PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 22. Berdua Melepas Rindu


__ADS_3

“Kembali ke tempat tinggal mu yang sekarang atau ku antarkan ke villa?” Tanya Tuan Leon kepada Irvan ketika mereka tiba diparkiran.


“Ah tidak usah tuan. Aku ke rumah ku saja,” jawabnya.


“Baiklah kalau begitu. Ayo naik biar ku antar.”


Ajakan itu ditolak Irvan karena selain tidak mau merepotkan Tuan Leon, nanti bisa mengundang perkatian banyak orang, karena seorang gembel di antar menggunakan mobil mewah.


“Wah … kamu, bisa aja.”


Tuan Leon tertawa sambil mengiyakan keinginan Irvan.


“Baiklah kalau begitu. Hati-hatilah dijalan.” Lalu merekapun berpisah.


Sejak kemarin Irvan telah mendapatkan tempat tinggal yang baru. Bekas rumah kecil milik pegawai perusahaan Parker Grup.


Rumah itu sengaja di kontrakan kepada Irvan, lalu pemiliknya diberikan rumah baru. Tujuan mereka hanyalah demi menutupi sementara identitasnya.


Irvan bersama ibunya tinggal di sana. Rumahnya kecil, tapi lebih baik dari gubuk mereka di kampung mulung. Ada 3 kamar tidur, ruang keluarga, ruang makan terpisah dan ada juga dapur.


Berbeda dengan rumahnya yang lama, sangat kepanasan saat siang, dirumah ini, setiap kamarnya dilengkapi dengan AC.


Irvan juga secara resmi telah bekerja di sebuah perusahaan kecil milik Parker Grup. Ia bekerja sebagai anggota tim analis brand di bagian pemasaran. Gajinya lumayan.


Hal itu juga  dilakukan mereka supaya bisa mengelalui pertanyaan orang tentang dari mana uang yang ia dapatkan untuk membayar sewa kontrakan. Lagian, secara kualitas Irvan juga sangat hebat di bidang pemasaran.


Setelah Tuan Leon pergi, Irvanpun berjalan meninggalkan hotel, dia ingin memesan taxi dari jarak yang agak jauh.


Tidak lama berselang, sebuah taxi berhenti di depannya. Ia naik, menyampaikan tujuannya, lalu tanpa banyak komentar mereka melaju pergi hingga setengah jam kemudian sampailah di rumahnya saat ini.


Setelah dua kali mengetuk pintu, ibunya yang sedang di dapur, langsung datang untuk membukakan pintu. “nak kamu sudah pulan?g” katanya dengan senang, karena melihat Irvan yang pergi sejak pagi telah kembali.


“Iya Bu, maaf ya, aku baru kembali.” Irvan sepertinya tahu arah pertanyaan ibunya.


Lalu ia masuk dan mereka bercerita sambil dibuatnya kopi oleh ibunya.


“Maaf bu, sehabis minum kopi, aku harus keluar lagi, karena ada janjian sama Fania,” ucapnya sambil senyum senyum.


“Fania yang kamu ceritakan kemarin ya?” Tanya Ibu Kor sambil senyum melihat ke wajah Irvan yang sedikit malu.


“Baiklah, tidak apa-apa. Ibu ngerti kok. Ibu akan menunggu mu di rumah saja.” Katanya lagi sebelum dijawab Irvan.

__ADS_1


Selesai minum kopi, Irvan berbaring sejenak, sekedar merenggangkan otot-ototnya, lalu ia bersiap-siap.


Baru kali ini Irvan seperti orang kebingungungan. Ia berganti pakaian secara berulang. Tidak punya rasa percaya diri membuatnya terus memperhatikan dirinya di depan cermin sampai ibunya mengingatkannya kalau waktu sudah pukul 19.00 malam.


“Waduh ...” sesahnya, baru kali ini ia seperti itu.


Tidak lagi memperdulikan penampilannya, Irvan keluar dari kamarnya dengan mengenakan sebuah kemeja lengan panjang, membuat tampilannya sangat formil seperti orang yang hendak mengikuti seminar.


Ibunya tersenyum sambil bertanya “Van, mau bertemu Fanianya dimana?”


“Di dekat pertokoan, Bu, ada tempat jualan bubur kacang disana.” Jawabnya membuat ibu Kor hampir memuncratkan air yang sementara diminumnya.


Untung saja ia kuat menahan mulutnya, namun batuk-batuk tida bisa dihindari.


“Kenapa Bu?” Irvan penasaran karena ibunya tidak seperti biasanya.


“Nak, gantilah pakaian yang bisa membuat mu terlihat lebih santai,” katanya membuat Irvan tersenyum malu, lalu kembali ke kamarnya dan berganti dengan kaos polong berleher bundar.


Dua menit kemudian, Irvan keluar dan berdiri dihadpan ibunya lalu meminta komentar dengan penampilannya saat ini. Ibunya yang tau memberi semangat, hanya mengajungkan jempol sambil menganguk-angguk kepadanya.


Irvan terlalu bersemangat lalu berbegas keluar dengan cepat pergi ke tempat tujuan.


Faniapun demikian, ia seperti siswa kelas 3 SMA yang dirundung rasa suka kepada lawan jenis.


