PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 28. Masuk dalam scenario Irvan dan Tuan Leon


__ADS_3

Viki sangat marah hingga terlibat pertengkaran keras dengan Jimi, ayahnya. Karena dia tidak lagi bersedia membantu Viki menyingkirkan Irvan.


Ia merasa ayahnya telah berubah dan tidak lagi menyayanginya. Karena standar kasih sayang orang tua bagi anak yang dipahami Viki selama ini adalah dengan mengikuti semua keinginan-keinginannya.


Viki memiliki cara berpikir demikian karena ia telah terbentuk sejak kecil seperti itu. Orang tuanya telah membesarkan dia dengan pola yang salah. Ia dididik dengan sangat manja. Apa saja kemauannya sejak kecil pasti diikuti. Biarpun keinginannya untuk menyusahkan orang lain.


“Kenapa begitu!” Jimi berusaha menenangkan Viki yang telah membanting-banting televisi di ruang keluarga dan beberapa barang lainnya.


“Lalu Aku harus seperti apa?” Balas Viki geram sambil melempar cangkir hias ke arah tembok sehingga pecahannya hampir mengenai Jimi.


“Hentikan!” Kata Jimi lagi dengan suara keras sambil berjalan cepat mendekati Viki.


“Kenapa!!?” Balas Viki lebih keras lagi.


“Prakkkk”


Terdengar suara tamparan keras mendarat telak di pipi kiri Viki.


Bagaikan langit dan bumi, Viki merasan ada perubahan yang begitu besar dalam diri ayahnya.


Air mata Viki langsung bercucuran keluar. Ia menangis seperti anak kecil.


Begitulah sifat aslinya Viki. Diluar sana ia selalu memposisikan diri sebagai orang yang paling tangguh, namun di rumah, sangat manja dan cengeng.


“Ayah tega pukul aku hanya karena Irvan. Aku kecewa dengan Ayah,” Kata Viki walaupun sangat marah, tapi masih terdengar ada nada manjanya.


Ia berlari ke kamarnya, mengambil dompet merahnya, meraih kunci mobil yang terbuang begitu saja di atas tempat tidur, lalu keluar.


Tidak lupa ia membanting pintu kamarnya keras-keras, menarik vas bunga kecil di sudut meja lalu dilemparkannya vas bunga itu ke jendela kaca rumah.


“Krekkkkkk”


Selembar kaca jendela runtuh tiada berbentuk, hancur berkeping-keping.


Ibunya yang tadinya berada di kamar dan kini tengah berdiri bersama ayahnya hanya bisa memegang kepalanya sendiri dengan kedua tangan sekeras-kerasnya sambil menangis menyaksikan luapan amarah dari suami dan putra tunggal kesayangan mereka.


“Viki, mau kemana kau … hah” Panggil Jimi sambil berjalan mengikuti Viki ke garasi mobil.


“Nak, mau kemana kamu, Nak?” Tanya ibunya yang juga sedang berjalan mengikutinya.


“Aku mau pergi!” Kata Irvan tegas sembari membuka pintu mobilnya, lalu masuk ke dalam, menutupnya kembali dengan sangat keras.


Tidak sampai semenit, mesin mobil telah dihidupkan, lalu tancap gas meninggalkan rumah.


“Halo, dimana kamu?” Kata Viki sesaat setelah telponnya terhubung, “baiklah, Aku ke sana sekarang. Tunggu Aku disitu.”


“Anjas, tolong ke rumah ku sekarang, minta ke Ibu ku semua pakaian dan kebutuhan perkuliahan ku. Jangan banyak tanya. Nanti ku jelaskan. Terima Kasih.” Kata Viki melalui Voice note yang ia kirimkan kepada Anjas.


“Reis dimana kamu? Malam ini aku pinjam apertemen mu!” Kata Viki lagi melalui Voice Note yang ia kirimkan juga kepada Reis.

__ADS_1


Pikiran Viki kacau, ia sangat marah kepada ayahnya yang tidak lagi mau membelanya. Kemarahannya semakin menjadi tak kala ia mengingat nama Irvan, karena semua itu ada hubungan dengannya.


“Dasar orang  miskin, bang**t lho Irvan,” teriak Viki keras di dalam mobilnya  sendiri sambil memukul-mukul setir mobilnya.


“Hahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh” kekacauan berpikir semakin menumpuk di pikirannya membuat ia menginjak keras pedal gas semakin kuat.


Mobilnya melaju kencang.


“Aduhhhhhhhhhhh.”


Viki berteriak kuat sambil memutar arah setirnya ke kanan, lalu kembali ke kiri untuk menstabilkan jalan mobilnya.


“Fania” teriak Irvan kencang sambil memegang erat kedua bahu Fania lalu ia mendorongnya sehingga mereka sama-sama terjatuh di pinggir jalan.


Rupanya ada sebuah mobil melaju kencang hampir menabrak mereka yang tengah menyebrang jalan.


“Syukur … syukur itulah kata yang terus di ucapkan Fania dan Irvan saaat mereka selamat dari tabrakan itu.


Setelah mobilnya stabil Viki terus melajukan mobilnya, lalu ia berputar di jalur putaran untuk kembali melihat siapa pasangan yang hampir ia tabrak tadi.


“Brengsek … Anj*ng lo berdua\, bang**t kalian.” Teriak Viki memaki-maki orang yang hampir ia tabrak.


Ia marah sekali sekaligus menyesal karena tidak mengetahui jelas kedua orang itu di awalnya. Jika benar benar ia tahu itu Irvan dan Fania, tentunya ia langsung menabrak.


“Bodoh … sial,” maki VIki kepada dirinya sendiri di dalam mobilnya sambil terus melaju menjauhi lokasi kejadian.


