
Di ujung meja, tampak kedua pasangan muda-mudi yang baru bertemu terus ngobrol dengan serunya. Entah apa yang mereka ceritakan tidak didengar Ibu Rati. Mereka kelihatan bahagia sekali.
Diam-diam Ibu Rati memperhatikan keduanya, lalu berbica dalam hatinya “Mereka sedang jatuh cinta”
Raut wajah Fania terlihat begitu bahagia. Ia tampak sering memberikan senyuman hangat ketika mendengar Irvan bicara, tetapi juga tidak segan-segan melepas semua senyumnya disaat-saat tertentu.
Irvanpun demikian, sambil bicara, ia sesekali memandang wajah dengan penuh pesona.
Sorot mata keduanya memancarkan suatu rasa yang sama-sama masih tersembunyi. Ketika kedua pasang bola mata itu berpapasan, mereka terkejut, lalu spomtan mengalihkan pandangan kearah lain dengan senyuman.
Fania tidak berani untuk melakukan kontak mata dengan Irvan, namun sering curi-curi pandang. Begitu juga dengan Irvan, tidak kuasa menahan diri untuk selalu melihat wajah Fania.
Keduanya memiliki keterarikan yang sama dalam banyak hal. Mulai dari hobi berpetualang, suka tantangan, pantang menyerah, dan memiliki tekat kuat untuk mencapai kesuksesan.
“Fan, aku ingin membantu mu mencari keluarga mu” kata Irvan tiba-tiba keluar dari zona pembicaraan mereka sejak tadi.
Fania tampak menjadi serius mendengar ucapan itu. Ia terdiam, mengarahkan pandangannya ke langit, berpikir sejenak, lalu bertanya “apa yang sedang Kak Irvan pikirkan?”
Pertanyaannya sontak membuat Irvan kebingngungan. Ia tidak tahu harus menjawab apa, sebab pikirnya tulus mau membantu Fania. Ia kuatir, jangan-jangan Fania memikirkan hal yang tidak-tidak terhadapnya.
“Em … maksudnya … em …” tidak tahu harus menjawab apa. Irvan tersenyum berusaha mencari alasan yang tepat, tetapi belum sempat menemukan jawabannya, Fania kembali berbicara, “Aku senang, Kak Irvan mau menolong aku”
Mendengar ucapan itu, Irvan yang tadinya sedikit kaku merasa mendapat peluang besar, lalu balik bertanya “Maksudnya?”
Fania tersenyum dan berkata “Selama ini aku ingin mencari tahu latar belakang diri ku dan keberadaan keluarga ku, tapi tidak tahu harus mulai dari mana?”
“Aku senang KakIrvan ingin bantu, tapi bukankan kita berada dalam situasi yang sama?” Fania kembali bertanya membuat tersentak hati Irvan .
Lalu Irvan mengakui kebenaran ucapan itu. Namun dia belum bisa berkata yang sesungguhnya kalau latar belakang kehidupannya telah diketahui dan bahkan keluarganyapun telah ditemukannya.
“Pelan-pelan suatu saat nanti kamu akan tahu semuanya Fan,” ucap Irvan dalam hatinya sesaat setelah ada jeda keheningan di antara pembicaraan mereka berdua.
“Maksudnya, aku ingin kita sama-sama mencari tahu tentang siapa kita sebenarnya. Aku yakin dengan begitu kita akan lebih bersemangat,” ucap Irvan sambil tersenyum penuh arti.
Faniapun ikut tersenyum sipu, lalu mengangguk-angguk kepala mengiyakan ucapan Irvan.
“Kalau begitu, apa rencana dan dari mana kita memulainya?” Tanya Fania dengan wajah serius
__ADS_1
“Wah serius sekali …” kata Irvan, lalu ia mulai mengatakan bahwa saat ini dia telah diterima kerja di sebuah perusahaan kecil yang tidak jauh dari situ. Pemilik perusahaan adalah salah satu orang pengaruh dan kaya di daerah mereka, mungkin bisa dimulai dari bertanya kepadanya.
Orang-orang kaya dan berpengaruh biasanya memiliki banyak akses ke semua lini, sehingga akan mudah mendapatkan informasi tentang keluarga yang kehilangan anaknya beberapa tahun lalu.
“Itupun jika dia mau membantu” ucap Irvan mengakhiri penjelasannya.
Sebenarnya masih ada hal yang ingin dia katakana, namun mulutnya seakan tidak mampu berkata-kata lagi, karena pandangan Fania berubah dan menatapnya dengan sangat serius.
Rupa-rupanya Fania terharu mendengar ucapan Irvan. Dia tidak saja senang karena Irvan memiliki jalan keluar untuk mencari tahu latar belakang keluarga mereka, tapi juga karena Irvan telah mendapatkan kerja.
“Wah, Kak Irvan, maaf, aku jadi serius sekali. Aku terharu mengetahui kalau Kak Irvan sudah bekerja di perusahaan. Itu sangat baik untuk menopang kebutuhan setiap hari” kata Fania memuji Irvan.
“Iya Fan, terima kasih. Tuhan itu baik. Begitu aku dipukul oleh Viki dan kawan-kawannya, lalu di keroyok warga, rumahpun di gusur, eh ternyata ada hikmah dibalik semua itu.” Ungkap Irvan jujur mengenai keadaan yang baru dilewatinya.
