Playboy X Palaygirl

Playboy X Palaygirl
Episode 35


__ADS_3

"Tiana" Jack menepuk pipi kekasih nya pelan, ah entahlah apa masih disebut kekasih?


Tidak ada respon apapun, Tiana yang terkulai lemas dahinya dibanjiri keringat dingin telapak tangannya begitu dingin wajahny pucat, Jack yang panik meminta Vian mengambil mobilnya ditempat parkir.


Dia membopong Tiana ke dalam mobil, Vian sudah siap untuk melajukan mobil, Fang yang duduk disamping Vian begitu tegang melihat yang terjadi di bangku penumpang.


"Tiana, tunggulah sebentar saja kita akan sampai di rumah sakit. Aku mohon bertahanlah" Jack mengusapkan tangannya ditelapak tanganTiana, sesekali dia menyeka keringat di dahi Tiana.


Nasib baik didekat sana ada klinik ibu dan anak Vian memutuskan untuk membawa Tiana kesana.


"Tolong pak ada pasien darurat" ucap Fang sembari membukakan pintu untuk Jack yang tengah bersiap menggendong Tiana.


Dua orang perawat datang dengan berangkar, Mereka membawa Tiana keruangan tindakan, hati Jack berdegup tak karuan, oh apa yang sudah dia lakukan terhadap kekasihnya itu.


"Bro ini tas Tiana yang terlepas di cafe tadi, coba lu cek hp nya didalam lu mending hubungin keluarganya"


Benar kata Fang sebaikny Jack menghubungi orang rumahny, dia mencoba membuka screnlock hp Tiana, syukur Tiana tidak menghapus fingerprint milik Jack di hp nya sehingga memudahkan Jack untuk membuka hp Tiana.


Jack menscroll kontak Tiana ada nama papih disana, dengan hati yang bimbang Jack memutuskan untuk mengabari papih Tiana, tidak butuh waktu lama untuk papih Tiana tiba di rs itu.


"Mana anak saya?" Dengan panikny tn Adnan menghampiri meja reception


"Maaf pak ada yang bisa kami bantu?"


"Anak saya dia dilarikan ke rs ini, namanya Tatiana Arsyadi dia tengah hamil"


"Baik tunggu sebentar pak, sepertinya dibawa keruangan IGD pak"


Tn Adnan melihat tiga orang lelaki yang tengah panik ada seorang yang tak berhenti menggerakan bibirnya seolah tengah berdoa dia tak bisa duduk diam dia terus mondar mandir seperti sedang menanti sesuatu.


Jack sadar pria paruh baya itu papih Tiana, dia menghampiri Tn Adnan.


"Om"


"Kalian yang sudah membawa anak saya kemari?"


"Betul om perkenalkan saya Jack dan mereka teman-teman saya!" uluran tangannya disambut oleh papih Tiana.


Dapat dipastikan pak Rahmat menepati janjinya kepada Tiana untuk tidak melapor mengenai pertemuan Tiana dengan Jack.


Terlihat dari cara Tuan Adnan bersikap ramah terhadap Jack, andai memang dia tau Jack yang telah menghamili anak tersayangnya sudah dipastikan Jack akan dihabisi olehnya.


"Dok!" Tuan Adnan menghampiri dokter yang merawat Tiana.


"Bagaimana keadaan putri beserta cucu saya dok?"


"Keadaann pasien kurang baik, kelelahan dan stres berat bisa memicu keguguran pak. Kita akan pindahkan pasien ke ruang perawatan"

__ADS_1


"Lakukan yang terbaik untuk mereka dok"


"Kami usahkan sebisa kami pak, saya undur diri dulu"


Setelah menyelesaikan administrasi, Tiana kini sudah berada diruang perawatan, jarum infuse dipergelangan kiri dan selang oksigen di hidung Tiana cukup membuat Tn Adnan lemas.


Pikirannya melayang membayangkan bagaimana rasanya jika dia menemukan lelaki bajingan yang telah menghamili anak kesayangannya itu.


Dimana lelaki itu berada, Tiana betul-betul menutup rapat mulutnya dia enggan mamaksa Tiana untuk bicara dia takut anak satu-satunya itu justru pergi lagi.


Sejurus kemudian dia teringat dengan pemuda bernama Jack yang berada didepan ruangan Tiana.


"Maaf nak Jack saya kira kalian sudah pulang, apa ada hal lain lagi yang mau kalian sampaikan?"


Fang dan Vian saling menatap kemudian pandangan mereka tertuju kepada Jack,


"Om boleh kita bicara sebentar?" tanya Jack ragu


"Masuk lah kita bicara didalam"


Ruang perawatan yang di tempati Tiana merupakan kamar VIP yang menyediakan ruang tamu terpisah, Jack tengah duduk dihadapan Tn Adnan kini.


