Playboy X Palaygirl

Playboy X Palaygirl
Episode 40


__ADS_3

...Hi silent reader jangan lupa tersenyum nih saya kasih bacaan yang gak jelas heee, suka tidak suka senang tidak senang paling tidak kalian sempat melihat karya saya terimakasih atas perhatiannya untuk yang sudah komen dan like juga follow thank you so much maaf ceritanya ngalor ngidul yes...


Saat semua sudah terlelap dikediaman Tuan Adnan. Tiana yang sulit memejam kan mata selain karna tadi sore tertidur hatinya tak karuan.


"Tiana kamu kenapa?"


"Vita kamu belum tidur? Pasti keganggu ya, maaf tapi perut rasanya tak nyaman"


"Tak nyaman bagaimana?"


"Dia gak bisa dieum, terus aja bergerak"


"Baby kamu kenapa sayang" Vita mengelus perut Tiana, terasa samar-samar tendangan dari dalam


"We we weeeh dia ngerespon loh Ti" Vita terlihat heboh.


"Haha dia seneng di elus kamu"


Karna keduanya tidak bisa tidur, Vita yang membawa buku cerita sengaja dia beli untuk dihadiakan kepada Tiana akhirnya membacakan sebuah buku cerita, Tiana mendengarkan dengan seksama betul bayi dalam perutnya m itu kini sudah lebih tenang.


Kalau dipikir-pikir lagi setiap chek up dokter selalu bilang bayi dalam kandungan bisa merasakan dan mendengar kondisi disekitar, Tiana bahkan hampir tidak pernah mengajak bayi didalam perutnya itu bicara.


Hati kecil Tiana yang terdalam masih menampik keberadaan bayi itu.


Dia pun mengelus perutnya sendiri merasakan pergerakan calon anaknya yang kini lebih tenang.


"Mungkin dia kesepian karna selama ini hampir tidak ada yang mengajaknya bicara"


"Gak apa-apa mulai sekarang kita ajak dia bicara sesering mungkin, ok baby nanah dia respon lagi. Uh tayang pinternya sih kamu kayak tante"


Tiana terkekeh dengan celotehan Vita.


Toktoktok…


Terdengar pintu kamar Tiana diketuk, Tiana melirik jam dikamarnya 10:25pm


"Kenapa bi? kok belum tidur jam segini"


"Neng tu tuan neng tuan Adnan"


"Papih kenapa bi?"


"Barusan ada telepon kalau pesawat yang tuan naiki kehilangan kontak neng. Kemungkinan pesawat jatuh"

__ADS_1


Bak tersambar petir pertahanan Tiana roboh dia kehilangan kesadarannya.


"Tiana" Vita tang berdiri dibelakang Tiana meraih tubuh Tiana yang limbung.


"Neng" bi Warsih tak kalah kaget


Semua orang sudah berkumpul di ruang, tengah om dan tante Tiana yang merupakan adik dari Tuan Adnan datang untuk memastikan kabar yng diterima mengenai kakak sulungnya.


Dikamar Tiana ditemani Vita dan mamihnya yang langsung datang saat dihubungi Ema.


Mamih Tiana terkejut dengan kondisi Tiana yang sudah berbadan dua, selama ini tidak ada kabar apapun mengenai putri aatu-satunya ini. Dan mantn suaminya pun tidak pernah membahas kondisi putri mereka.


Ny Alice belum bisa menanyi keadaan Tiana, karna situasi saat ini tidak tepat.


"Mamih, papih mam" air mata Tiana kembali pecah, Ny Alice memeluk Tiana keduany pun menangis.


Vita hany bisa memerhatikan pertemuan ibu dan anak itu.


Sementara Ema dan bi Warsi tengah sibuk menyambut tamu yng satu persatu mulai berdatangan untuk berbela sungkawa.


Om Hamid adik bungsu papih Tiana yang pergi ke bandara untuk mengurus keperluan yang dibutuhkan guna evakuasi korban dan identifikasi sebagai perwakilan kelurga dari Tn Adnan.


Meskipun belum ditemukan jenazahnya tapi para pelayat berdatangan dikediaman Tn Adnan meskipun waktu sudah hampir tengah malam.


Beberapa orang mengirim karangan bunga turut berduka cita, suasana haru dirumah itu sangat terasa.


Selang infus lagi-lagi bertengger ditangannya yang semakin kurus, karna selama hamil bobot tubuh Tiana justru semakin turun.


