
Di ruang yang megah dan mewah dengan dekorasi kelas tinggi.
Tangan ramping seorang perempuan memukul pelan kepalanya. Dia mendongak melihat perempuan itu yang melihatnya sedikit marah.
Ia tahu siapa itu, perempuan yang selalu ada disampingnya. Air matanya jatuh, ia melompat kearah Perempuan itu dan mendekapnya erat-erat seolah tidak ingin melepaskannya dan tidak rela ia pergi.
Perempuan itu berusaha memberontak melepaskan diraminya, wajahnya memerah oleh prilaku Xiang Yu. "Kau tahu kita sedang bekerja disini,"
Mengetahui hal yang ia lakukan sia-sia ia tidak berusaha memberontak lagi.
"Ini tidak biasanya dirimu,"
Berusaha menenangkan Pria yang menangis itu, sang Perempuan pun menepuk-nepuk punggunya dengan pelan. Pada akhirnya, Xiang Yu melepaskan pelukannya setelah itu ia menatap Perempuan dihadapannya.
"Kau perlu menyusut ingusmu." kata Perempuan itu sambil mengambil sekain sutra kantungnya. "Baiklah tenangkan pikiranmu, kita tunda dulu pekerjaan dan berjalan ke taman." Tambahnya sambil menyusut ingus Xiang Yu. "Ah, kau harus mengganti ini nanti."
Perempuan itu menarik lengan Xiang Yu, membawanya keluar ruangan lalu menyusuri koridor terbuka yang disampingnya ada taman bunga yang indah bermacam warna.
"....... Sheba."
Suara Xiang Yu tidak keras, tetapi Perempuan bernama Sheba itu menoleh dengan senyum yang indah. Ia sedikiit memiringkan kepala, bingung dengan tingkah Pria dihadapannya ini yang tidak biasanya.
Menyadari keanehan Pria dihadapannya Sheba memukul kepala Pria itu.
Pria itu memegangi kepalanya, ia mengelus-elus pelan sambil memasanv wajah cemberut.
"Kalau kau hanya membuang-buang waktu, lebih baik kau itu mendatangani dokumen yang penting!" Sheba tidak peduli keluhan Xiang Yu, ia berjalan kembali keruangan tadi
Sementara itu, Xiang Yu masih berdiri disana melihat sekitar dengan tenang. Tempat yang sangat familiar dalam benaknya, ini juga salah satu tempat santai dia dan Sheba.
Ia berjalan memasuki ruangan tadi, langkahnya terhenti di depan pintu. Ia melihat Sheba sedang membaca beberapa dokumen dimeja panjang. Perempuan itu tampak serius saat membacanya, perlahan, satu demi satu ia membalikan kertas.
"Kenapa kau hanya berdiri!! Cepat kerjakan!"
__ADS_1
"Tidak, apa ini mimpi?"
"Mimpi kentutmu!" Sheba menaikan lengan bajunya. "Kalau kau bermimpi mau merasakan tinjuku?"
"Humm.... boleh juga. Baiklah lakukan," kata Xiang Yu sambil menutup mata.
Bam!
Tinju keras menghantam wajahnya hingga terpental keluar, ia berusaha berdiri melihat sosok perempuan datang lagi. Tangannya mengelap darah yang keluar dari hidungnya, itu beneran sakit.
"...... Apa kau pikir ini mimpi?"
"Tidak, maksudku ... ya ini mimpi."
Perempuan itu memijat keningnya, dia sungguh tidak berpikir kalau pria ini sungguh aneh.
"Baiklah serius, ini alam bawah sadarmu."
"Aku hanya sisa dari energi saja, memastikan dirimu tidak lupa tujuan."
Sekali lagi Sheba menjentikan jarinya, sebuah meja bundar kecil dan bangku saling berhadapan, di atasnya ada teko teh dan cangkir yang muncul begitu saja.
"Lupa tujuan? — sebelum itu, kenapa kau bisa menciptakan itu?" tanya Xiang Yu penasaran
"Mm... apa kau masih bodoh seperti dulu?" kata Sheba sedikit sarkastik. "Kau hanya memikirkan apapun disini, diruang imajinasi ini dapat mewujudkan apa yang kau pikirkan."
Xiang Yu mengangguk pelan, ia memikirkan sesuatu .... sesuatu dan, poing, seorang wanita yang mirip seperti Sheba menggunakan pakaian renang.
