PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 8. Di Keluarkan dari Kampus


__ADS_3

“Irvan, bagaimana dengan rambut ku, apakah menurut mu sudah rapi? Tanya Fania


Kalau pakaian ku? Wajah ku? Apakah ada yang aneh? Tanyanya lagi untuk memastikan penampilannya, karena semua mata mulai tertuju pada mereka seraya meneliti bagian tubuh mereka sambil berbisik-bisik lalu tertawa.


Irvan dan Fania yang baru saja keluar dari perpustakaan merasa ada yang aneh dengan tatapan mahasiswa yang mereka temuai itu.


“Ada apa ini! Kok semua mata tertuju pada kita?” Tanya Fania yang mulai merasa risih.


Irvan yang juga peka dengan keadaan, telah menyadari bakal ada sesuatu yang akan terjadi atas mereka.


Ia mengajak Fania agar berjalan lebih cepat supaya segera tiba di gerbang kampus untuk kembali ke rumah.


Baru beberapa langkah berjalan, seseorang datang menghampiri dan bertanya bahwa apakah mereka adalah Irvan dan Fania.


Irvan menoleh ke arah orang itu, menganggukan kepala sebagai tanda tebakan itu benar, lalu kembali mengarahkan pandangan ke depan dan hendak berlalu pergi.


Tetapi orang itu meminta mereka agar sebaiknya jangan pergi dulu, karena sedang ditunggu oleh Rektor dan semua dosen.


“APA?” Irvan dan Fania kaget, dengan serentak mereka menghentikan langkah.


Berbalik dan bertanya ke orang itu tentang mengapa mereka di tunggu.


Tanpa basa basi orang itu menjawab singkat


“Semua mahasiswa telah melihat dan kenal bahwa wajah di foto itu adalah kalian berdua. Mungkin karena itu jugalah, pengurus kampus ingin bertanya langsung pada kalian.”  Jawab orang itu singkat


“Foto…! Memangnya ada apa? Tanya Irvan dan Fania bingung


“Memangnya kalian belum melihat apa yang ada di grup whats up mahasiswa?” Tanya orang itu sambil mengeluarkan handphonenya ingin menyerahkan pada Irvan.


“Handphone ku rusak, karena kemarin terendam air.” Kata Irvan


“Punya ku juga sama” Sambung Fania.


Lalu keduanya melihat fhoto dari handphone yang diberikan orang itu.


Rupanya ketika beberapa jam Irvan dan Fania berada di perpustakaan, fhoto mereka mulai disebarkan melalui media sosial


“Buar ....”


Keduanya kaget yang luar biasa


“Ini palsu!” Kata Irvan

__ADS_1


Fania langsung menagis, sambil melihat ke arah Irvan lalu berkata padanya bahwa ia mengira Irvan tulus menolongnya, tapi ternyata dibalik semua itu ada maksud jahat.


“Kak Irvan berbuat kurang ajar ketika aku pingsan,” kata Fania kesal dengan raut wajahnya yang sangat sedih.


Irvan ingin menjelaskan tetapi tidak mendapatkan kesempatan.


Fania telah berbalik lalu lari ke ruang rapat Rektor untuk memberi laporan.


Mengetahui arah perginya Fania, Irvan pun mengejarnya dengan cepat hingga sampai bersamaan di ruang rapat.


Setelah mengetuk pintu, keduanya masuk.


Bukan dengan kata-kata, tetapi semua orang yang berada di ruangan itu, menyambut mereka dengan sorot mata mereka yang menyelidik.


Tubuh Irvan dan Fania terasa membeku, kaku tidak berdaya dihadapan mereka.


Di ruangan itu, ada Rektor yang duduk persis di kursinya, dihadapan samping kiri dan kanannya ada para dosen, lalu persis berhadapan dengan Rektor ada 2 kursi kosong yang sengaja disiapkan untuk Irvan dan Fania.


“Silahkan duduk” kata Rektor beberapa saat kemudian langsung memecahkan keheningan diruangan itu.


“Terima Kasih” Kata Fania dan Irvan sambil berjalan kearah kursi lalu duduk.


Tanpa berbasa basi, Rektor berkata “Rapat kita lanjutkan”


Setelah beberapa kalimat diucapkan, Rektor meminta Fania dan Irvan untuk memberi klarfikasi.


Klarifikasi hanyalah formalitas, karena tuntutan prosedur. Untuk itulah mereka masih menunggu keduanya.


“Silahkan Fania lebih dahulu,” kata Rektor mempersilahkannya berbicara.


Sebelum bicara, Fania kembali mengangis.  Antara marah, kecewa dan malu bercampur menjadi satu.


Hal ini adalah satu kejadian luar biasa yang baru pertama kali terjadi dalam hidupnya. Walaupun sering dilecehkan, tetapi secara se*ual fisik belum pernah terjadi.


Sementara para peserta rapat yang mayoritasnya adalah orang dewasa sangat mengerti dengan keadaan itu sehingga membiarkan Fania memuaskan dirinya dengan menagis.


