
Siang itu Fania baru bangun, ia sama sekali tidak menyadari telah pukul 11.00. Matanya masih sedikit tertutut, sambil membusungkan dada ke depan, meluruskan kedua tangan untuk merenggangkan otot.
Fania mengucapkan beberapa kata doa sambil duduk di atas tempat tidur, lalu turun dan menuju sebuah cermin besar di kamar itu. Semalam ia ingin menghabiskan waktunya di sana, tetapi malu karena Irvan masih disitu.
Belum pernah ia memandang tubuhnya di depan cermin sebesar itu. Cermin miliknya di rumah hanya seukuran Map Kertas.
Fania menatap seluruh tubuhnya dari atas sampai ke bawah berulang kali, namun belum puas. TIba-tiba seperti memikirkan sesuatu, ia cepat pergi memastikan pintu terkunci dengan baik, lalu kembali ke depan cermin.
Beberapa saat berselang, secara perlahan, satu demi satu setiap helaian kain yang menutupi lekukan tubuhnya ia lucuti hingga tak tersisa. Tinggalah kulit kosong yang sangat kencang, erat menutupi seluruh daging tubuhnya.
Fania memandang bagian-bagian tubuhnya di depan cermin. Sesekali ia mundur agak menjauh dari kaca, lalu kembali dekat untuk melihat dengan cermat.
Ia memperhatikan secara perlahan dari ujung kaki, lalu perlahan naik ke atas, terus perlahan, sampai … Fania senyum lalu terus lagi. Kini matanya menatap persis pada dua gugusan kenyal itu dengan serius.
Tidak puas memandang dari cermin, Fania menundukan kepalanya ingin melihat secara langsung, namun juga belum puas, ia mendekat dan semakin dekat lagi ke kaca dan melihat lagi. Ia kembali tersenyum.
Tangannya perlahan terangkat, masing-masing menyentuh bagiannya sendiri-sendiri, sedikit meremas, dia rasakan kekenyalannya, kemudian dengan ibu jarinya ia mengelus-elus beberapa kali, lalu berbalik, menoleh, menyipitkan matanya untuk melihat bagian tubuhnya yang lain dari belakang.
Fania kembali menghadap kaca, memandang wajahnya dengan serius lalu berkata “Aku tidak akan membiarkan siapapun merengguk kesempurnaan ini sampai malam pertama pernikahan.” Ia mengangguk angguk kepalanya tanda menyetujui komitmen dirinya sendiri, lalu meninggalkan cermin menuju kamar mandi.
Beberapa waktu berselang Fania yang telah selesai membersihkan diri dan mengganti pakaian, meraih handphonenya di atas meja, seperti biasaannya mengecek waktu dan pesan masuk.
“Wahhhhh”
Betapa terkejutnya. Saat ini telah pukul 11.39. “Benar-benar bodoh aku,” makinya sendiri. Ia malu, bangun sangat kesiangan di rumah orang. Dikiranya masih pagi, karena udaranya segar, tapi ternyata karena AC.
Ia juga kaget sekali, di layar handphone tertulis 23 panggilan tak terjawab. Selain karena kebiasaan harus mengecilkan suara nada dering, Fania juga sangat terlelap dalam tidur malamnya.
Enam dari dua nomor tidak di kenal, satu kali dari Irvan dan enam belas kali Viki memanggil. “Siapa pemilik nomor baru ini, dan mengapa Viki?”
“Jam 24.17 dan terkahir masih menghubungi ku juga jam 02.10 dini hari. Nomor baru ini juga menelpon diwaktu yang sama.” Ada apa mereka, pikir Fania setelah memperhatikan detail waktunya.
Fania masih menimbang dalam hati, apakah ingin menghubungi dua nomor baru itu atau segera menelpon kembali Viki, namun belum diputuskan, tiba-tiba pintu kamarnya di ketok.
Tok, tok, tok…
__ADS_1
Fania menyimpan handphonenya di atas tempat tidur, lalu segera membuka pintu.
“Halo Nona Muda Puteri.” Ucap Enti Dewi ketika pintu telah terbuka. Ia sengaja tidak mau mengucapkan selamat pagi atau siang, karena takut menyinggung perasan.
“Eh Kakak, maaf aku kesiangan.” Ucap Fania menyadari diri sambil tersenyum .
“Wah, Nona Muda, bangunnya jam berapa pun tidak apa-apa, yang terpenting nyaman dan bisa tidur nyenyak.”
“Oh Iya, aku sih nyenyak sekali … lagian juga baru kali ini aku bisa menikmati tidur malam seperti ini. Jujur Fania, lalu berkata lagi, “ Jangan panggil nona muda, Fania saja,”
“Aduh … bagaimana ya, soalnya itu perintah Tuan Besar, aku akan dimarahi kalau nantinya ia dengar. Nona Muda juga tolong, panggil aku Enti saja, jangan pakai Kakak. Aku cuma asisten di rumah ini, lagian kalau diperhatikan umurpun kita sama”
“Jangan, begini saja, kalau di depan orang lain, kita saling memanggil seperti keinginan mereka, tapi disaat sendiri, aku panggil kamu Kakak dan Kamu boleh panggil aku Fania saja atau teman juga boleh.” Ucap Fania tulus membuat Enti Dewi terharu.
