Pieces of Hope

Pieces of Hope
Naif dan Bodoh.


__ADS_3

Perjalanan dari Yellow Spring ke kota berikutnya cukup memakan waktu yang lama.


Karena desa Emilia sudah diatur oleh tim Irine yang bertugas. Dan satu lagi, seratus gold dari Irine disumbangkan untuk pembangunan desa kembali.


Xiang Yu menatap langit cerah, cuaca yang bagus ini membuatnya mengantuk.


Pria itu tidak bisa menahan kantuk saat perjalanan yang membosankan.


"Adik Xiang, sialan! Kau bahkan tidak sedikitpun terpesona Irine Waltz." ujar Whitey sambil menepuk pundak Xiang Yu. "Ah.... aku kalau jadi kau, bisa menjadi gila saat memegang tangannya itu."


"Oh ayolah. Aku cukup sial bertemu wanita barbar itu." Xiang Yu memalingkan wajahnya. "Kalaupun aku bertemu lagi dengannya, lebih baik melarikan diri dengan sekuat tenaga."


"Ooh benarkah?" Whitey pura-pura terkejut. "Mm... tapi kupikir kau tidak akan lepas darinya." Pria ini menggoda Xiang Yu dengan semangat


"Tidak, kumohon." Xiang Yu buru-buru menyanggah


Dia cukup sial untuk bertemu wanita barbar lainnya, kau bisa tahu dari Yu Ji yang selalu penasaran dengannya lalu ada Rin yang selalu mengutuknya.


Padahal harapannya sederhana, dia ingin menemukan perempuan yang lembut dan penuh kasih. Namun, takdir cukup kejam untuk mempertemukan dia dengan perempuan seperti itu.


"Jangan menolaknya dengan cepat." suara Whitey menjadi khidmat seperti seorang sepuh yang penuh akan pengalaman. "Kau lihat saat kita berangkat tadi? Dia memberikan tatapan penub cinta, bukan?"


Mendengar itu Xiang Yu benar-benar mau melempar Pria ini dari gerbong kereta.


Dia ingat Irine yang melihatnya dengan penuh ambisi balas dendam setelah kalah dari adu panco.


"Ya, kau harusnya bersyukur untuk mendapatkan perhatian dari bidadari." sekarang Luo Xiu membantu Whitey menggoda Xiang Yu


"Berhentilah, bukankah lebih baik kita istirahat?" Xiang Yu tersenyum kecut


"Aiyo, lihat adik kecil ini memerah." Whitey tersenyum penuh kemenangan. "Coba kau bayangkan saat mendapatkan Putri Irine sebagai kekasih nanti,"


Xiang Yu tidak menjawab, dia hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya.


Ia ingin tidur sekarang.


Menutup matanya sambil mendengarkan Whitey yang mengoceh seperti mendongeng.


***


Hal lama terjadi lagi.


Berada di ruangan putih tak berujung dan sepi.


Ini adalah tempat khusus lucid dreamnya yang tercipta oleh imajinasinya sendiri.

__ADS_1


Dia sedang berdiri bukan di lantai putih, melainkan sebuah lumpur yang menenggelamkan setengah badannya. Dia melihat tangannya yang kotor karena lumpur hitam berusaha mencerna stuasi seperti ini.


Namun.....


Dia mendengar tawa bahagia dari atas, sepasang sosok seperti malaikat yang indah sedang bermain dengan bahagia. Entah kenapa ia merasa jengkel dengan sosok malaikat yang sedang bermain itu, seakan dia ingin sekali merobek-robek keduanya menjadi butiran terkecil.


Xiang Yu merasakan kemarahan dan kesedihannya sendiri, dia berusaha keluar dari lumpur hitam tersebut dengan sekuat tenaga.


Hanya saja semakin ia berusaha keluar dari lumpur itu seolah-olah dia semakin terhisap ke dalam lumpur hitam. Tentu, dengan kemarahan yang tinggi, dia ingin menggapai sepasang malaikat itu. Hanya saja gerakannya terkunci, sebuah tangan hitam terbuat dar lumpur menahan pergerakannya. Perlahan lumpur hitam itu memunculkan tangan lain dan melilitnya dengan erat.


Ia sudah tidak bisa bergerak lagi, dan hanya menyisakan tatapan penuh dendam.


Tubuhnya perlahan tenggelam dalam lumpur karena diseret oleh tangan-tangan itu. Tenggelam dalam kegelapan yang sepi dan menyeramkan.


Tidak ada cahaya sama sekali seperti kegelapan absolut.


