Playboy X Palaygirl

Playboy X Palaygirl
Episode 31


__ADS_3

Tn Adnan memeluk Tiana begitu erat, dia betul betul menyesali semuanya.


Putri kecilnya sudah besar sudah dewasa dan hampir menjadi seorang ibu.


Sayangnya dia harus menjadi ibu tunggal tanpa pernikahan.


"Siapa ayah anak ini nak?"


"Dia dulu kerja ditempat Tiana bekerja pih, kebetulan dia juga tetangga Tiana, apartmen kita sebelahan"


"Lantas mengapa dia tidak mau bertanggung jawab"


"Dia masih kuliah"


"Dia lebih muda dari kamu?"


"Keluarganya tidak suka kalau dia berhubungan dengan aku pih"


"Loh kenapa, dimana rumah orang tua nya ayok kita temui"


"No pih, Tiana sudah putuskan kalau ini sepenuhnya tanggung jawab Tiana"


"Konyol kamu Tiana, kamu pikir membesarkan seorang anak mudah? Kamu dibuat susah disini sementara lelaki bajingan itu bisa bebas begitu saja. Enak betul tidak bisa papih mau ketemu sama dia papih mau bicara sama orang tuanya"


"Pih please aku sama lelaki itu sudah berakhir pih, aku sudah putuskan untuk menyelesaikan semuanya sendiri. Kalau papih memang ga suka biar Tiana pergi lagi dari rumah ini"


"Tiana papih tidak habis pikir sama pemikiran kamu"


"Tiana saja gak tau lagi mikirin apa, aw" tiba tiba perut Tiana terasa sakit.


"Kenapa sayang?"


"Perut Tiana sakit sekali pih, aw"


"Kita ke dr obgyn ya?"


Tiana tidak sanggup untuk bersuara, dia mengepalkan tangannya kuat kuat menahan sakit diperutnya.


"Tuan neng Tiana kenapa?"


"bi tolong suruh Rahmat siapkan mobil"


"Baik tuan"


Akhirnya Tn Adnan membawa Tiana ke dr obgyn.


.


.


.


.

__ADS_1


"Kandungan nyonya Tiana lemah pak, ukuran janin didalam kandungannya terlalu kecil dari ukuran semestinya"


"Lalu bagaimana dok keadaan putri dan cucu saya?"


"Putri bapak kelelahan kurang istirahat harus badrest. Sementara saya beri vitamin dan obat penguat kandungan, usahakan ibunya jangan terlalu banyak pikiran ya, dua minggu lagi kita lihat perkembangan janinnya semoga lekas sembuh"


"Baiklah dok, terimakasih"


"Pih mungkin dia tau kalau mamah papahnya tidak mengharapkan kehadirannya"


"Tiana kamu apa apan sih stop bicara ngaur okey"


Sesak sekali dada Tiana, mau menangis meraung raung tapi air matanya enggan keluar.


Ini balasan dari apa yang dia perbuat selama ini, perbuatannya dengan Jack yang sudah melenceng jauh dari apa yang sudah diajarkan papihnya.


Sebulan lebih Tiana tinggal ditempat papihnya, dia merenungkan semua kesalahannya.


Selama ini Tiana menggunakan no telepon baru untuk berkomunikasi dengan papihnya, dia menjauh dari segala aktifitas di social media, sementara waktu Tiana tidak ingin terhubung dengan orang luar dia perlu menenangkan dirinya.


Dokter menyarankan agar Tiana beristirahat total, terakhir saat Tiana ke dokter obgyn lagi janinnya mengalami perkembangan.


Sakit perut yang dialami Tiana masih sering terjadi, dokter bilang itu biasa terjadi karna perkembangan janin dan rahim yang mulai membesar.


"Neng ngidam apa hari ini? biar kang Anto carikan buat neng Tiana"


"Ema juga siap hunting makanan yang baby mau"


"Neng Tiana mau bi Warsih buatin rujak ga neng?"


