PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 45. Rika Ingin Kembali Ke Irvan


__ADS_3

Irvan baru saja tiba di depan kelas langsung disambut oleh Lena yang sudah menunggunya. Lena sengaja datang pagi-pagi agar bisa menyambut kedatangan Irvan. Tujuanya sekali lagi ingin meminta maaf, berterima kasih dan mau menjadi sahabat Irvan.


Irvan berdiri dihadapannya, lalu dengan sorot mata yang menyelidik, ia menatap Lena untuk mencari kebenaran dari ucapan wanita itu, hingga akhirnya ia bisa merasakan adanya keseriusan dari sorot mata Lena.


Irvan tersenyum, mengulurkan tangannya dan berkata: “Maafkan aku juga, mari kita lupakan semua yang telah berlalu.”


Mendengar ucapan Irvan, senyum diwajah Lena langsung mengembang. Ia pun seakan menahan tangis, serasa tidak percaya dengan ucapan itu. Awalnya dipikir, ia akan mendapatkan penolakan yang berujung dipermalukan, namun ternyata, sikap Irvan terbalik dari yang dibayangkannya.


“Terima kasih, Kak Irvan.” Lalu ia menyambut tangan Irvan, keduanya berjabatan, setelah itu sambil tetap berpegang tangan mereka masuk ke kelas.


Suasana di kelas heboh, semua teman-teman menyambut gembira sikap Irvan dan Lena. Mereka memuji tindakan itu dan menamai hati itu sebagai ‘Hari Pertemanan’.


Menyambut teriakan teman-temannya, Petra pun ikut-ikutan. “Aku atau dia,” katanya sambil menunjuk kepada Irvan, “yang akan mentraktir kita semua untuk merayakan hari raya ini?” Lalu tersenyum seakan meminta Irvanlah yang mentraktir mereka semua.


Di kelas terpisah, Fania pun disambut bahagia oleh teman-temannya. Bahkan, ia pun dituntut mentraktir mereka untuk merayakan kebahagiaannya bersama Irvan. Fania setuju dan berjanji setelah kuliah pertama selesai mereka akan ke restoran di depan kampus.


Sedang asik ngobrol, Risti dan Lidia pun sampai. Semua mata melihat mereka. Kelas yang tadinya heboh seketika langsung hening. Keduanya menunduk sambil berjalan dengan sangat canggung.


Mereka yang biasanya selalu heboh ketika tiba di kelas, kini muram dan tak bersemangat. Tidak tahu bagaimana canya terus melangkah ke tempat duduk mereka, karena Fania sedang berdiri di jalur yang harus keduanya lewat.


“Resti, Lidia, maafkan aku,” ucap Fania sambil mengulurkan tangannya, ketika kedua wanita itu tiba di depannya. Ia melakukan hal itu, karena ingin menghilangkan sekat diantara mereka.


Lidia dan Resti tersentak kaget. Sedikit mengerutkan dahi seakan tak percaya dengan sikap itu. Mereka berencana untuk melakukan hal yang sama seperti Lena lakukan di kelas Irvan, namun ternyata Fania lebih dulu melakukannya.


Mata mereka kuat menatap Fania. Lalu Lidia berujar, “kami yang harusnya minta maaf, sejak semalam, kami sama sekali tidak bisa tenang dan akan terus merasa bersalah jika tidak meminta maaf secara pribadi.”


Ketiga mereka berpelukan sambil menangis dengan diringi tepuk tangan oleh kawan-kawan dikelas. “Mulai hari ini, kita bersahabat.” Lalu kembali perpelukan sambil berpegang tangan. Namun, Lidia memegang tangan Resti sambil sedikit menekan.


Berbeda dengan Lena, Resti, dan Lidia. Viki, Anjas, Reis, dan Via hari ini tidak datang ke kampus. Semalam pun tidak pulang. Mereka tidur di apertemennya Reis. Mereka malu jika hari ini sudah datang ke kampus.


Sebenarnya hal ini adalah bagian dari strategi yang telah dirancang. Semalam, setelah dari hotel, ternyata tidak ada satu pun dari mereka yang pulang ke rumah. Mereka merasa senasib, sehingga saling menghubungi, lalu bertemu di apertemennya Reis untuk selanjutnya menghubungi Febin Mark, lalu ke sana.