"Apa kau mengunjungiku?" sebuah suara bergema dalam gelap. "Aku cukup bosan disini, kau tahu?"


Sosok pria yang mirip dengannya menampakan diri dengan senyum gila diwajahnya.


"Serius, kehidupanmu sungguh indah tidak seperti dirimu yang dulu."


"Penuh warna, teman, dan ..... kebahagian."


"Ciih... aku benar-benar iri padamu."


Xiang Yu tidak membalas setiap ocehan yang keluar dari mulut Pria yang mirip dengannya. Dia menatapnya dalam-dalam dengan acuh tak acuh.


Sebenarnya, dia sangat jengkel dengan Pria ini yang mengomentari hidupnya.


"Hoi! Apa kau mendengarkanku?"


Pria itu mendengus kesal karena diabaikan tapi pada akhirnya ia melanjutkan ocehan yang tidak bergunanya.


"Hais. Kau selalu mengabaikanku. Menyegelku dalam kegelapan yang menjengkel seperti ini."


"Sepi dan sunyi, tidak ada teman berbicara."


"Kau bahkan tidak ingin berbicara padaku."


Dari ocehan tentang kehidupannya sendiri dan sekarang keluhan hidupnya. Pria ini bermulut besar yang doyan mengoceh hal tak berguna.


Apakah kesialan lainnya mendengarkan Pria yang mirip dengannya mengoceh? Sambil menjaga postur wajah dingin, Xiang Yu tidak tahan dengannya.


"Kau."

__ADS_1


"Berisik."


Katanya sangat dingin membuat Pria itu tertegun lalu tiba-tiba tertawa kencang seperti orang gila, tawanya bergema di tempat yang gelap ini.


Xiang Yu menatap mata Pria itu — mata yang penuh dengan kehancuran dan kesedihan.


"Kau sama seperti dulu." gumam Pria itu. "Orang naif dengan segala pemikiran bodoh, kau bahkan tidak bisa melindungi apapun! Kau hanya orang yang hanya bertindak dengan rasional! Orang bodoh semacammu hanya sebuah boneka yang dimainkan oleh para baj*ng*n!"


Pria itu geram dengan Xiang Yu. Kebencian dan amarahnya tidak masuk akal meledak dalam kata-kata.


"Seharusnya kau membunuh para Baj*ngan itu! Kau bahkan tolerir mereka yang melakukan ini kepadamu! lihatlah dengan jelas! LIHATLAH!!!! SEMUA IMPIAN, SEMUA YANG INGIN KAU WUJUDKAN SEMUANYA HANCUR! DAN KAU HANYA TERSENYUM!? ORANG BODOH MACAM APA KAU!? ORANG TERSAYANGMU MATI, NEGARAMU HANCUR .... DAN KAU SEKARANG KAU HANYA MENJADI PECUNDANG YANG DI TERTAWAKAN!"


Pria itu mengungkapkan ekspresi kegeraman atas pola pikir orang dihadapannya ini.


Hanya saja, respon Xiang Yu bukanlah sesuatu yang diharapkan.


"Diam!"


Pria itu memandangi Xiang Yu lagi, tangannya mencengkram kuat dengan amarah yang memuncak tinggi.


"Kau memang selalu mengikatku. Berusaha menekanku, kau bahkan tidak peduli dengan kekejian orang lain."


"Ya. Kau hanya orang bodoh."


"Orang yang selalu meminta maaf kepada orang lain."


Pria itu perlahan menjauh dari Xiang Yu, dia tidak peduli dengan orang yang ia anggap bodoh ini. Dia tidak berusaha untuk berbicara lagi.


Menghilang dalam gelap, dan menyisakan Xiang Yu yang tertunduk lesu disana.


"PERSETAN DENGAN HIDUP!"


Xiang Yu berteriak keras dalam gelap.


Naif dan bodoh.


Pria itu betul. Dia hanya bertindak seperti itu dulu, menolong orang lain dan ia yang meminta maaf. Dia hanya berpikir kalau membantu orang lain bisa membuatnya bahagia, maka dia ingin membantu orang lain dan itu juga membuatnya bahagia.


Tapi.....


Itu pemikiran naif yang bodoh.


Sebenarnya impiannya sederhana, dia hanya ingin hidup bahagia entah itu bersama orang lain ataupun orang yang dia sayangi. Namun, yang dia lakukan berakhir dengan kehancuran dan kesedihannya sendiri.


Dan pada akhirnya dia hanya menjadi pencundangnya.

__ADS_1


CATATAN AUTHOR :


DUKUNG TERUS DENGAN LIKE, COMMENT, AND VOTE


__ADS_2