
Pelayat masih berdatangan, kabar kepulangan jenazah Tn Adnan belum ada kepastian.
Jack berhasil menahan langkah Ema
"Anda kan"
"Saya Jack teman Tiana"
"Mau apa anda kemari, lihat sekarang orang yang meminta pertanggung jawaban anda sudah tidak ada lagi tentu anda senang bukan" jawab Ema ketus.
"Mbak justru saya kemari untuk menepati janji saya terhadap Tn Adnan, tapi keadaan disini justru seperti ini. Saya turut berduka cita mbak, say mohon biarkan saya bertemu Tiana"
"Neng Tiana gak ada disini"
"Dimana Tiana, saya ingin menemuinya"
"Neng Tiana pingsan dia dibawa ke rumah sakit kasih bunda, cuma itu yang saya tau"
"Baik terimakasih sekali saya turut berbelasungkawa"
Ema tak lagi menjawab dia hanya mengaggukkan kepalanya.
Setelah mendapatkan informasi tentang Tiana, Jack dan Anya pergi ke rumah sakit dimana Tiana dirawat.
"Ti, sehat yu kamu kuat nak pasti bisa lewatin ini"
"Tante"
"Ya Vita"
"Tante makan dulu yu Vita temenin, biar Raja yang jagain Tiana sementara"
"Tapi tante takut nanti Tiana bangun dan histeris lagi"
"Atau tante mau makan disini saja? Vita pergi belikan makanan ya kalau begitu"
"Ehem maaf memotong sebelumnya, Vita kamu temani tante Alice saja biar saya yang pergi beli makanan untuk kalian."
"Tapi sepertinya Vita pulang saja deh, kamu kan sudah sejak semalam begadang Vit. Kamu istirahat dulu saja dirumah"
"Gak apa-apa tan, biar Vita tunggu sampai Tiana bangun"
"No nanti kamu ikutan sakit, tante gak maslaah kok kan ada Raja"
"Ah ya kamu balik aja biar aku temani tante dan Tiana"
"Tapi tan,"
"It’s ok Vit, lagian kamu pasti lelah juga kan"
"Kalau gitu Vita pulang sebentar mandi ganti baju nanti Vita balik kesini ya tante"
"Ia nak terimakasih banyak ya"
__ADS_1
"Ia tan sama-sama"
Setelah Vita pamit pulang dan Raja pergi ke kantin mencari makan Jack dan Anya tiba di ruangan Tiana setelah sebelumnya bertanya di bagian pendaftaran.
"Siang tante" sapa Jack sedangkan Anya memutuskan menunggu diluar ruangan.
"Ia siapa ya?"
"Saya Jack teman Tiana tante"
"Oh ya saya Alice ibu Tiana"
"Saya kemari setelah mampir ke rumah, dan orang rumah bilang Tiana dirawat disini tante"
"Ya Jack keluarga kami sedang berduka seperti yang kamu lihat" ucap Ny Alice sendu.
Tiana menggerakan jemarinya saat mendengar suara Jack, perlahan dia membuka matanya
"Tiana" "Sayang" Ucap Jack dan Ny Alice berbarengan.
"Mamih, Jack!" Tanpa diberi aba-aba air matanya kembali pecah saat melihat dua orang yang sudah menorehkan luka di hatinya kini berada dihadapannya, satu-satunya orang yang sangat mengerti perasaan Tiana kini sudah pergi jauh tangis Tiana semakin menjadi
"Tiana" Jack tiba-tina merengkuh tubuh Tiana menyandarkan kepal Tiana di dada bidangnya.
Tiana tidak menepis atau menolak perlakuan Jack, wangi tubuh Jack yang selama ini Tiana rindukan seolah mampu meluluhkan semua rasa kekesalannya terhadap Jack.
Sementara Ny Alice menerka nerka hubungan pria yang kini tengah memeluk putrinya, apakah dia ayah dari bayi yang dikandung Tiana.
Jack melepaskan pelukannya,
"Maaf tante"
"Kamu yang menghamili Tiana?" Pertanyaan itu cukup membuat hati Jack menciut.
"Jawab"
"Ia tante, tadinya hari ini saya mau menemui papih Tiana untuk meminang Tiana. Tapi seperti yang kita tau takdir punya caranya sendiri"
"Mamih"
"Kita punya banyak yang harus diselesaikan rupanya, Tiana kamu sudah baikan kan nak mamih panggil susternya dulu ya"
Ny Alice sejujurnya ingin sekali memaki Jack, tapi dia tahan karna dia ingat dirumah sakit tidak boleh berisik lagipula keluarganya masih berduka tidak etis rasanya kalau harus ribut.