“Iya, aku juga menduga begitu,” sambung Irvan. “Tapi sudahlah, kita tidak punya buktinya, lagian kita juga tidak kenapa-kenapa.” Katanya lagi sambil mengajak Fania kembali melanjutkan perjalanan mereka.


Ditempatnya, Lidia tengah duduk menikmati hiburan melalui saluran media social di HP-nya, sembari menunggu kedatangan Viki.


Rupanya yang dihubungi Viki tadi adalah Lidia, teman kelasnya Fania.


“Buarrrrr”


Teriak Viki mengagetkan Lidia.


“Ahhhhhhhh,” Kak Viki, mengagetkan saja,” katanya dengan nada manja.


Lalu mereka berbasa-basi sebentar, kemudian Viki mengajaknya ke tempat hiburan untuk bernyanyi sambil minum-minum agar menenangkan diri.


Sebenarnya Lidia tidak begitu tertarik dengan tempat hiburan. Dia tidak biasa ke tempat seperti itu. Memang kadang-kadang ke sana juga sih, tapi selalu melihat siapa dulu orang yang mengajaknya.


Saat ini, seandainya saja yang mengajaknya Anjas, pasti ia menolak, tapi jikalau Reis atau Viki, maka dengan senang hati ia mengikutinya, dan persis sekarang, Vikilah yang meminta ia menemani.


“Baiklah Kak Viki, aku mau.” Ucapnya dengan senyum yang penuh arti.


“Oke, kalau begitu, jangan tunggu lama!” Ajak Viki seolah kemarahannya telah hilang.


Tanpa menunggu waktu yang lama, mereka tiba di tempat hiburan lalu bersenag-senang di sana.

__ADS_1


Satu jam berselang, Viki dan Lidia mulai saling menatap. Mata mereka terlihat mulai sayup dan bahan pembicaraan mereka pun mulai lebih berani.


Tangan Viki perlahan menyentuh lengan Lidia sambil perlahan memijanya dengan halus, sementara Lidia pun mulai menggerakan tangannya hendak membalas, namun tiba-tiba terdengan deringan hendpnone Viki mengagetkan mereka.


Semua pikiran Viki hilang secara tiba-tiba. Segera meraih handphonenya, dilihatnya, lalu memencet tombol kemudian dengan nada sayu Viki berkata “kenapa?”


“Datang ke tempat mangkal, kita bertemu di sana, karena ada informasi baru yang aku dapatkan!” Kata si penelpon yang ternyata adalah Anjas.


“Baiklah.” Viki segera memutuskan teleponnya, lalu merangkul bahu Lidia kemudian mengajaknya keluar.


Ada kekesalan di wajah Lidia, peluangnya untuk dekat dengan VIki, malah menjadi hilang. Namun apa daya, dia hanya bisa mengikuti saja sampai Viki mengantarnya tiba di depan rumahnya.


“Kak … kalau mau kesana lagi, aku siap menemani” Tawar Lidia penuh ekspresi.


“Oke, aku akan hubungi mu lagi nanti” Kata Viki sambil mengangguk untuk meyakinkan, lalu kembali melajukan mobilnya pergi ke tempat mangkal di area pusat kota.


“Informasi apa?” Kata Viki tidak sabaran, ketika ia tiba.


“Duduklah dulu teman … “ Kata Anjas hendak memulai cerita, namun ia mencium aroma alkohol “Hei Viki …” teriaknya. ”Kamu menggoda wanita lagi ya?”


“Ah, tidak, hanya teman biasa,” ucap Viki menyembunyikan identitas Lidia.


“Kebiasaan kau!” Anjas tidak mau percaya, sebab hampir setiap bulan, Viki selalu menghabiskan satu malamnya bersama wanita di hotel.


Setelah Viki duduk, Anjas mulai memnceritakan informasi yang ia dengar.


“Begini teman” katanya mengawali ceritanya.


Lalu Anjas mulai berkata bahwa ternyata perubahan kebijakan di kampus ada kaitanya dengan Irvan.


Ia melanjutkan cerita bahwa kejadiannya bermula dari penggusuran kampung mulung. Waktu itu Irvan dikeroyok warga hingga masuk rumah sakit akibat ide profokasi dari mu.


Kejadian itu ternyata menarik simpatik Tuan Leon, tangan kanannya pemilik Parker Grup,sehingga ia meminta anak buahnya mencari tahu penyebabnya.


Menurut cerita yang aku dengar, setelah Tuan Leon mendapatkan informasinya bahwa semua itu bermula dari penindasan kita kepada mahasiswa miskin di kampus, makanya ia langsung menemui rektor dan menekannya.


Tidak saja rektor yang ia tekan, ternyata juga orang tua kita ikut diancam oleh anak buahnya agar jangan lagi ikut campur urusan Star Ling University. Itulah kenapa, mereka menjadi takut berurusan dengan kampus.


Rupa-rupanya semua scenario yang telah di susun oleh Irvan dan Tuan Leon ternyata benar-benar ampuh mengendalikan VIki dan gengnya.


Saat Pak Fais mengancam Jimi beserta orang tua Anjas dan Reis, dia menceritakan alasan sebagaimana yang kini diketahui oleh Anjas dan Irvan.


Itu semua sengaja dilakukan untuk sedikit memberi tekanan psikis kepada Viki dan kawan-kawannya.


Masih ada scenario besar rancang Irvan dan Tuan Leon yang sedang menunggu waktu untuk pecah.


“Kurang aj*r. Gara-gara kau … aku di pukul ayah ku. Bangs*t lu Irvan\,”  teriak geram Viki sambil memaki-maki setelah mendengar semua cerita Anjas. “Tunggu balasan ku\,” teriak Viki lagi.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2