Di kediamannya, Febin Mark bersedia menerima mereka, lalu Viki, Anjas, Reis, Via, Lidia, Resti, dan Lena yang telah menjadi satu kelompok besar di bawah pimpinan Viki bertemu dengannya.


Mereka membahas segala sesuatu tentang Irvan dan Fania, lalu meminta dukungan Febin membantu, hingga merencanakan apa yang harus dilakukan mereka untuk membalas sakit hati yang semalam dialami.


Lena dan Via harus dekati Irvan, lalu berjuang merebut hatinya dari Fania. Jika salah satu gagal, ada yang satu. Namun, seandainya keduanya gagal merebut hati Irvan, harus dipastikan hubungan Irvan dan Fania hancur. Itulah tujua pertama menghancurkan Irvan.


Lidia dan Resti pun juga sama, dekati Fania untuk terus mengorek Informasi tentang keluarganya dan Irvan agar diberitahukan kepada Febin, lalu bergerak menjadi duri dalam daging untuk meruntuhkan hubungan Fania dan Irvan.


Itulah beberapa tujuan dekati Irvan dan Fania yang disetujui Viki dan kelompoknya.  Awalnya Febin menyarankan untuk bekerja sama membunuh pasangan baru itu, namun mereka tolak.


Membunuh bukan tujuan mereka, bahkan tidak ada diantara mereka yang berani, tapi mengorek informasi, lalu berjuang menghancurkan kebahagiaan Irvand an Fania, kelompok Viki sangat siap.


Jadi agar tidak dicurigai, mereka harus berdamai dengan kedua orang itu. Pura-pura meminta maaf dan bersahabat. Kecuali Viki, Anjas dan Reis diskenariokan tetap bertahan dengan keegoisan mereka. Biar tidak kentara.


***


Sedang asik Irvan dan semua kawan-kawanya di kantin, datanglah Rika meminta waktu untuk berbicara dengan Irvan. Tindakan ini memang sudah sering ia lakukan, namun Irvan selalu saja menolak bahkan sengaja tidak memperdulikan.

__ADS_1


Kali ini berbeda, Petra dan Shael meminta agar sebaikanya Irvan bersedia berbicara dengannya karena mungkin ada sesuatu yang masih mengganjal yang inginnya diselesaikan. Karena itu Irvan pun bersedia menemuinya. Setelah buat janji, Rika kembali ke kelasnya.


Malam pun tiba, Irvan datang ke asrama Rika. Ia ditemani sopir dan beberapa pengawal. Kakek Irvan belum mau dia berpergian sendirian, karena ancaman untuknya belum hilang.


Rika keluar menghampiri Irvan, lalu keduanya duduk di taman asrama, tempat mereka dulu sering pacaran.


Rika tahu itu, bahwa Irvan telah memiliki Fania, sehingga perjuangannya untuk kembali mandapatkan cinta Irvan akan semakin sulit. Tapi dia akan berusaha dengan berbagai cara dan alasan agar Irvan mau kembali dengannya.


Situasi sangat canggung, Irvan dan Rika duduk berjauhan tanpa berkata apapun. Rika sengaja menggunakan gaun yang dulunya ia beli bersama Irvan.


“Bagaimana, apakah masih ingat gaun ini?” Rika menarik perhatian Irvan.


“Oh, em … iya, aku … aku tidak ingat.” Irvan pura-puran lupa.


“Aku kira, Kak Irvan masih ingat!” Ucap Rika manja. Ia sengaja menggunakan kata ‘Kak’ untuk mengorek perasaan Irvan. karena Ia tahu Irvan sangat senang dipanggil dengan sebutan itu.


“Sebenarnya ada apa?” Tanya Irvan.


Rika merasa ada peluang baginya untuk memulainya. Ia memohon lagi agar Irvan bersedia meluangkan waktunya untuk mendengar semua yang akan dikatakannya. Ia jujur, ingin menceritakan sebab mereka putus sampai situasi di Taman Kota waktu itu.


