
Pukul enam sore, kursi-kursi kosong di aula hotel Fomea mulai ditempati para undangan. Satu persatu dari kalangan pejabat pemerintahan, politisi, pemimpin-pemimpin perusahaan, baik dalam negeri maupun luar negeri berdatangan. Begitu juga dengan undangan lainnya.
Paman Jeb memimpin rombongan dari kalangan warga kampung mulung telah hadir. Mereka sederetan dengan Bu Rati, Fino, dan para penjual bubur kacang serta tetangga-tetangga Fania lainnya.
Jimi, orang tuanya Viki dan kedua kawannya, orang tua Reis dan Anjas juga terlihat telah duduk ditempat yang disediakan bagi mereka. Hanya ketiga anak mereka yang tidak hadir.
Rektor dan para dosen, sambil senyum-senyum menuju ke tempat mereka lalu duduk dan memuji-muji dekorasinya.
Begitu juga dengan sebagian besar undangan dari kalangan mahasiswa star light University telah berada di ruangan acara.
Resti dan Lidia telah hadir sejak pukul lima. Mereka datang bersamaan dan menjadi tamu pertama yang hadir. Keduanya berdiri di depan pintu aula sambil memperhatikan siapa saja tamu yang masuk, bagaikan peneliti, mereka memperhatikan wajah setiap wanita muda.
“Hei Res, Lidia.” Sapa Tia dan Tasya ketika mereka sampai bersamaan. “Fania sudah di dalam ya?” Tanya Tia mengejutkan Lidia.
“Ah mana mungkin si bodoh itu berani hadir!” Ujar Resti yakin.
“Lah kalau begitu, untuk apa kalian menunggunya disini!” Sambar Kesya sambil berlalu pergi.
Lidia dan Resti tetap berkeras menunggu disana. Mereka ingin benar-benar pastikan, Fania hadir atau tidak, sebab taruhannya tidak main-main. Rasa malu yang tidak mungkin hilang seumur hidup.
Berselang beberapa menit, Lena tiba, sambil tersenyum sedikit pada kedua wanita yang gelisah itu, ia melangkahkan kakinya penuh percaya diri menghampiri pelayan untuk bertanya posisi B sesuai tipe untudangannya. “Disana Nona, mari aku antar” kata pelayan sambil berjalan mendahuluinya.
Sudah ada, Shael, Nana, Petra, Tegus dan semua teman kelasnya yang lain, begitu juga dibagian sebelah tempat duduk ‘B2’, Tia, Kesya, dan banyak kawan-kawan lainnya telah hadir. Ia mondar-mandir mencari namanya di kursi, namun sama sekali tidak ada.
Semua kawan-kawan kelasnya, sudah curiga, sebab hal yang sama telah dialami oleh semua gengnya yang telah datang duluan. “Pak nama ku kok tidak ada ya.” Tanya Lena santun.
“Aduh maaf Nona Lena,” Kata pelayan yang telah mengetahui namanya dari undangan yang ia sodorkan “Jika namamu tidak ada disini, berarti tempat Anda paling belakang, seperti beberapa orang lainnya”
“Maksudnya?” Tanya Lena kasar, ia tidak menyangka ucapan Irvan siang tadi terbukti. “Aku tidak mau, ini undangan ku, nama ku dan Type ‘B’ ada diundangan ini, mana mungkin kalian merendahkan ku seperti itu. Aku tidak terima.”
“Maaf Nona, kami hanya mengikuti arahan.” Kata pelayan dengan halus, namun Lena yang mulai malu, di hadapan semua kawan pendukung Irvan, terus mempertahankan egonya.
__ADS_1
“Aku tidak mau kesana, pokoknya kalian harus segera mencari kursi pengganti untuk ku sekarang juga!” Katanya sok memerintah.
“Maaf sekali lagi nona, kami tidak bisa lakukan itu. Silahkan Anda berbicara dengan penanggung jawab ruangan saja.”Kata pelayan itu semberi saran.
“Ya sudah, panggil dia sekarang, aku mau bicara. Dasar kalian pelayan kecil.”
Beselang beberapa waktu, pelayan yang tadi kembali, dia hanya sendiri. “Anda diminta ke meja tamu untuk bicara disana saja, karena bisa malu nantinya disini, sudah banyak tamu yang hadir.” Ucap pelayan itu pelan.
“Malu! Malu apanya!” Ucap Lena keras menarik perhatianorang-orang disekitarnya. “Aku menghormati Tuan Besar Parker sehingga membuang waktu ku untuk hadir di sini, aku memiliki undangan yang sah, tapi kalian sengaja mempermainkan ku.” Teriak Lena dengan suara mulai mengeras. “Panggil dia kesini!” Perintah Lena.
“Maaf sekali lagi, nona sajalah yang ke sana.” Kata pelayan itu lalu pergi meninggalkannya.
“Ban**at kamu, dasar pelayan bodoh.” Lena kesal, namun akhirnya dia mengikuti pelayan itu.
Di meja tamu, Lena diminta turuti saja kata pelayan dan jangan coba-coba membuat keonaran apalagi berencana pulang, maka dipastikan akan ditahan lalu di kurung dalam ruang tahanan bersama banyak kecoak sampai acara ini selesai diselenggarakan barulah dibebaskan.
