PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
Bab 53. Pengakuan Aleks


__ADS_3

Bab 53. Pengakuan Aleks


Setelah konfrensi, Villapun kembali menjadi sepi dari para wartawan. Tuan besar kembali ke ruang kerjanya bersama dengan Ibu Kor, Fania dan Tuan Leon. Walau mereka tidak percaya pada gambar di foto itu dan sudah mendengar cerita tentang sejarah foto itu melalui telepon, mereka masih saja ingin mendengar secara langsung dari mutul orang yang mendesain kejadian itu.


“Segera bawa Aleks kemari” Perintah Tuan Besar segera ditindaklanjuti oleh Tuan Leon, lalu ia menyuruh anak buahnyauntuk membawa Alek.


Rupanya, hanya istri dan anak-anaknya sajalah yang dibiarkan menginap di hotel, namun Aleks harus dibawa oleh orang-orang Tuan Leon ke villa mars.


Tidak membutuhkan banyak waktu, empat orang pengawal bertubuh kekar penuh dengan tato, berambut gondrong dan berwajah kasar membawa masuk Aleks untuk menemui Tuan Besar dan lainnya di ruang kerjanya.


“Aleks, saya ingin dengar detail ceritanya, dari awal sampai rekayasa kejadian itu.” Tegas Tuan Besar penuh penasaran kepada Aleks.


Disamping Tuan Besar ada Ibu Kor dan juga Fania beserta Tuan Leon yang juga tidak kalah penasarannya seperti Tuan Besar. Lalu mereka duduk dan Alek pun segera memulai ceritanya.


“Aku disuruh oleh Tuan  Febin Mark untuk membunuh Tuan Invan.” Kata Aleks mengawali ceritanya.


“Ketika Aleks dan Petra tiba di rumah Niken, ada orang yang mengintip lalu memberitahukan kepada Febin Mark mengenai pembicaraan mereka. Dari orang itulah, Febin tahu bahwa Niken masih hidup namun yang lebih mengelisahkan Febin adalah, tidak saja Niken yang masih hidup, tetapi dia yang rupa-rupanya menyimpah rekaman kejadi ketika Febin membunuh ayahnya Fania.” Cerita awal Aleks menghebohkan ruangan. Fania Kaget bukan main. Rupa-rupanya si pembunuh ayahnya adalah adik ayah kandungnya sendiri.


“Jika rekaman itu tersebar, maka tamatlah riwayat Febin, maka dia memerintahkan saya untuk membunuh Irvan, Petra, dan ibunya Niken dan malam itu juga, saya bersama Tim langsung kesana dengan menggunakan helicopter.” Lanjut Aleks sebelum menarik napas, untuk berceita lagi.


“Kami menahan bus yang mereka tumpangi, menyuruh mereka turun, lalu membawa mereka bertiga ke suatu tempat yang telah saya persiapkan untuk merekayasa kejadian seperti yang di foto itu” Jelas Aleks.


Tuan Besar, Tuan Leon, Ibu Kor dan Fania, masih kebingungan dengan cerita itu. Lalu Tuan Besar bertanya, “kenapa kamu tidak membunuh mereka bertiga?”


“Begini Tuan” Ucap Aleks dengan wajah penuh ketakutan. “Tangan ku sudah banyak menumpahkan darah orang-orang yang tidak bersalah. Aku tidak ingin lagi membunuh, namun situasiku sangat sulit sekarang ini.” Terang Aleks.

__ADS_1


“Dulu aku diminta oleh Febin untuk membunuh Niken, namun aku juga merekayasa kematiannya, lalu memnyembunyikan dia ditempat saat ini. Aku tidak menyangka identitas aslinya bisa dengan terbongkar seperti sekarang.” Kata Aleks dengan suara semakin tegang.


“RUpanya kamu yang melindungi Niken” Ucap Tuan Besar, lalu berterima kasih pada Aleks, namun sesegera mungkin Alek menolak ucapan terima kasih itu. Lalu ia melanjutkan ucapannya sambil menangis.


Semua diruangan kembali di rundung kebingungan. “Kenapa kamu menangis?” tanya Tuan Besar.


“Tuan…” Kata Aleks sambil berlutut dan menundukan kepalanya. “Tuan” sekali lagi dia memanggil. “Aku siap dihukum mati oleh Tuan. Tuan boleh saja membunuh ku saat ini. Aku rela mati ditangan Tuan”


“Maksud kamu apa” Tanya Tuan Besar semakin penasaran. Pada saat itu juga wajah Ibu Kor, Fania dan Tuan Leon mengerut bertanda bingung dengan ucapan Aleks. “ada apa? Sambung Tuan Leon.


“Tenang dulu” Ucap Tuan Besar.


Namun Aleks tetap saja menangis lalu dengan wajahnya yang penuh dengan air mata, dia mengaku kepada Tuan Basar bahwa dialah yang dulu membuang Irvan di tempat pembuangan sampah karena dia merasa sangat kasiah dengan Irvan dan tidak ingin Irvan mati terbunuh.