Ia sendiri malu dengan sikapnya yang berubah. Jantungnya bergetar cepat, “ah, kenapa aku bisa segugup ini” pikirnya dalam hati, lalu sekali lagi ia membelakangi kaca lalu kemudia berbalik setengah lingkaran untuk melihat sisi belakang penampilannya.


Setelah dirasa cukup, Fania berpindah ke bagian wajahnya.


Sebenarnya ia adalah gadis yang tidak terbiasa lama-lama merias diri di depan kaca, tapi kali ini alam bawah sadarnya memerintahkannya untuk tetap disana.


Memang sedari kecil ia hidup dalam keterbatasan, sehingga mana ada uang untuk membeli kebutuhan kecantikan, namun sahabatnya Tya yang mengerti dirinya membelikannya sepaket kosmetik beberapa waktu yang lalu.


Sahabatnya itu sangat peka, sehingga ia tahu kalau Fania sedang jatuh cinta, makanya ia mengajak Fania ke toko kecantikan lalu ia belikan semua itu. Tujuannya hanya satu, agar sahabatnya tampil percaya diri dan semakin cantik di depan Irvan.


Dibukanyalah laci meja,  diraihnya lipstick berwarna merah muda lalu dioleskannya pada bibir tipisnya, kemudian ia senyum sendiri. “Baru kali ini aku memakai lipstick” pikirnya dalam hati.


“Ah cukuplah, aku belum terbiasa menggunakan yang lainnya” lalu ia oleskan sedikit bedak, kemudian menyimpannya kembali semua kosmetiknya ke dalam laci meja.


Fania pun meninggalkan rumah lalu pergi.


Di tempat penjualan bubur kacang, tampak Irvan sedang asik mengobrol dengan Ibu Rati, ia kembali menceritakan kisah yang dialaminya bersama Fania.

__ADS_1


“Ia Bu, kami dijebak,” katanya, setelah ditanya oleh Ibu Rati.


“Aku sudah menduganya dari awal, sejak Fania cerita pada ku, tapi syukurlah semuanya sudah beres,” kata Ibu Rati lagi dengan senyum.


“Betul Bu. Aku juga senang,” ucap Irvan jujur, sambil kembali menoleh ke seberang jalan, karena orang yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang.


Kegelisahan mulai muncul dalam hati. Pikirannya mulai liar ke mana-mana, ia belum juga melihat Fania menampakan dirinya.


“Silahkan nak Irvan, dicoba dulu, bubur kacangnya” kata Bu Rati mengagetkan Irvan yang sedang bengong.


“Wah … iya-iya, terima kasih Bu, pasti enak,” katanya tidak konsentrasi.


Begitu suapan pertama dimasukan ke mulutnya, Faniapun muncul.


Irvan terkagum-kagum melihat sosok bidadari dalam rupa Fania malam itu. Matanya ternganga, mulutnya tidak sempat mengunya lagi, bubur kacang langsung ditelannya begitu saja.


“Uhuk-uhuk”


Rupanya Irvan terbatuk-batuk. Entah karena salah menelan atau ada hal yang lainnya, hanya dia yang tahu, tapi sikapnya itu sontak membuat Fania tersipu, ia sadar kalau Irvan seperti itu karena terpesona dengannya.


Fania berespon dengan cepat, menghampiri Ibu Rati, lalu berusaha memberi pertolongan pertama. Ia mengambil segelas air dan memberikannya pada Irvan.


Suasana itu terasa aneh sekali. Fania dan Irvan kelihatan sama-sama salah tingkah.


Irvan sebenarnya belum mebutuhkan air, karena setelah dua kali berbatuk, rongga lehernya kembali normal. Tapia apa dikata, segelas air telah disuguhkan kepadanya oleh orang yang membuatnya batuk.


Irvan meraih air itu, lalu meminumnya sampai habis. Ia seperti orang yang kehausan.


Bu Rati terus tersenyum melihat tingkah kedua orang di dekatnya.


Ia tahu, kalau-kalau mereka salaing jatuh cinta.


“Em …” Belum sempat Ibu Rati berkata, Fania terlebih dahulu meresponnya dengan bertanya “bagaimana Bu, ada yang bisa Fania bantu?”


Pertanyaan itu justru mebuat Ibu Rati  tidak mampu menahan senyumnya hingga membuat ia kembali tersenyum dengan lebarnya.


“Nak Fania, Ibu senang melihat mu malam ini,” uacapnya jujur membuat Faniapun tersenyum malu malu.


Lalu Bu Ratipun mengambil bubur kacang dan menyuguhkan kepada Fania lalu menyuruhnya menemani Irvan cerita-cerita. Biarlah malam ini, dia sajalah yang menjual bubur kacang.


“Hari ini kan kalian baru kembali akur, Ibu tidak ingin mengganggu kalian, pakailah waktu ini untuk bercerita jujur sesuai kata hati kalian,” ucap ibu Rati sambil senyum-senyum seolah memberi isarat.

__ADS_1


Irvan dan Fania bergeser ke meja ujung sengaja menjauhi Ibu Rati lalu berdua melepas rindu dengan ngobrol seru sambil menikmati bubur kacang.


Bersambung...


__ADS_2