Pieces of Hope

Pieces of Hope
Panco


__ADS_3

Irine Waltz, orang yang penuh glamor dalam kehidupannya. Satu-satunya anak perempuan dari lima saudara yang sangat siscon akut.


Wajahnya yang cantik menjadi banyak pujaan kaum pria yang terpana. Baginya cukup menjijikan melihat hewan ternak seperti itu. Tidak, ia hanya jijik untuk melihat atau mengurusi orang yang hanya melihat penampilannya.


Banyak keluarga bangsawan tingkat tinggi yang mengajukan permohonan untuk pertunangan. Tapi dia tolak secara mentah, sombong, dan kasar seakan tidak peduli citranya sebagai putri bangsawan yang elok dan anggun.


Tapi dihadapannya.


Xiang Yu, pria yang dia temui sedang 'bermain' dengan monster tipe Lord. Mutasi monster Lord sendiri sangat jarang, apalagi monster tipe Lord bisa mengembangkan sebuah kecerdasan.


Tapi Pria yang dia temui ini, hanya menganggap monster tipe Lord hanya bahan yang bagus untuk samsak tinju.


Ingin membeli wajahnya hanya untuk menjadi karung tinju.


"Apa kau pikir pelindung itu bisa menahan telepak tanganku?" Kata Irine sambil tersenyum. Biasanya dia ia mendapatkan perlakuan halus karena wajahnya atau popularitas keluarga, hanya saja Pria tidak memperdulikannya.


"Apa kau ingin atau tidak? Aku sedang sibuk sekarang."


"Bagaimana kalau kita bermain game."


"Game?"


Irine tersenyum puas, dia menghentakan kakinya ke tanah.


Meja bundar terbuat dari tanah.


Ia melihat wajah Xiang Yu dengan tenang, berusaha mengulur waktu untuk membuat pria ini penasaran bertanya padanya.


Tapi .... ia hanya melihat Xiang Yu berbalik untuk mengurusi daging kadal yang telah dikumpulkan. Urat-urat di dahinya mulai keluar saat dia benar-benar diabaikan.


Dia ingin sekali membanting pria itu lalu menggigit kepalanya, walau begitu dia mengurungkan niatnya, menarik napas dalam-dalam mengatur emosinya.


"Mari kita adu panco." Dia tersenyum lagi


Xiang Yu berbalik melirik Irine dari atas ke bawah. "Dengan lengan kecil tanpa otot itu bisa apa?"


Sesungguhnya Pria ini sedang mengejeknya, kan? Emosi irine semakin dipuncak, ia tersenyum penuh misterius kepada Xiang Yu.


"Baik-baik saja maka," Xiang Yu berdiri menghampiri meja. "Tidak ada taruhan tidak akan menyenangkan, bukan?"


"Tentu, apa kau inginkan." Irine sepenuhnya mengintisipasi segala yang terjadi dalam taruhan ini


"Seratus gold kalau aku menang."

__ADS_1


Pria itu tersenyum lebar penuh percaya diri, seperti mengejek secara diam-diam. Irine mantap matanya beberapa detik, lalu ia melipat lengan bajunya bersiap dengan posisinya.


"Aku menang, aku ingin kau jadi budakku."


Irine tersenyum lagi, tapi menurut Xiang Yu senyum itu sungguh menyebalkan.


Pria itu mengenggam tangannya, tangan yang lebih besar darinya dan lebih kasar. Ia dapat merasakan kalau pria ini adalah orang yang selalu bekerja keras.


——— Sementara itu, Alice, Rin, Luo Xiu, dan Whitey berkeringat dingin. Jantung mereka seolah-olah akan copot mendengar percakapan mereka.


Diam-diam dia mengutuk Xiang Yu dalam hati mereka melihat Irine Waltz yang diacuhkan seperti itu.


"A-no Tuan apa itu tidak apa-apa?" Alice bertanya pada salah satu pengawal Irine


"Tenang, Putri Irine adalah maskot pasukan tim kami." Ksatria itu tersenyum. "Panggil aku Jamez." Tambahnya sambil melihat Irine dan Xiang Yu yang sedang bersiap. "Aku penasaran kenapa Putri Irine 'berminat' kepada Pria itu."


"Tapi... akan tidak sopan untuk taruhan seperti itu, kan?" Rin berkata dengan gugup. "Aku tidak peduli kalau Pria sialan itu kalah, tapi .... kalau Lady Irine...."


"Tenang-tenang..." Jamez masih tenang seperti sebelumnya. "Kau tidak pernah mendengar julukan Putri Irine di kamp, jadi tenang saja."


