
"Raja yang buat kamu seperti ini kan?"
Wajah Tiana sendu.
"Jangan hiraukan luka ku, aku lelaki hal seperti ini sudah biasa"
"Maaf karna aku kamu jadi seperti ini"
"Tidak honey aku baik baik saja, Raja bilang justru kamu yang tidak dalam keadaan baik"
"Raja sudah memberi tahu kamu? Dasar padahal aku minta dia merahasiakannya"
"Kenapa harus dirahasiakan, justru bagus kalau kamu jujur sejak awal bukan"
"Kamu mau terima anak ini Jack?"
Jack tidak langsung menjawab, seperti sedang menimbang nimbang jawaban.
"Aku tidak menuntut kamu untuk bertanggung jawab" Tiana melepaskan pelukannya dari Jack, entahlah wanita hamil ini begitu cepat sekali moodnya berubah.
"Bukan seperti itu maksud ku, tapi bagaimana bisa tidak lama lagi aku akan sibuk dengan skripsi lalu wisuda. Bayangkan saat wisuda orang orang ngasih aku bucket bunga coklat atau apapun itu dan aku hadir menggendong seorang anak"
"Jadi kamu tidak menginginkannya kan? Kamu bilang mau menikah kamu bilang biar aku dirumah saja mengurus anak kamu bilang" kata kata Tiana tergantung, dia ingat perempuan muda yang diantar Jack, seolah sadar dengan apa yang tengah dihadapinya.
"Ah sudahlah aku tau apa yang harus aku perbuat, sekarang kamu pulang saja jangan khawatir aku akan selesaikan semuanya tanpa membuat mu merugi"
"Hei apa maksudnya, aku bukannya nolak kalian tidak, hanya saja ini terlalu tiba tiba untuk ku"
"Kamu pikir ini tidak tiba tiba untuk kehidupan ku?"
Jack berusaha mengelus perut Tiana yang belum terlihat besar.
"Hi sayang ini papa, kamu jangan buat mama kamu kesakitan ya. Maaf kalau papa baru menemui kamu, mama kamu tidak bilang kalau kamu ada disini."
"Apaan sih minggir," Tiana masih dongkol terhadap Jack.
"Tiana sayang hei dengar dulu"
__ADS_1
"Ga ada yang harus aku dengar lagi Jack, sudah pergilah dari sini aku lelah"
Pembicaraan keduanya tidak berhasil, Tiana yang keras kepala tidak akan mudah begitu saja untuk diajak berdiskusi apalagi sekarang dia tengah hamil sensitifitas perasaanya 1000% meningkat.
Jack keluar dari apartemen Tiana dengan lemas, dia memikirkan bagaimana caranya agar Tiana ingin bicara dengannya.
Hari berganti, Jack masih dengan setia mengirimi pesan sementara setiap kali ditelepon Tiana mengabaikannya, Jack belum bisa menemui Tiana karna tugas kuliahnya cukup sibuk.
Tiana sendiri belum mau memeriksakan diri ke dokter kandungan, hanya sekali saja dia pergi saat awal tau dia hamil.
Selebihnya setiap hari dia menyibukan diri, nasib baik bayi didalam perutnya tidak membuat Tiana kerepotan.
message dari Jack
Tiana sudah berhari hari hampir berminggu minggu kamu masih enggan bicara dengan ku, aku juga ingin menemui anak ku. Bagaimana keadaan kalian, apa sudah pergi ke klinik, ijinkan aku antar kalian bertemu dokter.
Setiap hari Jack mengirim pesan kepada Tiana, tapi masih diabaykan olehnya.
Tiana pikir tidak ada yang harus dibahas lagi dengan Jack case close.
Keluarga Jack tidak ingin menerimanya, peringatan kaka permpuan Jack tempo hari sudah cukup membuat Tiana terpukul, dia tidak ingin lagi berurusan dengan Jack.
Keduanya semakin dekat, Jack kembali aktif disetiap acara ke agamaan yang keluarganya buat lantaran ada Ayana dan keluarga.
Sesekali Jack mengirim pesan untuk Tiana namun tidak di hiraukan.
Jack sudahpun pasrah, namun malam itu sepulang dia dari rumah orangtuanya dan mengantarkan Ayana pulang ke kostnya ada sebuah pesan terkirim.
Massage from Tiana
Hi Jack kedaan kami baik baik saja, bagaiaman dengan kamu dan keluarga
Jack typing...
Hati Tiana bergemuruh entah kenapa akhirnya dia membalas pesan yang dikirim Jack.
Jack tengah mengetik balasan pesan dari Tiana tapi tiba tiba menghilang, tidak lama telepon Tiana berbunyi.
__ADS_1
Tiana panik hatinya dag dig dug ada perasaan bahagia, rindu, juga takut menjadi satu mengaduk aduk isi perutnya.
Cukup lama Tiana mengangkat panggilan dari Jackie.
Ha hallo...
Suara Tiana sedikit bergetar, luluh air mata Tiana yang selama ini di tahannya.
Beberapa minggu Tiana sibukan dirinya dengan bekerja agar dia tidak memikirkan masalah dengan Jackie.
Kamu dimana? tanya Jackie.
Di aparteme. Jawab Tiana kembali.
Oke aku kesana ya, tunggu.
Belum sempat Tiana jawab namun Jack sudah memutus sambungan teleponya.
Tidak perlu waktu yang lama hanya sekitar 15 menit Jack kini sudah berada di apartemen Tiana.
"Kamu kemana saja kenapa tega mengabaikan ku begini" tanya Jack
"Bukan kah lebih menyenangkan kalu aku tidak ada didekat kamu"
"Aku rindu," Jack memeluk Tiana erat.
"Masuklah sampai kapan mau berdiri di ambang pintu begini"
Tangan Tiana terus digenggam Jack, matanya Jack tak pernah teralihkan dari eajah Tiana.
"Bolong lama lama muka ku kamu liatin begitu terus"
"Sempat sempatnya kamu bercanda Ti" Jack menarik Tiana dalam dekapannya.
"Kamu belum jawab pertanyaan ku, kemana saja kamu kenapa sulit dihubungi"
"Aku ada saja, yang kemana kan sebetulnya kamu. Bukan kah kamu yang terlalu sibuk Jack"
__ADS_1
Jack tidak mampu berkata kata, benar kata Tiana. Dia yang tak bersungguh menemui Tiana.