"Baiklah apa yang mau kamu bicarakan? Apa kamu dan Tiana saling mengenal? Bukan kah kamu yang menolong anak saya membawanya ke rumah sakit ini, ada uruasan apalagi?"


"Anu om" Jack mssih ragu-ragu


"Maaf om bukan ini yang mau saya bicarakan,"


"Bukannya kamu meminta imbalan?"


"Tidak om bukan itu, anu maaf om maafkan saya sebetulnya Tiana seperti ini karna saya"


Seperti ini? Jadi lelaki ini mengenal Tiana, apa Tiana masuk rumah sakit disebabkan dia atau malah dia adalah...


"Tiana syock dan pingsan setelah bicara dengan saya om, kami tadi kami membahas mengenai anak yang dikandung Tiana."


"Kamu pria itu? Hah jawab?" Tn Adnan mulai memanas, dia menduga lelaki dihadapannya ini adalah lelaki yang menghamili Tiana.


Jack mengangguk pelan penuh keraguan, dia tidak mampu menutupinya lagi hatinya hancur ketika menyaksikan Tiana terkulai lemas, di ruang IGD tadi dia mendengar suara detak jantung calon anaknya yang lemah.


Jack menyiapkan diri dengan hal paling buruk seandainya dia mengakui perbuatannya kepada Tn Adnan.


"Kurang ajar kamu ternyata biang keladinya, bajingan yang sudah menghancurkan anak saya?" Tn Adnan sadar jika ini rumah sakit terlebih mereka saat ini berada di ruangan Tiana. Dia menahan diri untuk menghajar Jack.


"Maaf kan saya om, saya akan bertanggung jawab. Saya sudah meminta Tiana untuk menikah saja tapi Tiana tidak menginginkannya" Jack bersimpuh dihadapan Tn adnan.


"Lantas apa yang akan kamu lakukan sebagai bentuk pertanggungjawaban mu terhadap anak dan cucu saya?"

__ADS_1


"Saya pasrah bagaimanapun keinginan Tiana saya akan mengikutinya"


"Pih" lirih suara Tiana begitu lemah terdengar, Tn Adnan dan Jack berhambur menghampiri Tiana.


"Sayang ini papih, kamu sudah sadar nak?"


"Sayang ini aku Jack" Jack ikut bersuara.


Tapi justru Tn Adnan menatap Jack dengan sinis.


"Kamu ngapain kesini?"


"Saya berhak mengetahui keadaan ibu dari anak saya"


"Ck" Tn Adnan sebal mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Jack.


"Kamu"


"Ya sayang ini aku Jack" Jack megelus rambut Tiana.


"Lepas, jauhkan tangan mu dari anak ku"


"Om" "Pih" seru Jack dan Tiana berbarengan.


"Kalian harus segera menikah, bawalah orang tua mu untuk meminang anak ku. Sekarang pergilah cepat jangan coba-coba datang kemari tanpa orang tua mu" Ucap Tn Adnan tegas tak terbantahkan.


"Ti aku pamit, nanti aku kesini lagi. Kamu dan baby harus kuat ya tunggu aku. Om saya pulang dulu kalau begitu sekali lagi maafkan saya"


Tn Adnan hanya menganggukan kepalanya.


Sedangkan Tiana tak banyak bicara dia hanya memalingkan wajahnya. Ujung matanya meneteskan air mata perlahan.


Setelah pamit, Jack Fang dan Vian pulang ke Jakarta, di sepanjang perjalanan tidak ada satupun yang bersuara.


Fang dan Vian takut salah bicara, jadi mereka memilih untuk diam.


Sungguh mereka berdua banyak dikejutkan dengan fakta-fakta yang terjadi diantara Jack dan Tiana.


Jack sibuk dengan pikirannya sendiri, bagaimana dia bisa menjelaskan keadaanya ini kepada Ibu juga kakak-kakaknya.


Sementara seperti yang dikatakan Tiana, keluarganya tidak menerima Tiana. Pasti ada sesuatu yang Jack tidak ketahui dan Tiana juga tidak menceritakan apapun.


"Jack kita sudah sampai lu mau balik ke apartemen lu atau bagaimana nih?"


"Kita kerumah nyokap gw saja"


"Vian biar gw yang nyetir" usul Fang, dia takut sahabatnya itu kelelahan sementara sahabtnya yang satu tidak memungkinkan mengemudi dengan keadaan hati dan pikiran yang kacau.

__ADS_1


__ADS_2