Melihat Irine dan Xiang Yu mulai bersiap diatas meja. Tekanan berubah menjadi tinggi tapi kedua tangan mereka tidak saling mendorong.


Irine tetap dengan senyumnya, sementara Xiang Yu dengan pandangan acuh tak acuh.


Kontras.


Angin ribut menerpa area sekitar mereka.


Daratan tiba-tiba bergetar, Aura megah muncul dari keduanya berwarna putih dan emas. Mereka saling menatap dengan wajah serius.


"Hoo... cukup mengejutkan dari tangan lentik seperti ini." Xiang Yu sedikit terkejut tapi ia menyembunyikan itu


"Terima kasih pujiannya," balas Irine berusaha menambah kekuatannya.


Hampir delapan puluh persen dia menggunakan kekuatannya, tapi Pria ini ... masih menatapnya dengan tenang seolah-olah tidak terlalu kuat untuk mendorong lengan lawannya jatuh.


Tiba-tiba saja seperti sebuah beban yang di timpahkan, pergelangannya terdorong secara perlahan-lahan.


"Dengan kekuatan delapan puluh persenku masih tidak menahannya?"


Irine buru-buru memaksimalkan kekuatannya, mendorong kembali ketengah lalu mendorong Xiang Yu secara cepat.


"Seharusnya kau iklaskan seratus goldmu itu." Xiang Yu berusaha mendorong lengan Irine

__ADS_1


"Oh? Bukankah seharusnya seorang pria itu mengalah pada perempuan." Irine menahan kekuatan Xiang Yu sampai membentuk sudut lancip.


"Itu hanya frasa kuno, sekarang jamannya emansipasi."


"Mm... aku tidak begitu yakin." Irine memiringkan kepalanya. "Tapi kau harus lemah lembut bukan kepada seorang perempuan?"


"Tidak, kumohon. Aku tidak memiliki hati untuk lemah lembut terhadap wanita gila."


Aura mereka berubah menjadi pilar yang membumbung tinggi. Tekanan di area mereka semakin meningkat. Jelas keduanya tidak ingin kalah, jadi wajar untuk mengeluarkan kekuatan mereka sedikit lebih.


Meja batu yang dipakai untuk adu panco mulai retak seperti jaring laba-laba tidak mampu untuk menahan kekuatan mereka lagi.


"Sepertinya aku cukup bermain-mainnya." Xiang Yu mengangkat lengannya kembali ketengah


Irine terkejut, keringatnya bercucuran menahan kekuatan Xiang Yu sekuat tenaga hingga wajahnya berwarna biru. Dia tidak menyangka kekuatan lawannya sekuat ini.


"Kau harus menyerah, tidak usah berusaha lagi." ucap Xiang Yu


Irine tidak membalas dia berusaha keras menahan Xiang Yu dengan sekuat tenaga.


"Aku ti..dak ka...lah!"


"Hiyaaa!!!!"


Irine meraung, semua kekuatannya sepenuhnya keluar, mungkin kalau tadi seratus persen maka sekarang seratus sepuluh persen!


"Keras kepala."


Xiang Yu mendorong lengan Irine sampai ingin membuatnya menang, namun berhenti begitu saja.


Irine melihat senyum Xiang Yu yang semakin lebar itu seakan kekalahannya sudah dipastikan dan itu membuatnya kesal. Seratus gold memang tidak memiliki arti khusus baginya. Dia hanya merasakan kalah dari seorang pria untuk pertama kalinya.


Saat tangannya jatuh lemas dimeja tanah yang hampir rusak dia menatap kosong Xiang Yu.


Kalau bukan merasakan secara langsung ia memilih untuk tidak percaya seorang yang lebih kuat darinya. Mungkin kalau di Tanah Suci, dia peringkat satu yang dilengserkan.


"Hump. Cuman beruntung!" Irine sedikit membuang muka. "Aku mengalah itu, kasian aja."


Xiang Yu tidak menanggapi alasan Irine, dia menyodorkan lengannya memberi isyarat kalau Goldnya harus di bayar.


"Jamez bawa uang bulananku!" Irine berteriak kencang


Tidak menunggu lama Jamez membawa sekantong emas dalam dompet merah muda dengan gambar beruang coklat yang sedang menjulurkan lidah. Cukup imut dengan selera seorang Putri sedikit tomboy ini.

__ADS_1


"Aku pasti akan membalas kekalahan ini!" Irine menyerahkan goldnya dengan enggan


"Tentu, kalau beruntung."


__ADS_2