PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG

PEWARIS YANG DICULIK DAN PUTRI TERBUANG
BAB 24. Kepolosan Fania diamanfaatkan


__ADS_3

Viki dan kelompoknya pulang dengan gelisah. Mereka merasa ada yang janggal dengan kembalinya pasangan mesum itu ke kampus.


Viki adalah orang yang paling merasa tidak nyaman dengan hal itu. Setibanya di rumah, ia kembali lagi menghubungi sepupunya Jero, namun sama saja, tetap tidak terkonek. Lalu tidur dengan hati yang gelisah.


Sebaliknya Irvan dan Fania pulang dengan wajah berseri-seri dan hati yang diluputi kebahagiaan. Walaupun kedunya belum resmi berpacaran, namun sangat jelas benih cinta telah tumbuh di hati mereka.


Setiba di rumah, Fania langsung melompat ke tempat tidurnya, menatap langit-langit rumah sambil tersenyum menyebutkan nama pria yang tadi bersamanya, lalu ia berhayal sampai ketiduran.


Sedangkan Irvan, begitu tiba di rumah kontrakannya, ia langsung menghubungi Tuan Leon untuk menanyakan tentang rencana yang akan Tuan Leon lakukan besok. Dia juga menceritakan semua kisah Fania dan meminta bantuan untuk menyelidiki.


Setelah Tuan Leon pastikan rencananya telah aman dan bersedia untuk memulai penyelidikannya besok mereka menutup telepon lalu beristirahat malam.


Keesokan harinya Irvan bangun dengan semangat yang berbeda dari biasanya. Memang ia terbiasa bangun pagi, tetapi hari ini, lain dari yang kemarin-kemarin. Setelah diputuskan Rika, keceriaan seperti ini baru lagi ia rasakan.


Ibu Kor senang melihat anaknya yang ceria pagi ini, lalu ia buatkan segelas kopi susu untuknya.


Setelah selesai ngopi pagi, Irvan membersihkan diri lalu pergi ke kampus.


Seperti biasanya, setelah tiba di kampus, Irvan langsung ke kelasnya. Rupa-rupanya sebagian besar kawan kawannya telah hadir.


“Hay Bro,” ucap Shael ketika melihat sosok Irvan di pintu kelas. Begitu juga dengan Nana yang saat itu sedang duduk membelakangi pintu segera berbalik, lalu dengan cepat ia menghampiri Irvan.


“Kawan, selamat datang kembali,” ucapnya sambil merangkul bahu Irvan. Ia sangat senang.


Tidak hanya Shael dan Nana, ada juga Anton, Teguh, Viktor, Jeki, dan beberapa kawan wanita lainnya ikut bahagia.


Misalnya Petra, satu dari dua teman wanita yang paling akrap dengan Irvan langsung berlari ketika melihat kehadiran Irvan di kelas. Ia menghampir Irvan, dua kali menciumnya di pipi kiri dan kanan lalu memeluknya.


Bagi dia, Irvan tidak hanya sebatas teman kelas, tetapi sudah lebih dari sahabat. Irvan dianggapnya sebagai saudaranya sendiri.


“Ayo teman-teman, mumpung jam kuliahnya di tunda, ayo kita ke kantin,” ajak Petra. “Aku yang akan mentraktir” katanya lagi, untuk merayakan kembalinya Irvan.


Di kantin ada Viki, Anjas dan Reis. Mereka sedang asik menikmati jus buatan Mbo Sri.


Begitu melihat Irvan dan sebagian besar teman-teman kelasnya tiba, mereka gelisah. Biasanya ketika Irvan datang, pastinya mereka langsung mengerjainya sesuka hati, namun untuk sekarang tindakan itu tidak bisa lagi.


Shael, menyadari hal itu, lalu dengan suara keras dia menyindiri “ada yang beda nih …” lalu teman-teman lainnya yang mengerti bersama-sama tertawa riang.


Bagai ditampar pada pagi hari, wajah Viki dan kedua sahabatnya merah. Mereka malu sekali, karena merasa kalah telak.

__ADS_1


“Mbo, ini bayarannya, simpan saja kembaliannya.” Kata Viki, lalu bersama kedua kawannya meninggalkan kantin dengan diiringi tawa.


“Kur*ng Aj*r mereka. Beraninya menghina kita.” Kata Viki setelah keluar dari kantin.


Dengan marah ketiganya pergi ke Taman Flamboyan, taman di dekat parkiran kampus, tempat biasanya mereka mangkal.


“Bro, bro, kita harus segera lakukan penyelidikan. Jangan sampai Irvan balik mempermalukan kita,” Ucap Viki dengan marah.


“Aku juga mau seperti itu,” kata  Anjas.


Lalu mereka membagi tugas. Anjas menemui Rika seperti perintah Viki semalam, Reis memata-matai pergerakan Irvan dan Viki mencari Fania.


Reis ke kantin, Anjas menuju kelasnya Rika dan Viki pergi ke kelasnya Fania.