Kehamilan Tiana yang tadinya hanya diketaui oleh orang rumah saja, pda akhirny diketahui oleh sanak saudara Tiana yang lain.


Ada banyak pertanyan pertanyan yang keluar, namun mereka menahan diri karna alasan sedang berkabung.


Sampai pagi Tiana masih enggan membuka matanya, dia harap ini semu mimpi.


Papih yng menyayanginya kini dlsudah tiada, papih yng jadi sandarannya selama ini pergi meninggalkannya dan tak akan pernah kembali.


Walau matanya tertutup rapat airmata Tiana tak dapat dibendung, moment paling menyakitkan dari sekian ujian hidup yang Tiana alami.


“Tiana sayang bangunlah buka mata kamu nak, maaf mamih baru datang maaf mamih tidak ada disaat saat terberat kamu" tangis Ny Alice pecah, betapa menyesalnya dia dengan semua perbuatan nya yang melukai hati anak dan mantan suaminya.


"Tante Vita keluar dulu ya" pamit Vita yang sejak tadi hanya terdiam.


Tiba-tina Tiana membuka matanya dia terbangun dan melepas paksa infus ditngamny, darah segar mengalir dari tangan Tiana. Dia sedikit meringis kesakitan.

__ADS_1


"Sayang kamu mau kemana, kamu harus istirahat dulu nak"


"Mamih"


"Ya sayang tunggu sebentar mamih panggilkan susternya dulu"


"Ini sudah pagi, biasanya papih sudah nunggu Tiana dimeja makan"


Tiana berdiri hendak pergi keluar ruangannya, didepan ada Vita yang tengah duduk dibangku taman melihat Tiana berlali keluar diikuti mamihnya, Vita lantas ikut mengejar Tiana.


"Ti, kamu mau kemana?"


"Papih aku mau nemuin papih, kasihan papih selama ini selalu sarapan sendiri sedangkan aku pergi ninggalin papih begituoun dengan mamih" Tiana mulai histeris


Tidak lama Raja datang menghampiri, sebelumnya Raja pergi ke rumah Tiana tapi disana justru dia mendapatkan kabar yang kurang mengenakan.


Raja menyusul Tiana yng sedang di rawat di rumah sakit, tapi saat Raja sampai kesana justru Tiana tengah menangis histeris beberapa perawat dan dokter jaga tampak kesulitan.


"Vita"


"Raja, kamu kemari?"


"Ya tadi aku ke rumah tapi" Raja tidak melanjutkan kata-katnya.


Setelah Tiana berhasil di tenangkan, jarum infus kembali terpasang ditangannya nampak Tiana terkulai lemas diatas belangkarnya.


Sementara di kediaman Tn Adnan tamu mulai ramai yang berdatangan, tetangga saudara dan kolega-kolega Tn Adnan semua hadir.


Jack dan Anya pun datang, maksud hati ingin menyelesaikan urusannya dengan Tiana dan menepati janjinya terhadap papih sang kekasih, justru dia disuguhi kenyataan berat bahwa orang yang akan di temuinya kini telah tiada.


Sesekali Anya mengelus pundak Jack ikut berempati kepada sahabatnya yang dirundung duka.


"Dimana Tiana kenapa dia tidak ada" Jack mencari sosok Tiana sejak tadi.


"Mungkin dia didalam kamarnya Jack, coba kamu tanya sama siapa gitu apalah ada orang yang kamu kenal disini" Usul Anya.


Tidak ada yang Jack kenal, dia memilih menunggu dikursi tamu yang sudah disiapkan untuk para pelayat.


Om Hamid ditemani pak Rahmat masih sibuk mengurus proses identifikasi jenazah, pagi ini satu persatu korban ditemaukan dipastikan tidak ada satupun yang selamat.


Diberita dapat terlihat bagaimana hancurnya pesawat itu, puing-puing pesawat berserakan diatas lautan.


Hampir sore belum ada kepastian apakah jenazah tn Adnan sudah dapat diidentifikasi, beberapa jenazah bahkan sudah tidak utuh karna ledakan pesawat.

__ADS_1


Om Hamid masih berharap yang terbaik tentang keadaan abang nya itu.


Pak Rahmat yang sejak semalam tak berhenti berdoa meminta pertolongan Yang Maha Kuasa, tidak dapat duduk dengan tenang.


__ADS_2