"Astaga, bocah mesum ini." wajah Sheba menjadi gelap. Rasanya ingin sekali mengigit isi kepala pria ini, hanya saja dia tidak bisa, ia hanya menatap Xiang Yu dengan tajam. "Baiklah kemari dan duduk."
Merasakan tatapan Perempuan itu, Xiang Yu buru-buru membersihkan pikiran kotor itu. Ia duduk berhadapan dengan Sbeba.
"Aku tahu kau bisa menyelamatkan krisis dunia waktu itu. Tetapi, waktu itu hanya menyegelnya ditubuhmu." Sheba menuangkan teh ke cangkir Xiang Yu. "Lalu, apakah kau tahu kalau segel di tubuhmu itu semakin memudar dari waktu ke waktu. Dan sekarang, mungkin saja sudan diambil alih, aku cukup yakin tubuh tanpa jiwa hanya menjadi tempat kosong."
__ADS_1
Ada jeda sejenak saat Sheba mengangkat cangkirnya lagi. "Aku takut, kemungkinan terburuknya tubuhmu diambil Alih."
Xiang Yu menatap teh itu, pantulan dirinya tercemin diatasnya. "Kalau saja cincinku tidak dicurinya, aku yakin dia menjadi bubur nanti, ngomong-ngomong apa kau tahu cincin itu?"
"Aku menyimpannya dengan aman setelah kau mengalahkannya, kau dapat yakin, cincin itu tetap aman hingga sekarang." Sheba meminum tehnya dengan anggun, ia menatap Xiang Yu yang memasang wajah rumit. "Aku tidak bisa mengubah apapun sekarang."
Ruangan menjadi hening dan keduanya seakan hanyut dalam pikirannya sendiri. Xiang Yu sendiri tahu apa dan siapa yang dia lawan nantinya, namun sekarang entah kenapa dia berpikir ini tidak sederhana yang terlihat.
"Ngomong-ngomong bagaimana kau menyelipkan energimu ke sini?" Tanya Xiang Yu pelan memecah kesunyian. "Aku tidak berpikir seperti, kau itu hanya ilusi."
Sheba menatap Xiang Yu dalam-dalam, tidak sedikitpun pandangannya lepas dari mata Xiang Yu. "Apa kau ingat perempuan yang mengajakmu taruhan?"
"Irine Waltz?"
"Ya. Kasusku sama denganmu, kita sama beringkarnasi dan hidup kembali. Namun, hidup kita di dunia yang berbeda...." kata Sheba. "Aku awalnya tidak mengira itu kau, orang yang kutemui secara acak. Awalnya aku skeptis dalam pemikiranku, untuk memastikannya aku harus berpikir bagaimana caranya untuk memasukan energi hidup tanpa ketahuan. Dengan tantangan Panco, dan merasakan kekuatanmu, aku menyisipkan kekuatanku ke dalam dirimu."
"Aku mengerti...." Xiang Yu mengangguk. Dia meminum tehnya, menyeruput pelan menikmati aroma harum bunga anggrek. "Huuft, aku tidak berpikir kau akan menyiapkan Tieguanyin ini."
Sheba mentap lembut Xiang Yu dan tersenyum. "Ya, secara Reuni, aku berpikir ini yang pantas. Teh yang cocok untuk mengingat hal manis."
Walau suasana hening kembali mereka cukup menikmati hal seperti ini. Dulu dan sekarang masih sama, mereka menikmati waktu dengan meminum teh dengan santai.
Mereka sadar kalau saja di tempat seperti ini mereka tidak bisa berlama-lama. Namun, seakan dapat saling mengerti pikiran masing-masing mereka tetap diam.
"Waktunya berakhir, Rajaku, raja yang berdiri diatas raja dan melawan langit. Kau harus kembali, kita akan bertemu dalam kenyataan."
Senyum itu perlahan menghilang, tubuh Sheba menipis dan menguap menjadi butiran cahaya. Pria itu mengangguk pelan sambil menyuruput teh yang tersisa.
"*Sepertinya akan merepotkan kalau saja para cecunguk itu ikut campur dalam dunia ini. Terutama dia, orang tergelap dan terbuang, aku harus waspada padanya nanti."
"Kali ini aku akan menghabisinya, aku pastikan itu*."
Tubuhnyapun memudar, tatapan yang berapi-api itu tahu kalau krisis ini lebih sulit dihadapi saat waktunya tiba. Dia harus menyiapkan semuanya sebelum krisis itu terjadi.
__ADS_1