Aleks pun berkata jujur bahwa dialah yang membunuh seluruh keluarga Tuan Besar.


Duar……….


Bagai tersambar petir. Tubuh Tuan besar bergetar. Kaki dan tangannya lemas. Ia hampir jatuh, namun segera di topang oleh Fania yang kebetulan persis disampingnya.


Tidak mempedulikas kesehatanya, Tuan Besar berusaha tegar, lalu ia mengayunkan tongkatnya untuk memukul-mukul Aleks hingga puasnya, lalu sambil terus mengangis. Seakan-akan peristiwa masa lampau itu kembali terjadi didepan matanya.


Wajah Aleks penuh berlumuran darah. Dia pasrah dan meminta agar Tuan besar segera membunuhnya, namun tuan besar belum mau, karena masih banyak cerita yang ingin dia ketahui.


“Siapa yang menyuruhmu Bang””t? Tanyanya

__ADS_1


“Febin Mark” Jawab Aleks spontan membuat Tuan Besar semakin marah. Sebelum Tuan besar memberi respon, Aleks melanjutkan ceritanya


“Saat itu, hatiku tidak tega melihat Irvan. Aku tidak ingin dia mati, lalu aku selamatkan dia, tapi karena tidak ada tempat yang aman bagi ku untuk menyembunyikan dia, maka aku membawanya tempat pembuangan sampah di kampong mulung, lalu buang letakan dia di sana, saat aku melihat ada orang yang datang” Kata Aleks sambil menoleh ke arah Ibu Kor.


“Karena dosa masa lalu itulah, aku tidak ingin membunuh Irvan, Niken dan Petra. Aku ingin mereka selamat, lalu membongkar semua kebusukan Febin Mark. Aku rela mati, asalkan Febin Mark dihukum mati juga.” Ucap Aleks sambil terus menangis dan memukul-mukul dadanya sebagai tandang penyealan, lalu memohon Tuan BEsar agar membunuhnya.


“Tidak. AKu tidak akan membunuhmu saat ini, karena kaulah saksi utamanya. Besok ketika Irvan dan Niken tiba, kita akan menyerang markas Febin, lalu membuatnya membayar semua penderitaan ku selama ini. Lalu aku sendirila yang akan membunuh mu beserta istri dan anak-anak mu” Kata Tuan Besar dengan wajah merah dan garang.


Sekali lagi Tuan besar mengarahkan tongkatnya, lalu memukul kepala Aleks beberapa kali untuk melampiaskan rasa marahnya, hingga akhirnya ia berhenti sendiri lantaran penyakit jantungnya kembali kumat.


“Cepat bawa Tuan Besar ke kamarnya.” Ajak Tuan Leon, ketika melihat Tuan Bear semakin lemas.


Lalu mereka mengantar Tuan Besar ke Kamarnya, sedang Aleks dibawa olehbeberapa pengawal yang tadi bersiaga di luar ruang kerja.


Ketika tiba di kamarnya, Tuan besar segera berbaring minum obat lalu berbaring. Namun ia masih ingin membicarkan sesuatu secara empat mata dengan Tuan Leon.


“Leon” Panggil  Tuan Besar” Kamu sudah aku anggap sebagai anak ku. Tubuh ku lemas sekali saat ini. Jantung ku berdebar Aku takut umur ku tidak sampai besok. Aku ingin bicara sendirian dengan mu.” Kata Tuan Besar, lalu menyuruh Ibu Kor dan Fania yang kebetulanikut mengantar ke kamar tadi.


Setelah tinggalah mereka berdua, berbicaralah Tuan Besar tentang kepencayaannya kepada Tuan Leon, lalu ia berbicara juga mengatakan tentang seluruh kekayaannya, namun yang lebih mengagetkanTuan Leon adalah ketika Tuan besar mengatakan bahwa ia sudah menganggap Tuan Leon sebagai anak kandungnya sendiri. Senadainya waktu itu, Irvan tidak ditemukan, tentu seluruh kekayaannya ia wariskan untuk Tuan Leon, namun karena Irvan telah ditemukan, maka surat wasiat yang pernah dia buat, telah dirubahnya, namun dia tetap memberi lima puluh persen dari seluruh kekayaannya kepda Tuan Leon.


Begitu mendengar seluruh perkataan Tuan Besar, Luar Leon mengis. Ia berlutut lalu mengucapkan terima kasih. Ia tidak pernah menyangka sedemikian percayanya Tuan Besar pada dirinya.


“Kamu harus balaskan sakit hatiku, jika besik aku tidak lagi ada di dunia ini” Ucap Tuan Besar menakutkan Tuan Leon.


“Jangan omong seperti itu Tuan ku” Balas Tuan Leon.

__ADS_1


__ADS_2