"Masa gak ngidam neng, katanya kalau orang hamil suka ngidam loh neng"


"Ema gak selalunya ibu hamil itu ngidam tau, saya bosen nih tiduran terus disofa saya mau kekamar saya dulu ya. Kalian kalau mau beli cemilan beli aja deh buat kalian"


"Oke deh neng" jawab ketiga orang itu


...****************...


"Mel lu beneran ga tau Tiana kemana?"


"Serius gw gak tau, dia juga gak banyak cerita apa apa. Lu kenapa sama dia kok sampai dia resign"


"Coba lu tanyain bos lu, atau tanyain Raja deh dia pasti tau"


"Lu tanyain aja sendiri noh anaknya"


"Ngapain lu kesini yang lu cari udah ga disini udah minggat. Puas kan lu sekarang, gw saranin lu gak usah nyari nyari dia lagi"


"Apa hak lu ngatur kayak gitu"


"Gw gak ada hak apapun, ini cuma peringatan buat lu, gw orang yang jadi garda terdepan kalau sampai lu bikin Tiana hancur lagi"


"Ja udah ja inget ini masih jam kerja, mending lu balik ke dapur deh"

__ADS_1


"Jangan biarin ni orang nginjekin kaki disini lagi, kalau masih nongol gw habisin dia."


"Jack lebih baik lu pulang aja sekarang, gw gak tau apa permasalahn lu berdua tapi yang jelas kita gak ada satupun yang tau bu Tiana diamana"


Kamu dimana sih Tiana, kamu bilang mau pulang kebandung sebentar ini sudah sebulan lebih belum ada kabar.


"Kayak ayam kena telo lu murung begini, kenapa bro?" Vian membuyarkan lamunan Jack.


"Cewe lu belum ada kabar juga Jack?" giliran Fang yang bersuara.


Ketiga sahabat itu kini berada di kantin kampus.


"Cewe dia yang mana satu nih Fang, Anya yang cute kinyis kinyis atau Tatiana yang Hot mamba"


"Haha" Vian dan Fang tertawa bersama.


"Ah geblek lu berdua, besok anter gw ke Bandung yok"


"Bah mau ngapain lu ke Bandung? Cari bebeh"


"Babeh kali bukan bebeh, otak lu Fang bebeh aja isinya"


"Ia lah mas Vian yang gak ada otaknya"


"Sialun lu Fang"


"Kok lu berdua jadi debat, mau anter gw gak nih"


"Besokan kan coeg bukan sekarang" sahut Fang


"Besok sih tapi kalau bisa sekarang ya lebih bagus"


"Gw gak bisa kalau hari ini, abis ini mau jemput cewek gw kita ada janji ngedate"


"Ah laga lo, tenang Jack ada abang Fang yang bakal nemenin. Atau perlu ajak Leo juga biar tambah seru."


"Gw ngajakin lu bukan mau seruseruan tapi nyari Tatiana"


"Lu tau alamat dia di Bandung?"


"Ya tentu tidak kawan" jawab Jack jujur


"Ah kan si geblek bener bener dah, Jack yang bucin anda pikir Bandung seluas apartmen lu yang gak seberapa itu" Vian tak habis pikir dengan jalan pikir sahabatnya itu.


"Argh gila kemana sih Tiana, bego nya gw gak tau alamat dia di Bandung. Padahal dia bilang dia cuma mau balik ke tempat papihnya bentar doang. Ini udah sebulan lebih dia gak ada kabar. Apartemenya juga udah kosong kata penjaga disana."


"Makanya setia, lu mau Anya atau Tiana. Itu karma buat cowo kemaruk kayak lu"


"Betul kata Vian ini karma buat lu, lagian lu bukannya dijodohin sama Anya ngapain lu masih ngejar Tiana"


"Bukan dijodohin tapi dijodoh jodohin catet itu yes," protes Jack.


"Ya apapun itulah yang pasti lu harusnya tentuin sikap lu dong Jack masa ia lu mau embat keduanya"

__ADS_1


Ada betulnya kata Vian tapi perasaan ini bukan semata mata karna ingin mendapatkan keduanya, perasaan Jack untuk Tiana lebih ke perasaan bersalah karna harus mengabaikan kehamilan Tiana , dan hal itu tidak diketahui Vian dan Fang.


__ADS_2