Reis tidak berhasil, karena yang dibicarakan Irvan dan kawan-kawannya hanya seputaran liburan akhir pekan. Mereka ingin berekreasi.


Sedangkan Anjas lebih gagal lagi. Jangankan menemui Rika, berbicara dengannya saja sudah tidak bia. Rika telah menutup diri untuk mereka.


Tinggalah Viki melakukan aksinya. Ia ke kelasnya Fania.


Fania yang sampai saat itu masih menganggap Viki adalah aktor dibalik kembalinya dia dan Irvan ke kampus sangat gembira begitu melihat Viki muncul di depan kelasnya.


Fania tidak hanya datang begitu saja, dia malah tiga kali membungkukan kepalanya dihadapan Irvan sambil terus mengucapkan terima kasih. Bahkan dengan polosnya Fania berkata bahwa untung ada Viki.


Mendengar semua ucapan Fania, Viki mendapatkan jalan mulus melaksanakan rencana mereka.


Ia mengajak Fania keluar sebentar, karena ada hal penting yang ingin ia bicarakan terkait kembalinya mereka ke kampus.


Tanpa berpikir panjang, Faniapun mengiyakan saja.


Menuju ke tempat parkir, Viki membukakan pintu mobilnya, lalu dengan santainya Fania masuk, lalu keduanya pergi meninggalkan kampus.


Dua puluh menit berselang, sampailah mereka di sebuah restoran mewah di Jalan Permai.


Keduanya masuk, memesan beberapa menu, lalu mulai ngobrol santai disana.


Sungguh licik. Irvan memanfaatkan rasa tulus, iklas dan kepolosan hati Fania.


Viki mulai berkata, bahwa sebenarnya ia dan kawan-kawannya sudah muak dengan sikap yang selama ini mereka perbuat kepada seluruh mahasiswa miskin, terlebih Irvan.

__ADS_1


Mereka tidak tahu bagaimana caranya meminta maaf  kepada semua orang yang telah disakiti selama ini.


“Jujur,” kata Viki dengan membuat wajah sedikit murung, lalu berkata “Aku ingin meminta maaf secara langsung kepada semua mahasiswa miskin dan khususnya Irvan, tapi Aku malu” katanya.


Fania yang lembut, sangat tersentuh hatinya. Serasa ingin menangis mendengar kata hati Viki. “Ia berusaha menahan air matanya,” lalu dengan bijak ia berbicara.


“Aku mengerti perasaan Kak Viki, Aku Janji akan sampaikan hal ini kepada Kak Irvan”


“Janga-jangan. Nanti aku sendiri yang akan mengatakannya.”  Viki sengaja menumpuk rasa simpatik dihati Fania.


Lalu keduanya terus ngobrol sampai semua yang diketahui Fania tentang Irvan diceritakan.


Kini Viki telah mendapatkan informasi baru, kalau Irvan telah bekerja paruh waktu di sebuah perusahaan kecil.


Ia juga tahu alamat barunya dan lebih penting lagi, kali ini ia mengetahui seluruh latar belakang Irvan.


Tapi untungnya, yang Fania ketahui masih latar belakang yang lama. Irvan adalah keturunan orang terkaya sama sekali belum diketahuinya.


Fania yang terbawa dalam permainan kata-kata Viki, juga menceritakan latar belakang kehidupannya secara utuh.  Bahkan ia mengatakan kalau dia dan Irvan telah memiliki rencana untuk mencari tahu latar belakang keluarga mereka.


Seperti mendapatkan informasi yang paling penting. Lalu dengan pura-pura ia mendukung kemudian bertanya tentang cara yang akan dipakai kedua musuhnya itu.


Dan sekali lagi dengan polosnya Fania menceritakan semuanya.


“Fania, jujur aku tidak tahu seperti apa hubungan kalian saat ini, tapi ku mohon dengan sangat, tolong jangan ceritakan tentang pertemuan kita ini kepada Irvan. Begitu juga dengan apa yang kita bicarakan. Aku akan mencari waktu yang tepat untuk berbicara langsung denganya”


“Iya Kak. Aku akan rahasiakan hal ini, hehehe”


Lalu Viki memanggil pelayan restoran untuk meminta bill, kemudian membayarnya, lalu keduanya kembali.


Dipertengahan jalan, Viki berubah pikiran, ia belum mau membawa Fania ke kampus, ia ingin mengetahui alamat rumahnya, lalu dengan penuh kemunafikan ia memohon maaf dan menanyakan alamatnya.


Setelah diberitahu, Viki memutar arah mobilnya, lalu melewati jalan lain untuk pergi memastikan rumahnya Fania.


“Itu rumah ku yang kecil berwarna kecokalatan,” kata Fania ketika mendekati rumahnya.


“Oke, baiklah, aku telah mengatahuinya. Aku akan datang mengunjungi mu nanti,” kata Viki sambil tersenyum jahat.


Ada rencana lain yang telah terlintas di otaknya ketika ia merasakan kepolosan hati Fania. Ia menduga, Fania pasti akan mengikuti semua keinginan-keinginanya.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2