Setelah puas menagis, Fania bercerita bahwa awalnya dia ke kolam untuk membersihkan. Kerena banyak daun berada ditengah kolam, ia berdiri ditepi, agar alat penyaring bisa sampai ke dedauan.


Tetapi Ia tidak menyadari bahwa tepi kolam sangat licin. Ia terpleset, jatuh, tenggelam dan pinsan hingga beberapa waktu kemudian, ia sadar dan menemukan dirinya ada di pinggir kolam bersama Irvan yang berada persis disampingnya.


Fania pun terus menceritakan semua kejadian sebagaimana yang terjadi. Tetapi mengenai dia bisa ada bersama dengan Irvan di semak-semak seperti pada foto itu, dia tidak menyadarinya.


“Mungkin, Irvan yang membawaku kesana disaat aku pinsan.” Kata Fania mengakhiri penjelasannya.

__ADS_1


Sambil mengangguk-angguk, Rektor mempersilahkan Irvan memberi klarifikasinya.


Irvan yang telah menyadari bahwa semua ini pasti ulah Viki dan kawan-kawannya, ingin menuduh mereka, tetapi ia tidak punya dasar dan bukti apapun. Ia juga tidak memiliki keahlian untuk menilai foto palsu atau asli


Ia menarik napas dalam-dalam, mengangkat doa dalam hati, berharap penjelasannya di terima. Lalu menceritakan semua kejadian sebagaimana terjadi tadi tanpa mengurangi sedikitpun.


Ceritanya pun sama seperti ungkapan Fania, hanya sedikit perbedaan mengenai foto. Irvan melanjutkan bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang semak-semak itu.


Sementara posisinya yang terlihat pada foto itu seperti sedang mencium Fania, di akuinya.


Mendengar pengakuan Irvan tersebut, semua dosen berbalik kiri dan kanan, sambil berbisik-bisik sesuatu.


Kemudian Irvan melanjutkan bahwa tindakan dalam foto itu sebetulnya bukan mencium Fania dalam artian negatif seperti anggapan orang pada umumnya.


“Pada saat itu, aku memberi napas buatan, karena Fania pingsan akibat tenggelam!” Kata Irvan tegas


Mengenai tempat ia memberi napas buatan itu, tepat persis di samping kolam, bukan seperti yang ada di foto tersebut.


Jadi, menurutnya ada orang yang sengaja memotret kejadian itu lalu merekayasa fotonya untuk menjebak mereka.


Setelah mendengar penjelasan Fania dan Irvan, Rektor tersenyum, diikuti tertawa kecil dari seluruh dosen di ruangan itu.


“Irvan.. Fania.., kalian benar-benar luar biasa bermain sandiwara, tetapi kami bukan anak kecil yang bisa kalian tipu” kata Rektor.


“Hebat sekali kalian merangkai cerita, seolah-olah ada orang yang menjebak kalian,” lanjut Rektor.


“Siapa sih kalian, sehingga ada orang yang ingin melakukan seperti itu terhadap kalian? Dan apa keuntungan mereka dari penjebakan itu?” Tanya Rektor dengan marah. Lalu Rektor melanjutkan, katanya:


“Seperti dugaan kami, pasti tidak ada pengakuan dari kalian. Karena perbuatan tercela itu merusak nama baik Star Light University, maka kalian di keluarkan” kata Rektor mengakhiri rapat tersebut dan disambut tepuk tangan meriah.


Mendengar keputusan tersebut, Fania langsung bereteriak histeris dalam tangisan. Ia menolak keputusan itu. Ia tidak ingin dikeluarkan dari sana. Menurutnya dia adalah korban.


Sambil menangis, Fania berlutut di depan pintu keluar ruang rapat. Ia menghalangi jalan Rektor saat hendak keluar. Fania terus memohon belas kasihan hingga ia mencium kaki Rektor sebagai tanda kerendahan hati.


Sebenarnya Rektor tidak percaya dengan apa yang ada di foto itu. Karena ia tahu persis integritas Irvan.


Sebagai orang yang berkelakuan paling baik di kampus, meskipun disiksa, dihina dan dipermainkan sedemikian rupa, Irvan tidak pernah membalas. Orang yang sedemikian baik itu, tidak mungkin melakukan tindakan keji seperti yang dituduhkan.


Tetapi mau bagaimana, Rektor sendiri yang ternyata mendapatkan foto itu dari orang tua Viki, juga diperintah untuk segera mengeluarkan keduanya. Sehingga Rektor tetap berkeras hati.


Irvan yang sedari tadi hanya duduk terpaku karena kehilangan akal, kini melihat Fania sementara berlutut di kaki Rektor sambil memohon belas kasihan, akhirnya iapun ikut berlutut dan memohon.


Irvan telah pasrah terhadap dirinya, tetapi ia memohon agar Rektor dapat membantu Fania.

__ADS_1


Harapan itupun sia-siap. Rektor tetap pada keputusannya. Lalu dengan keras menolak mereka hingga jatuh, kemudian Rektor dan para dosen keluar dari ruangan tersebut.


Bersambung…


__ADS_2