Playboy X Palaygirl

Playboy X Palaygirl
Episode 38


__ADS_3

Akhirnya Jack diperbolehkan menggunakan hp nya, orang pertama yang ada dalam pikiran Jack adalah Anya.


Kenapa Anya, kenapa bukan Tiana?


Halo Anya


Ya Jack, whats up?


Gw mau minta tolong, lu dirumah kan? Bisa mampir ke rumah gw?


Ada apa Jack?


Gw gak bisa jelasin di telepon panjang lebar, gw minta lu dateng ke rumah gw bisa?


Ok wait


Ok thanks ya


It’s ok Jack


Panggilan telepon berakhir, tidak butuh waktu lama intuk Anya sampai dikediaman keluarga Jack.


Kini keduanya tengah berbincang di taman belakang rumah Jack.


"Jadi Tiana sekarang hamil anak kamu?" Pertanyaan itu keluar dari mulut Anya, hatinya sakit mengetahui lelaki yang disukainya mungkin tidak akan bisa dia miliki.


"Ya dia hamil anak kami"


Kata kami yang diucapkan Jack lagi-lagi membuat hati Anya terluka.


"Lantas apa rencana kalian kedepannya?"


"Belum tau, Tiana enggan bicara dengan ku"


"Dia mau gugurkan bayi nya?"


"Tidak, dia akan merawatnya"


"Baguslah, aku harap kalian bahagia membangun rumah tangga yang harmonis hingga maut memisahkan" Suaranya terdengar penuh kekecewaan.


"Kami tidak akan menikah, Tiana akan membesarkan anak itu tapi tidak mau menikah." Suara Jack terdengar putus asa.


Tanoa sadar Any menggenggam tangan Jack, berusaha menyemangati sahabatnya itu.


"Lantas apa yang bisa aku bantu?"


"Besok pagi bisa kah kamu kesini lagi jemput aku, tolong antarkan aku kerumah Tiana. Sekali lagi aku ingin meyakinkannya untuk yang terakhir, setelah ini jika dia masih ingin seperti itu aku akan menyerah"


"Tentu Jack, aku usahakan"


"Tolong jangan sampai kelurga ku tau, mama begitu marah sampai sita hp dan mobil aku"


"Baiklah Jack, kalau begitu sampai jumpa besok"


"Anya kamu mau pulang, tante bawakan teh dan sedikit cemilan makan lah dulu"


"Tante Nita, tidak usah repot-repot tan"


"Jangn pulang dulu, habiskan lah dulu ini. Kenapa sih buru-buru amat"


"Ia tan"


Setelah asik berbincang dengan Ny Nita dan Jack Anya akhirnya pamit pulang, disela-sela perbincangannya Anya tidak lupa ijin kalau besok pagi dia meminta Jack untuk menemaninya.


Ny Nita dengn senang hati memberikan ijin untuk Jack menemani Anya.


Di kediaman Tn Adnan yang biasanya tenang dan sunyi tiba-tiba jadi lebih ramai, kedatangan Vita dan Raja sekaligus.


"Bisa barengan kalian bertamu, bagus deh jadi ga berduaan aja aku sama lelaki tengik ini" sambut Tiana di ambang pintu ketika sahabat dan mantan pacarnya tiba berbarengan.


Tiana meraih uluran tangan Vita, saling cipika cipiki.


"Long time no see beb" sapa Vita


"Vita vitaminku" panggilan Tiana untuk sahabatnya itu.


"Ayo masuk, Ema dan bi Warsih udah masak banyak buat nyambut kamu tau"


"Serius, uh lama-lama mereka yang jadi bestie aku tau gak. Tiap kesini nemuin kamu gak pernah ada malah jadi asik nimbrung bareng Ema dan bi Warsih. No tlpn kamu gak ada yang aktif, socmed kamu juga kayaknya ga ada kehidupan" Vita asik mengomeli Tiana, sementara Tiana hanya terkekeh.

__ADS_1


"Aku kok gak disambut" Raja protes


"Oh astaga lupa aku Raj. Ayo masuk tamu tak di undang" senyum Tiana merekah


Ema yang tengah menyusun makanan di atas meja makan merasa senang akhirnya dapat melihat senyum manis nonanya lagi.


"Aku kan sudah bilang kemarin di tlpn OTW lupa?”


“Ya aku pikir kan bercanda doang”


“Mana bisa aku bercanda saat seperti ini”


“Ia deh mas Raja, nah ayok kita makan dulu kalian pasti laper ini udah jam makan siang juga”


Ketiganya sesekali mengobrol ringan, sebelumnya Tiana juga sudah memperkenalkan Raja kepada Vita begitupun sebaliknya.


“Bisa-bisanya aku gak tau kalau kamu punya pacar dulu, seinget ku dulu kita masih sering jalan bareng deh beb asli ya kamu ini entah nganggep aku temen atau enggak”


“Maaf Vi, lagian dulu sama Raja cuma yah begitulah bentar juga pacaran ya kan Raj?”


“Bentar seumur jagung, abis itu doi digaet temen deket gw”


“Ah masa Tiana begitu, aku tuh kenal Tiana dari piyik. Pasti kamu yang curang duluan!”


“Ah Vita memang paling mengerti daku”


Sementara di dapur Ema dan bi Warsih tengah asik bercerita


“Seneng ya liat neng Tiana ceria begitu”


“Ia kan bi, syukur neng Tiana ngikutin saran aku buat nemuin temennya.”


“Tapi ma cowo itu siapa neng Tiana, apa dia?”


Perkataan bi Warsih tergantung, dia segan untuk melanjutkan perkataanya takut salah bicara.