“Aku selalu tidak bisa tidur dan terus terbeban, karenanya ingin ku ceritakan semuanya.” Kata Fania. Lalu ia mulai berkata bahwa sebenarnya ia memutuskan hubungannya dengan Irvan hanya karena terpaksa.


Mendengar pengantar Rika, irvan tersentak kaget. Mengangkat wajahnya, lalu menoleh kea rah Rika dengan serius, tanda ingin mendengarnya.


Walau bagaimanapun, hubungan mereka cukup lama dan memang Irvan sampai sekarangpun tidak percaya kalau kemiskinan menjadi penyebab Rika memutuskannya.


“Aku diancam Viki!” Kata Rika dengan nada melemah hampr menagis. “Jika tidak memutuskan hubungan mu, maka Viki akan meminta ayahnya menuntut Rektor untuk mencari-cari alasan agar mengeluarkan mu Star Light University.”Ucap Rika lagi.


“Aku kebingungan, dan tidak ada jalan untuk menolong mu agar tetap berkuliah disana. Satu-satunya cara adalah mengikuti keinginan Viki. Itulah kemudian, Viki merangkai kata lalu menyuruh ku mengucapkannya ketika di ruang Gedung A.” Lanjut Rika dengan pipi yang telah dibasahi air mata.


Irvan geram. Dugaannya benar. Walau mereka telah putus, namun iatahu betapa Rika sangat mencintainya dan ia sadar, waktu itu pasti Rika benar-benar tertekan. Namun ia berusaha mengendalikan emosinya.


Rika lalu meneruskan ceritanya tentang kejadian di Taman Kota bahwa setelah memutuskan Irvan, ia terpaksa membuka diri agar bisa bersahabat dengan Viki dan teman-temannya. Niatnya  bukan untuk sahabatan, bahkan pacaran seperti dugaan Irvan, apalagi melakukan tindakan di luar batas bersama Viki.


Dia hanya ingin merubah watak Viki dan kawan-kawannya yang suka menghina dan menyiksan mahasiswa mahasiswa miskin.


Pikirnya, jika dia berhasil merubah Viki, tentunya kedua temannya ikut berubah dan kalau mereka berubah, pastinya Irvan dan beberapa mahasiswa miskin lainnya akan nyaman berkualiah disana.


Patut dianjungi jempol. Misi perjuangan Rika sangat mulia. Ia lakukan itu semua dengan tulus dan iklas. Bahkan rela mengorbankan cintanya yang sangat dalam kepada Irvan. Ia bahkan telah berjanji, hanya ingin menikah, jika pasangannya adalah Irvan


Ia lalu melanjutkan bahwa kejadian di Taman Kota itu adalah salah satu bentuk perjuangannya. Ia mau ikut dengan Viki, Anjas dan Reis hanya agar memiliki waktu lebih banyak dan leluasa berbicara dengan mereka.


Ternyata Rika salah mengira. Ketika tiba di taman, Anjas dan Reis yang telah mengetahui rencana Viki, sengaja pergi memesan sesuatu. Mereka meminta agar Rika dan Viki tidak boleh turun dari  mobil.


Rika yang tidak curiga apa-apa tetap santai bercerita dengan Viki di mobil. Dia pikir inilah waktu yang tepat agar satu atau dua kata secara pribadi bisa dia ucapkan pada Viki.


Namun tiba-tiba Viki memegang tangannya. Ia kaget dan ingin melepaskan tangan Viki, tetapi pikiranya berubah. Dibiarkan saja dulu. Pikirannya positif. Ia menduga, Viki hanya iseng saja.


Tetapi semakin lama, Viki semakin nakal. Ia memindahkan tangannya ke atas bahu Rika. Itupun Rika masih membiarkan, namun dengan berwas-was, Rika bertanya “ada apa?”

__ADS_1


Viki tidak menjawab. Wajahnya menegang seakan mengharapkan sesuatu.


Suasana di dalam mobil menjadi hening sekali. Rika mulai curiga, jangan-jangan Viki ada niat jahat dengannya. Tetapi demi misinya ia tetap tenang.


Melihat Rika yang tetap tenang, Viki mengira Rika setuju. Ia mulai merencanakan tindakan yang lebih agresif lagi.