“Akan ku panggil kamu Nona saja disaat kita sendiri, bolehkan Nona Muda ku, hehehe … “ Keduanya tertawa akrap, lalu Enti Dewi berkata lagi “ini yang ketiga kalinya aku kemari lho.” Lalu tersenyum.
“Apa”
“Iya, di rumah ini setiap orang musti sarapan. Jadi Aku harus membangunkan mu, tapi …” Enti Dewi tidak meneruskan. “Ayo kita ke ruang makan.”
***
“Aku juga tidak tahu apa yang mereka perbincangkan, tapi sepintas aku dengar saat mengantar minum tadi sepertinya mereka lagi membicarakan kasus pembunuhan gitu, ada hubungannya keluarga Marks”
Fania menoleh, lalu mencoba menggali informasi dari Enti Dewi tentang apa saja yang mungkin ia ketahui tentang keluarga Marks selama bekerja di sana. Namun sayangnya tidak ada yang Enti Dewi ketahui. Bahkan nama keluarga itu saja baru ia dengar saat ini.
“Tu … mereka yang di dalam saja, kebanyakannya baru aku lihat hari ini. Ada yang seram lho wajahnya”
Fania mengerutkan dahinya, berpikir sejenak, lalu bertanya kemana Irvan.
“Sejak pagi Tuan Muda menunggu mu disini, ia gelisah lho.” Goda Enti Dewi membuat Fania tersenyum, “ia ingin kalian sarapan bersama Tuan Besar, tapi, yah, karena ngak datang-datang, mereka sarapan lebih dahulu.”
“Tuan Muda menitipkan pesan, kalau ia harus bertemu teman-temannya membahas rekreasi besok, ia juga masih akan bersama ibunya pergi menjenguk … menjenguk … siapa ya? Aku lupa, pokoknya kerabat mereka waktu masih di kampung mulung, katanya lagi sakit keras.”
“Ouw hanphone ku.” Fania pamit ke kamar, ingin menghubungi Irvan dan Viki. Namun hanya sebentar saja lalu bergegas kembali menjumpai Enti Dewi.
__ADS_1
“Kakak, HP ku mati, chargernya tak ku bawa.”
“Waduh … “ Pikir Enti Dewi dalam hati, sambil memperhatikan model HP-nya Fania, “Nona, maaf, sepertinya charger … aku akan cari dulu ya.” Enti Dewi sengaja tidak meneruskan kata-katanya, sebab ia tahu type HP itu sangat murahan dan tidak dimiliki oleh mereka.
Fania sadar dengan type HP nya dan pasti akan menyulitkan Enti Dewi, karenanya ia tidak ingin memaksakan. “Kakak, jangan kuatir kalau tidak ada. Aku aman kok walau tanpa HP seharian.” Ucapnya membuat Enti Dewi tersenyum.
Memang Fania tidak seperti kebanyakan anak zaman sekarang yang hidupnya sangat bergantung pada HP.
Ia meminta Enti Dewi mengambilnya beberapa majalah, lalu dibawa ke kamarnya untuk dibaca sambil menunggu kedatangan Irvan.
Saat hendak ke kamar, Enti Dewi kembali memanggilnya “Nona Fania … “
“Iya …ada apa?“
“Pesan Tuan Muda, Nona harus menunggunya.” Ucap Enti Dewi sambil senyum menggoda.
***
Di tempat berbeda, Viki mondar-mandir, tidak tenang. Ia sudah berusaha bangun pagi dan mencari Fania di rumahnya, namun nyatanya tidak bertemu juga. Lima kali ia terus ke sana, tapi hasilnya sama saja.
Menurut beberapa orang, Fania dijemput oleh seseorang yang belum pernah mereka lihat datang ke situ dengan menggunakan mobil. Ciri orang itupun berbeda dengan Irvan.
“Dimana Fania dan siapa orang itu?”
Tujuan Viki hanyalah untuk meracuni pikiran gadis itu agar hubungannya dengan Irvan menjadi rusak, namun saat ini ia menjadi kuatir jangan-jangan Fania telah diapa-apakan orang yang menjemputnya.
Kekuatiran itu bukan lahir dari ketulusan atau karena peduli, tapi sebenarnya mengandung niat jahat. Seperti kebiasaannya pada banyak gadis, Viki ingin menjadi orang pertama yang mengapa-apakan Fania sebelum orang lain menyentuh tubuhnya.
Jahat sekali keinginannya. Ia mencoba lagi untuk menelpon, namun hasilnya lebih menjengkelkan. Semalam ia mencoba berpikir positif saja, karena menghubungi wanita dengan tengah malam, pasti tidak diangkat, tapi sekarang handphone Fania malah telah dimatikan.
Ia menatap Via dan Reis dengan kesal lalu bertanya “Bagaimana menurut kalian?”
“Mau bagaimana lagi, kita hanya bisa menunggu!” Ucap Reis santai. Namun dari Via, mereka mendapat saran baik.
Ibu penjual bubur kacang belum Viki tanyai. “Menurut ceritanya, rumah Ibu Bubur Kacang, di dekat rumahnya. Ayo kita kesana.” Ajak Viki dengan marah pada dirinya sendiri, karena sejak pagi ia berulang kali kesana tapi tidak memikirkan hal ini.
__ADS_1
Bersambung...