Bulu badan Lena merinding mendengar ancaman itu. Dia juga sadar dengan kemampuan pemilik acara ini, akhirnya dengan marah bercampur kecewa menerima saja perlakuan itu.
“Sial aku. Ucapan Irvan benar. Bagaimana bisa. Kurang aj*r kau.” Pikirnya dalam hati.
Lena hanya meliriknya sesat, tidak mau menanggapi, lalu menggalkan meja tamu dan hendak kembali masuk ke ruangan, namun ia berinisiatif berbicara sebentar dengan Resti dan Lidia mengenai tempat duduk mereka.
“Hei kawan” Sapa Lena menarik perhatian Lidia dan Resti sehingga kedua orang itu segera menoleh ke arahnya, lalu terlibat sedikit percakapan.
Disaat ketiganya asik berbicara dan sama-sama kesal dengan perlakukan pelayan acara itu, Fania didampingin Mira, anaknya tuan Leon, Jemima anaknya Pak Fais, serta Tiara dan Cika berlengak-lengok masuk melewati mereka tanpa ada yang memperhatikan mereka.
“Baiklah, aku tunggu di sana ya …,” ucap Lena, lalu meninggalkan Resti dan Lidia kembali bersiaga menanti kedatangan Fania.
Acara hendak dimulai, Tuan Besar Parker, Tuan Leon dan Ibu Kor beserta Rombongan telah ada diruangan. Resti dan Lidia semakin senang dikira Fania benar-benar tidak hadir. Lalu mereka meniggalkan tempat itu dengan keyakinan menang dalam taruhan.
“Besok akan heboh.” Ujap Resti sambil mengajak Lidia masuk. “Ayo-ayo masuk!”
__ADS_1
Seorang wanita pemandu acara menaiki panggung, gaungnya berkilauan memancarkan cahaya keindahan. Wajahnya cerah, terlihat bahagia, sambil tersenyum seolah menghipnotis hadirin untuk turut merasakan kebahagiaan acara itu.
Secara bergantian ia memanggil beberapa artis ibu kota dan manca Negara untuk menghibur para undangan, lalu mengajak hadirin untuk mengikuti acara berikutnya, yaitu sambutan dari pemilik hajatan.
“Hadiri sekalian, tiba saatnya kita mendengar sambutan dari Tuan Besar Parker.” Lalu ia mempersilahkan Tuan besar ke panggung.
Sambutan Tuan besar singkat saja, namun penuh semangat dan menggetarkan suasana.
“Tepat hari ini, di hotel ini, anak dan cucu-cucu ku di bunuh, tinggal aku dan satu orang cucu ku yang hidup. Tapi, disaat yang sama, kaki ku di penggal dan cucuku itu di culik.” Ucapan pembuka Tuan besar sangat mengharukan menarik perhatian semua hadirin.
“Selama bertahun-tahun lamanya, tak pernah lelah ku cari cucu ku itu.” Katanya lagi merasuk hati para pendengar. Semua turut prihatin.
“Biasanya Aku selalu berduka di tanggal ini, tapi mulai hari ini, Aku merubah sejarahnya. Aku akan selalu bersyukur. Aku tidak ingin lagi berduka. Cucuku yang diculik telah kudapati kembali.” Kata Tuan Besar Parker dengan suara yang bergetar kencang, ia seakanmenahan tangisan.
Semua yang mendengar itu, bisa merasakah kegembiraan dihatinya. Mereka bergembira mendengar dan melihat kegirangan hati Tuan Besar.
“Saat ini, Aku akan memperkenalkannya … dan … karena aku telah lanjut usia, tidak baik lagi bagi ku untuk terus mengurus perusahaan dan semua asset ku, untuk itu, pada hari ini juga, dihadapan saudara,I sekalian, akan aku pindahkan semua kepemilikan kekayaan ku kepadanya, cucu ku.”
Para hadirin semakin heboh. Ingin rasanya segera melihat siapa orang yang paling beruntung itu. Para Pria berpikir, jika dia wanita dan masih muda, mungkinkah bisa jadi pacar mereka, begitu juga para wanita berhayal yang sama.
Resti, Lidia, Lena dan semua geng mereka pun penasaran dengan siapa orang yang paling berbahagia itu. Mereka sangat tidak sabaran lagi. Serasa ingin berlari ke depan agar melihat lebih jelas, tapi tidak mungkin, mereka pasrah saja, demi keamanan sendiri, dari pada diusir keluar.
Acara dikembalikan pada pemandunya, lalu ia mulai mendramatisir keadaan untuk memanggil cucu Tuan Besar parker ke panggung.
“Baiklah saudari,i sekalian, langsung saja kita panggilkan orang yang paling beruntung itu, cucunya Tuan Besar Parker untuk maju ke depan agar dapat di kenal oleh seluruh dunia.” Ucapnya kuat penuh semangat.
Kita hitung mundur bersama untuk memanggilnya “Tigaaaaa … duaaaaa … satuuuuu, waouuuuuuuuuu”
Semuanya berteriak histeris saat seorang pria tampan muncul ke depan dari balik dekorasi panggung.
“Inilah dia” teriakan keras dari sang pembawa acara penuh emosional merindingkan semua orang.
__ADS_1
“Inilah dia “
Bersambung…