
"Anya betul betul bawa dampak baik untuk Jack, lihat sekarang dia sering pulang kerumah, dia sekarang aktif lagi sama anak anak gereja."
Mendengar penuturan Cecilia si anak sulung, senyum mengembang di bibir wanita paruh baya itu.
"Dari dulu Anya memang sangat baik dan dekat dengan Tuhan, makanya mamah bahagia waktu tau Anya sekeluarga kembali ke indonesia"
"Mantuable banget ya mam?" Nathan sipaling bontot ikut mengomentari percakapan kakak dan ibunya.
"Mama tenang aja anak nakal itu gak akan balik sama mantannya yang meresahkan kemarin, Cecil sudah urus perempuan itu"
"Mammmmm" teriakan Anastasya dari dalam membuat percakapan ibu dan anak itu terhenti, Anasytasya kakak kedua Jack ini seumuran Tiana.
"Kenapa sih an teriak teriak begitu!"
"Kak lihat ini USG kan, punya kaka?"
"Aku gak lagi hamil!"
"Kamu dapat dari mana?"
"Tergeletak didepan pintu sini"
"Itu kamar Jack, Cil coba kamu tanya Jack dimana suruh dia pulang secepatnya!" perintah sang mama.
Kakcil is calling...
"whats'up?" Jawab Jack singkat ketika kakaknya menelepon.
"Dimana kamu, cepat pulang ada hal penting ini perintah mamak"
Kenapa lagi sama mereka berisik banget kakak dan mama akhir akhir ini.
"Besok lusa deh kak, aku lagi di luar kota"
"Dalam rangka apa, ada kerjaan dari uncle?"
"Ya anggap saja begitu, udah dulu ya lagi driving nih. See you kak"
Jack segera mematikan teleponnya kembali focus ke jalanan.
Setau Cacilia adiknya itu memang tengah magang ditempat unclenya adik dari ibu mereka, ketika mendengar Jack ada urusan keluar kota Cecil yakin kalau Jack sedang bekerja.
Uncle Jack mendirikan sebuah kantor Arsitek yang cukup terkenal, pengguna jasanya pun tersebar kebeberapa luar kota.
"Coba lu hubungi Tatiana sekali lagi mana tau aktif sekarang”
“Ya betul kata Vian, daripada kita muter muter ga jelas kaya orang ogeb”
“Gak aktif kita random aja cari mudah mudahan Tuhan kasih jalan”
__ADS_1
“Untung lu temen gw, kalau enggak males gw nemenin lu begini gak ada kerjaan” Vian terus menggerutu disepanjang perjalanan mereka.
“Oi napa tuh bapack bapack dipinggir jalan begitu, coba lu mlipir Jack kali mereka butuh bantuan kita” saran Fang jiwa keponya
meronta ronta untuk memcari tau.
“Kenapa pak?” Sapa Fang duluan kepada seorang pria tua yang tengah sibuk meneliti kap mobilnya.
“Oh ini nak mobilnya mogok, saya sudah panggil tukang tapi belum tiba juga pdahal saya sedang buru buru” sahut bapak itu.
“Boleh saya chek pak” saran Jack kali ini.
“Tentu silahkan, kalau tidak merepotkan adek adek semua, saya sudah coba chek tapi alat yang saya bawa tidak memadai”
“Kita santai kok pak, temen saya ini lagi galau nyari bininya yang kabur biasany kalau lagi galau gini dia lebih serius kalau ngerjain sesuatu” kelakar Fang
Lama Jack mengotak atik mobil bapak itu, kebetulan Jack mahir dalam hal permesinan mobil dulu ayahnya punya bengkel mobil, sedikitnya Jack faham.
Perlengkapan dimobil Jack juga cukup lengkap jaga jaga siapa tau sewaktu waktu mobilnya terkendala.
“Coba bapak starter pak”
“Pak Rahmat,” seorang perempuan dibelakang kursi pengemudi yang sejak tadi diam memerhatikan akhirny bersuara.
“Ya neng, sabar ya pemuda itu baru saja bantu bapak betulkan mobilnya, montir yang pak Rahmat panggil belum dateng juga soalnya”
Jack menoleh kedalam mobil, sayup sayup dia mendengar suara Tatiana. Tapi buru buru ditepisnya, mungkin karna saking rindunya dia jadi berhalusinasi.
Pak Rahmat baru ngeh kalau Tatiana berdiam diri didalam dengan keadaan kaca jendela tertutup.
