesana,” ajak Tuan Leon.


Irvan memang penasaran ingin melihat kolam renang di puncak hotel itu, namun ia tidak ingin melewati setiap lantai di hotel itu. Minimal hanya satu sampai dua menit saja, asalkan kakinya bisa menginjak setiap tingkatan di hotel itu.


Lalu keduanya terus berjalan menaiki tangga demi tangga. Pastinya kelelahan untuk orang biasa, karena tidak menggunakan lif. Tapi untuk Tuan Leon dan Irvan itu biasa saja, karena memang keduanya punya sering berolahraga.


“Bagaimana Tuan Leon, apakah Tuan sanggup menggunakan tangga biasa ini?” Tanya Irvan ketika mereka telah tiba di lantai tiga puluh lima.


“Yah…aku masih sanggup, tetapi aku ingin menunjukan beberapa ruangan di lantai ini lagi pada mu,” Ucap Tuan Leon sambil berjalan terus ke beberapa ruang di ujung lantai itu.


“Baiklah kalau begitu” sahut Irvan sambil keduanya terus berjalan.


Lalu keduanya beristirahat sejenak kemudian berjalan mengelilingi lantai tiga puluh lima sambil Tuan Leon mejelaskan tentang semua fasilitas di lantai itu kemudian mereka melanjutkan jalan mereka.


“Wuih … keren-keren …” itulah kata yang bisa diucapkan Irvan ketika tiba dilantai empat puluh tujuh.


Seperi yang dikatakan Tuan Leon, disana ada sebuah kolam besar. Didesain seperti taman yang indah. Ada aliran air yang terus mengalir seperti sungai. Suasananya sejuk bagaikan dipegunungan.


Irvan berjalan kesana kemari mengelilingi tempat itu. Ada banyak orang disitu. Mereka adalah pengunjung hotel, maupun orang lain yang memang sengaja hanya datang untuk menikmati keindahan kolam itu sambil menunggu matahari terbenam untuk mengambil bebrapa fhoto diri.


Belum sampai di pintu lif, terlihat pintu lif terbuka. Ada dua wanita keluar dari situ.


“Cantiknya” kata Irvan dalam hati ketika melihat kedua wanita itu.


Irvan sangat kagum terhadap kecantikan mereka. Irvan kehilangan konsentrasi. Matanya tidak bisa berhenti menatap.


Kedua wanita itu menatapnya dengan gugup lalu datang mendekat membuat Irvan salah tingkah.


Keduanya tidak bicara apa-apa, tetapi langsung berlutut dan memohon ampun dihadapan Irvan.


“Ada apa ini?” Kata Tuan Leon kaget dan bingung, “Kalian iseng?” Tanyanya lagi.


Irvan pun sangat kebingungan. Dua wanita sangat cantik mempesona kini berlutut di depannya dan memohon ampun.


“Siapa mereka dan ada apa?” Pikirnya


Rupa-rupanya keduanya adalah Cika dan Tiara. Merekalah resepsionis yang tadi menghalangi Irvan di depan Lobi.


Irvan tidak ingat wajah mereka. Mungkin karena tadi mereka mengenakan seragam resmi hotel dan rambut juga dikonde sehingga mereka terlihat sangat formal, lalu sekarang mereka memakai gaun ketat dengan rambut terurai sehingga terlihat sangat feminism.

__ADS_1


“Kami adalah resepsionis yang tadinya menghalangi Tuan ketika hendak masuk,” kata Cika dengan sangat lembut.


“Apa ... kaliankah itu?” Tanya Tuan Leon marah.


Irvan kaget mendengarnya. Ia tidak percaya, lalu dengan sorot matanya yang meneliti, ia memperhatikan wajah keduanya dengan cermat. Sambil menganguk, dalam pikirnya ia berkata “mungkin.”


“Ayo bangun dan ikut kami!” Perintah Tuan Leon.


Lalu ia mengajak keduanya untuk ikut dengan mereka, karena dia tidak ingin memarahi karyawan hotel di depan banyak orang di lantai teratas itu.


Didepan lif, Tuan Leon mengambil handphonenya, lalu memencet tombol, setelah terhubung ia berkata kepada seseorang katanya “suruhlah semua pejabat di hotel ini agar sekarang juga menemui ku di ruang kerja mu” lalu ia mematikan handphonenya kemudian menekan angka 5 di pintu lif.


Di lantai lima, Tuan Leon bersama mereka menuju ke ruang kerja manager. Rupanya tadi ia menelpon pak Rei.


Ketika sampai disana semua jajaran pejabat hotel telah berklumpul. Namun tidak dalam posisi berdiri tetapi semuanya berlutut sambil memohon maaf. Begitu juga dengan Cika dan Tiara keduanya ikut berlutut.


“Ada apa ini?” kata Tuan Leon kebingungan lagi.


Lalu dijelaskan oleh Pak Rei, katanya merekalah yang menyuruh Cika dan Tiara ke lantai atas untuk memohon maaf secara pribadi, karena sikap merekalah, tamu terhormatnya Tuan Leon dipermalukan dan disiksa oleh Jero


Setelah memahami semua sikap itu, Tuan Leon meminta mereka semua berdiri, kecuali Cika dan Tiara. Lalu tanpa basa basi, ia katakan bahwa semuanya telah selesai. Jero dan para security telah mendapat bagiannya masing-masing.


Lalu Tuan Leon meminta mereka semua agar memperhatikan baik-baik wajah pria muda yang adalah Irvan dan berharap peristiwa mengecewakan tadi tidak terulang kembali.


Tuan Leon juga menyuruh segera siapkan kartu akses kepada Irvan dan selalu mengosongkan satu kamar super gold premium kepadanya untuk kapan saja Irvan datang kesini.


Selanjutnya kepada kedua wanita itu, Tuan Leon mempersilahkan Irvan untuk memberi hukuman apapun sesuai keinginannya.


Mendengar perkataan Tuan Leon, Cika dan Tiara yang sementara dalam keadaan berlutut, membungkukan kepala sambil memohon maaf. Keduanya pun menagis sehingga air mata membasahi pipi mereka.


Keduanya memohon ampun setulus-tulusnya sambil menyesali sikap yang dilakukan tadi. Mereka bersedia dihukum apa saja asalkan tidak dikeluarkan.


Irvan menatap wajah cantiknya Cika dan Tiara, hatinya tidak sanggup untuk menghukum mereka, apalagi ia seorang yang tidak bisa melihat wanita menangis, ia juga menyadari ada ketulusan terlihat dari wajah kedua wanita itu.


Diam diam dia berpikir “kedua orang ini tidak boleh ku hukum, mereka hanya patut untuk disayangi” lalu Irvan meminta mereka berdiri lalu ia berkata


"Aku belum memikirkan hukumannya saat ini. Pergilah dan tetap bekerja dengan baik. Setelah ku putuskan hukumannya batrulah akan ku beritahukan untuk menghukum kalian”


Cika dan Tiara mengangguk-angguk. Walaupun hukuman mereka di tunda, tetapi untuk saat ini bisa dipastikan mereka tidak mengalami nasip yang sama dengan Jero.


Setelah itu Tuan Leon meminta semuanya meninggalkan ruangan. Lalu ia bersama dengan Irvan dan Pak Rei ngobrol beberapa menit sambil menunggu kartu akses dicetak, kemudian mereka pamit meninggalkan hotel.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2