"Jack papih, dia pergi ninggalin aku dia pasti gak mau jagain anak aku dia pasti takut aku bakal ngerepotin dia kedepannya, semua gak ngarepin anak aku kayaknya ya kan Jack sama seperti kamu sama seperti keluarga kamu"
"Gak ada hal seperti itu, kamu jangan ngelantur gak baik berpikiran begitu Ti papih kamu sayang banget sama kamu"
"Tapi semua benci kehdiran bayi ini buktinya kamu gak seneng waktu tau dia hadir dikehidupan kita"
"Kamu salah, aku cuma kaget aja waktu itu wajar kan"
"Tapi kakak kamu bilang keluarga kamu gaka akn pernah mau nerima aku. Mereka benci aku mereka gak suka kamu deket sama aku"
__ADS_1
"Tiana please jangan mikir aneh-aneh, kamu harus focus sama kesehatan kamu dan bayi kita"
"Heh Lo ngapain kesini bajingaaan" Raja tiba-tiba menarik tubuh Jack yang tengah memeluk Tiana. Hampir saja Raja kembali menghajar Jack
"Raja kalian stop jangan buat keributan ini rumah sakit" Ny Alice tiba bersama suster jaga, perkelahian antara Raja dan Jack bisa terlerai sebelum Jack kembali babak belur oleh Raja.
Sementara Tiana di cek oleh suster dan menunggu keputusan dokter apa Tiana boleh segera pulang
Raja memilih diam diluar bersama Anya, sedangkan Jack berdiri disamping Tiana dan Ny Alice didalam.
Om Hamid mengabari Ny Alice kalau jenazah mantan suminya itu sudah dapat diidentifikasi kemungkinan jenazah akan tiba dirumah malam hari karna ada beberapa prosedur yang harus dilewati.
Tiana diperbolehkan pulang sore itu dengan sedikit paksaan, Jack masih setia menemani Tiana dia membantu mendorong kursi roda yang harus dikenakan Tiana beberapa hari kedepan karna Tiana betul-betul tidak boleh terlalu letih ataupun stres sejujurnya Tiana hanya diperbolehkan berdiam diri diatas kasurnya.
Raja memutuskan kembali ke kediaman Tiana lebih dulu, sementara Anya mengekori mobil Ny Alice seorang diri karna Jack memutuskan untuk satu mobil dengan Tiana dan ibu nya.
"Neng" sambut Ema, semua tamu memerhatikan Tiana masih ditemani Jack dan Maminya, sementara Raja duduk tak jauh dari tempat Tiana berada di temani Vita dan Anya.
"Papih Em papih ninggalin aku"
"Sabar ya neng"
Saat akhirny jenazah Tn Adnan tiba Tiana sudah jauh lebih tabah dia hanya diam memeluk peti mati yang tidak boleh dibuka oleh pihak rumah sakit karna keadaan jenazah yang tidak memugkinkan untuk dilihat.
Tidak sedetikpun Tiana beranjak dari tempatnya, dia masih bersimpuh disamping peti jenzah papihnya hingga pagi menyapa.
"Tiana"
"Abang" Vandi akhirnya tiba bersama kedua orang tuanya termasuk kedua orang tua Raja.
"Turut berduka cita nak"
"Terimakaish umi abah sudah datang jauh-jauh sampai kemari"
"Turut berduka cita Tiana" ucap kedua orang tua Raja kemudian.
"Ia terimakasih banyk om tante"
Vita dan keluarganya pun ikut hadir, Anya yang semalam pergi diantar Raja ke hotel untuk beristirahat oun kini sudah hadir.
Hanya Jack yang menginap menemani Tiana.
Om dan tante Tiana dari pihak Mamihnya juga hadir termasuk semua kelurga besar Tn Adnan, para karyawan dari perusahaan hampir semua melayat.
Setelah disolatkan jenazah dikebumikan, Raja dan Vandy ikut membopong peti mati Tn Adnan hingga ke peristirahatan terakhirnya.
Entah air matanya yang sudah mengering atau Tiana yang sudah lebih tabah menerima kenyataan papihnya yang telah tiada, sorot mata Tiana terlihat kosong dia hanya diam sejak kedatangan papihnya semalam.
.
.
.
__ADS_1