Saat itu ada dinamika dihati Viki. Ingin langsung menyentuh bagian terlarang dari tubuh Rika atau merayunya terlebih dahulu. “Ah kelamaan kalau musti ngerayu lagi,” pikir Viki. “Toh, Rika juga pasti pingin, apalagi aku yang melakukannya,” pikir Viki penuh percaya diri.


Viki merasa sebagai anak orang kaya pasti setiap wanita akan setuju saja ketika dia berbuat cabul kepada mereka. Lalu memutuskan untuk langsung menyentuh saja.


Tangan yang tadinya berada di pundak Rika, kini ia turunkan persis di atas gugusan terlarang milik Rika.


Viki berbuat nekat.


Rika kaget bukan main. Wajahnya merah. Namun begitu, ia tetap control.


Ia yang masih menghargai Viki dan tetap mengutamakan misi perjuangannya, tidak ingin mempermalukan Viki dengan keras.


Ia memegang tangan Viki, lalu secara perlahan mengangkat dari buah terlarangnya, lalu berkata: “Maaf Kak Viki, tidak boleh lakukan seperti ini lagi,” kata Rika dengan halus sambil membuka pintu mobil kemudian ia turun.


Viki yang di tolak secara halus merasa sangat malu. Ia salah tingkah. Hasratnya pun hilang seketika. Ia tidak tahu harus berkata apa, bahkan untuk menggerakan tubuhnya saja seakan sudah  tak mampu.


Akhirnya Viki memilih diam seribu bahasa dan tetap duduk di atas mobil.


Di luar, Rika duduk disamping mobil, ia menangis tersedu-sedu. Ia mengingat perjuangannya yang ternyata beresiko pada pelecehan terhadap dirinya. Ia menyesal karena memilih jalur ini.


Dalam tanginsannya ia sangat merindukan Irvan. “Kak Irvan, dimana kamu? Aku sangat mencintai mu.”


Dia juga berpikir bahwa apakah disuatu hari nanti Viki bisa menerima penjelasannya dan


kembali bersamanya?


Sementara masih menangis, terlihat beberapa orang muncul. Rika cepat membasuh air matanya. Namun ia kaget, ternyata yang datang ada juga Irvan, hingga akhirnya kejadian seperit tadi terjadi.


Setelah Rika menceritakan semuanya, Ia kembali menangis. Air matanya tidak bisa lagi dibendung, suaranya pun tidak bisa tertahan. Awalnya suara tangisannya hanya pelan-pelan saja, tapi melihat reaksi Irvan yang ternyata sangat antusian mendengarnya, ia semakin sedih.


Irvan tidak bisa berkata apa-apa. Walau ada rasa penyesalan dalam hati, karena cintanya kepada Rika berkhir sepeti itu, namun dia tidak mau mendustai hatinya lagi, karena saat ini dia telah mencintai Fania.


“Rika, kamu tahu bagaimana cinta ku untuk mu ketika itu… dan aku yakin kamu pun tahu, aku sangat menderita karena keputusan mu, tapi,” Irvan menarik napas dalam-dalam, lalu meneruskan ucapannya, “mau bagaimana lagi, semuanya telah terjadi.”


“Kini, aku legah karena tahu semua alasanmu, sehingga aku bisa iklas dan tidak lagi membenci mu.” Ucap Irvan sambil memegang tangan Rika.


Irvan lalu meneruskan kata-katanya bahwa ia kini telah menjalin hubungan dengan Fania dan tidak mungkin ia meninggalkan Fania untuk kembali pada masa lalunya.


Mendengar semua ucapan Irvan, bukannya membuat Rika menyerah, namun ia tetap tetap menyatakan keinginannya untuk kembali pada Irvan, bahkan ia memaksa Irvan agar memutuskan hubungannya dengan Fania.


Irvan tidak setuju dengan itu. Ia bahwa kaget mendengar permintaan Rika. Lalu memutuskan untuk pergi meniggalkan asrama, karena tidak ingin ada salah paham lagi, jika mereka meneruskan pembicaraan itu.


Bersambung…

__ADS_1


__ADS_2