“Kayaknya itu temen neng Tiana juga”


“Ya mana tau kan ma”


“Ah udah deh bi, yang penting sekarang neng Tiana udah sedikit ceria karna ada temen-temennya”


Raja tak pernah berhenti melihat ke arah Tiana, ada banyak pertanyaan dibenaknya. Namun tak bisa begitu saja dia bertanya karna ada Vita saat ini.


Tapi Vita urung beratanya dia takut Tiana tersinggung, biarlah temannya itu sendiri yang nanti bercerita.


“Seneng rasanya tau keadaan kamu, setelah melihat langsung kondisi kamu aku sedikit lebih tenang. Setidaknya kalau uncle nanyain kamu ada jawaban yang bisa aku beri”


“Memang uncle kamu tanya apa?”


“Tiana kemana Raj, dia tinggal dimana, sama siapa, ngapin aja dia sekarang, kondisinya gimana? Ah satu lagi, uncle hampir-hampiran nyeret aku kakek dan nenek kesini untuk meminang kamu”


Vita hanya terdiam mendengarkan obrolan keduanya.


“Vi, kamu dieum aja dari tadi” tegur Tiana


“Nyimak hehe, kayaknya banyak yang mau kalian bahas lebih baik aku pulang duluan deh ya. Kabari aku kalau kamu sudah free”


“Loh Vie gpp santai aja”


“Enggak deh Raja kan jauh dari jakarta pasti sulit untuk datang ke mari, rumah ku deket aja dari sini nanti aku balik lagi”


“Gimana kalau nanti malam kamu nginep disini?”


“Ah boleh tuh, ok deh nanti sore aku balik kesini ya beb”


“Aku tunggu ya, awas kalau gak dateng”


“Bye Raja, senang bertemu dengan kamu”


“Bye Vita hati-hati dijalan”


Setelah Vieta pamit, Raja dan Tiana memutuskan untuk duduk di taman belakang


Bi warsih membawakan segelas teh kesukaan Tiana dan segelas kopi moca untuk Raja.


“Syukurlah kamu punya sahabat yang pengertian, aku kira manusia robot kaya kamu ga ada yang mau jadi temen”


Tiana memicingkan matanya, menatap tajam ke arah Raja.

__ADS_1


“Hehe santai dong mukanya,” Raja mengedarkan pandangannya, sejak tadi dia tak melihat Nyonya rumah ini.


“Aku dirumah cuma sama asisten, papih kerja mamih” Seolah-olah ingin menjawab rasa penasaran Raja, namun Tiana tak mampu melanjutkan kata-katanya.


“Jangan dijelaskan, aku kemari untuk melihat kondisi kamu” suara Raja melemah, dia menggenggam tangan Tiana kuat sesekali dia mengelua rambutnya yang kini mulai panjang tidak pendek saat Tiana pertama kali bertemu lagi dengan Raja di d’chef.


“Ih dieum kaya kucing aja dielus-elus”


“Kamu emang gemesin mirip kucing”


“Kucing itu bertaring, sini tangan kamu aku gigit”


“Ah kucing betina yang lagi hamil emang agak-agak galak gimana gitukan”


Tiana meninju dada Raja pelan dan mereka terkekeh bersama.


“Ti”


“Hm”


“Sorot mata kamu, walau kita tidak berpacaran lama tapi aku mengenal kamu cukup dalam.”


“Ada apa dengan sorot mata ku?”


“Kamu tidak baik-baik saja Ti, kalau kamu enggan bercerita dengan Vita aku siap mendengarkan cerita kamu”


“Sok tau”


“Tiana”


“Aku tau ada banyak pertanyan yang kamu punya tapi kamu tahan, tapi Raj i’m fine kamu gak usah khawatir”


“Permasalahn kamu sudah selesai?”


“Nope”


“Bagaimana dengan Jack?”


“He’s gone, ah tapi aku yang mendorongnya pergi”


“Why?”


“As you know, kita beda server” Tiana terkekeh menjelaskan keadaanya dengan Jack


“Tidak ada cara lain? Kamu tidak ingin menyelesaikannya dulu dengan Jack agar lebih jelas kedepannya”


“Hati ku belum siap Raja”


“Kamu tau, ada kalanya aku ingin menghajar habis-habisan lelaki itu. Tapi setelah aku pikir-pikir sayang tenaga ku. Cecunguk itu paling cuma tertunduk menerima pukulan aku tak berdaya”


“Kamu kira ini semua salah dia?”


“Terus salah sipa lagi, lagipula sekarang bukan tentang siapa yang salah tapi tentang anak kalian kedepannya bagaimana”


“Jack tidak sepenuhnya salah, bayi ini ada juga karna perbuatan aku dan dia bukan dia seorang yang bikin Raj, lagian selama ini aku yang menghindar dan mendorong dia jauh”


“Ya kenapa mesti begitu”


“Ya kan belum sanggup belum siap gimana sih”


“Ia deh, kalau gitu aku nikahin kamu aja gimana?”


Sorot mata Raja terlihat serius, namun Tiana justru melempar Jack dengan sebuah cushion


“Ga keponakan ga paman, ngajakin nikah kayak mau ngawinin kucing”


“Haha masa ia, jadi uncle udah ngajakin kamu nikah juga?”


“Hah nikah nikah entah kenapa aku muak denger kata-kata itu. Yang jelas aku harus bangkit aku gak akan nikah aku bisa besarin anak ku sendiri kok”


“Aku bisa jadi ayah angkatnya”


“Ah kejauhan ayahnya di Jakarta”


“Aku balik ke Bandung nanti kerumah orang tua ku”


Lagi-lagi Tiana melempar Raja dengan sebuah cushion.


“Hih demen banget nyiksa aku”

__ADS_1


“Kamu kok bisa kesini, kamu bolos kerja?”


“Cuti lah, bolos nanti dipecat uncle”


__ADS_2