Lalu dia mulai menceritakan bahwa saat ini dia dan ibunya juga telah mendapatkan rumah. Walaupun kecil dan masih kontrakan, tapi jauh lebih baik dari yang lama. Biaya sewanyapun tidak mahal, bekas milik pegawai perusahaan.
“Wah bagus kalau begitu,” ucap Fania turut bahagia, “oh iya kak, aku setuju dengan ide mu untuk bertanya kepada pimpinan mu diperusahan. Siapa tahu dia bisa membantu kita”, katanya lagi mendukung rencana Irvan.
“Ehem … ehem … serius sekali.” Deheman Ibu Rati sengaja menggangu konsentrasi kedua muda-mudi itu.
“Eh, Ibu …” ucap Fania tersipu malu, “Anu bu, kami lagi …”
Fania salah tingkah, karena dia tahu maksud Ibu Rati hanyalah untuk menggoda mereka, namun tidak bisa menjelaskan.
“Ini, Ibu bawakan minum untuk kalian. Ibu lihat, sejak tadi kalian serius sekali, sepertinya ada masa depan gemilang yang kalian rencanakan ni …” katanya dengan senyum sambil menyodorkan dua gelas teh hangat untuk mereka.
Fania dan Irvan tersenyum-senyum, seolah-olah isi hati mereka telah diketahui Ibu Rati.
“Terima kasih Bu,” ucap Fania dan Irvan sambil menerima gelas minuman dari Ibu Rati.
Di tempat terpisah, jauh dari keramaian, Viki, Anjas, Reisdan Via lagi pusing. Mereka melakukan pertemuan kecil-kecilan untuk membahas tentang rektor.
Mereka heran dengan sikap rektor yang tiba-tiba berubah dan tidak lagi mau mempercayai mereka. Bahkan saat ini, rektor tidak segan-segan menolak permintaan Viki.
“Bagaimana ni, kawan-kawan? Aku jadi bingung sekarang,” kata Viki.
“Iya, aku juga bingung, semua aturan di kampus tiba-tiba berubah,” kata Reis
__ADS_1
“Kemarin saja, Jefri, si mahasiswa itu, tidak mau mengikuti perintah ku,” Sambungnya lagi.
Aturan di kampus telah berubah sejak rektor mendapat peringatan. Perubahan aturan itu turut membuat Viki dan gengnya merana, mereka kehilangan senjata untuk menekan semua mahasiswa miskin di Star Ligth University.
Tidak hanya sampai disitu, orang yang paling mereka benci, ternyata juga dipanggil pulang ke kampus. Bahkan pihak kampus secara terbuka memohon maaf pada mereka. Kampus merasa bersalah.
Ke empat muda-mudi yang sedang pertemuan itu merasa ada yang aneh. Orang tua mereka yang seharusnya memiliki peranan paling besar untuk menekan rektor saja sekarang tidak bisa diandalkan lagi.
Contohnya Viki, kemarin dia mencoba meminta ayahnya untuk menekan rektor, namun ayahnya menjawabnya dengan kasar. Tidak sepertti biasanya, ayahnya kelihatan takut dan meminta dia supaya tidak lagi menyusahkan ayahnya lagi.
“Kita harus mencari tahu sendiri” kata Anjas memberi jalan keluar
“Okelah, tapi kita harus bagaimana dan memulainya dari mana?” Sambung Reis.
Viki dan Via bengong. Keduanya tidak memiliki ide sama sekali, apalagi Via yang memang hanya ikut-ikutan saja. Dia juga baru menjadi bagian dari ketiga pemuda itu saat dimana ia terlibat menjebak Fania dan Irvan.
Viki seperti mengingat sesuatu, lalu iya berkata dengan keras “oh iya, aku tahu” katanya mengagetkan kawan kawannya yang sedang serius.
Via yang saat itu telah mendapatkan tempat nyaman di dada Reis untuk menyandarkan kepalanya, ikut tersentak.
“Apa yang kamu tahu?” tanya mereka.
Lalu Viki mengatakan bahwa siang tadi ia mendapat telpon dari saudara sepupunya, Jero yang juga seniaor mereka.
“Apa hubunganya?” Tanya Reis kesal.
“Begini” Jawab Viki, lalu ia menceritakan semua pesan Jero kepadanya siang tadi. Ia bahkan bertanya-tanya mengapa Jero memintanya demikian, tapi tidak dijawab, malah cepat-cepat Jero menutup telponya.
“Ini tidak seperti biasanya,” kata Viki lagi. “Jero tidak pernah seperti ini, bahkan sekarang nomornya sudah tidak aktif. Tadi aku membaca di grup keluarga, katanya Jero saat ini dimutasi ke tempat lain,” ujar Viki menjelaskan kebingungannya.
“Kalau begitu, kita bisa mulai dengan menyelidiki Irvan,” kata Reis nyambung.
Kemudian mereka mulai mengatur langkah-langkah yang harus dilakukan. Mereka juga meminta Via untuk menyelidiki Fania, karena bagaimanapun dia pasti akan sedikit mengetahui tentang sepak terjang Irvan.
“Oh Iya, jangan lupa dengan Rika, dia juga pasti mengetahui banyak hal tentang Irvan,” kata Anjas mengingatkan mereka sebelum masing-masing ke mobil mereka untuk pulang.
“Oke. AKu setuju. Itu tugas mu,” Jawab Viki singkat.
__ADS_1
“Kok kenapa jadi tugas ku” pikir Anjas, tapi dia juga senang, bisa lebih dekat dengan si cantik Rika.
Bersambung…