“Astagfirullah ia juga ya, neng Tiana neng gak apa apa didalam sana”
Ah pak Rahmat kenapa manggil nama ku sih, rutuk Tiana.
Jack menajamkan pendengarannya, Tiana nama itu kan tadi yang disebut tidak salah dengarkan.
Jack menarik handle pintu penumpang, Tiana tidak menyangka Jack akan melakukan hal senekat itu padahal belum tentu yang duduk disana Tiananya.
“Tiana” suara Jack melemah mendapati kekasihnya yang menghilang ada disana.
“Loh neng Tiana sama mereka saling kenal” tanya pak Rahmat bingung.
“Makasih bantuannya, pak Rahmat ayok jalan pak papah sudah menunggu terlalu lama” tatpan Tiana begitu dingin, tidak aeperti Tiana yang Jack kenal.
“Tinggu Ti, aku jauh jauh kesini nyari kamu. Apa ini kenapa kamu malah mau lari lagi!”
“Aku tidak minta dicari Jack, pulanglah jangan cari aku lagi. Aku sibuk jangan halangi jalan aku.”
“Tiana anak kita”
__ADS_1
“Anak apa, jangan aneh aneh saya gak ada waktu untuk melayani kamu”
“Neng,” panggil pak Rahmat
“Ini pemuda yang sudah buat Tiana begini?”
Tak lama pak Rahmat menghajar Jack, Tiana sudah seperti anaknya sendiri bagaimanapun dia tidak terima ketika Tiana pulang dengan keadaan hamil tanpa seorang suami.
“Jadi kamu yang sudah buat anak majikan saya kesusahan belakangan ini”
“Pak Rahmat jangan pak”
Tiana mencoba meredamkan emosi pak Rahmat, begitupun Fang dan Vian yang sigap melindungi sahabatnya dari amukan pak Rahmat.
“Saya selesaikan dulu urusan saya dengan dia pak, bapak pulanglah lebih dulu”
“Tapi neng bukan kah lebih baik Tuan tau, ayok bawa pemuda itu kerumah saja neng”
“Papi jangan sampai tau tolong pak Rahmat, biar saya selesaikan dulu urusan saya dengan ayah dari anak saya”
Fang dan Vian sejak tadi tidak faham pembicaraan ketiga orang dihadapan mereka akhirnya mengetahui kalau sahabatnya itu sudah menghamili kekasihnya.
“Kelar si Jack kali ini” bisik Fang kepada Vian
Sementara Vian hanya terdiam.
Akhirnya Tiana mengikuti keinginan Jack untuk berbicara berdua mereka duduk diaalah satu coffeshop, Fang dan Vian duduk berjauhan dari mereka berdua sengaja memberi ruang dan waktu untuk sejoli itu menyeselasaikan permasalahannya.
Pak Rahmat menjeput Tuan Adnan tanpa membocorkan sedikitpun kejadian tadi kepada Tuannya, dia sudah janji kepada Tiana untuk tidak melaporkan kejadian tadi.
“Kamu maunya apa sih sebetulnya, kenapa selalu lari dari permasalahan.”
“Aku gak mau menghambat masa depan kamu.”
“Ini masa depan ku lalu kenapa jadi urusan kamu, kita melakukannya bersama Tiana kita harus menyelesaikannya sama sama.”
“Tapi saya tidak mau memperpanjang urusan, sudahlah biar seperti ini saja. Kamu kembali ke keluarga kamu begitupun aku. Aku bisa merawat anak ku seorang diri”
Jack tentu tau tidak mudah menjadi singgle mom, ibunya ditinggal almarhum ayahnya dulu saat dia kaka dan adiknya masih sangat kecil.
“Sayang aku Ayah dari anak kamu, tolong libatkan aku juga dalam mengambil keputusan demi anak kita kelak”
Air mata yang selama ini terus ditahan Tiana, tidak dapat lagi di tahannya.
Bagai air terjun yang terus mengalir deras, tidak banyak kata yang mampu diucapkan Tiana.
Perkataan Cecilia kaka Jack terus terngiang ngiang dalam pikiranny.
Kelakuan Jack yang dikelilingi wanita pun tidak bisa ditoleransi Tiana, dia tidak sanggup memiliki kekasih playboy seperti itu.
__ADS_1
Bagi Tiana sekali seseorang megkhianati pasangannya maka akan ada pengkhianatan berikutnya.